PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 52


__ADS_3

Taxi yang ditumpangi Zahra dan Faza sampai ditempat tujuan. Tepatnya didepan gerbang kediaman kedua orang tua Faza.


Zahra menarik napas dalam dalam dan menghembuskan dengan kasar lewat mulut sebelum turun dari taxi tersebut bersama Faza.


“Jujur mas.. Aku sangat gugup sekarang.”


Faza tersenyum. Faza tau dan mengerti bagaimana perasaan istrinya sekarang. Faza juga sebenarnya sedikit menyesal datang ke kediaman kedua orang tuanya. Dan entah kenapa Faza merasakan sesuatu yang tidak dalam hatinya.


“Tenang ya.. Aku akan selalu ada disamping kamu..”


Faza meraih tangan Zahra dan menggenggamnya erat meyakinkan pada istrinya bahwa Faza akan tetap berada disamping Zahra apapun yang akan terjadi nanti. Tidak perduli meskipun nanti apa yang Faza lakukan pasti akan mengundang kemarahan sang mamah.


“Ayo kita masuk..”


“Tapi mas..”


Zahra menahan tangan Faza yang menggenggam tangan-nya. Tekad dan keyakinan Zahra luntur seketika saat mengingat pertama kali dirinya menginjakan kaki dirumah berlantai dua itu. Sinta tidak mau menerimanya saat itu bahkan masih tidak mau menerimanya sampai sekarang.


“Eh aden..”


Zahra dan Faza mengalihkan perhatian-nya pada pak satpam penjaga gerbang yang entah muncul dari arah mana.


Pak Umar, nama satpam tersebut. Pak Umar dengan semangat membukakan pintu gerbang tanpa Faza meminta.


“Silahkan den. Tadi non Loly juga sudah datang loh..”


Faza mengeryit begitu juga dengan Zahra mendengar pak Umar mengatakan bahwa Loly juga sudah datang.


“Jadi mamah ngundang Loly juga...” Batin Faza merasa sangat kecewa dengan apa yang mamahnya lakukan. Padahal Faza pikir mamahnya hanya mengundangnya dan Zahra saja. Faza bahkan sempat berpikir mungkin kedua orang tuanya pintu hatinya sudah mulai terbuka dan mau menerima dan merestui hubungan-nya dengan Zahra.


“Loly? Loly siapa mas?”


Zahra bertanya dengan raut wajah penuh rasa penasaran. Zahra yakin Loly bukan anak usia lima tahun seperti keponakan-nya Arka.


“E.. emm.. Loly itu anak temen mamah Ra..” Jawab Faza tersenyum tipis.


Zahra masih merasa tidak puas dengan jawaban Faza. Zahra ingin kembali bertanya tapi Zahra sendiri tidak tau apa yang harus dia tanyakan. Nama Loly benar benar terasa sangat mengganjal dihatinya.

__ADS_1


“Ya udah kalau begitu tutup lagi aja gerbangnya pak.”


Pak Umar terlihat kebingungan mendengar perintah Faza.


“Tapi den.. Ibu sama bapak sudah menunggu aden dan non Zahra didalam. Mereka juga berpesan pada saya untuk memberitahu pada aden juga non agar segera masuk kalau sudah datang.”


Faza menghela napas. Mengajak Zahra masuk kedalam sama saja dengan mengukir luka dihati istrinya. Faza tau mamahnya pasti berniat tidak baik kali ini.


“Ada yang ketinggalan pak yang saya dan istri saya harus ambil dulu. Nanti kami akan datang lagi. Jadi sebaiknya gerbangnya ditutup lagi aja dulu..” Ujar Faza mencoba untuk mencari alasan agar pak Umar mengerti.


“Baik den..”


Ketika pak Umar hendak menutup kembali pintu gerbang itu tiba tiba suara Loly terdengar menyerukan nama Faza.


Loly muncul dari pintu utama kediaman keluarga Faza dan berlari kecil menuju gerbang menyuruh agar pak Umar membuka lebar gerbang itu memberi jalan yang lebar pada Faza dan Zahra untuk masuk.


“Pak kenapa tadi kok gerbangnya malah mau ditutup lagi?”


Pak Umar kebingungan harus menjawab apa. Sesekali pak Umar melirik pada Faza yang memang menyuruhnya untuk menutup kembali gerbang yang sudah dibukanya tadi.


Tidak bisa menjawab, pak Umar memilih untuk diam saja.


“Ini pasti Zahra istri kamu ya mas..”


Loly tersenyum manis dan berkata begitu ramah pada Faza dan Zahra.


Sedangkan Faza, pria itu melengos enggan menatap Loly yang berdiri dengan jarak satu meter darinya.


“Om sama tante udah nungguin kalian loh dari tadi.” Senyum Loly terus mengumbar senyum manisnya.


Faza menghela napas kemudian menarik lembut tangan Zahra yang digenggamnya. Faza malas jika harus meladeni Loly yang selalu bersikap sok manis juga sangat manja pada mamahnya, Sinta.


“Ayo kita masuk sayang.” Ajak Faza.


Zahra hanya diam dan menurut. Meskipun jantungnya terus berdetak dengan sangat cepat tapi Zahra berusaha untuk tetap tenang. Zahra menoleh dan menatap sebentar pada Loly yang tersenyum padanya. Tapi Zahra tidak bodoh. Zahra tau apa maksud dari senyuman Loly.


“Mas...”

__ADS_1


Faza menghentikan langkahnya begitu mereka sampai diruang tamu. Faza membalikan tubuhnya menatap Zahra yang terlihat sangat khawatir sekarang.


“Jangan khawatir. Semuanya akan baik baik saja sayang. Kita bisa menghadapi semua ini.” Lirih Faza kemudian menarik Zahra kedalam pelukan-nya.


Zahra menganggukkan kepalanya dalam pelukan Faza. Meski Zahra tidak bisa menampik prasangka buruknya pada Loly yang sempat tersenyum padanya sebelum Faza mengajaknya untuk masuk kedalam rumah kedua orang tuanya.


“Lebih baik sekarang kita temui mamah sama papah.”


Faza melepaskan pelukan-nya dan kembali menggenggam tangan Zahra mengajaknya untuk melanjutkan langkah mereka menuju meja makan dimana kedua orang tuanya pasti sudah menunggu disana.


Tidak lama setelah Faza dan Zahra berlalu, Loly masuk dan melangkah dengan sangat elegan menuju meja makan menyusul Faza dan Zahra.


Ketika Zahra dan Faza sampai di meja makan, sudah ada kedua orang tuanya yang menunggu disana juga Fadly yang sedang menikmati buah apel.


Zahra menelan ludahnya merasa takut juga gugup begitu berhadapan dengan kedua mertuanya.


Zahra memberanikan diri mendekat pada kedua orang tua Faza. Zahra menyalimi papah mertuanya yang dengan hangat disambut oleh pria itu. Sedangkan saat hendak menyalimi mamah mertuanya, Zahra langsung mendapat penolakan dengan keras. Sinta bangkit menghindar dan malah menyambut kemunculan Loly.


Zahra yang melihat itu hanya bisa menghela napas begitu juga dengan Faza, Fadly, juga papahnya.


“Kamu darimana sayang?” Tanya Sinta yang seperti sangat sengaja memamerkan kedekatan-nya dengan Loly pada Zahra.


“Aku dari depan tante...” Senyum Loly.


“Mas Faza sudah datang sayang. Lebih baik sekarang kita makan malam segera sebelum makanan-nya dingin.”


“Oke...” Angguk Loly.


Sinta menuntun Loly mendekati meja makan. Sinta benar benar menunjukan kedekatan-nya dengan Loly pada Zahra yang membuat Zahra merasa semakin ciut.


Loly dan Sinta mulai duduk dikursinya. Begitu juga dengan Faza yang memberikan tempat duduk pada Zahra.


“Mas Faza mau makan apa? biar aku ambilkan.” Kata Loly dengan sangat ramah.


Zahra hanya bisa diam dan menghela napas pelan. Zahra merasa Loly mempunyai ketertarikan pada suaminya dan sedang berusaha menunjukan itu padanya.


“Tidak perlu repot repot Loly, disini ada Zahra istrinya kak Faza yang akan meladeni kak Faza dengan sepenuh hati. Bukan begitu kak Faza?”

__ADS_1


Faza tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Fadly katakan.


Faza merasa senang karna ternyata Fadly juga tidak menyukai kehadiran Loly diantara mereka.


__ADS_2