
Dengan mengendarai motor kesayangan-nya Faza membawa istri tercintanya menyusuri jalanan kota malam itu dengan perasaan bahagia. Faza tidak bisa berhenti tersenyum sekarang. Rasanya seperti pertama kali dirinya meresmikan hubungan-nya dengan Zahra dulu.
Faza membawa Zahra kesebuah taman dipusat kota.
“Sampai...” Katanya menghentikan motor gede miliknya.
Zahra mengeryit. Padahal Zahra pikir Faza akan mengajaknya ke restoran mewah. Tapi sekarang mereka justru berada didepan taman dipusat kota.
“Kok kita kesini? Bukan-nya kita mau makan malam ya mas? Kenapa kita nggak ke restoran langsung? Terus kita mau ngapain kesini?”
Faza tertawa pelan mendengar beberapa pertanyaan yang langsung dilontarkan oleh istri tercintanya itu. Tapi Faza maklum jika istrinya kebingungan sekarang. Faza memang tidak mengatakan akan pergi kemana dirinya dan Zahra malam ini.
Faza turun dari motor gedenya. Pria itu melepas helm yang dia kenakan dan menggantungkan-nya di stang motor.
“Kenapa istri aku mendadak jadi bawel yah?” Ledek Faza membuat Zahra berdecak dan mengerucutkan bibirnya.
“Memangnya kamu nggak inget ya sayang sama taman ini?” Tanya Faza sambil menoel gemas ujung hidung mancung istrinya.
Zahra terdiam sebentar. Zahra menatap sekeliling taman sepi itu. Zahra masih mengingat taman itu adalah tempat saat pertama kali Faza mengajaknya jalan berdua dulu. Zahra juga masih sangat mengingat saat Faza memberikan ice cream yang begitu dibuka ternyata sudah meleleh dalamnya.
“Iya aku ingat mas.. Aku nggak lupa tau. Aku masih muda.. Dan aku belum tua, belum pikun.” Ujar Zahra membuat Faza kembali tertawa.
Faza merasa sangat gemas pada istrinya yang malam ini semakin bertambah bawel.
“Ya udah yuk..” Ajak Faza meraih tangan Zahra menggandengnya dengan mesra.
“Kemana? Ke taman ini? Mas.. kamu yang bener aja dong, masa malem malem begini kita ke taman sih? Pasti banyak nyamuk disana.. Udah gitu.. Aku juga laper.. Aku mau makan..”
Faza menghela napas. Faza sebenarnya sudah menyiapkan kejutan kecil untuk istrinya yang kebetulan hari ini juga ulang tahun. Faza hampir saja lupa jika saja notifikasi di ponsel tidak memberitahunya. Dan Faza pikir mungkin Zahra juga melupakan hari apa sekarang.
Cup
Zahra langsung diam saat Faza mencium bibirnya. Wajahnya langsung memanas dan Zahra yakin saat ini wajahnya pasti sudah merona.
“Mas kamu..”
__ADS_1
“Bawel banget tau nggak. Kaya beo..” Sungut Faza sedikit merasa kesal.
Zahra langsung menundukan kepalanya merasa malu. Zahra tidak tau jika Faza akan mengajaknya ketaman. Karena yang Zahra pikir kencan mereka malam ini mereka akan makan malam berdua direstoran yang sudah dibooking oleh suaminya dengan ditemani musik klasik seperti di film film yang biasa Zahra tonton.
“Udah ayo.. Kalau sama suami itu harus nurut.” Kata Faza.
Zahra hanya mengangguk dengan ekspresi memelas. Faza benar benar sangat ketus padanya kali ini.
Zahra mengikuti langkah Faza yang mengajaknya masuk kedalam taman. Sepanjang melangkah Zahra terus menolehkan kepalanya kekanan dan ke kiri. Tidak ada siapa siapa disana selain dirinya dan Faza. Wajar saja, hari sudah malam dan tidak mungkin rasanya jika ada orang yang bercanda gurau ditaman. Mereka pasti lebih memilih nongkrong di cafe, makan direstoran, atau mungkin keliling mall bersama orang orang terkasihnya. Tidak seperti dirinya dan Faza yang malah ke taman saat malam minggu seperti ini.
Zahra mengeryit saat tiba tiba Faza menghentikan langkahnya. Zahra pun ikut berhenti melangkah kemudian menatap kedepan. Tidak ada apa apa disana.
“Mas, kok berhenti?” Tanya Zahra penasaran.
Faza membalikan tubuhnya kemudian tersenyum.
“Sayang...” Panggilnya menatap lembut pada Zahra yang tampak masih kebingungan.
Faza tersenyum. Istrinya terlihat sangat cantik, manis, juga imut dengan dandanan seperti sekarang. Rambutnya yang dicepol tinggi membuat leher jenjang Zahra terlihat jelas begitu putih dan bersih.
Faza mengangkat tangan-nya kemudian menjentikan jarinya membuat suasana gelap itu berubah menjadi terang benderang dengan lampu yang memenuhi hampir semua pohon juga bunga bunga ditaman itu.
“Mas ini...” Zahra tidak bisa berkata apa apa sekarang. Apa yang dilihatnya membuat Zahra tidak bisa mengeluarkan apa yang ada dibenaknya.
Faza meraih kedua tangan Zahra dan menggenggamnya dengan lembut. Pria itu tau istrinya terkejut dan itu memang adalah niatnya. Dan melihat keterkejutan istrinya Faza merasa berhasil.
“Sayang.. Kesibukan membuat aku hampir saja melupakan hari ini. Tapi beruntungnya aku.. Aku memasang pengingat di handphone ku. Jujur ini adalah pertama kali aku hampir melupakan hari penting ini sayang.. Aku minta maaf.. Aku minta maaf kalau selama kamu menjadi istri aku, aku nggak bisa membuat kamu bahagia.. Maaf untuk setiap air mata yang menetes dari kedua mata kamu karena apa yang aku lakukan. Tapi sayang.. Aku ingin kamu tau, aku sangat mencintai kamu.. Aku ingin selalu bisa membuat kamu bahagia, membuat kamu tersenyum...”
Zahra menelan ludah. Ucapan Faza membuatnya merasa sangat terharu meski sebenarnya Zahra masih tidak mengerti dengan hari penting yang sedang Faza maksud.
“Mas aku...”
“Selamat ulang tahun istriku.. Semoga segala apa yang terbaik selalu melingkupi kehidupan kamu.. Kehidupan kita berdua..” Sela Faza dengan sangat lembut.
Zahra menahan napasnya sesaat. Zahra sendiri bahkan tidak mengingat hari apa sekarang.
__ADS_1
“Sshhtt.. Aku nggak mau dihari bahagia kamu ini kamu nangis sayang... Kamu harus tersenyum bahagia. Aku buat semua ini karena aku ingin kamu bahagia malam ini..” Faza melepaskan kedua tangan Zahra dan beralih menangkup kedua pipi chuby istrinya dengan lembut.
Zahra menggeleng kemudian tertawa. Namun meskipun tertawa Zahra tetap meneteskan air mata karena sangat terharu dengan apa yang sudah Faza lakukan untuknya malam ini.
“Aku bahkan nggak ingat ini hari apa mas.. Makasih untuk semua ini..” Tangis Zahra sambil tertawa kemudian berhambur memeluk Faza dengan erat.
Faza tersenyum dan membalas pelukan istrinya. Faza juga mencium beberapa kali bahu dan tengkuk Zahra. Hampir saja Faza melewatkan hari penting itu.
“Udah dong jangan nangis. Katanya tadi kamu laper. Mending sekarang kamu tiup lilin-nya abis itu kita makan yah..”
Zahra menganggukan kepalanya. Zahra juga tidak mau terlalu lama diluar rumah karena Fahri pasti akan menangis jika ditinggal terlalu lama.
“Ayo..” Ajak Faza kembali menggandeng tangan Zahra dan menuntun-nya melangkah menuju meja dimana dimeja itu sudah ada kue tart dengan lilin lilin kecil yang menancap diatasnya.
Dimeja itu juga sudah ada hidangan lezat yang memang sudah Faza siapkan dengan menyuruh ahlinya.
Zahra memanjatkan do'a dan harapan-nya sebelum meniup lilin pertanda bertambahnya usia Zahra hari ini.
Setelah itu Faza menyuruhnya untuk memotong sedikit kue tart tersebut dan Zahra memberikan potongan itu untuk Faza sambil menyuapinya.
“Ciumnya mana sayang?” Tagih Faza setelah menelan sesuap kue tart dari Zahra.
Zahra tertawa kemudian berjinjit mencium singkat pipi tirus suaminya.
“Kok nggak disini sih?” Goda Faza menunjuk bibirnya sendiri.
“Iiihh.. Apaan sih? Masa cium cium ditempat terbuka begini. Kalau ada yang lihat gimana? Kan malu mas..”
“Iya deh iya.. Berarti nanti pulangnya boleh dong yan kaya semalem lagi..” Faza menaik turunkan alisnya membuat Zahra tersipu mengingat apa yang mereka berdua lakukan semalam.
“Tau ah mas mah.. Aku mau makan. Laper.”
Faza tertawa melihat istrinya yang malu malu karena godaan-nya. Tidak mau membuang waktu mereka pun akhirnya segera menyantap hidangan didepan-nya.
Faza juga mengajak untuk Zahra berdansa sebentar dengan memutar musik dari ponsel miliknya. Faza tau Zahra pasti akan menolak dan malu jika Faza menghadirkan pemain musik untuk mengiringi dansa mereka.
__ADS_1
Mereka terus melempar senyum satu sama lain saat sedang berdansa. Tatapan keduanya begitu dalam hingga perlahan Faza mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra.
“I Love you Aulia Zahra.” Bisiknya kemudian mencium lembut bibir Zahra.