PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 200


__ADS_3

Santoso terus saja ditempatnya duduk padahal Zahra sudah beralasan ingin beristirahat. Sikap Santoso yang seperti itu berhasil membuat Zahra merasa ilfil padanya. Tidak tau harus bagaimana lagi, Zahra pun memilih untuk menghubungi suaminya.


Namun sebelum Faza sampai dirumah ternyata Sinta lebih dulu datang. Sinta terkejut melihat Santoso yang sedang duduk dan memainkan ponselnya diruang tamu.


Kesal, Sinta pun marah marah membuat kegaduhan dirumah itu sehingga Zahra pun akhirnya turun.


“Mamah..” Gumam Zahra takut. Bukan takut karna merasa salah. Tapi takut Sinta akan salah paham padanya.


“Jadi begini kelakuan kamu dibelakang anak saya? Kamu memasukan laki laki lain kerumah ini saat Faza tidak ada dirumah?!” Bentak Sinta pada Zahra.


Zahra tersentak karna bentakan keras Sinta. Zahra tidak tau harus menjelaskan bagaimana, karena Sinta pasti tidak akan percaya padanya.


“Jangan diam saja, Jawab mamah Zahra !!”


Santoso yang tidak tega Zahra dibentak oleh Sinta pun bersuara.


“Saya teman-nya Zahra nyonya. Dan saya kesini karena saya sedang menjenguk Zahra yang baru saja melahirkan.” Katanya membela Zahra.


Sinta menoleh menatap Santoso tajam.


“Diam kamu !!” Tekan-nya tajam.


Sinta kemudian mendekat pada Zahra. Sinta memutari Zahra dengan sangat pelan.


“Dari awal mamah sudah punya firasat bahwa kamu memang bukan perempuan baik baik. Sekarang semuanya sudah jelas. Kamu membawa laki laki kerumah saat Faza sedang bekerja diluar sana.”


Zahra memejamkan kedua matanya. Sinta sudah salah paham. Dan itu gara gara Santoso.


“Nyonya..”


“Saya bilang diam !!” Sinta berseru membentak Santoso saking kesalnya. Padahal Sinta sudah ber itikad baik menjenguk Zahra juga cucunya. Namun apa yang dilihatnya membuat Sinta benar benar sangat murka.

__ADS_1


Zahra menghela napas. Tidak ada kesalah pahaman saja Sinta tidak mau mendengarkan-nya apa lagi jika sedang salah paham seperti ini. Bukan hanya tidak mau mendengarkan-nya. Zahra juga sangat yakin Sinta pasti menyalahkan-nya dan menganggap kehadiran Santoso adalah atas kehendak dari Zahra.


“Tapi saya tidak bohong nyonya.. Saya dan Zahra hanya teman. Kedatangan saya kesini tidak ada maksud lain.. Saya hanya bermaksud menjenguk Zahra yang baru melahirkan.”


Zahra tersenyum sinis. Entah kenapa mendengar Santoso membelanya membuat Zahra merasa sangat muak. Tentu saja, Kesalahan pahaman Sinta tidak lain adalah karna Santoso yang sengaja datang saat Faza sedang tidak ada.


“Heh kamu. Saya sudah bilang agar kamu diam. Saya tidak butuh penjelasan apapun dari kamu. Apa yang saya lihat sudah membuat saya yakin bahwa kalian berdua memiliki hubungan diam diam dibelakang anak saya.” Geram Sinta.


Tidak lama kemudian Faza datang. Pria itu mengepalkan kedua tangan-nya merasa sangat kesal pada Santoso yang masih berani menemui Zahra saat Faza sedang tidak ada dirumah.


“Pergi kamu dari sini Santoso.” Tekan Faza menahan emosinya.


Kedua tangan Faza mengepal sangat erat. Santoso membuat masalah antara istri dan mamahnya semakin tidak karuan.


Zahra yang memang hanya bisa diam saja ditempatnya menghela napas. Zahra sangat berharap Faza masih sepenuhnya percaya pada dirinya.


“Baik.. Baik. Saya akan pergi sekarang juga.” Angguk Santoso kemudian berlalu dari kediaman Faza dan Zahra.


“Sekarang semuanya sudah jelas Faza. Istri kamu bukan perempuan baik baik..” Ujar Sinta tegas.


Faza berdecak kemudian menghela napas. Faza percaya pada Zahra. Karna kalau memang Zahra memiliki hubungan dengan Santoso dibelakangnya, Zahra tidak mungkin begitu terbuka mengatakan segala hal tentang Santoso padanya.


“Mamah sabar dulu dong.. Semuanya bisa dibicarakan secara baik baik.” Ujar Faza pelan.


“Sabar kamu bilang? Jelas jelas mamah memergoki sendiri istri kamu ini membawa laki laki lain saat kamu sedang tidak ada dirumah.”


Faza menghela napas. Santoso sepertinya memang perlu diberi pelajaran.


“Mah.. Santoso itu mantan bosnya Zahra dulu. Aku tau mereka berdua nggak ada hubungan apa apa. Kalau memang mereka ada hubungan nggak mungkin dong Zahra telepon aku dan nyuruh aku buat cepat cepat pulang. Dan lagi.. Zahra nggak mungkin macem macem mah..”


“Kamu bener bener buta ya Faza. Kamu bahkan masih mau membela istri kamu yang jelas jelas sudah bersalah.”

__ADS_1


“Mamah salah paham mah..”


Faza dan Sinta terus berdebat. Zahra yang mendengar itu hanya bisa diam. Zahra takut semakin memperkeruh suasana jika dirinya ikut bersuara.


“Salah paham bagaimana? Jelas jelas saat mamah datang laki laki itu sedang duduk santai disini sambil memainkan handphone nya. Lalu itu.. Kamu liat sendiri kan barang barang yang dia bawa begitu banyak. Apa iya sampai segitunya dia memberikan semua itu jika memang Zahra tidak ada hubungan apa apa dengan laki laki itu?”


Faza menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Sinta terus saja menyalahkan Zahra tanpa mau menerima apapun penjelasan darinya.


Suara tangisan Fahri berhasil menghentikan perdebatan Faza dan Sinta. Zahra yang panik langsung melangkah cepat menuju lantai dua rumahnya. Zahra bahkan sampai tidak memperdulikan kondisinya sendiri yang sebenarnya tidak boleh terlalu cepat dalam bergerak.


“Cup cup sayangnya mamah.. Sshh.. Mamah disini sayang...” Ucap Zahra sambil menyusui Fahri yang tidak langsung diam. Bayi tampan itu memberontak dalam gendongan Zahra dan terus menangis menolak disusui oleh Zahra.


“Sshh.. Anak ganteng.. Anak baik.. Ini mamah sayang.. Sshh..”


Zahra sedikit mengayun tubuh Fahri dalam gendongan-nya mencoba menenangkan bayinya yang terus saja menangis dan menggeliat dalam gendongan-nya.


Faza yang juga ikut berlari naik ke lantai dua segera mendekat. Pria itu mengusap usap lembut kedua bahu Zahra mencoba menenangkan Zahra yang panik karna Fahri terus saja menangis.


“Tenang ya sayang.. Fahri akan ikut tenang jika kamu juga tenang..” Bisik Faza lembut.


Zahra menatap Faza dengan ekspresi sendunya. Dengan pelan Zahra mengangguk. Zahra menghela napas dan memejamkan sesaat kedua matanya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


“Hey anak gantengnya papah.. Tenang ya sayang.. Mamah sama papah disini sama kamu...”


Faza berucap dengan pelan dan penuh kelembutan. Pria itu juga membelai penuh kasih sayang kening Fahri yang ajaibnya langsung tenang. Bayi itu langsung menyusu pada Zahra dengan semangat setelah berhasil di tenangkan oleh Faza.


Zahra yang melihat itu tersenyum haru. Tanpa sadar Zahra meneteskan air matanya. Sekarang Zahra tau, untuk menenangkan putranya dirinya harus lebih tenang lebih dulu.


“Tuh kan dia diem sayang.. Lain kali kamu nggak boleh panik yah.. Kamu harus tenang supaya Fahri juga bisa tenang..” Senyum Faza menatap Zahra dan mengusap lembut air mata yang membasahi kedua pipi chuby Zahra.


“Ya mas...” Angguk Zahra tersenyum.

__ADS_1


Faza kemudian mencium lama kening Zahra. Faza tau Zahra pasti sangat panik karna Fahri yang tidak mau diam tadi.


__ADS_2