PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 280


__ADS_3

Sinta kembali pulang kerumah dengan air mata yang terus menetes dan membasahi kedua pipinya. Sinta benar benar masih tidak rela jika harus putus hubungan dengan Erika, sahabat terdekatnya sejak mereka sama sama menimba ilmu di bangku SMA.


Sinta membunyikan klakson mobilnya beberapa kali tidak sabar karena gerakan pak Umar yang dianggapnya terlalu lamban saat membuka gerbang. Maklum, emosinya sedang tidak terkontrol karena rasa sedih yang sedang dialaminya.


Setelah pintu gerbang dibuka lebar, Sinta melesat dengan cepat membuat pak Umar menggelengkan kepalanya.


“Ya ampun nyonya nyonya.. Kalau den Fadly sama tuan yang begituu saja ngomelnya nggak selesai selesai seharian.” Gumam pak Umar sambil kembali menutup pintu gerbang.


Sedang Sinta, dia mengerem mobilnya mendadak membuat ban mobil dan lantai bergesek keras yang menyebabkan bunyi decitan keras. Sinta turun dari mobil setelah itu tanpa memperdulikan orang orang yang terkejut karena ulahnya. Seperti bibi dan pak Umar.


Sinta melangkah masuk dengan langkah lebar kedalam rumah. Sesekali wanita itu mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Tidak lama setelah itu mobil Fadly datang. Pria itu mengeryit ketika mendapati mobil mamahnya yang terparkir tepat didepan rumah tidak jauh dari pintu.


“Mamah dari mana?” Gumam Fadly bertanya tanya.


Fadly menghela napas pelan. Tidak ingin berpikir yang tidak tidak Fadly pun mengabaikan posisi mobil mamahnya yang tidak biasa itu.


Fadly masuk kedalam rumah dengan sangat terburu buru. Pria itu berniat mengambil sesuatu yang tertinggal dan sekarang sangat dia perlukan untuk bahan meeting.


Begitu sampai di ujung tangga dilantai dua, Fadly kaget mendengar suara barang yang dibanting dengan sangat keras. Namun yang mendengar suara bantingan keras itu bukan hanya Fadly saja, tapi juga bibi yang langsung berlari menuju lantai dua rumah mewah itu.


Fadly menelan ludah. Suara benda terbanting keras itu berasal dari kamar mamahnya.


“Ada apa den?” Tanya bibi yang membuat Fadly menoleh padanya.


“Enggak tau bi.. Sebentar Fadly cek dulu.”


Dengan langkah lebar Fadly menuju pintu kamar sang mamah yang memang berada lumayan jauh dari tangga. Pria itu mendadak merasa sangat khawatir pada keadaan sang mamah.


Fadly membuka pintu kamar Sinta yang memang tidak dikunci. Begitu pintu terbuka lebar kedua mata Fadly langsung membulat dengan sempurna melihat pemandangan didepan-nya.


Kamar kedua orang tuanya sudah sangat tidak karuan karena barang barang yang berserakan dimana mana. Beberapa bahkan ada yang hancur dan pecah.

__ADS_1


“Mamah..” Fadly menatap Sinta yang menangis dalam diam. Wanita itu berdiri didepan meja riasnya dengan tangan yang terluka dan mengeluarkan darah.


“Ya Tuhan...”


Fadly langsung mendekat dan memeluk tubuh Sinta yang kemudian langsung lemas. Suara tangisan pilu Sinta langsung terdengar begitu menyayat hati membuat Fadly kebingungan.


“Ada apa mah? Kenapa mamah begini?” Tanya Fadly lirih.


Sinta tidak bisa berkata apa apa. Dia hanya menangis sesenggukan dengan tubuh bergetar dalam pelukan putra bungsunya.


Bibi yang berdiri diambang pintu hanya bisa diam. Dari awal kepulangan Sinta yang entah darimana itu bibi memang sudah merasakan keanehan. Bibi bahkan juga melihat sendiri Sinta yang melangkah masuk kedalam rumah sambil menangis.


Menyadari keberadaan bibi yang berdiri di ambang pintu, Fadly pun menatap wanita tua itu dengan pandangan penuh tanya namun bibi hanya bisa menggeleng pertanda tidak tau menahu tentang penyebab Sinta sampai menangis dan frustasi seperti sekarang.


“Mamah tenang yah.. Ada Fadly disini..”


Fadly membopong tubuh Sinta kemudian membaringkan-nya diatas tempat tidur. Fadly mengusap pipi basah Sinta dengan sangat lembut. Fadly benar benar tidak tau harus bagaimana sekarang. Rasa khawatir juga takut bercampur menjadi satu. Mamahnya tidak pernah seperti itu sebelumnya. Kalaupun ada masalah mamahnya selalu bisa bersikap dengan tenang.


“Erika.. Huhuhu..”


“Mah kenapa? Kenapa dengan tante Erika?” Tanya Fadly dengan pelan.


Sinta menggeleng dan terus saja menangis. Bahkan Sinta juga sepertinya tidak merasakan perih pada tangan-nya yang terluka dan terus mengeluarkan darah.


Fadly berdecak pelan. Melihat keadaan sang mamah yang tidak mungkin dia tinggal, Fadly pun dengan sangat terpaksa menunda meeting nya.


Fadly juga langsung menghubungi sang papah dan memberitahukan keadaan mamahnya sekarang.


Fadly terus mencoba menanyakan dengan pelan dan lembut tentang apa yang terjadi pada Sinta. Namun bukan-nya menjawab, wanita itu justru semakin menangis pilu. Sinta terlihat sangat terluka dalam tangisnya.


Fadly mengerang frustasi. Padahal pagi tadi mamahnya baik baik saja dan terus tersenyum manis padanya juga Akbar yang pamit untuk berangkat bekerja.


“Den.. Ini obat untuk mengobati luka nyonya..”

__ADS_1


Fadly menoleh saat bibi menyodorkan kotak P3K padanya.


“Hem makasih ya bi.. Tolong panggilin pak Umar juga ya bi biar pak Umar bersihin ini.” Senyum Fadly saat menerima kotak P3K yang disodorkan oleh bibi.


“Baik den..”


Bibi kemudian berlalu dengan hati hati karena tidak mau tertusuk oleh beberapa pecahan kaca dan barang lain-nya yang berserakan dilantai.


Sedang Fadly, dengan penuh kasih dan kelembutan mulai membersihkan luka ditangan Sinta, mengobatinya kemudian membalutnya dengan perban.


“Fadly, ada apa ini? Kenapa dengan mamah?” Tanya Akbar yang muncul dengan pak Umar dibelakangnya.


Fadly hanya bisa menggeleng kemudian bangkit dari duduknya karena papahnya yang mendekat pada sang mamah.


“Ada apa mah?” Tanya Akbar pada Sinta.


Sinta menggelengkan kepalanya kemudian kembali menangis dengan pilu. Akbar yang tidak tega melihat istrinya yang sangat kalut itu segera memeluknya dan menciumi beberapa kali puncak kepala wanita yang sangat di cintainya itu.


“Erika pah.. Dia marah sama mamah.. huhuhu..”


Fadly yang mendengar itu melebarkan sedikit kedua matanya. Itu artinya mamahnya baru saja bertemu dengan mommy Loly.


Fadly menelan ludah. Fadly ingat Loly pernah mengatakan bahwa kedua orang tuanya marah bahkan mommy nya juga sudah memutuskan hubungan pertemanan secara sepihak dengan Sinta, mamahnya.


Fadly kemudian keluar dari kamar kedua orang tuanya membiarkan Sinta bersama dengan Akbar yang pasti lebih bisa menenangkan Sinta.


“Apa mungkin mamah bertemu dengan tante Erika dan mendapatkan perlakuan tidak baik?” Fadly bertanya tanya sendiri dalam hati.


“Jika memang itu benar. Itu artinya mamah seperti ini karena kesalahanku..” Gumam Fadly menelan ludah.


Fadly menoleh menatap pintu kamar kedua orang tuanya yang terbuka. Fadly benar benar tidak berpikir panjang saat akan menyakiti Loly. Egonya berhasil mengalahkan pikiran sehatnya. Fadly hanya memikirkan perasaan-nya sendiri dan melakukan kekejaman itu karena merasa dendam pada Loly yang sudah membuat Sinta tidak lagi mempercayainya.


“Kenapa aku begitu bodoh.. Kenapa aku bisa begitu jahat dan egois..”

__ADS_1


Fadly bergumam lirih dengan kedua mata terpejam. Fadly sangat menyesal karena mengikuti egonya sendiri.


__ADS_2