PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 277


__ADS_3

Faza menggandeng tangan Zahra menuntun-nya masuk kedalam kediaman kedua orang tuanya. Meskipun rasa khawatir terus menggerogoti hatinya namun Faza tetap berusaha untuk tenang.


“Aden...”


Faza dan Zahra menghentikan langkahnya ketika sampai diruang tamu. Mereka berdua tersenyum ketika mendapati bibi yang sedang mengelap meja kaca yang berada ditengah sofa.


“Eh bi.. Apa kabar bi?” Senyum Zahra menyapa dengan ramah.


“Kabar saya baik nona.. Nona sendiri bagaimana kabarnya? Rasanya lama sekali ya nona kita tidak bertemu..”


Bibi bangkit dari berjongkoknya kemudian mendekat pada Zahra dan Faza.


“Seperti yang bibi lihat. Kabar saya baik. Bahkan sangat baik.” Balas Zahra.


“Syukurlah kalau begitu nona.. Den Fahri sudah besar ya.. Gendut banget.”


Zahra tertawa mendengarnya. Fahri memang berperawakan tinggi besar. Balita itu bahkan sudah seperti balita berusia 6 bulan padahal usianya masih 2 bulan.


“Emm bi, mamah ada kan?” Tanya Faza kemudian.


“Ada den.. Nyonya diteras samping kayanya. Apa perlu saya panggilkan?”


“Oh tidak bi. Tidak usah. Saya panggil sendiri saja.” Jawab Faza tersenyum.


“Sayang aku ke mamah yah.. Kamu sama bibi dulu..” Faza berkata dengan sangat lembut pada Zahra.


“Oh oke mas..” Angguk Zahra menjawab.


“Bi, titip yah..”


“Kamu apaan sih mas. Aku bukan anak kecil juga pake dititip titipin segala.” Tawa Zahra merasa lucu dengan tingkah suaminya.


Bibi ikut tertawa mendengarnya. Wanita itu merasa sangat senang dengan kedatangan Zahra. Dan setelah Faza berlalu, bibi langsung menawarkan minuman untuk Zahra.


“Orange jus kayanya seger bi..” Senyum Zahra pada bibi.


“Baik nona.. Bibi segera buatkan. Tunggu sebentar.”


Zahra menganggukan kepalanya. Setelah bibi berlalu, Zahra pun mendudukan dirinya disofa. Zahra juga meletakan tubuh gempal Fahri diatas sofa karena merasa pegal dibagian lengan-nya terlalu lama menggendong Fahri.

__ADS_1


---------------


“Mamah...”


Sinta sedang memotong motong daun bunga yang layu saat Faza memanggilnya.


Sinta menoleh dan tersenyum ketika mendapati putra sulungnya sudah berdiri dibelakangnya.


“Faza..” Gumamnya kemudian segera melepas gunting yang dipegangnya meletakan-nya disamping pot bunga yang sedang dia rapikan.


Sinta langsung menghampiri Faza dan memeluknya erat. Sinta benar benar sangat merindukan putra pertamanya itu.


Setelah melepaskan pelukan-nya pada Faza, Faza pun menyalimi mamahnya itu.


“Mana Fahri?” Tanya Sinta dengan wajah antusias.


“Fahri ada didepan mah, sama Zahra.”


Ekspresi Sinta langsung berubah saat Faza menyebut nama Zahra. Sinta merasa tidak mengatakan agar Faza mengajak Zahra ikut serta. Sinta hanya menyuruh Faza mengajak Fahri, cucunya.


“Mamah nggak ada bilang supaya kamu ajak Zahra juga loh Za..”


“Mamah kan tau aku nggak mungkin bawa Fahri tanpa Zahra. Mereka penting dua duanya buat aku mah.. Dan dimana pun aku berada disitu juga harus ada Zahra dan Fahri.”


Sinta melengos.


“Kamu benar benar sangat mencintai perempuan itu nak? Sampai kamu mengabaikan perasaan mamah?”


Faza menyipitkan kedua matanya menatap tidak menyangka pada mamahnya. Faza tidak mengerti dengan jalan pikiran mamahnya. Faza selalu berusaha mengalah dan diam bahkan saat Sinta menjelekan istrinya, Zahra. Tapi sedikitpun Sinta tidak pernah menghargai kediaman Faza.


“Mamah ini perempuan yang melahirkan kamu nak.. Mamah yang menyusui kamu. Mamah yang merawat kamu dengan penuh kasih sayang. Mamah yang selalu memastikan segala yang terbaik untuk kamu.”


Faza tertawa pelan mendengarnya. Faza bukan orang yang tidak punya pikiran. Faza juga tau semua itu. Faza sadar dirinya tidak mungkin ada didunia ini tanpa pengorbanan mamahnya.


“Aku tau itu mah.. Aku sangat tau mamah adalah satu satunya perempuan yang rela bertaruh nyawa buat aku. Tapi aku minta tolong sama mamah, tolong hargai keputusan aku. Hargai pilihan aku.. Aku sudah dewasa mah. Aku tau mana yang baik dan mana yang buruk. Dan Zahra, dia adalah perempuan baik dan aku sangat mencintainya. Tolong mamah mengerti.”


Sinta menatap Faza yang memelas padanya. Sinta tidak tau bagaimana Zahra yang sebenarnya. Tapi derajat Zahra yang hanya orang biasa membuat Sinta selalu memandang Zahra sebagai wanita yang tidak baik. Ditambah dengan Faza yang dulu sering berbohong demi Zahra. Itu menambah ketidak sukaan Sinta pada Zahra semakin besar.


“Kamu berubah setelah mengenal Zahra nak. Dulu kamu sangat patuh dan nurut sama mamah. Tapi setelah kamu kenal dengan Zahra kamu sering bohong sama mamah. Mamah merasa kehilangan anak mamah yang baik dan jujur.”

__ADS_1


“Kalau aku jujur apa mamah mau menerima Zahra dari awal? Enggak kan? Mamah bahkan dulu mengusir Zahra saat Zahra berniat menjenguk aku yang sedang sakit. Mamah caci maki Zahra, mamah hina Zahra sampai Zahra berniat meninggalkan aku dulu.. Mamah masih ingat bukan? Teman sekelas Fadly yang mamah usir dengan ucapan kasar karena Zahra hanya anak yatim piatu dan miskin?”


Kedua mata Faza berkaca kaca saat mengatakan-nya. Rasa rindu pada sang mamah langsung berubah menjadi rasa kecewa karena apa yang Sinta katakan. Faza benar benar tidak bisa lagi menerima semua perlakuan Sinta pada Zahra.


Sinta diam. Wanita itu terus menatap Faza yang berusaha menahan tangis didepan-nya.


“Mah.. Selama ini aku selalu diam meskipun mamah selalu menjelekan Zahra didepan aku. Itu bukan berarti aku tidak perduli pada Zahra. Tapi karena aku berusaha sabar dan menghargai mamah. Karena aku sayang sama mamah.. Aku selalu berusaha menahan diri. Aku tidak ingin menjadi anak durhaka. Mah, aku mencintai Zahra. Aku sangat mencintai Zahra. Tolong mamah mengerti.”


“Dari awal juga kamu sudah tau nak, mamah nggak pernah menyetujui hubungan kamu dengan perempuan itu.”


“Zahra mah. Namanya Aulia Zahra.”


Sinta melengos. Wanita itu bahkan sepertinya tidak sudi menyebut nama wanita yang sangat dicintai oleh putra sulungnya.


“Kalau kamu bawa dia kesini juga, lebih baik kamu pulang saja Faza.” Ujar Sinta pelan.


Faza menggeleng tidak menyangka. Sikap mamahnya sedikitpun tidak pernah berubah meskipun sudah ada Fahri.


“Oke kalau memang itu yang mamah mau. Aku pulang mah..”


Faza menghela napas. Faza menggeleng pelan karena Sinta yang malah melengos dan seperti tidak berniat mencegah kepergian-nya. Sekali lagi Faza merasakan kecewa juga sakit hati karena apa yang mamahnya lontarkan.


Faza berlalu meninggalkan Sinta yang hanya diam dan membuang muka. Pria itu meneteskan air matanya saat masuk kembali kedalam rumah. Namun Faza buru buru mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Faza tidak ingin Zahra tau dirinya menangis karena berdebat dengan mamahnya.


Begitu sampai diruang tamu, Faza mendapati Zahra yang hendak meminum orang jus dengan bibi yang ada disampingnya. Namun Zahra mengurungkan-nya begitu melihat Faza yang kembali datang menghampirinya.


“Mas..” Senyum Zahra.


Faza tersenyum tipis kemudian meraih tubuh Fahri yang Zahra letakan diatas sofa.


“Kita pulang sekarang sayang..” Katanya.


Zahra mengeryit bingung mendengar apa yang Faza katakan. Mereka baru saja datang tapi Faza sudah mengajaknya pulang.


“Loh mas tapi..”


“Ayo sayang..” Sela Faza meraih lembut tangan Zahra.


Mau tidak mau Zahra pun bangkit dari duduknya. Zahra mengikuti Faza yang menggandeng dan mengajaknya keluar dari kediaman kedua orang tuanya dalam diam.

__ADS_1


Bibi yang menyaksikan itu hanya diam dengan penuh tanya yang terbesit dibenaknya.


__ADS_2