
Berkat dua gaun yang Faza beli untuk Zahra, Zahra menjadi tidak lagi marah lagi padanya. Zahra bahkan melayaninya dengan sepenuh hati malam ini.
“Mas...”
“Hemm..”
“Kenapa kamu sebut aku si Buntek dulu?” Tanya Zahra sambil memainkan jarinya didada bidang Faza yang telanjang.
“Kenapa kamu begitu yakin kalau yang menamai kamu si Buntek itu aku dan bukan Cio?”
Zahra merengut.
“Tentu saja aku tau. Kak Cio bukan orang yang seperti itu. Apa lagi dia orang yang baik juga ketua osis yang perhatian.”
Faza tersenyum. Cio memang terkenal baik dan pintar dulu. Baik dimata adik kelas maupun kakak kelas mereka.
“Baiklah My Buntek. Dengarkan aku sekarang.”
Faza menghela napas sebelum melanjutkan ucapan-nya. Pria itu mengecup sekilas puncak kepala Zahra yang bersender didada bidangnya.
“Jadi sebenarnya aku tertarik sama kamu sejak kamu baru menjadi calon murid baru di SMA tempat kita sekolah dulu. Kamu yang imut dengan baju seragam biru putih berhasil membuat aku terpana bahkan tidak bosan memperhatikan kamu meski secara diam diam. Aku bahkan rela berangkat padahal belum waktunya masuk karna aku bukan anggota osis saat itu. Sejak saat itu aku mulai berusaha untuk mendekati kamu. Jujur butuh keberanian buat aku ngungakapin perasaan aku sama kamu dulu. Hingga akhirnya setelah kamu lulus dari SMA aku baru berani ngungkapin rasa cinta aku sama kamu.”
Zahra terkejut mendengar cerita panjang lebar suaminya. Zahra tidak menyangka Faza memendam perasaan padanya begitu lama. Zahra pikir dulu Faza hanya menganggapnya adik karna hampir setiap hari Faza mau bolak balik menjemputnya selama tiga tahun padahal mereka hanya bareng selama satu tahun di SMA yang sama itu.
Zahra mengangkat kepalanya menatap tidak menyangka pada Faza yang pertama kalinya menceritakan tentang awal mula ketertarikan-nya pada Zahra bahkan sampai rasa terpendamnya yang tidak pernah Zahra sadari dulu.
Ya, Zahra memang bukan wanita yang peka dengan perasaan pria yang ada disekitarnya. Termasuk perasaan terlarang Santoso padanya yang masih tumbuh subur sampai sekarang di hati pria itu.
“Mas kamu...”
“Sekarang kamu tau kan seberapa besar aku mencintai kamu? Jadi jangan cemburu sama teman teman aku lagi ya.. Karna dari dulu disini..”
Faza meraih tangan Zahra dan menempelkan didada bidangnya.
“Disini hanya ada kamu dari dulu dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun bahkan sampai aku menua nanti.”
Zahra tersenyum mendengar itu. Zahra tidak menyangka Faza begitu sangat mencintainya padahal banyak wanita disekitar Faza yang tentu lebih bahkan jauh lebih cantik darinya. Jika dibandingkan juga Zahra tidak ada apa apanya dengan mereka. Hal itu juga yang sering membuat Zahra takut Faza akan berpaling darinya.
“Kamu ternyata sweet banget mas..” Lirih Zahra merasa terharu.
__ADS_1
“Iya dong.. kan Mas Faza..” Senyum Faza membanggakan dirinya.
Zahra tertawa kemudian berhambur memeluk Faza dengan sangat erat.
“Satu kali lagi yuk sayang..”
Zahra hendak melepaskan pelukan-nya namun dengan sigap Faza menggulingkan Zahra sehingga mereka kini bertukar posisi. Zahra berada dibawah Faza.
“Mas...”
“Ada yang bangun lagi..” Bisik Faza membuat Zahra tersipu malu. Zahra tah apa yang dimaksud suaminya.
“Satu kali lagi abis itu aku bakal biarin kamu tidur nyenyak.” Ujar Faza mengedipkan sebelah matanya kemudian mulai mencium Zahra.
Dan mereka kembali melakukan-nya dengan penuh hasrat dan cinta malam itu.
----------
Hari ini baik Faza maupun Zahra keduanya meminta izin untuk pulang lebih cepat karna akan menghadiri acara pesta pertunangan Anita.
“Gimana Ra, boleh?”
Zahra menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Tina yang menatapnya penuh ke khawatiran.
“Pak Santo bilang lebih baik aku tidak usah bekerja lagi disini kalau aku males malesan.”
Tina mengeryit. Ucapan Santoso benar benar tidak masuk akal. Zahra izin pulang cepat karna akan pergi dengan Faza, suaminya tapi tanggapan Santoso malah tidak mengenakkan.
“Males gimana sih maksudnya? Kamu kan udah baik baik minta izin. Masa pak Santo malah gitu ngomongnya.” Kesal Tina.
Zahra menghela napas lagi. Zahra juga tidak tau dimana letak kesalahan-nya hingga Santoso seperti sangat membencinya sekarang.
“Sini biar aku yang ngomong.”
“Eh eh Tin.. Nggak usah. Aku nggak papa kok. Mas Faza juga pasti ngerti kok..”
Zahra menahan Tina yang hendak menerobos masuk kedalam ruangan Santoso. Zahra tidak ingin sahabatnya itu terkena masalah karna membelanya.
“Ini bukan masalah mas Faza kamu ngerti atau enggak nya Ra. Tapi yang namanya orang mau pergi ke pesta itu harus dandan lama. Ke salon atau mungkin menyiapkan yang lain. Udah kamu tenang aja. Tunggu disini.”
__ADS_1
“Ta tapi.. Tina..”
Tidak bisa menahan lagi kekesalan-nya Tina pun menyingkirkan tangan Zahra yang menahan kedua bahunya. Tina kemudian masuk kedalam ruangan Santoso dan langsung menghadap dengan dagu terangkat begitu berani.
“Tina.. Ada apa?”
“Saya mau protes sama bapak karna sudah tidak mengizinkan teman saya Zahra untuk pulang lebih awal.”
Santoso mengeryit menatap Tina yang berdiri tidak jauh didepan meja kerjanya.
“Zahra itu sudah sangat rajin bekerja pak. Zahra tidak males malesan kok. Harusnya bapak izinkan Zahra pulang lebih cepat karna Zahra akan ada acara dengan suaminya.”
Santoso mengepalkan kedua tangan-nya. Amarah mulai menguasainya saat Tina mengatakan tentang suami Zahra.
“Saya yang berkuasa disini Tina. Tolong hargai saya.”
“Tapi bapak tidak akan bisa berkuasa disini jika tidak ada Zahra, saya dan teman teman yang lain-nya. Bapak tidak akan bisa membersihkan ruangan bapak sendiri. Bapak juga tidak bisa memasak sendiri. Dan juga bapak tidak bisa melayani semua pelanggan direstoran ini sendiri.”
“Cukup Tina !! Saya atasan kamu disini !!”
Santoso bangkit dengan menggebrak meja kerjanya. Namun gebrakan keras tangan Santoso dipermukaan kayu berkualitas itu sama sekali tidak membuat Tina gentar sedikitpun.
“Saya yang menggaji kalian semua disini. Kamu sudah bosan bekerja disini? Kamu mau saya pecat?!”
Tina tersenyum sinis mendengar suara lantang Santoso saat sedang marah.
“Bapak menggaji kami karna bapak butuh tenaga kami. Jangan merasa berjasa pak. Karna pada dasarnya kita semua saling menguntungkan disini.”
Zahra berkata dengan sangat tenang. Namun dibalik ketenangan-nya muncul aura dingin yang juga dirasakan oleh Santoso.
“Tina keluar dari ruangan saya. Kamu saya pecat !!”
Tina menggelengkan kepalanya dengan santai. Dengan pelan Tina mendekat dan meraih hiasan miniatur kuda dimeja kerja Santoso.
“Memecat ku berarti memecat semua karyawan mu pak Santoso yang terhormat.”
“Apa maksudmu Tina?” Tanya Santoso dengan eraman kemarahan karna tingkah berani Tina kali ini.
“Nama saya Rostiana Aryani Renaldi. Anda tau bukan siapa saya sekarang?”
__ADS_1
Kedua mata Santoso melebar mendengarnya. Renaldi, Santoso tau betul nama itu.