PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 161


__ADS_3

Setelah obrolan panjang ditaman belakang rumah Faza semakin merasa bersalah pada Zahra. Faza sadar dirinya sudah banyak menorehkan luka dihati istri tercintanya. Faza bahkan mengimbuhinya dengan mengagumi sosok lain dibelakang Zahra.


Faza membuka pelan pintu kamarnya. Nadia mengatakan akan langsung pulang nanti malam setelah Aries pulang dari pekerjaan-nya.


Faza tersenyum menatap Zahra yang begitu lelap tertidur dengan guling dan bantal yang berada disamping kirinya.


Faza memang sengaja menaruh bantal disamping kiri Zahra. Itu juga karna pengetahuan-nya yang dia peroleh dari seorang teman yang berprofesi sebagai dokter.


Tanpa sadar Faza meneteskan air matanya. Faza tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada diposisi Zahra. Zahra harus mendapat tekanan dari mamah mertuanya kemudian juga harus menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya adalah pria brengsek.


“Ssshh...”


Lenguhan Zahra membuat Faza mengeryit. Faza melangkah mendekat kearah ranjang kemudian duduk tepat dibelakang Zahra yang tidur dengan memunggunginya.


Dengan kedua mata terpejam Zahra memijat pelan pinggangnya. Faza yang tidak tega segera menyingkirkan dengan lembut tangan Zahra dan menggantikan tangan-nya sendiri, memijat pelan pinggang Zahra yang mungkin terasa ngilu karna semakin besar dan tuanya kehamilan Zahra.


“Ssshhtt.. Tidurlah.. Aku disini sayang...” Bisik Faza membuat Zahra bisa dengan damai terlelap kembali.


Faza terus memijat pelan pinggang istrinya. Pria itu tidak tau apa yang sedang dirasakan istrinya ditubuhnya yang semakin hari semakin terlihat berisi. Tapi satu yang Faza tau. Istrinya adalah sosok hebat yang Faza yakin tidak semua wanita mempunyai sikap seperti Zahra. Dan Faza merasa sangat beruntung karna berhasil memiliki Zahra sebagai pendamping hidupnya.


Sampai Zahra terbangun dari tidur lelapnya Faza terus berada disamping Zahra. Pria itu terus memijat pelan pinggang Zahra membuat Zahra tersenyum.


“Tadi aku mendengar kamu mendesis dan memijat pelan pinggangmu sendiri. Jadi aku gantikan.” Ujar Faza tersenyum lembut.


Zahra tertawa. Faza seperti sedang menjelaskan sesuatu agar Zahra tidak salah paham dengan apa yang dilakukan-nya. Dan itu sangat lucu menurut Zahra.


“Kok malah ketawa?” Tanya Faza mengeryit bingung.


“Abisnya kamu lucu sih mas...” Ujar Zahra sambil berusaha bangkit dari berbaringnya.


Faza yang melihat itu dengan sigap segera membantunya.


“Lucu gimana?” Tanya Faza bingung.

__ADS_1


“Ya lucu aja. Kamu pijitin aku itu artinya kamu bantu aku. Tapi kamu malah ngejelasin seolah olah aku bakal marah sama kamu.. Kan Lucu.”


Faza tertawa. Faza hanya merasa tidak tega karna merasa telah mengganggu tidur lelap istrinya dengan memijitnya.


Faza kemudian mendekat pada Zahra dan menatap tepat pada kedua mata Zahra dalam.


Hal itu membuat Zahra terdiam. Tatapan Faza begitu dalam membuatnya tidak tau harus bagaimana. Bahkan untuk mengalihkan tatapan saja Zahra merasa tidak sanggup. Pesona suaminya terlalu kuat untuk Zahra.


“Sayang...” Panggil Faza pelan.


Zahra membuka mulutnya namun tidak bisa menyaut. Lidahnya tidak bisa digerakan untuk mengucapkan sesuatu apapun pada suaminya.


“Aku sangat mencintai kamu sayang..” Ungkap Faza dengan sepenuh hatinya.


Zahra diam. Akhir akhir ini Faza memang sering sekali mengungkapkan isi hatinya pada Zahra. Tepatnya sejak 4 hari dirinya di Amerika. Zahra tidak tau apa penyebabnya, tapi Zahra bahagia karna hampir setiap pagi mendapat ungkapan cinta dari suaminya.


“Aku tidak akan bosan mengatakan I LOVE YOU sama kamu Zahra. Karna sejak dulu pertama aku bertemu sama kamu aku sudah jatuh hati sama kamu Zahra.. Aku yakin kamu memang jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan buat aku.” Lirih Faza sambil terus menatap dalam pada Zahra.


“Mas kamu...”


“Ssshhtt.. Dengarkan aku.” Sela Faza kemudian menangkup kedua pipi chuby Zahra.


Zahra menelan ludahnya. Zahra benar benar tidak mengerti dengan apa yang sedang Faza ungkapkan. Kali ini ucapan Faza benar benar membuatnya sangat penasaran. Zahra merasa Faza seperti sedang menutup nutupi sesuatu darinya.


“Sampai kapanpun kamu adalah satu satunya perempuan yang paling aku cintai Zahra. Kamu perempuan yang selalu aku impikan. Aku sangat mencintai kamu.”


Tanpa Faza mengungkapkan-nya pun Zahra tau Faza sangat mencintainya. Apa lagi Faza juga rela berbohong pada kedua orang tuanya juga Aries saat hendak menikahinya dulu. Dan lagi, Faza terus mempertahankan hidup rumah tangga dengan-nya meski tau Sinta sangat tidak menyukai Zahra.


“Mas.. Apa ini tentang mamah?” Tanya Zahra.


Tangkupan kedua tangan Faza dipipi Zahra mengendur kemudian perlahan turun. Faza menundukan kepalanya. Meskipun Faza sudah menyadari kesalahan-nya namun Faza masih tidak berani jika harus jujur pada Zahra.


“Mas...”

__ADS_1


Zahra meraih dagu Faza kemudian mengangkatnya dengan lembut menuntun agar Faza kembali menatapnya.


“Aku nggak pernah menyalahkan siapapun tentang keadaan kita. Tentang sikap mamah sama aku.. Aku percaya mungkin ini memang salah satu rintangan yang harus aku hadapi dalam hidup berumah tangga sama kamu. Aku tidak pernah menyerah karna aku tau aku akan sangat lemah tanpa kamu mas..”


Faza merasakan dadanya berdenyut ngilu. Faza tidak bisa membayangkan akan bagaimana jadinya jika Faza jujur tentang rasa kagum berlebihan-nya pada Siska.


“Ah ya Tuhan.. Aku hampir saja lupa.”


Zahra menepuk pelan keningnya sendiri membuat Faza mengeryit bingung.


“Aku ada sesuatu yang mau aku kasih kamu lihat dan perlu kamu tau.”


Ekspresi Zahra tiba tiba berubah. Wanita itu terlihat sedikit resah.


“Apa?” Tanya Faza pelan.


“Sebentar, aku ambil dulu.”


Zahra turun dari ranjang dengan gerakan pelan kemudian melangkah menuju lemari. Zahra mengambil sesuatu dari dalam lemari kemudian membawanya mendekat pada Faza.


“Apa itu?” Tanya Faza menatap bingung pada paket yang sama sekali belum dibuka oleh Zahra.


Zahra menyerahkan paket tersebut dan Faza menerimanya dengan kebingungan yang menguasainya.


Zahra menghela napas. Wanita yang sedang hamil tua itu berdiri tepat didepan Faza yang tidak mengerti dengan maksudnya memberikan paket tersebut.


“Itu dari pak Santo mas..”


Kedua mata Faza langsung membulat dengan sempurna. Zahra sudah menceritakan semuanya pada Faza, termasuk tentang cerita dari Fina yang mengatakan bahwa Santoso dan istrinya bercerai karna Santoso ketahuan mencintai Zahra diam diam.


“Aku nggak sempat mau menolak paket itu mas sebenarnya. Tapi setelah aku pikir lagi lebih baik aku terima saja untuk ditunjukan sama kamu. Yah.. Supaya tidak ada kesalah pahaman antara kita. Aku mau kamu tau semuanya tanpa ada sedikitpun sesuatu yang aku tutup tutupi.”


Bagaikan tamparan keras kalimat yang diucapkan Zahra benar benar langsung menusuk hati Faza. Dan Faza merasa sangat tersindir dengan kalimat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2