
Reyhan terpaku ditempatnya duduk begitu sampai dihalaman luas kediaman mewah Renaldi. Reyhan tidak menyangka jika Renaldi bahkan sampai mengundang banyak tamu untuk menyambut kedatangan-nya.
“Jadi kapan kita turun Reyhan? Kita sudah hampir 10 menit diam didalam mobil.” Ujar Faza yang sudah tidak sabar ingin turun menemui keluarga Renaldi.
Faza tidak ingin pulang terlalu malam karna putranya yang sedang sedikit rewel dan ingin terus bersamanya.
“Pak tapi ini sangat ramai. Saya merasa tidak pantas. Apa lagi tamu tuan Renaldi pasti bukan orang sembarangan. Dan saya.. saya hanya seorang asisten.”
Faza berdecak. Entah kenapa tiba tiba asisten kepercayaan-nya itu mendadak menjadi hilang kepercayaan diri.
“Ayolah Rey.. Jangan merendahkan diri kamu seperti ini.. Bukankah kamu bilang pak Renaldi sudah setuju? Semua tamu tamu yang dia undang mungkin adalah satu bentuk penghormatan pada kamu. Jangan seperti ini. Niat baik kamu tinggal selangkah lagi. Kamu tidak mau kan Tina kecewa kemudian marah sama kamu?”
Reyhan terdiam sesaat. Reyhan menatap sekali lagi tamu tamu yang berlalu lalang didepan kediaman Renaldi. Reyhan kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Baik pak.. Mari kita turun pak.” Putus Reyhan akhirnya.
Faza ikut tersenyum. Pria itu juga ikut merasa lega karena akhirnya Reyhan kembali yakin pada dirinya sendiri.
Reyhan dan Faza kemudian turun dengan kompak dari mobil mewah Faza. Kemunculan mereka menjadi pusat perhatian para tamu yang hadir. Mereka semua sempat bertanya tanya saat melihat sosok Reyhan. Bahkan sebagian dari mereka ada yang beranggapan bahwa pria yang akan melamar Tina adalah Faza.
“Bukankah Faza Akbar sudah punya istri?” Bisik salah seorang tamu undangan pada teman-nya.
“Entahlah.. Namanya juga pengusaha sukses. Satu istri mungkin tidak cukup.” Jawab teman-nya itu.
Faza mendengar itu namun mencoba untuk tidak perduli. Niatnya adalah untuk menjadi pendamping Reyhan, asisten yang sudah Faza anggap seperti bagian dari keluarganya sendiri.
Acara itu berlangsung sangat ramai. Tuan Renaldi benar benar memperlakukan Reyhan dengan istimewa. Pria itu tidak mempermasalahkan profesi Reyhan yang hanga asisten Faza. Baginya kebahagiaan putri bungsunya adalah segalanya.
Tina dengan balutan gaun putih tulangnya merasa sangat bahagia. Malam ini Tina benar benar sangat berbeda dari biasanya. Jika setiap bersama dengan Reyhan Tina hanya mengenakan polesan make up tipis namun tidak untuk malam ini. Tina benar benar disulap menjadi sosok yang bahkan Faza juga Reyhan serta tamu undangan yang hadir sangat pangling.
Reyhan menghela napas ketika menyematkan cincin dijari manis Tina. Reyhan sebenarnya sangat gugup sekarang. Tapi dengan keberadaan Faza disampingnya Reyhan merasa bisa. Reyhan percaya Faza mendukung penuh keputusan-nya untuk memiliki Tina.
Sebelum pesta itu selesai, Faza pun pamit untuk pulang pada Reyhan juga tuan Renaldi dan mantan istrinya yang hanya diam saja.
Faza bukan tidak ingin menghadiri sampai selesai pesta itu. Tapi Faza tau anak dan istrinya sedang menunggu kepulangan-nya sekarang.
__ADS_1
“Tina..” Panggil Reyhan ketika sedang berdua dengan Tina dibalkon. Para tamu undangan yang lain memang sudah membubarkan diri karena malam yang semakin larut.
“Eemm.. Ya Rey..” Saut Tina malu malu.
Reyhan terkekeh geli. Rasanya benar benar seperti mimpi. Langkahnya sudah benar benar mantap ingin menjalani semuanya dimasa mendatang dengan Tina.
“Kamu cantik malam ini...” Puji Reyhan.
Tina tersenyum dan menundukkan kepalanya. Tina sendiri juga sempat pangling pada dirinya sendiri. Hasil polesan make up perias itu benar benar mengubahnya total malam ini.
“Makasih..” Balas Tina pelan.
Reyhan menghela napas kemudian meraih kedua tangan Tina dan menggenggamnya lembut.
“Kamu akan menjadi milikku seutuhnya tidak lama lagi Tina..” Katanya.
Tina menggigit bibir bawahnya. Rasanya Tina sedang berada dipadang bunga dengan ribuan kupu kupu yang terbang disekelilingnya sekarang.
“Aku...”
Karena Reyhan yang tidak kunjung melanjutkan ucapan-nya, Tina pun menatap Reyhan bingung.
“Kenapa Rey?” Tanya Tina penasaran. Tina sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang Reyhan katakan.
“Eemm.. Nanti saja ngomongnya kalau kita sudah menikah. Takutnya kamu pingsan lagi..” Jujur Reyhan dengan tawa pelan-nya.
Tina tertawa mendengarnya. Tina akui dirinya memang sangat konyol karena pingsan saat kebahagiaan sedang menghampirinya.
Tidak jauh dari Tina dan Reyhan bersama Renaldi dan mantan istrinya berdiri dan menatap keduanya.
“Renaldi.. Kamu yakin Tina akan bahagia dengan Reyhan?” Tanyanya pelan.
Renaldi menoleh dan tersenyum menatap mantan istrinya, Tara Larasati.
“Tentu saja. Aku sudah menyelidiki bagaimana latar belakang Reyhan. Mungkin memang mereka bukan orang yang kaya seperti kita.. Tapi aku yakin Reyhan adalah orang yang baik. Selain itu dia juga sangat cerdas sehingga pengusaha muda yang begitu terkenal seperti Faza Akbar saja sampai begitu percaya padanya.”
__ADS_1
Bunda Tina tersenyum sinis.
“Aku tidak bisa percaya begitu saja pada Reyhan.”
Renaldi menghela napas. Jangankan pada Reyhan. Padanya saja dulu Tara tidak bisa percaya. Dan itu adalah akar dari masalah yang akhirnya membuat keduanya memutuskan untuk berpisah.
“Tara.. Apa yang kita pikirkan tidak selamanya benar. Mungkin kita juga harus mencoba percaya pada orang lain. Dengan begitu hati kita akan jauh dari kata benci.” Ujar Renaldi bijak.
Bunda Tina menoleh menatap mantan suaminya. Hubungan mereka sejak berpisah memang tidak ada masalah. Mereka selalu berusaha kompak untuk Tina dan Rasya.
“Ren.. Aku diam bukan berarti aku setuju. Aku diam untuk menghargai keputusan kamu juga keinginan anak aku.. Tapi jika sedikit saja Reyhan sampai menyakiti Tina aku tidak akan segan untuk menghancurkan apapun yang dia punya.” Tegas bunda Tina.
Renaldi hanya bisa mengangguk. Tara memang tidak mudah percaya pada orang lain bahkan dirinya yang dulu adalah suaminya.
“Aku pulang..”
“Hey.. Kenapa tidak menginap saja? Ini sudah larut malam.” Cegah Renaldi meraih pergelangan tangan mantan istrinya itu.
Wanita dengan dress merah menyala itu menatap tangan Renaldi yang mencekalnya kemudian melepaskan-nya dengan pelan.
“Tidak perlu. Katakan pada Tina aku akan kesini lagi besok.” Katanya kemudian berlalu dengan langkah cepat dari hadapan Renaldi.
Helaan napas keluar dari bibir Renaldi. Pria itu menatap wanita yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Wanita yang juga sudah berjasa mengandung dan melahirkan anak anaknya.
Renaldi tidak bisa banyak bicara pada wanita itu. Pendirian dan egonya begitu keras sehingga Renaldi bahkan tidak mampu membuatnya luluh.
“Pah..”
Renaldi menoleh ketika mendengar suara Rasya. Pria itu kemudian tersenyum tipis menatap putra sulungnya yang sedang melangkah menghampirinya.
“Ada apa nak?” Tanya Renaldi pelan.
“Apa papah melihat bunda?” Tanya Rasya sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sosok Tara, bundanya.
“Eemm.. Bunda kamu sudah pulang. Tapi dia bilang besok akan kesini lagi.” Jawab Renaldi.
__ADS_1
Mendengar itu Rasya menghela napas. Padahal Rasya ingin sekali malam ini bersama dengan bundanya.