PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 40


__ADS_3

Zahra baru saja keluar dari restoran ketika mendapati Faza, suami tercintanya sudah menunggunya dengan duduk diatas motor gedenya. Pria tampan dengan kemeja biru muda yang lengan-nya sudah digulung sampai siku itu tersenyum menatapnya yang terlihat kebingungan. Padahal Faza sudah mengatakan akan pulang sedikit telat namun sekarang tiba tiba Faza sudah menunggunya didepan restoran.


“Apa mas Faza tidak jadi kerumah mamah?” Batin Zahra sambil melangkah menghampiri Faza.


“Mas...”


Zahra tersenyum sembari menyalimi Faza yang juga tersenyum kearahnya.


“Kita pulang sekarang?” Tanya Faza lembut.


Zahra mengangguk kemudian segera naik ke boncengan Faza.


“Udah siap?”


“He'em..” Angguk Zahra tersenyum sambil melingkarkan kedua lengan-nya pada perut Faza.


“Ah ya sayang, Aku udah laper banget nih. Kita makan diluar saja ya.. Kamu mau makan apa?”


Zahra diam sesaat. Zahra juga merasa sangat lelah hari ini sebenarnya. Zahra merasa tidak mungkin jika begitu sampai dirumah harus memasak untuk mereka berdua makan.


“Eemm.. Aku ikut kamu aja deh mas. Yang penting harus ada pedasnya.” Jawab Zahra.


Faza tertawa mendengarnya.


“Dasar penggemar cabe.”


“Kan yang penting nggak cabe cabean mas.” Balas Zahra dengan candaan.


“Hahaha.. Oke oke. Kita jalan sekarang yah..”


“Oke..”


Faza mulai menghidupkan mesin motornya dan melesat dengan kecepatan sedang untuk mencari tempat makan yang pas untuk mereka berdua.


Pilihan Faza jatuh pada restoran khas jepang. Setelah Faza memarkirkan motornya, Faza menggandeng mesra tangan Zahra mengajaknya untuk masuk.


Zahra tersenyum bahagia. Entah jadi atau tidak suaminya kerumah kedua orang tuanya sehingga masih sempat untuk menjemputnya.


Namun rasa kebahagiaan Zahra sirna seketika begitu mereka berdua bertemu pandang dengan Rosa. Zahra langsung down. Semangatnya untuk menyantap makanan pedas hilang begitu saja.


“Kok jadi pengin makan orang ya?”

__ADS_1


Faza yang mendengar gumaman Zahra terkejut. Pria itu menoleh dan mengeryit melihat ekspresi kesal istrinya.


“Sayang, kamu kenapa?”


“Aku nggak mau satu meja sama teman sekelas kamu dulu itu mas.” Sungutnya.


Faza menghela napas. Cemburu Zahra kumat lagi.


“Eh Za, disini juga?”


Faza menoleh kesamping kirinya dan kembali terkejut mendapati Cio yang juga adalah teman sekelasnya saat SMA dulu juga berada disana. Cio adalah teman-nya yang paling pintar dikelas dulu. Cio juga adalah orang yang selalu mengejar Rosa.


“Cio kan?”


“Iya.. Ini siapa? Kok kayak nggak asing ya?”


Cio menatap Zahra dan menyipitkan kedua matanya merasa tidak asing dengan sosok Zahra.


“Oh.. Hay kak, aku Zahra..” Sapa Zahra tersenyum dengan sangat terpaksa.


Sedang Faza, pria itu hanya tersenyum saja. Faza yakin Cio pasti masih mengenali sosok Zahra.


“Oh ya aku ingat.. Dia ini kan si Buntek itu kan Za? Si Buntek yang berhasil membuat kamu bertahan jadi jomblo.. Hahaha..”


Cio tertawa setelah berhasil mengingat siapa Zahra. Pria itu bahkan tanpa sadar membuka kartu lama Faza yang memang tidak pernah sekalipun Faza ceritakan pada Zahra. Malu bercampur takut rasanya jika hendak menceritakan.


“Si Buntek?” Kedua mata Zahra melebar mendengarnya.


Sementara Faza, pria itu memejamkan kedua matanya sembari meringis merutuki kebodohan mantan ketua OSIS itu.


“Ah ya aku mau kenalin kalian pada seseorang. Dia calon istriku. Ayoo..”


Tidak mau ada perang antar pasangan melegenda itu Cio pun segera mengalihkan topik dengan mengajak Zahra dan Faza agar ikut dengan-nya.


“Calon istri?” Tanya Faza bingung.


“Ya, dia jodohku. Idolaku dikelas dulu. Ayoo..”


Cio tersenyum tampak begitu sumringah. Dan dari situ Faza sudah mulai bisa membaca apa yang dipikirkan Cio. Apa lagi disitu juga ada Rosa.


“Jangan bilang dia...”

__ADS_1


Faza melirik Rosa yang masih menunggu dimejanya kemudian menatap pada Cio.


“Kamu memang paling pintar dalam tebak menebak Faza. Kamu harus tau Tuhan sangat menyayangiku. Perjuanganku tidak sia sia selama bertahun tahun. Aku mendapatkan-nya.”


Zahra yang masih merasa penasaran dengan sebutan “si Buntek” yang Cio katakan tadi merasa tidak perduli. Zahra justru berpikir akan menanyakan lebih jelas pada suaminya nanti saat mereka sampai dirumah.


“Ayo.. Buntek, eh Zahra maksudnya. Ayoo..”


Kedua Faza membulat sempurna karna Cio dengan lancangnya menggandeng tangan Zahra dan mengajaknya mendekat pada Rosa.


“Hey, dia istriku.” Protes Faza dan segera melangkah cepat menyusul Cio yang tidak memperdulikan-nya dan lebih memilih menggandeng Zahra tanpa memikirkan perasaan-nya.


Cio mendudukan Zahra disamping Rosa yang berhasil membuat Zahra ingin melahap apa saja yang ada disekitarnya saat itu.


“Cio apa apaan kamu. Zahra itu istriku. Jangan menggandengnya sembarangan.” Protes Faza menyentil kening Cio dengan sangat kesal.


“Aduh.. Eh ini kening bukan papan.” Ringis Cio.


“Tapi tunggu dulu. Tadi kamu bilang apa? si Buntek ini istri kamu? Kalian sudah menikah? Kapan? Dan kenapa tidak mengundangku?”


Faza melengos kesal. Pria itu menyenggol kasar lengan Cio membuat Cio sedikit bergeser agar Faza bisa duduk disamping Zahra yang sedang menahan amarah karna disejajarkan dengan Rosa yang diam dengan menahan tawanya.


“Keterlaluan banget kamu Za. Kamu menikahi si Buntek tanpa mengundangku. Kamu kacang lupa sama kulit tau nggak.”


“Bodo amat.” Balas Faza tidak perduli dengan protesan teman-nya itu.


“Oke oke.. Buntek, eh maksudnya Zahra. Aku mengundangmu secara khusus untuk datang ke pernikahanku dengan Rosa. Tapi ingat, kamu tidak boleh datang dengan si kacang lupa kulit ini. Kamu datang saja dengan yang lain. Siapapun mau teman, adik, atau kakak, bahkan tetangga juga tidak apa apa. Asal jangan sama kacang ini.” Tegas Cio.


Seketika api yang sedang membakar ubun ubun Zahra padam seperti disiram oleh air. Kepala Zahra yang tadinya memanas langsung terasa dingin. Kepalan tangan-nya mengendur. Dan rasa kesal dan marahnya hilang begitu saja.


“Menikah? dengan Rosa?” Tanya Zahra memastikan indra pendengaran-nya tidak salah menangkap apa yang Cio katakan.


“Ya. Aku dan Rosa akan menikah dua minggu lagi. Kamu jangan lupa datang dengan pasangan selain si kacang busuk ini. Oke?” Senyum Cio dengan bangganya sambil mendudukan dirinya disamping Rosa.


“Nggak bisa bisa. Aku nggak di undang ya Zahra nggak boleh datang.”


Rosa tidak bisa menahan tawanya mendengar Cio dan Faza yang terus saja berdebat. Dan Tawa Rosa menarik perhatian Zahra yang semula sangat marah karna melihatnya.


Pemikiran buruk Zahra pada Rosa saat itu juga berubah. Zahra pikir Rosa sedang berusaha menggoda suaminya. Zahra pikir Rosa menyukai Faza. Tapi ternyata salah. Rosa sudah akan menikah, dan itu dengan Cio. Pria yang juga Zahra dan Faza kenal.


“Ya Tuhan... Aku sudah salah sangka sama Rosa..” Batin Zahra.

__ADS_1


__ADS_2