PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 43


__ADS_3

“Ini apa?”


Zahra bertanya tanya ketika tiba tiba Faza menyodorkan undangan bersampul warna pink didepan restoran.


“Buka dulu aja.” Senyum Faza menjawab.


Zahra menurut dan segera membuka undangan tersebut. Zahra terkejut begitu membaca isi dari undangan tersebut dan kembali menatap pada Faza yang masih duduk diatas motor gedenya.


“Aku nggak mau dateng.” Katanya.


Faza mengeryit bingung. Faza pikir Zahra akan senang ketika mengetahui Anita akan bertunangan. Karena dengan begitu Zahra tidak akan lagi curiga dan berburuk sangka pada Faza dan Anita lagi.


“Kenapa?” Tanya Faza.


“Ya nggak mau aja. Males. Seharian kerja dari pada pergi ke pesta nggak jelas mending aku istirahat.”


“Oh, apa itu berlaku juga untuk pesta pernikahan Rosa dan Cio?”


“Ya nggak lah mas. Aku bakalan dateng ke pesta pernikahan mereka dengan suka rela.”


“Bukan-nya seharian capek bekerja jadi males pergi dan lebih baik istirahat?”


Zahra mencebikkan bibirnya merasa kesal dengan pertayaan yang dilontarkan oleh suaminya.


“Apaan sih mas?”


“Biar adil kalau kamu nggak mau dateng kepesta pertunangan Anita, kamu juga nggak usah dateng ke pernikahan Rosa dan Cio. Oke?”


“Ya nggak gitu juga dong. Kalau Anita kan aku nggak kenal sama dia. Tapi kalau kak Cio sama kak Rosa aku kenal dari dulu.”


“Tapi Anita itu wakil manager aku. Aku dateng berarti kamu harus dateng. Dari pada aku ajak teman aku yang langsing, tinggi, cantik, buat jadi pasangan aku gimana? Nanti aku dansa sama dia bahkan mungkin dia bakal peluk aku saat aku bonceng.”


Kedua tangan Zahra mengepal mendengarnya. Membayangkan Faza membonceng dan dipeluk dengan erat oleh wanita lain membuat Zahra merasa tidak rela.


“Iiishhh.. Iya iya aku bakal dateng. Puas kamu mas?!”


Faza tertawa merasa senang karna akhirnya bisa membuat Zahra mau ikut dengan-nya datang ke pesta pertunangan Anita dan calon tunangan-nya.


“Gitu dong.. Kan dimana ada mas Faza disitu juga harus ada Zahra si..”


“Si apa? si Buntek maksudnya?” Sela Faza mendelik menatap Faza yang meringis nyengir karna hampir saja keceplosan menyebut Zahra dengan sebutan si Buntek lagi seperti dulu.


“Enggak sayang. Nggak Buntek kok. Kamu imut.”

__ADS_1


Zahra menghela napas kesal kemudian segera naik ke boncengan Faza.


“Jadi kita langsung cari gaun buat kamu nih?”


“Terserah.” Jawab Zahra ketus.


“Oke.. Kita cari sekarang yah gaun untuk kamu sayang...”


Zahra enggan menjawab lagi. Kesal sekali rasanya karna Faza memaksakan kehendaknya dengan cara memanas manasinya akan pergi dengan teman wanitanya yang lain.


Faza mengenakan helmnya. Faza tersenyum dibalik helmnya ketika sebuah ide untuk mengerjai istrinya yang sedang merajuk terlintas dipikiran-nya.


“Nggak peluk nih?” Tanya Faza menggoda istrinya.


“Nggak.” Jawab Zahra jengkel.


“Oke oke...”


Faza mulai menstater motornya kemudian langsung melesat dengan kecepatan full membuat Zahra ketakutan dan segera memeluknya erat.


“Iihh maaaas...!!!” Pekik Zahra kesal yang malah membuat Faza tertawa.


Setelah Zahra protes dan terus mengomel, Faza pun mengurangi kecepatan laju motornya. Cukup lama mereka berada dalam perjalanan hingga menjelang malam mereka baru sampai didepan butik yang memang dari awal sudah menjadi tujuan Faza.


Faza menghela napas kemudian menaruh helm yang baru saja dilepaskan-nya diatas jok motornya.


“Kamu marah marah mulu sayang... Nanti imutnya ilang loh...”


“Bodo amat. Pokonya aku nggak mau cari gaun..”


Cup


Zahra langsung terdiam saat tiba tiba Faza menciumnya. Mendadak kedua pipinya terasa panas bahkan sampai menjalar ke kedua telinganya.


“Bawel banget kaya beo.” Kata Faza setelah berhasil membuat Zahra diam karna ciuman-nya.


“Kamu apaan sih mas. Cium cium didepan tempat terbuka begini. Kan aku malu..”


“Makanya nurut aja kalau nggak pengin aku ciumin ditempat terbuka begini. Atau kamu mau aku cium bibir kamu disini juga?”


“Iihhh.. Apaan sih.”


Takut Faza benar benar mencium bibirnya, Zahra pun melangkah lebih dulu masuk kedalam butik tesebut. Zahra tidak mau sampai orang lain melihat Faza menciumnya.

__ADS_1


Zahra beberapa kali mencoba gaun namun Faza tidak menyetujuinya dengan alasan terlalu terbuka, terlalu menjuntai kebawah, atau terlalu tinggi belahan di paha Zahra. Hal itu membuat Zahra juga karyawan yang membantu Zahra memakai gaun pilihan Zahra menghela napas.


“Mas masa hampir semua gaun pilihan aku nggak ada yang cocok sih dimata mas. Aku capek tau nggak sih cobain gaun ini itu mondar mandir kasih lihat ke mas.” Keluh Zahra dengan rasa kesal yang menguasai hatinya.


Faza bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Zahra yang memakai gaun berbelahan tinggi dibagian pahanya. Gaun itu memang sangat cantik dan begitu pas ditubuh Zahra. Namun rendahnya belahan dada dan tingginya belahan paha membuat Faza merasa tidak suka. Faza tidak ingin tubuh istrinya menjadi tontonan pria lain.


“Kamu tunggu disini ya.. Biar aku yang pilih gaun yang pas buat kamu.” Lirih Faza kemudian berlalu untuk memilih gaun yang akan dipakai Zahra saat datang ke pesta pertunangan Anita nanti.


“Huft.. Ya Tuhan.. Kenapa nggak dari tadi aja dipilihin coba..” Zahra ingin sekali menangis karna terlalu kesal pada suaminya.


Sedang karyawan yang sedari tadi membantu Zahra, dia hanya bisa diam meski rasa kesal juga dia rasakan.


Tidak sampai 10 menit Faza kembali dengan membawa dua gaun berbeda warna. Pria itu tersenyum dan mendekat pada Zahra yang duduk disofa tempat dirinya tadi duduk.


“Sayang, coba dua gaun ini ya?”


Zahra menoleh dan menatap dua gaun berbeda warna yang dibawa suaminya.


“Kenapa dua?”


“Bukan-nya kamu juga mau datang ke pesta pernikahan Cio dan Rosa?”


Zahra terdiam. Zahra pikir Faza benar benar melarangnya untuk datang kepesta pernikahan dua teman sekelasnya saat SMA itu.


“Mas...”


“Udah ayo cobain dulu, abis itu kita cari makan malam ya.. Ini sudah hampir lewat waktu makan loh..” Ujar Faza lembut.


Zahra benar benar terbuai oleh kelembutan Faza saat itu. Seperti dihipnotis, Zahra pun menurut dan segera mengambil dua gaun yang dipilihkan langsung oleh Faza. Gaun itu berwarna hijau toska dan peach dengan model yang berbeda juga.


Setelah dirasa cocok dengan gaun pilihan suaminya, Zahra pun segera meminta pada karyawan butik untuk membungkus kemudian Faza membayarnya.


“Mas, apa ini nggak terlalu boros? Aku masih punya loh baju yang belum aku pake..”


Ucapan Zahra membuat Faza yang saat itu hendak naik ke motornya kembali berbalik menatapnya. Faza tersenyum menatap wajah imut istrinya. Harga gaun itu memang tidak murah. Tapi demi istrinya tidak minder saat berada di tengah banyak orang Faza rela menghabiskan separuh dari tabungan-nya untuk membeli gaun gaun tersebut.


“Istrinya mas Faza harus cantik dipesta nanti. Oke?”


Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra kemudian berhambur memeluk Faza yang langsung membalasnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Makasih ya mas...” Senyum Zahra memejamkan kedua matanya didada bidang Faza.


“Ya sayang...” Balas Faza ikut tersenyum merasa bahagia karna bisa membuat istrinya bahagia malam ini.

__ADS_1


__ADS_2