
Faza melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Pria itu terus tersenyum sepanjang perjalanan menuju pulang. Faza membayangkan Zahra yang akan menyambut kepulangan-nya dirumah dengan sangat manis. Saking bahagianya Faza bahkan juga menyempatkan diri membeli setangkai mawar merah yang akan diberikan-nya pada Zahra nanti begitu sampai dirumah.
Menjelang malam Faza baru sampai dihalaman rumah sederhana tempatnya dan Zahra tinggal. Faza segera turun dari motor, membuka helm, dan melangkah dengan semangat menuju pintu.
Dua kali ketukan pintu membuat Zahra langsung membuka pintu. Zahra tersenyum menatap wajah tampan suaminya yang berdiri didepan pintu setelah seharian bekerja.
“Mas...”
Zahra menyalimi Faza kemudian memeluk tubuh kekar Faza. Melihat suaminya berdiri didepan-nya membuat Zahra merasa sangat bahagia karna akhirnya Zahra tidak merasa sendiri lagi dirumah. Akan ada Faza yang menemaninya.
“Aku punya sesuatu untuk kamu.” Bisik Faza membuat Zahra langsung melepaskan pelukan-nya.
“Oh ya? Apa itu?” Tanya Zahra menatap penasaran pada Faza.
Faza tersenyum dan segera mengeluarkan setangkai mawar merah yang sedari tadi dia sembunyikan dibalik punggungnya.
“Aku nggak ada kata kata yang romantis sih. Tapi I LOVE YOU banget sama kamu sayang.” Ujar Faza sambil menyodorkan setangkai mawar merah itu pada Zahra.
Zahra tertawa mendengarnya. Suaminya memang bukan pria yang pandai berkata romantis. Tapi Zahra yakin cinta suaminya begitu besar untuknya.
Zahra menerima bunga itu dan mencium aroma wanginya.
“Makasih ya mas..”
“Yah.. Sama sama sayang.” Angguk Faza.
“Oh ya sayang kamu udah siapkan? Sebentar lagi kan kita bakal kerumah mamah.. Kan mamah undang kita buat makan malam.”
“Udah dong.. Aku bahkan udah mandi.”
“Aku kira kamu lupa. Ya udah kalau begitu aku yang siap siap deh. Kamu dandan yang cantik ya sayang. Pake gaun yang aku beliin itu..”
Zahra mengeryit.
“Itu kan buat datang ke pernikahan kak Cio dan kak Rosa nanti mas..”
“Sstt.. Nanti aku belikan lagi. Oke?”
“Tapi mas...”
__ADS_1
Cup
Faza mencium bibir Zahra membuat Zahra langsung terdiam.
“Pakai yang itu ya sayang.. Aku mandi dulu.” Senyum Faza kemudian berlalu masuk meninggalkan Zahra yang masih berdiri didepan pintu.
Zahra menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya. Suaminya memang cukup boros dalam keuangan.
Tidak mau terlambat datang, Zahra segera bersiap selagi Faza membersihkan dirinya. Zahra merubah penampilan biasanya sedemikian cantik malam ini. Zahra ingin menunjukan pada Sinta bahwa dirinya juga bisa berpenampilan berkelas seperti wanita pada umumnya. Apa lagi gaun yang dibelikan suaminya juga bukan gaun murahan yang pasti sudah banyak menghabiskan uang suaminya.
Zahra merubah model rambutnya yang biasanya lurus menjadi bergelombang dengan peralatan seadanya namun menghasilkan hasil yang memuaskan bagi Zahra. Zahra juga memoles wajahnya dengan make up dan sedikit menajamkan kedua matanya membuat Zahra sendiri merasa pangling dan tidak mengenali wajahnya sendiri.
“Sayang...”
Faza memeluk mesra Zahra dari belakang dengan tatapan terpesona pada Zahra lewat pantulan cermin didepan-nya.
“Apa aku cantik sekarang?” Tanya Zahra pelan tersenyum pada Faza yang menatapnya.
“Lebih dari cantik sayang. Kamu benar benar terlihat sangat sempurna sekarang.” Jawab Faza berbisik.
Zahra tertawa pelan. Zahra mendongakkan kepalanya ketika Faza menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuhnya dilekuk lehernya.
Zahra hanya tertawa saja sambil mendorong pelan bahu suaminya. Zahra tidak ingin Faza merusak riasan yang sudah dengan telaten Zahra poles di wajahnya.
“Aku tidak ingin kita membuat mamah sama papah menunggu mas. Lebih baik kita berangkat sekarang.”
“Ya.. Aku pikir juga begitu.”
Faza melepaskan pelukan-nya di pinggang Zahra kemudian membantu Zahra bangkit dari duduknya. Mereka berdua pergi menuju kediaman kedua orang tua Faza dengan menumpangi taxi.
--------
“Mamah ngundang Loly juga?”
Sinta yang baru saja menghubungi Loly menoleh mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh putra keduanya, Fadly.
Ya, Fadly memang baru pulang dari luar kota sore tadi.
“Tentu saja. Kan Loly yang memberi mamah ide untuk kita makan malam bersama.” Senyum Sinta menjawab.
__ADS_1
Fadly mengeryit. Entah apa maksud Loly dengan memberi ide agar mereka makan malam bersama apa lagi dengan mengundang Zahra dan Faza juga.
“Tapi mah.. Nggak enak dong sama Zahra. Masa mamah ngundang kak Faza sama Zahra buat makan malam tapi ada Loly juga.”
Sinta menghela napas kemudian mendekat pada Fadly yang berdiri tidak jauh dari meja makan dimana semua hidangan lezat sudah tertata dengan rapi disana.
“Memangnya kenapa? Kan Loly yang memberi mamah ide. Masa iya Loly nggak di undang.”
Fadly berdecak pelan. Fadly tau mamahnya sangat ingin sekali menyatukan Loly dengan Faza.
“Ya kalau memang Loly yang buat ide kenapa harus ngundang Kak Faza dan Zahra juga mah.. Kenapa juga harus dirumah kita. Udah gitu mamah sendiri sama bibi yang siapin semuanya.”
“Sstt.. Mamah sedang nggak perlu pendapat apapun dari kamu Fadly. Mamah cuma mau Zahra itu tau diri dan sadar bahwa dia itu enggak pantas buat Faza.”
Fadly menyipitkan kedua matanya. Mamahnya masih saja tidak mau menerima kenyataan bahwa Faza hanya mencintai Zahra.
“Mamah nggak bisa gitu dong. Kakak sama Zahra itu sudah menikah. Harusnya mamah do'ain yang terbaik bukan malah membuat mereka berdua dalam masalah.”
“Fadly cukup. Pokonya sampai kapanpun mamah nggak akan setuju Faza dengan Zahra bersama. Yang mamah mau Faza dengan Lily. Titik.”
Fadly hanya bisa menghela napas. Mamahnya tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain bahkan papahnya. Mamahnya selalu merasa apa yang menjadi keputusan-nya adalah yang paling baik untuk semuanya.
“Dari awal mamah tau Faza menjalin hubungan dengan Zahra, mamah sudah menentangnya Fadly. Tapi kakak kamu tidak pernah mau dengarkan mamah hanya karna perempuan seperti Zahra.”
Fadly melengos. Berdebat dengan mamahnya hanya akan membuatnya merasa seperti anak durhaka yang melawan wanita yang melahirkan-nya.
“Tante...”
Sinta menoleh mendengar suara lembut Loly. Wanita dengan dress selutut warna salem itu tersenyum melihat orang yang sangat ditunggu tunggu-nya akhirnya datang.
Sedangkan Fadly, pria itu memilih untuk berlalu enggan melihat tingkah lebay mamahnya jika sudah bertemu dengan calon menantu gagalnya itu.
Sinta segera melangkah mendekat pada Loly yang begitu cantik dengan dress berbelahan dada rendahnya. Dress pink panjang yang dikenakan oleh Loly bahkan mencetak dengan jelas kekuk tubuh Loly yang langsing dan sexy itu.
“Kok masih sepi tante? Mas Faza belum dateng?” Tanya Loly sambil menengok kekanan dan ke kiri.
“Belum sayang. Mungkin masih dijalan.” Senyum Sinta menjawab.
Loly menganggukkan kepalanya. Loly benar benar tidak sabar ingin bertemu dengan Zahra dan menunjukan pada Zahra bahwa dirinya jauh lebih segalanya dari Zahra. Loly juga ingin membuat Faza sadar bahwa keputusan-nya menolak untuk dijodohkan dengan-nya adalah salah besar.
__ADS_1