PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 214


__ADS_3

Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula. Selain tidak membawa mobil, ponsel, Fadly bahkan juga sampai lupa tidak membawa dompetnya. Pagi itu benar benar adalah pagi tersial seumur Fadly hidup di dunia selama 25 tahun itu.


Beruntung saat sampai didepan gerbang kompleks ada Reyhan yang lewat. Karena penasaran melihat Fadly yang terengah engah membungkuk disamping gerbang, Reyhan pun mendekat dan memberinya tumpangan.


“Terimakasih pak.. Saya tidak tau akan sampai kapan saya berjalan jika anda tidak lewat.”


Reyhan tertawa mendengarnya. Pria itu sebenarnya ingin bertanya kenapa Fadly sampai berjalan kaki. Tapi Reyhan merasa tidak enak hati mengingat Fadly adalah adik dari Faza, boss nya.


“Tidak perlu memanggil saya pak.. Panggil saja saya Reyhan pak. Itu lebih terdengar nyaman untuk saya.”


Fadly tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, Reyhan. Terimakasih atas tumpangan-nya.” Katanya.


“Anda tidak perlu sungkan pada saya pak..” Senyum Reyhan menatap Fadly sekilas dan terus fokus dengan kemudinya.


Reyhan mengantar Fadly sampai ditempat kerja pria itu. Dan begitu Fadly sampai meeting sudah harus dimulai.


Fadly yang sebenarnya sangat kelelahan itu hanya bisa pasrah dan tersenyum didepan client-nya. Fadly tidak ingin apa yang terjadi pagi ini menghancurkan semuanya. Pekerjaan-nya harus tetap berjalan lancar apapun masalahnya pagi ini. Begitu pikir Fadly.


------


Zahra masih terlelap saat Faza selesai membersihkan dirinya.


Ya, keduanya akhirnya memutuskan untuk sama sama menginap dirumah Nadia mengingat malam sudah semakin larut begitu Tina dan Reyhan memutuskan untuk pulang.


Faza menghela napas. Semalam Fahri memang sangat rewel. Padahal Faza sudah ada disampingnya namun bayi itu terus saja menangis dan tidak mau berhenti menyusu yang membuat Zahra tidak bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang sampai menjelang pagi.


Tidak tega membangunkan Zahra, Faza pun langsung bersiap. Pagi ini dirinya harus berangkat bekerja seperti biasanya.


Selesai bersiap, Faza pun mendekat kearah ranjang. Pria dengan setelan jas hitam itu tersenyum menatap istri juga putranya yang begitu pulas dan damai memejamkan kedua matanya.


Sebenarnya Faza juga masih mengantuk. Tapi Faza juga tidak mungkin mengabaikan pekerjaan-nya. Faza tidak mungkin melimpahkan lagi pekerjaan-nya pada Reyhan.


Suara ketukan pintu membuat perhatian Faza teralihkan. Tidak ingin Istri dan anaknya terganggu dengan suara ketukan pintu tersebut Faza pun segera melangkah mendekat ke arah pintu untuk membukanya.


“Eh kak..” Senyum Faza begitu mendapati Nadia berdiri didepan pintu kamar yang mereka berdua tempati.

__ADS_1


“Sarapan sudah siap.. Zahranya mana?” Ujar Nadia kemudian menanyakan Zahra.


Faza menghela napas pelan. Faza tidak enak sebenarnya menginap dirumah Nadia dan Aries. Selain merepotkan, mereka juga membuat kegaduhan karena Fahri yang rewel.


“Zahra masih nyenyak banget kak tidurnya. Semalam Fahri rewel jadi Zahra nggak bisa tidur.. Dia baru tidur menjelang subuh tadi.” Jawab Faza memberitahu.


Nadia menganggukan kepalanya mengerti. Nadia juga pernah ada di posisi Zahra saat Arka masih bayi dulu. Nadia bahkan harus begadang sendirian mengingat dirinya yang tidak tega jika harus membangunkan Aries yang harus bekerja seharian saat siang.


“Ya sudah kalau begitu kamu aja sana sarapan.. Tapi kakak masak seadanya ya Za..”


Faza tersenyum.


“Iya kak.. Maaf yah, aku dan Zahra jadi ngerepotin kakak..” Faza merasa tidak enak hati.


“Enggak papa kok.. Kakak malah seneng ada kalian disini. Soalnya kakak jadi nggak kesepian sama Arka..”


Faza mengangguk paham. Nadia dan Zahra sudah memberitahu tentang Aries yang sedang berada diluar kota. Dan Faza merasa beruntung dengan hal itu. Karna jika Aries berada dirumah dia pasti akan sangat murka padanya karna Faza sudah membuat Zahra tersakiti.


“Ya udah gih kamu sarapan dulu. Sama nanti kakak minta tolong sekalian anterin Arka ke sekolah ya Za..”


“Oh iya kak.. Tenang aja. Aku bakal anterin Arka sampai sekolahnya..”


Selesai sarapan, Faza pun pamit berangkat bersama Arka yang akan dia antarkan lebih dulu ke sekolahnya.


“Titip Arka ya Za.. Maaf kakak ngerepotin.” Kata Nadia setelah membantu Arka masuk kedalam mobil Faza.


“Nggak ngerepotin kok kak.. Malah aku ngerasa aku sama Zahra yang ngerepotin kakak..”


Nadia tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


“Jangan sungkan sama kakak.. Zahra itu sudah seperti anak untuk kakak dan mas Aries..”


Faza tersenyum tipis. Faza percaya itu mengingat Aries dan Nadia sangat perduli dan menyayangi Zahra.


“Ya sudah kak aku jalan ya.. Titip Fahri sama Zahra..”


“Ya. Kalian hati hati.”

__ADS_1


Faza hanya mengangguk kemudian masuk kedalam mobilnya. Sebelum berlalu Faza menurunkan kaca mobilnya agar Arka bisa melambaikan tangan pada Nadia.


“Om..” Panggil Arka saat mereka sudah dalam perjalanan menuju sekolahnya.


“Ya ka.. Kenapa hem?” Tanya Faza menatap sebentar pada Arka kemudian fokus dengan jalanan yang dilaluinya.


“Tante sama om tinggal bareng aja sama Arka sama mamah sama papah. Biar kalau ade Fahri rewel Arka bisa bantu jagain. Jadi tante Zahra nggak nangis karna sedih..”


Faza tersenyum mendengar itu. Faza yakin Zahra menangis bukan karna Fahri yang rewel. Zahra pasti menangis karna mengingat kejujuran Faza tentang kekaguman-nya pada sosok Siska.


“Nggak bisa begitu dong Ka. Nanti kalau om sama tante tinggal bareng sama kamu sama mamah papah kamu rumah om sama tante kosong dong.. Kan sayang..” Balas Faza dengan pelan.


Arka berdecak pelan. Anak laki laki itu memang sangat menyukai anak kecil. Tidak heran jika dia merasa senang saat Fahri berada dirumahnya. Ditambah lagi kedekatan-nya dengan Zahra.


20 Menit kemudian mobil Faza sampai tepat didepan gerbang sekolah Arka.


“Sampai. Turun yuk?”


Arka hanya menganggukan kepala saat Faza mengajaknya turun. Bocah tampan itu mendadak merasa tidak semangat karena Faza menolak untuk tinggal bersama dengan-nya.


“Belajar yang pintar ya Arka.. Nanti pulangnya om jemput lagi..” Senyum Faza berkata saat menuntun Arka memasuki area sekolah yang sudah ramai siswa siswi itu.


Arka menghela napas kemudian mengangguk. Arka merasa belum puas menemani Fahri.


“Kelas kamu dimana? Biar om anter kamu sampai depan kelas.”


“Disana om..” Jawab Arka pelan.


Faza mengeryit karna Arka yang mendadak tidak semangat. Namun kemudian Faza tersenyum setelah tau penyebab Arka yang mendadak lesu itu.


Faza mengantar Arka sampai depan kelasnya. Pria itu kemudian berjongkok dan memegang kedua pundak kecil Arka.


“Arka dengar. Walaupun kamu dan ade Fahri nggak bisa tinggal bareng. Tapi kamu masih bisa main sama Fahri saat libur sekolah. Om bakal jemput kamu kalau kamu ada libur. Kamu bisa menginap dan menemani Arka sama tante.” Kata Faza pelan.


“Beneran om?”


“Ya.. Sekarang kamu masuk kelas. Semangat belajarnya ya..”

__ADS_1


Arka mengangguk dengan senyuman menghiasi bibirnya. Bocah itu menyalimi Faza sebelum berlari masuk kedalam kelas berbaur dengan teman teman-nya.


Faza yang melihat itu tersenyum dan menggeleng pelan. Pria itu kemudian berlalu dari depan kelas Arka. Faza tidak ingin terlambat ke kantor.


__ADS_2