
Pagi ini Zahra terbangun tanpa ada Faza disampingnya. Zahra bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam karna tidak ada Faza yang memeluknya. Zahra sesekali terjaga yang membuatnya kemudian tidak bisa lagi memejamkan kedua matanya.
“Hoam...”
Nadia dan Aries menoleh saat Zahra menguap. Saat itu mereka sedang sarapan bersama dengan Aries yang sudah bersiap akan pergi bekerja.
“Kamu masih ngantuk Ra?” Tanya Nadia perhatian.
Zahra tersenyum tipis menatap kakak iparnya itu.
“Ya kak.. Aku nggak bisa tidur dengan nyenyak semalam.” Jawab Zahra.
Nadia tersenyum mendengarnya. Nadia juga pernah merasakan-nya dulu. Saat itu mereka masih pengantin baru dan Aries harus bekerja diluar kota untuk waktu yang cukup lama menurutnya yaitu satu bulan.
“Ya sudah sarapan dulu. Nanti kamu bisa istirahat lagi.” Kata Nadia.
Zahra hanya tersenyum saja. Tidak ada Faza disekitarnya rasanya seperti ada yang kurang. Zahra sudah terbiasa tidur dan bangun dengan Faza yang berada disampingnya.
Faza memang sudah menghubunginya, namun itu sama sekali tidak berpengaruh. Apa lagi ditambah dengan janin dalam kandungan-nya yang tidak berhenti bergerak seperti ikut merasakan apa yang Zahra rasakan.
“Nad kamu disini saja temani Zahra. Arka biar aku yang antar kesekolahnya.” Ujar Aries.
“Iya mas..” Angguk Nadia tersenyum.
Zahra yang mendengar itu hanya bisa tersenyum saja. Zahra merasa sangat beruntung karna memiliki kakak yang begitu sangat perhatian padanya. Aries dan Nadia bahkan sudah seperti orang tua untuknya.
“Makasih banget ya kak.. Kalian berdua sudah mau temani aku disini..”
“Dek.. Ini sudah menjadi kewajiban kakak sebagai pengganti kedua orang tua kita.. Kamu nggak perlu berterimakasih. Kakak hanya sedang melakukan kewajiban kakak sebagaimana yang pernah ayah dan ibu amanahkan pada kakak. Yaitu menjaga dan melindungi kamu.”
Zahra hanya tersenyum saja. Aries memang terkadang galak. Tapi Zahra percaya Aries sangat menyayanginya begitu juga dengan Nadia.
“Papah mamah..”
__ADS_1
Panggilan Arka pada Aries dan Nadia membuat Zahra ikut menoleh pada bocah tampan sudah rapi dengan seragam sekolahnya itu.
“Ya nak, kenapa?” Tanya Nadia lembut.
“Arka boleh tidak beli mainan baru? Soalnya mainan Arka yang lama udah pada rusak.. Arka mau kereta Thomas.”
Nadia melirik Aries yang juga meliriknya. Nadia tidak bisa begitu saja mengiyakan kemauan putra sulungnya itu. Selain akan membuat Arka manja, Selalu menuruti kemauan anak juga tidak baik menurut Aries dan Nadia. Apa lagi Arka sudah mempunyai banyak mainan dirumahnya. Arka bahkan juga membawa hampir satu kotak besar mainan miliknya kerumah Faza dan Zahra. Mainan itu Arka kemas sendiri dengan alasan akan bosan jika tidak membawa mainan selama ikut mamah dan papahnya menginap dirumah Faza.
“Eemm.. Kayanya mainan kamu masih bagus bagus deh.. Papah liat kereta Thomas bahkan ada dua.”
Arka langsung cemberut mendengar apa yang Aries katakan. Bocah itu mendadak tidak bersemangat menyantap sarapan paginya.
“Tapi Arka pengin yang baru pah mah...” Katanya pelan.
Nadia tertawa pelan. Mengoleksi mainan dengan berbagai karakter kartun memang menjadi salah satu hobi putranya. Dan Nadia sering khilaf tidak bisa menolak keinginan putranya itu.
“Bagaimana kalau beli yang lain saja. Tapi dengan satu syarat.” Senyum Aries kemudian.
“Syarat apa pah? Apa Arka harus kasih mainan Aries ke panti lagi?” Tanya Arka dengan polosnya.
“Bukan itu syaratnya anak ganteng..” Ujar Aries lembut.
“Terus apa pah?” Tanya Arka penasaran.
“Eemmm... Minggu ini ulangan kamu harua bagus nilainya. Bagaimana?”
Senyuman Arka mengembang mendengarnya. Dengan mantap Arka menganggukan kepalanya.
“Oke papah. Arka akan tunjukan nilai seratus pada papah nanti.” Katanya dengan sangat yakin.
“Baik, papah tunggu.”
Zahra tertawa pelan. Senang sekali rasanya melihat interaksi antara Aries dan Arka. Keduanya begitu kompak dan saling menyayangi.
__ADS_1
“Sudah.. Lebih baik sekarang abisin sarapan-nya terus berangkat kesekolah. Jangan nakal nakal disekolah ya sayang.. Belajar yang pinter.” Senyum Nadia menatap lembut putranya.
“Oke mamah..” Balas Arka kemudian kembali menyantap nasi goreng dipiringnya.
Selesai sarapan Aries segera mengajak Arka untuk berangkat sekolah. Hari ini untuk pertama kalinya Nadia tidak ikut untuk mengantarkan Arka. Namun Arka tidak rewel. Bocah itu mengerti dan memahami bahwa mamahnya harus menemani Zahra dirumah.
Setelah mengantar Aries dan Arka dari depan rumah, Nadia pun mengajak Zahra untuk bersantai ditaman belakang rumah. Nadia berharap dengan cara itu Zahra bisa menceritakan semua unek unek dalam hatinya. Bukan karna Nadia selalu ingin tau, Nadia hanya tidak mau Zahra setres karna memikirkan masalah yang mengganjal dihatinya seorang diri. Itu tentu saja akan berakibat buruk pada Zahra juga janin yang sedang dikandungnya.
“Kak...” Panggil Zahra pelan pada Nadia yang duduk disampingnya.
“Ya...” Saut Nadia menoleh pada Zahra yang terus menatap kedepan.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya Zahra.
“Tentu saja.” Angguk Nadia mantap.
Zahra menghela napas. Kedua orang tuanya dan Aries sudah tidak ada sejak mereka masih kecil. Dan tentunya Zahra tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai mertua. Zahra benar benar penasaran akan hal itu. Nadia dan Aries selalu tampak tenang dan akur bahkan sejak mereka masih menjadi pengantin baru.
“Cobaan terberat apa yang pernah kakak hadapi selama hidup kakak.. Baik sesudah bertemu kak Aries maupun belum?”
Nadia tampak berpikir sejenak. Wanita itu kemudian tersenyum.
“Kakak pernah merasa sangat hancur sebelum bertemu dengan kakak kamu Ra.. Kakak bahkan hampir putus asa dan bunuh diri. Semangat hidup kakak sudah benar benar hilang saat itu..”
Nadia diam sejenak. Nadia sedang mengingat masa masa kelam yang pernah dilaluinya dulu sebelum bertemu dan menjalin cinta dengan Aries.
“Kakak dulu punya pacar. Kami menjalin hubungan cukup lama. Bahkan sejak kami masih SMA. Tapi orang tuanya pacar kakak dulu nggak pernah setuju dengan hubungan kakak. Kami sudah bertekad untuk sama sama berjuang. Hampir enam tahun kami pacaran tapi akhirnya harus kandas ditengah jalan. Papahnya dia terkena serangan jantung dan meminta untuk pacar kakak itu segera menikahi perempuan pilihan keluarganya. Dan karna keadaan mendesak tersebut pacar kakak terpaksa melakukan-nya. Dia bahkan menangis dan bersujud dikaki kakak saat hendak menikahi perempuan itu. Kakak sangat hancur tapi kakak juga nggak mungkin menghalangi pernikahan itu. Karna nyawa papah dia menjadi taruhan-nya.”
Zahra menelan ludahnya melihat itu. Kisah Nadia hampir sama dengan kisahnya. Hanya saja Faza berani menikahinya meski harus berbohong pada kedua orang tuanya.
“Kak aku..”
“Nggak usah sedih.. Itu sudah berlalu kok. Lagi pula kakak juga sudah mempunyai keluarga yang bahagia. Mempunyai suami yang penyayang dan tulus. Itu hanya pengalaman pahit saja.” Sela Nadia.
__ADS_1
Zahra tersenyum. Zahra pikir hanya dirinya saja yang mempunyai kisah sedih. Tapi ternyata kisah Nadia lebih menyedihkan dari kisahnya.