PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 203


__ADS_3

Faza baru saja meletakan putranya di ranjang saat ponsel diatas nakas miliknya berdering. Tidak ingin suara deringan nyaring ponselnya mengganggu tidur pulas putranya, Faza pun segera melangkah menuju nakas dan mengangkat telepon yang ternyata dari Reyhan.


“Reyhan? Tumben sekali dia menelepon malam malam begini..” Gumam Faza bingung.


Faza pun mengangkat telepon dari Reyhan tepat saat Zahra keluar dari dalam kamar mandi.


“Siapa mas?” Tanya Zahra penasaran.


Faza menjawab pelan dengan menyebut nama Reyhan. Pria itu kemudian sedikit menjauh dari ranjang karna tidak mau suaranya sampai mengganggu tidur pulas putra pertamanya itu.


“Ya Rey.. Ada apa?” Tanya Faza setelah sedikit berjarak dari ranjang dimana Zahra mulai naik keatasnya.


“Halo pak.. Selamat malam, maaf kalau saya mengganggu. Saya mau minta izin besok tidak bisa masuk kerja.”


Faza mengeryit bingung.


“Memangnya kenapa?” Tanya Faza merasa aneh dengan izin Reyhan yang tiba tiba itu.


“Saya sedang sedikit tidak enak badan pak.” Jawab Reyhan.


Faza menganggukkan kepalanya mengerti.


“Ya sudah tidak apa apa.. Kamu sudah ke dokter?” Tanya Faza kemudian.


“Sudah pak. Ini saya lagi di klinik dekat perusahaan.”


“Apa? Klinik dekat perusahaan? Kok bisa kamu disitu?”


Bagaimana Faza tidak bingung. Jarak dari apartemen Reyhan ke perusahaan lumayan jauh. Sedang disekitar gedung apartemen juga ada rumah sakit yang jaraknya hanya dua kilo meter.


“Ya pak.. Saya mendadak tidak enak badan jadi langsung mampir saat berada didekat klinik.”


Itu bukan jawaban yang memuaskan menurut Faza. Tapi Faza juga tidak ingin terlalu ingin tau jika memang Reyhan tidak ingin berterus terang padanya.


“Begitu ya? Ya sudah.. Kamu nginep disitu apa langsung pulang? Atau mau saya jemput?”


“Oh tidak pak, terimakasih. Mungkin untuk malam ini saya untuk sementara menginap.” Tolak halus Reyhan.


“Oke.. Besok saya akan kesana. Kamu istirahatlah yang cukup. Jangan lupa minum obat.”


“Ya pak.. Terimakasih.”

__ADS_1


Faza kemudian memutuskan sambungan telepon-nya. Pria itu menggelengkan kepalanya merasa aneh pada Reyhan kali ini.


Faza kemudian kembali melangkah mendekat ke arah ranjang. Namun sebelum naik ke atas ranjang, Faza lebih dulu meletakan benda pipih itu di nakas samping tempat tidurnya dan Zahra.


“Ada masalah di kerjaan ya mas?” Tanya Zahra pelan.


“Enggak sayang.. Reyhan bilang katanya untuk besok tidak bisa masuk kerja dulu. Sakit katanya.” Jawab Faza.


Zahra mengangguk pelan mendengar jawaban dari suaminya.


“Tapi ada yang aneh loh yang.. Masa Reyhan sekarang ada di klinik dekat perusahaan. Sedang didekat apartemen tempat dia tinggal itu ada rumah sakit. Padahal Reyhan juga izin pulang sama aku sejak siang.” Cerita Faza.


“Mungkin Reyhan lagi jalan terus kebetulan lewat lalu tiba tiba merasakan sesuatu yang tidak enak pada tubuhnya mas.” Balas Zahra berasumsi.


“Bisa jadi.. Semoga dia cepat sembuh lah..”


“Coba besok kamu jenguk dia mas.. Takutnya sakitnya parah.”


“Ya sayang.. Rencananya juga gitu.” Senyum Faza menganggukan kepalanya.


Zahra ikut tersenyum. Sejak kelahiran putranya Faza benar benar mengurangi kesibukan-nya diluar. Faza juga sering bekerja dari rumah sambil membantu Zahra dengan turun tangan mengurus sendiri Fahri dari memandikan sampai memakaikan pampers. Memang sangat kikuk dan memakan waktu lama, namun Faza tetap dengan telaten membantu Zahra yang tidak sekalipun protes saat Faza melakukan kesalahan. Zahra justru memberi tahu dengan sabar pada Faza yang tentu saja menerima apa yang Zahra katakan.


“Eemm.. Sayang..” Panggil Faza pada Zahra yang sedang menatap Fahri yang berada ditengah tengah mereka.


“Kamu liburnya sampai kapan sih yang?”


Pertanyaan Faza membuat Zahra mengeryit bingung. Zahra tidak merasa mempunyai rutinitas apapun tapi tiba tiba Faza menanyakan tentang libur seolah Zahra adalah wanita yang mempunyai kesibukan dalam bekerja.


“Libur? Libur apa?” Tanya balik Zahra yang kebingungan.


“Libur itu loh... Eemm.. Gimana ya ngomong nya..”


Faza diam tampak berpikir untuk kembali melanjutkan ucapan-nya yang sedang ditunggu oleh Zahra.


“Eemm.. Libur itu.. Maaf ya sayang sebelumnya. Aku cuma pengin tau bukan-nya enggak sabar. Kapan kamu bisa melayani aku setelah melahirkan?”


Mendengar pertanyaan yang begitu jelas Faza beberkan inti dari maksudnya sontak membuat wajah Zahra langsung memerah layaknya udang rebus.


“Iihhh.. Apaan sih kamu mas. Baru juga aku ngelahirin. Masa kamu nanya nya begitu sih? Dasar omes.”


Faza mengerucutkan bibirnya. Faza bukan sedang tidak sabar menahan hasratnya. Faza sendiri tau Zahra baru selesai melahirkan. Faza hanya ingin tau saja karna takut Faza keliru dan salah pengertian.

__ADS_1


“Hhh.. Kan aku nggak tau sayang, wajar dong aku nanya..” Katanya.


“Iihhh.. Udah ah nggak usah bahas itu. Nanti juga kalau sudah boleh aku bakal kasih tau kamu.”


Mendengar itu senyuman dibibir Faza langsung mengembang dengan sempurna.


“Beneran sayang?” Tanya Faza antusias.


“Iyaa.. Udah ah. Aku ngantuk.”


Enggan meladeni obrolan suaminya yang menjurus kearah keintiman diatas tempat tidur itu Zahra pun beralasan mengantuk untuk menghindar. Padahal sebenarnya Zahra sama sekali belum mengantuk. Tapi Zahra terap memejamkan kedua matanya agar Faza tidak menanyakan hal itu semakin panjang.


Faza yang melihat itu tertawa pelan. Pria tampan berkaos oblong warna putih bersih itu kemudian ikut memejamkan kedua matanya untuk sama sama beristirahat.


-----------


Di tempat lain, Tina terus saja duduk disamping brankar tempat Reyhan berbaring. Tina terus meneteskan air matanya merasa sangat sedih sekaligus merasa bersalah melihat Reyhan yang berbaring lemah sejak siang tadi.


Ya, semua itu karna makanan pedas yang Reyhan konsumsi yang tentu saja tidak bisa diterima dengan baik oleh lidah Reyhan.


“Udah dong nangisnya.. Jelek tau.” Senyum Reyhan geli menatap wajah Tina yang memerah dan terus basah oleh air mata.


“Aku minta maaf.. Aku bener bener nggak tau kalau kamu nggak bisa makan pedes.. Aku..”


Tina tidak bisa melanjutkan suara seretnya karna air mata yang menetes kembali membasahi pipinya.


“Kamu udah berulang kali minta maaf sama aku loh.. Aku nggak nyalahin kamu kok.. Dan aku nggak papa..” Senyum Reyhan.


“Nggak papa gimana? Kamu sampai masuk klinik begini gara gara aku..”


Reyhan tertawa namun kemudian meringis saat merasakan perih dalam perutnya. Efek bakso pedas itu bisa dikatakan terlalu berlebihan pada sistem pencernaan Reyhan.


“Kan sakit lagi.. Ayo aku bantu ke kamar mandi..”


Reyhan tersenyum paksa.


“Maaf ya.. Aku ngerepotin kamu..” Sesal Reyhan.


“Lain kali kamu ngomong jujur aja dong sama aku Rey.. Aku juga nggak bakal ngetawain kamu.. Aku juga tau nggak semua orang suka dan bisa makan pedes kaya aku dan Zahra..” Omel Tina sambil membantu Reyhan turun dari brankar kemudian memapahnya menuju kamar mandi.


Reyhan hanya tertawa pelan mendengarnya. Reyhan sendiri tidak menyangka efek dari makanan pedas itu sampai membuat tubuhnya lemas tak bertenaga.

__ADS_1


Setelah Reyhan masuk kedalam kamar mandi, Tina pun menutup pintunya. Tina dengan sabar dan setia menunggu Reyhan yang memang sudah beberapa kali bolak balik masuk keluar kamar mandi sejak siang tadi.


__ADS_2