PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 191


__ADS_3

“Apa anda benar benar yakin akan menyusul pak Fadly ke bandung nona?”


Pertanyaan Mona membuat Loly berhenti mengunyah nasi goreng dalam mulutnya. Pagi ini mereka berdua sedang sarapan bersama dimeja makan dirumah Mona.


“Kamu tidak mau menemaniku Mona?” Tanya balik Loly yang membuat Mona langsung menggelengkan kepalanya.


“Bukan.. Bukan begitu maksud saya Nona.. Hanya saja saya rasa sudah tidak perlu lagi Nona mengejar pak Fadly. Semuanya sudah jelas bukan? pak Fadly tidak benar benar serius dengan anda.”


Loly tersenyum kecut. Andai saja dirinya bisa berpikir sesimpel itu mungkin Loly tidak sampai mempunyai pikiran untuk menyusul Fadly ke bandung. Namun keinginan dan cara pikirnya benar benar berlawanan. Loly ingin bisa melupakan Fadly, namun pikiran-nya tidak bisa sejalan. Loly terus memikirkan Fadly dan berharap semua ini hanya mimpi. Loly berharap Fadly akan kembali bersikap baik padanya.


“Bukankah Tuhan baik Mona? Tuhan bisa dengan mudah membolak balikkan hati manusia. Mungkin semalam dan kemarin Fadly sedang dalam keadaan hati yang buruk sehingga imbasnya terkena padaku.”


Mona terdiam. Cara berpikir Loly benar benar sudah dicemari oleh cintanya yang jelas jelas buta. Loly seperti menutup mata dengan semua bukti yang ada bahwa Fadly hanya mempermainkan perasaan-nya. Fadly tidak benar benar serius dengan hubungan-nya dan Loly.


“Lalu bagaimana jika sesampainya nona disana pak Fadly tetap tidak perduli dengan nona?”


Mona terus berusaha menyadarkan Loly agar Loly tidak semakin sakit dengan semua yang sedang dideritanya sekarang. Mungkin memang tidak mudah untuk membuat Loly menerima kenyataan bahwa Fadly tidak mencintainya. Tapi Mona tidak akan menyerah. Dimatanya Loly adalah orang baik meskipun tidak semua orang bisa percaya dengan kebaikan Loly.


“Mona.. Banyak orang bilang ucapan itu adalah sebuah Do'a.. Jadi tolong katakan semua yang baik baik untuk hubunganku dan Fadly.. Itu bisa menjadi do'a bukan. Dan Tuhan.. Tuhan pasti akan mengabulkan do'a dari setiap makhluknya.” Senyum Loly berusaha untuk tegar. Loly selalu yakin bahwa tidak ada usaha yang sia sia. Dan selama dirinya bisa berusaha, selama itu pula Loly akan terus berusaha. Tidak perduli apapun hasilnya.


Mona menghela napas. Loly sangat keras kepala.


“Ya Nona...” Balas Mona pelan.


“Terimakasih Mona.. Kamu sahabat untukku. Kamu satu satunya orang yang selalu mengerti aku.” Senyum Loly tulus.


Mona ikut tersenyum. Senyuman Loly menggambarkan beban yang begitu berat yang sedang di emban hatinya. Beban yang jelas Loly sendiri yang menciptakan karna anggapan berlebihan-nya pada hubungan tanpa statusnya dengan Fadly.


“Ya Nona.. Saya akan menemani kemanapun Nona melangkah. Mari kita sama sama pergi untuk memperjelas semuanya.”


Loly menganggukan kepalanya. Sebenarnya Loly takut dengan kenyataan yang akan didapatnya nanti. Tapi rasa cintanya pada Fadly terlalu besar sehingga Loly tidak pernah bisa berhenti mengharapkan sesuatu yang sebenarnya tidak akan pernah Loly dapatkan.


“Terimakasih Mona...”


“Sama sama nona. Kita lanjutkan sarapan-nya nona..”

__ADS_1


Loly mengangguk kemudian kembali menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutnya. Loly tidak merasakan lapar sebenarnya. Loly hanya tidak mau membuat Mona tersinggung karna tidak mau memakan apa yang sudah Mona siapkan untuknya.


Loly melirik diam diam pada Mona yang fokus dengan makanan-nya sendiri. Loly menelan makanan dalam mulutnya. Kemarin Loly kalap hingga membuat Loly melontarkan kata yang tidak seharusnya pada Mona. Sekarang Loly sadar, semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan Mona. Mona tidak mungkin mengkhianatinya. Buktinya sekarang Mona ada disampingnya, memperhatikan-nya dengan tulus.


“Mona tentang kemarin aku minta maaf.. Aku kalap. Aku tidak serius memecat kamu...”


Mona tertawa pelan mendengarnya.


“Ya nona.. Saya paham.” Balasnya.


Loly tersenyum tipis. Untung saja Mona sangat mengerti dirinya sehingga Mona tidak mengambil hati apa yang Loly ucapkan.


Setelah selesai sarapan Mona segera memesan taksi. Keduanya bergegas menuju bandara setelah mendapat tiket pesawat menuju bandung.


Selama dalam perjalanan Loly terus memanjatkan do'a pada Tuhan agar semuanya tidak sama seperti kemarin. Loly meminta pada Tuhan agar membuat Fadly kembali menatapnya dan memperlakukan-nya dengan lembut seperti sedia kala.


“Nona...”


Loly terperanjat saat mendapatkan sentuhan lembut dibahunya. Loly kemudian menoleh pada Mona yang berada disampingnya.


Mona tersenyum.


“Kita sudah sampai dibandara nona. Ayo turun.”


“Oh iya...”


Mona dan Loly pun turun dari taksi dan masuk kedalam bandara. Tepat saat mereka sampai pemberitahuan tentang pesawat bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera berangkat. Keduanya pergi tanpa persiapan apapun. Bahkan mereka berdua juga belum tau dimana alamat Fadly menginap.


Lagi lagi Loly melamun bahkan saat berada didalam pesawat. Mona yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Loly benar benar kacau karna cintanya yang tidak terbalas pada Fadly.


Hampir 6 jam dalam perjalanan akhirnya mereka sampai dibandung.


“Nona.. Apa anda tau dimana pak Fadly tinggal saat dibandung?”


Loly tidak bisa menjawab pertanyaan Mona. Mereka berdua baru saja keluar dari bandara dan hendak menuju tempat Fadly tinggal. Tapi sayangnya Loly sama sekali tidak tau menahu tentang dimana Fadly tinggal jika sedang dibandung.

__ADS_1


“Aku bisa menelepon-nya.” Ujar Loly membuat Mona tersenyum tipis.


“Pak Fadly tidak akan mengangkat telepon anda nona...”


Ucapan Mona membuat Loly menghela napas. Apa yang Mona katakan benar.


“Tapi Mona, kita tidak akan tau kalau kita tidak mencobanya bukan? Biar aku coba hubungi.”


Lagi, Loly begitu percaya semuanya akan seperti apa yang ada dipikiran-nya.


Mona hanya bisa menghela napas saja. Mona diam saat Loly merogoh tasnya mengeluarkan ponsel miliknya.


Loly mulai menghubungi Fadly namun tidak ada jawaban. Namun Loly tidak putus asa. Loly terus mencoba menghubungi Fadly hingga akhirnya telepon-nya diangkat.


“Dia mengangkatnya Mona..” Girang Loly berkata lirih.


Mona hanya bisa tersenyum. Mona harap Fadly tidak berkata dengan kejam pada Loly kali ini.


“Halo...”


Senyuman lebar dibibir Loly seketika sirna begitu mendengar suara wanita diseberang telepon. Loly membatu ditempatnya berdiri. Perlahan ponsel yang menempel ditelinga kanan-nya merosot hingga akhirnya jatuh tanpa Loly sadari.


Sakit itu kembali terasa dihati Loly.


Mona yang melihat itu mengeryit bingung. Loly belum mengatakan apapun namun raut wajahnya langsung berubah. Bahkan ponsel miliknya jatuh yang langsung Mona pungut.


“Ada apa nona?” Tanya Mona khawatir.


Air mata menetes dari kedua mata Loly. Tubuhnya langsung meluruh namun dengan sigap Mona menahan-nya.


“Ya Tuhan nona.. Ada apa nona?” Mona mulai panik. Wanita dengan kemeja dan celana panjang toska itu benar benar sesuatu yang tidak di inginkan terjadi pada atasan-nya itu.


Loly tidak bisa menjawab. Loly hanya menggeleng dan menangis tanpa suara.


Penasaran, Mona pun mencoba menghubungi Fadly kembali. Dan suara seorang wanita dari seberang telepon yang terdengar langsung membuat ubun ubun Mona terasa mendidih.

__ADS_1


“Dasar laki laki brengsek !!” Umpat Mona geram.


__ADS_2