PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 45


__ADS_3

Zahra tidak tau apa yang dilakukan oleh sahabatnya sehingga Santoso mengizinkan-nya untuk pulang lebih cepat seperti apa yang Zahra rencanakan dengan Faza.


“Zahra...”


Faza mengeryit karna Zahra tidak kunjung turun dari boncengan-nya padahal mereka sudah sampai didepan rumah. Zahra juga masih tetap memeluk dan menyenderkan kepala dipunggung Faza.


“Hey..” Faza meraih tangan Zahra mengusapnya dengan lembut membuat pikiran Zahra tentang Tina dan Santoso langsung teralihkan.


“Kenapa mas?” Tanya Zahra gelagapan.


”Kita udah sampe sayang..”


Zahra langsung mengedarkan pandangan-nya kesekitar. Zahra meringis ketika menyadari mereka sudah berada didepan rumah.


“Oh udah sampe ya..”


Zahra segera turun dari boncengan Faza.


Faza menggelengkan kepalanya karna tingkah istrinya itu. Setelah melepas helm nya, Faza pun turun dari motor gedenya.


“Ngelamunin apa sih kamu hem?” Tanya Faza penasaran.


Zahra tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Bukan apa apa. Hanya sedikit sedang terpikirkan dengan Tina.”


Faza mengangkat satu alis mendengar nama Tina disebut.


“Kenapa dengan Tina?” Penasaran Faza bertanya.


“Jadi Tina itu berhasil membuat pak Santoso mau mengizinkan aku pulang cepat hari ini. Padahal sebelumnya pak Santo nggak ngizinin bahkan sepertinya sedikit marah dan tidak menerima alasan aku buat izin pulang cepat.”


“Apa? dia marah dan tidak mau menerima alasan kamu? Atasan macam apa itu?”


“Mungkin karna restoran sedang rame” Ujar Zahra yang tidak mau berpikir negatif pada atasan-nya itu.


“Nggak bisa gitu dong. Yang namanya karyawan sudah baik baik minta izin itu nggak harus kena marah. Kalaupun nggak boleh ya harus dengan baik baik juga ngomongnya.”

__ADS_1


Zahra mengedikkan kedua bahunya tidak terlalu perduli sekarang. Yang Zahra pikirkan sekarang hanya cara apa yang Tina lakukan oleh Tina pada Santoso.


“Aku kok jadi ngrasa keberatan ya kamu kerja direstoran itu. Santoso itu sepertinya bukan bos yang baik.”


“Maksud kamu apa mas? Kamu mau larang aku kerja?”


Faza menghela napas. Maunya memang begitu. Zahra dirumah saja dan tidak perlu lagi bekerja.


“Ra.. Sebenarnya gaji aku juga cukup untuk biaya kita sehari hari loh. Bahkan sepertinya masih bisa ditabung sedikit.”


Zahra tersenyum. Gaji suaminya memang berlipat lipat lebih banyak dari gajinya yang hanya seorang waitrees direstoran.


“Ya aku tau mas. Tapi kalau aku cuma dirumah goyang goyang kaki nggak ngapa ngapain juga aku bingung dan pasti bakal ngerasa jenuh. Kalau aku kerja kan aku keluar keringat, terus lumayan juga buat tambah tambahan keuangan kita ya meskipun nggak seberapa sih gaji aku.”


Faza diam mendengarnya. Zahra sangat keras kepala. Jika Faza menyauti apa yang Zahra katakan berdasarkan kata hatinya mereka pasti akan kembali bertengkar.


“Apa kamu akan tetap bekerja direstoran itu meskipun kita sudah punya anak?” Tanya Faza yang tiba tiba saja terpikirkan tentang anak.


Zahra diam beberapa detik. Zahra tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


“Kalau kita punya anak itu artinya aku sudah punya kesibukan baru mas. Kesibukan yang mungkin akan ada saja setiap detik, menit, jam bahkan setiap hari. Aku tentu saja tidak akan punya waktu untuk bekerja.” Jawabnya.


“Itu pemikiran yang bagus sayang.” Puji Faza.


Zahra tertawa pelan.


“Ya udah yuk masuk. Aku akan memasak yang enak untuk kamu sore ini. Anggap saja sebagai upah karna sudah membelikan dua gaun cantik itu semalam.”


“Oke..” Angguk Faza setuju dengan senyuman menghiasi bibir tipisnya.


Zahra merogoh kunci didalam tas slempangnya kemudian membuka pintu dan mengajak Faza untuk masuk kedalam.


“Sayang, sepertinya aku juga harus bawa kunci sendiri deh. Biar kalau aku lagi pulang cepat bisa langsung pulang kerumah nggak harus kerumah mamah..” Ujar Faza.


“Memangnya kenapa kalau kerumah mamah?” Tanya Zahra yang berpikir Faza senang pulang kerumah kedua orang tuanya karna memiliki waktu untuk menjenguk keduanya tanpa harus libur kerja.


“Ya nggak papa. Cuma kalau kerumah mamah kelamaan sayang dijalan.” Jawab Faza beralasan.

__ADS_1


Faza sebenarnya hanya sedang menghindar dari mamahnya yang mulai kembali mendekatkan-nya dengan Loly.


--------


Pukul 7 tepat Zahra dan Faza berangkat untuk menghadiri pesta pertunangan Anita. Kali ini Faza tidak menggunakan motornya melainkan menaiki taxi supaya dandanan Zahra tidak rusak karna terkena angin. Apa lagi gaun Zahra juga berlengan pendek yang tentu saja bisa membuat Zahra masuk angin jika mereka menggunakan motor sebagai kendaraan-nya.


Faza melirik Zahra yang ada disampingnya. Menurut Faza, Zahra benar benar terlihat berbeda malam ini. Faza bahkan merasa pangling karna dihari hari biasa Zahra jarang bahkan hampir tidak pernah mengenakan make up. Saat mereka berdua menikah pun Zahra hanya memoles tipis wajahnya dengan make up.


“Zahra..” Panggil Faza sambil meraih tangan Zahra.


“Ya mas...” Saut Zahra menoleh menatap Faza yang sedang memainkan tangan-nya.


“Kamu cantik banget dengan dandanan seperti ini.” Puji Faza.


Zahra tertawa pelan. Ini kali pertama Zahra menggunakan make up dengan totalitas. Itupun Zahra lebih dulu menonton-nya di YouTube.


“Aku jadi pengen...” Imbuh Faza.


Zahra yang mendengar itu langsung menarik tangan-nya dari genggaman tangan Faza.


“Apaan sih kamu mas. Nggak lucu ah. Lagi di taxi juga.”


Zahra melengos menghindar dari obrolan sensitif itu. Faza memang tidak akan main main jika sudah menyangkut urusan mereka di ranjang. Jika Zahra menolak karna alasan capek Faza bahkan bisa merayunya dengan embel embel memijit yang tentu saja bisa dengan gampang menelusuri setiap inci kulit mulus Zahra menggodanya hingga akhirnya Zahra pasrah karna sentuhan lembut Faza.


“Iya iya enggak.. Aku juga nggak mungkin kali lakuin itu disini sayang. Tapi kalau nanti dirumah nggak boleh ana penolakan loh..” Faza mendekat dan berbisik tepat didepan telinga Zahra.


“Iiihh maaaaas....”


Zahra mengeram kesal. Bukan-nya berhenti membahas, Faza justru semakin memperjelas maksud dari ucapan-nya.


Faza tertawa melihat wajah merona istrinya yang juga terlihat kesal karna godaan-nya. Setelah apa yang mereka bahas sore tadi, Faza sudah bertekad akan semakin sering meminta jatah pada Zahra agar Zahra cepat hamil kemudian berhenti dari pekerjaan-nya.


Sekitar 25 Menit perjalanan, taxi yang mereka tumpangi sampai didepan hotel tempat diadakan-nya pesta pertunangan Anita.


“Wah... mewah banget mas hotel nya. Apa tunangan Anita orang yang sangat kaya?”


Faza tersenyum. Faza sudah menyangka calon tunangan Anita pasti bukan orang sembarangan. Itu sebabnya Faza ingin istrinya terlihat cantik agar tidak dipandang sebelah mata oleh para tamu undangan yang hadir.

__ADS_1


“Ayo masuk..”


__ADS_2