
5 Tahun kemudian
“Mamah sayang !!!”
Pekikan Fahri membuat Faza langsung melepaskan tautan bibirnya pada Zahra. Pria itu buru buru membenarkan posisi duduknya dengan Zahra yang juga langsung bangkit dari pangkuan Faza. Keduanya tidak mau jika sampai putranya yang masih berusia 5 tahun lebih itu melihat kegiatan mereka.
Tidak lama pintu terbuka memunculkan Fahri yang masih memakai seragam sekolahnya. Bocah laki laki tampan itu menunjukan buku tulis miliknya dimana terdapat nilai bagus pada ulangan-nya hari ini.
Namun ekspresi Fahri langsung berubah begitu mendapati Faza yang sedang duduk disofa didepan Zahra yang berdiri dan tampak gugup.
Fahri melangkah pelan mendekat pada kedua orang tuanya. Bocah itu menatap keduanya bergantian.
“Papah kok udah dirumah?” Tanya nya menatap Faza dengan keryitan dikeningnya.
“Oh, ah iya nak.. Tadi ada sesuatu yang ketinggalan. Jadinya papah pulang dulu deh.” Jawab Faza salah tingkah.
Fahri menyipitkan kedua matanya menatap curiga pada sang papah. Bocah tampan itu kemudian menatap Zahra yang tampak tidak tenang ditempatnya.
“Oh iya sayang, kamu pulang sama siapa?” Tanya Zahra. Seharusnya Fahri pulang dua jam lagi seperti hari hari biasanya.
“Fahri pulang sama oma mah. Hari ini pulang cepet setelah ulangan dan kebetulan oma datang. Kita juga jalan jalan dulu dan makan ice cream berdua.” Jawab Fahri.
“Oohh.. Begitu.” Angguk Zahra paham.
Fahri kembali menatap pada Faza yang masih duduk anteng disofa.
“Papah katanya ada yang ketinggalan. Mau Fahri ambilkan?”
Faza meringis mendengar pertanyaan itu. Entah kenapa putranya jago sekali menyindir. Fahri selalu to the poin dan tidak pernah basa basi sedikitpun. Dan sekarang secara tidak langsung Fahri menyuruhnya keluar dari kamarnya dan Zahra.
“Ah nggak nak, nggak perlu. Papah bisa ambil sendiri. Ya sudah kalau begitu, papah ke kantor lagi ya..”
Dengan perasaan dongkol Faza bangkit dari duduknya. Gemas sekali rasanya Faza pada bocah tampan itu. Fahri benar benar sangat cuek dan dingin meskipun sangat manja pada Zahra.
Zahra hanya bisa menahan tawa. Faza memang selalu tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan putranya sendiri.
“Eemm.. Papah.” Panggil Fahri saat Faza sudah melangkah melewatinya dan Zahra.
“Ya?”
Faza memutar tubuhnya menatap Fahri dengan senyuman tipisnya.
__ADS_1
“Tadi Fahri liat dikampung sebelah kompleks ada pasar malem. Papah pulangnya jangan telat ya.. Fahri pengin ke pasar malem sama mamah sama papah.” Senyum manis bocah tampan itu.
Faza tampak berpikir sesaat. Pria itu kemudian melangkah mendekat dan berdiri menjulang didepan Fahri yang tingginya masih sebatas pusernya.
“Fahri akan tidur cepat malam ini papah.” Katanya mengerti dengan tatapan Faza padanya.
“Oke. Papah akan pulang cepat jagoan.” Senyum lebar Faza menyodorkan kepalan tangan-nya pada Fahri yang kemudian langsung dibalas Fahri dengan membenturkan kepalan tangan kecilnya pada kepalan tangan Faza.
“Oke kalau begitu, Papah kembali ke kantor. Papah titip mamah yah.. Jagain mamah sayang kita. Oke?”
“Oke papah. Fahri akan jagain mamah sayang dengan baik buat papah.”
Faza tertawa pelan sambil mengusap puncak kepala putranya. Pria itu kemudian menoleh menatap Zahra yang hanya bisa tersenyum melihat tingkah menggemaskan putra mereka.
”Papah kembali kerja dulu.” Pamit Faza.
“Ya papah..” Senyum Fahri yang tersenyum dan terus mendongak menatapnya.
Faza mengedipkan sebelah matanya memberi kode pada istri tercintanya itu bahwa malam nanti mereka bisa menghabiskan waktu berdua lebih lama dari biasanya.
Zahra menundukan kepalanya tersipu dengan kode yang diberikan suaminya. Semenjak Fahri tumbuh semakin aktif dan semakin tau ini itu, Keduanya memang jarang bisa memiliki waktu berdua. Semua itu tentu saja karena Fahri yang selalu memonopoli Zahra. Padahal saat bayi dulu Fahri jauh lebih lengket pada Faza ketimbang Zahra.
Mendengar itu Zahra segera menyalimi suaminya yang diikuti oleh putranya.
Zahra menghela napas melihat suaminya yang berlalu keluar dari kamarnya berniat untuk kembali bekerja. Faza memang sengaja pulang untuk berdua dengan Zahra selagi Fahri masih disekolahnya.
----------------
Malamnya Faza benar benar menepati ucapan-nya dengan mengajak Fahri dan Zahra ke pasar malam yang sedang digelar di kampung samping kompleks tempat mereka tinggal.
Faza dan Zahra berdiri berdampingan menatap putranya yang sedang asik bermain dengan teman sebayanya. Dan teman Fahri adalah balita perempuan yang masih berusia satu tahun lebih muda darinya.
Fahri tampak sangat bahagia dan tertawa lepas bersama dengan balita itu. Fahri bahkan begitu telaten menjaganya.
Faza yang melihat itu hanya bisa tertawa saja. Faza tau sekarang kenapa putranya tiba tiba ingin pergi dan bermain dipasar malam. Apa lagi jika bukan karena balita cantik imut yang sedang bersamanya.
“Kamu tau siapa gadis imut itu sayang?” Tanya Faza pada Zahra dengan pandangan terus terarah pada Fahri dan teman balitanya.
“Tau. Namanya Amora. Dia cucu dari emak sapu mas. Mereka memang sering main berdua ditaman kalau Amora ikut bekerja dengan neneknya.” Jawab Zahra tersenyum.
“Nenek? Dia tinggal di kampung sebelah kompleks?” Tanya Faza mengeryit.
__ADS_1
“Ya mas..” Jawab Zahra tersenyum menatap Faza yang menatapnya.
“Kok kamu nggak pernah cerita sama aku kalau Fahri punya temen yang tinggal dikampung sebelah?” Tanya Faza dengan ekspresi yang berhasil membuat senyuman dibibir Zahra sirna seketika.
“Memangnya kenapa? Kamu nggak izinin Fahri main sama Amora? Karena Amora hanya anak kampung dan cucunya tukang sapu kompleks?” Tanya Zahra yang sudah berpikiran negatif lebih dulu pada Faza.
Faza menghela napas kemudian berdecak merasa jengah dengan pertanyaan istrinya itu.
“Sejak kapan sih aku sejahat itu hem?” Tanya balik Faza kembali menatap Fahri dan Amora yang sedang bermain.
“Aku cuma mau tau siapa dan dimana Amora tinggal. Aku lihat sepertinya Fahri sangat menyukai gadis imut itu.”
Kedua mata Zahra membulat mendengarnya.
“Mas, Fahri masih kecil. Nggak usah mikir macem macem deh...”
Faza tertawa pelan.
“Jagoanku memang masih kecil. Tapi dia tidak seperti anak kecil pada umumnya sayang..”
Zahra menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan isi kepala suaminya sekarang. Bagaimana mungkin Fahri mempunyai rasa seperti remaja.
“Mungkin Fahri hanya merasa bertanggung jawab pada Amora mas. Amora kan lebih muda satu tahun dari Fahri.” Ujar Zahra yang berusaha berpikir lurus.
“Terserah apa kata kamu sayang. Tapi aku tebak Fahri akan selalu ada didekat Amora sampai mereka dewasa nanti. Aku tau bagaimana dan seperti apa jagoanku.” Senyum Faza menatap sebentar pada Zahra sebelum akhirnya melangkah menghampiri Fahri dan Amora dan bergabung bermain dengan keduanya.
Zahra tertawa pelan dengan kepala menggeleng. Putranya memang ajaib. Meskipun Fahri masih berusia 5 setengah tahun, namun pemikiran-nya begitu dewasa.
“Terimakasih Tuhan... Terimakasih untuk semuanya. Hamba akan berusaha dengan sekuat dan semampu untuk menjaga semua yang telah engkau anugerahkan dalam kehidupan hamba.” Batin Zahra menatap suami dan putranya yang tertawa dan bermain bersama Amora, balita imut yang dikenal oleh Fahri ditaman kompleks.
Zahra tau dan yakin sejak dulu bahwa semuanya akan indah pada waktunya. Kedua mertuanya mungkin memang tidak bisa bersama lagi. Tapi mereka selalu kompak untuk kebahagiaan bersama. Apa lagi tidak sampai sebulan lagi Fadly akan kembali dari Amerika dan akan segera menikahi Loly.
”Mamah sayang.. Ayo kita main sama sama..”
Lamunan Zahra buyar saat merasakan sentuhan lembut tangan kecil Amora ditangan-nya. Zahra menunduk dan tersenyum menatap balita imut itu yang mendongak menatapnya.
“Iya.. Ayo sayang..” Angguk Zahra dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Zahra mengikuti Amora yang menuntun-nya mendekat pada Faza dan Fahri. Mereka kemudian bermain bersama dan menikmati berbagai permainan dan wahana yang ada di pasar malem tersebut.
__________TAMAT___________
__ADS_1