PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 289


__ADS_3

Seperti tiga bulan yang lalu, Faza pulang dengan perasaan kecewa karena sikap mamahnya. Faza bahkan mengemudikan mobilnya dengan air mata yang terus menetes membasahi kedua pipinya. Untuk yang kesekian kalinya Faza kembali merasakan kecewa dan sakit hati karena sikap mamahnya sendiri.


Namun saat sampai di gerbang kompleks, mobil Faza hampir saja menabrak mobil Akbar yang saat itu baru pulang dari bekerja.


Akbar yang terkejut langsung membanting stir hingga mobilnya berbelok dan menabrak pohon besar yang ada ditepi jalan tepat disamping gerbang keluar masuk kompleks perumahan yang dia dan keluarganya tinggali.


“Ya Tuhan... Faza..”


Akbar yang memang sudah sangat hapal dengan mobil putranya bergegas turun dari mobilnya tanpa memperdulikan rasa sakit di bagian lututnya karena terbentur bagian depan mobil saat menabrak pohon besar tersebut.


Tidak jauh berbeda dengan Akbar, Faza pun merasa khawatir pada keadaan sang papah dan bergegas turun dari kendaraan beroda empatnya. Beruntung meskipun sedang dalam keadaan hati yang kalut namun Faza tetap bisa berkonsentrasi dengan baik sehingga Faza bisa dengan cepat menginjak rem dan terhindar dari hal yang tidak di inginkan.


“Faza.. Kamu nggak papa?” Tanya Akbar menghampiri Faza dengan langkah kaki yang pincang.


“Aku nggak papa pah.” Jawab Faza dengan ekspresi khawatir balas menatap sang papah.


Akbar mengeryit. Akbar tau putranya baru saja menangis karena pipinya yang basah dengan hidung memerah serta kedua mata yang sembab.


“Ada apa?” Tanya Akbar tanpa basa basi. Akbar sebenarnya sudah bisa menebak pasti ada sesuatu yang terjadi saat Faza kerumah sehingga membuat putra sulung kebanggaan-nya itu sampai menangis.


“Enggak pah. Nggak ada apa apa.” Jawab Faza tersenyum sambil mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


Akbar tertawa. Pria itu tau Faza sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.


“Mobil papah kayanya rusak parah. Anterin papah pulang sampe rumah yah..” Ujar Akbar kemudian.


Faza diam sesaat. Ingin menolak tapi tidak mungkin. Sedangkan kembali kerumah kedua orang tuanya juga jauh lebih tidak mungkin lagi baginya.


“Terus mobil papah gimana?”


Akbar menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Entah kenapa sore itu tumben sekali tidak ada satupun satpam yang berjaga di depan pintu gerbang keluar masuk kompleks tersebut.


“Sudahlah. Nanti juga kalau ada satpam yang lihat mereka bakal hubungi papah.” Jawab Akbar kemudian.


Faza hanya mengangguk pelan. Pria itu benar benar tidak bisa menolak permintaan tolong papahnya.


“Ya udah yuk pah..” Ajak Faza sembari membantu papahnya melangkah menuju mobilnya.


Akbar menurut saja saat Faza memapahnya menuju mobil. Akbar terus mencoba untuk tenang dan bersikap biasa saja didepan Faza yang hanya diam dengan usahanya menyembunyikan apa yang sedang dirasakan-nya sekarang.

__ADS_1


Mobil Faza kembali masuk kedalam pekarangan luas rumah kedua orang tuanya. Meskipun sebenarnya Faza sangat tidak ingin kembali lagi kerumah itu.


“Ayo turun..” Ajak Akbar tenang.


“Enggak pah. Faza mau langsung pulang aja. Zahra sama Fahri sudah nunggu Faza dirumah.” Senyum tipis Faza menjawab.


Akbar tertawa pelan. Kentara sekali jika putra sulungnya itu tidak ingin dirinya tau bahwa telah terjadi suatu masalah saat Akbar sedang tidak ada tadi.


“Ada yang mau papah tunjukan sama kamu. Ini penting.”


Faza mengeryit. Papahnya tidak pernah main main jika sudah mengatakan bahwa itu suatu hal yang penting.


“Pah tapi..”


“Ayo...” Sela Akbar menepuk pelan bahu Faza kemudian turun lebih dulu dari mobil Faza.


Faza menghela napas. Mau tidak mau Faza akhirnya ikut turun dari mobilnya. Dan tepat saat Faza dan Akbar hendak melangkah masuk kedalam rumah, Fadly juga pulang. Mobil putra bungsu keluarga Akbar itu berhenti tepat disamping mobil Faza.


“Kakak.. Papah..” Senyum Fadly begitu mendekat pada kakak dan papahnya.


Faza hanya diam saja. Pria itu hanya tersenyum tipis menatap Fadly yang terlihat sangat sumringah. Jika sudah seperti itu Faza sudah bisa menebak bahwa Fadly baru saja bertemu dengan Loly.


“Kebetulan kamu pulang. Papah mau menunjukan sesuatu pada kalian berdua.”


“Oh ya? Apa itu pah?” Tanya Fadly penasaran.


“Ayo kita masuk..” Ajak Akbar kemudian melangkah lebih dulu dengan kaki pincang.


Fadly menatap pada Faza dengan tatapan bertanya. Namun Faza hanya menggeleng pelan pertanda tidak tau kemudian melangkah menyusul Akbar lebih dulu masuk kedalam rumah.


“Ada apa sih? Kok pada serius banget.” Gumam Fadly bingung.


Fadly mengikuti Faza dari belakang menyusul Akbar yang katanya ingin menunjukan sesuatu padanya juga Faza.


Ketika sampai didalam rumah, kakak beradik itu dibuat bingung oleh sang papah yang mondar mandir ke segala arah rumah seperti sedang mencari sesuatu.


“Ini ada apa sih pah sebenarnya?”


Akbar tidak menggubris pertanyaan Fadly. Pria itu justru bertanya pada bibi yang saat itu melintas hendak menuju ke kamarnya.

__ADS_1


“Bi, mana Sinta?” Tanya Akbar yang membuat Faza dan Fadly mengeryit bingung. Seingat keduanya seumur mereka ini adalah kali pertama papahnya memanggil mamahnya dengan sebutan nama.


“Kakak dengar itu? Papah panggil mamah dengan sebutan nama?” Tanya Fadly yang mulai merasa tidak beres.


Faza hanya mengangguk saja tanpa berani menebak nebak. Namun perasaan-nya benar benar tidak tenang saat itu.


Tidak hanya Faza dan Fadly saja yang terlihat bingung, tapi juga bibi. Wanita tua itu juga merasa tidak biasa dengan pertanyaan Akbar yang menyebut nama Sinta secara langsung.


“Emm.. Nyonya, nyonya ada didapur tuan..” Jawab bibi sedikit gelagapan.


Akbar mengangguk kemudian segera melangkah ke arah dapur di ikuti oleh kedua putranya yang merasa khawatir dengan gerak geriknya.


Begitu sampai didapur Akbar tersenyum melihat Sinta yang sedang menangis dengan kepala tertunduk.


“Sinta.” Panggilnya membuat Faza dan Fadly merasa semakin tidak mengerti.


Sinta yang merasa namanya dipanggil oleh Akbar langsung menegakkan kepalanya. Wanita itu berhenti menangis dan segera mengusap kedua pipinya yang basah oleh air mata.


“Kak ini ada apa? Kenapa mamah nangis? Dan papah.. Kenapa papah panggil mamah begitu?”


Fadly mulai tidak bisa menahan dirinya sekarang. Fadly khawatir jika kedua orang tuanya kembali berada dalam masalah.


“Disini sudah ada kedua putra kita. Tidak ada orang lain kecuali bibi. Dan dengan sangat berat hati aku terpaksa melakukan ini didepan mereka Sinta.”


Fadly menggelengkan kepalanya. Berbeda dengan Faza yang tetap tenang dalam diamnya.


“Sinta awalnya aku tidak ingin Faza maupun Fadly tau tentang ini. Tapi setelah aku pikir pikir mereka berdua juga harus tau bagaimana kamu maupun aku yang sebenarnya. Bukan bermaksud mencoreng nama mulia kamu sebagai seorang ibu dimata mereka berdua. Tapi sikap kamu membuat aku merasa sangat tidak tahan. Aku tidak mau mereka berdua bimbang karena merasa menjadi anak yang tidak baik untuk kamu.”


Sinta menyipitkan kedua matanya menatap tidak mengerti pada suaminya.


“Apa maksud kamu?” Tanya Sinta dengan suara bergetar.


Akbar menghela napas kasar kemudian mulai mengatakan segalanya didepan kedua putranya. Mulai dari Sinta yang merasa tidak nyaman tinggal bersama mertuanya sampai perselingkuhan Sinta juga perselingkuhan-nya sendiri. Akbar benar benar membuka segalanya secara terang terangan didepan Faza dan Fadly yang merasa sangat terkejut dengan semua itu.


“Sekarang lebih baik kamu pikir baik baik Sinta. Kamu selalu memandang Zahra sebelah mata tanpa sedikitpun kamu menyadari kekurangan kamu. Kedua putra kita sudah tau semuanya. Mereka mungkin tidak berani menyalahkan kamu ataupun aku. Tapi sebagai laki laki dewasa aku yakin mereka berdua tau bahwa semua itu tidak akan bisa dibenarkan sampai kapanpun.”


Sinta terdiam. Semuanya dibongkar secara terang terangan oleh suaminya sendiri. Semua yang dengan rapi selalu Sinta tutup tutupi dengan rapat.


“Faza sangat terkejut mah...” Senyum miris Faza menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Faza menghela napas kemudian berlalu dari tempatnya berdiri. Sedangkan Fadly, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya sebelum akhirnya dirinya juga berlalu meninggalkan Sinta hanya bersama dengan Akbar saja didapur.


“Puas kamu sekarang?”


__ADS_2