
“Apa? Kamu sudah dirumah?”
Faza mengeryit bingung ketika tiba tiba Zahra menelpon dan mengatakan agar Faza tidak perlu menjemputnya karna Zahra sudah lebih pulang kerumah padahal sekarang baru waktunya makan siang.
“Sayang, kamu nggak papa kan? Kamu nggak sakit kan?” Tanya Faza yang mulai khawatir pada Zahra yang sudah pulang lebih dulu.
“Aku nggak papa mas. Ya sudah lebih baik sekarang mas makan saja dulu. Aku juga mau nyuci baju.”
“Ya sudah. Kamu hati hati dirumah. Aku akan usahakan pulang lebih cepat.”
Faza dan Zahra menyudahi telpon-nya. Mereka kemudian melakukan aktivitasnya masing masing. Zahra yang beres beres rumah dan Faza yang keluar dari ruangan-nya untuk makan siang.
Setelah tau Zahra sudah berada dirumah, Faza sebisa mungkin menyelesaikan pekerjaan-nya. Faza benar benar merasa penasaran karna tidak biasanya istrinya pulang lebih awal tanpa ada sepakat dengan-nya.
Faza mengendarai motor gedenya dengan kecepatan full. Faza ingin cepat cepat sampai untuk menanyakan perihal tentang kepulangan Zahra yang sangat cepat itu.
TIN TIIIIINNN....
Faza baru saja membuka helmnya ketika mendengar suara klakson mobil milik Fadly, adiknya. Faza menoleh dan mengeryit melihat kedatangan adik satu satunya itu.
“Fadly.. Ngapain dia kesini..” Faza bergumam dalam hati.
Faza kemudian turun dari motornya dan menatap mobil Fadly yang berhenti tepat dibelakang motor milik Faza.
Saat pintu mobil Fadly dibuka, kedua mata Faza sedikit melebar begitu melihat bukan Fadly yang turun dari mobil, melainkan Sinta, mamahnya.
“Mamah...”
Sinta menatap disekitar pekarangan sederhana rumah keluarga Zahra. Decakan pelan keluar dari bibirnya melihat kesederhaan dilingkungan perkampungan itu.
“Faza...”
Faza tersadar ketika Sinta memanggilnya. Faza buru buru mendekat dan menyalimi sang mamah.
“Mamah kok nggak bilang dulu sama Faza kalau mau dateng. Kan Faza bisa jemput.”
Mamah Faza menghela napas.
“Mamah juga cuma kebetulan lewat terus mampir kesini. Mamah cuma pengin lihat keadaan kamu Faza. Karna kamu nggak mau lagi mamah suruh untuk datang kerumah.”
Faza tersenyum tipis. Bukan tanpa alasan Faza tidak mau datang. Tentu saja karna tingkah Sinta sendiri yang berniat mendekatkan Faza dengan Loly.
__ADS_1
“Maaf mah.. Aku capek banget kalau pulang kerja jadi udah nggak kemana mana lagi. Mamah kok kesini pake mobil Fadly. Memangnya Fadly nggak bawa mobil kerjanya?”
“Fadly lagi keluar kota lagi. Dia kan sibuk.”
Faza menganggukan kepalanya mengerti. Adiknya memang selalu sibuk dan jarang berada dirumah.
“Ah ya mah.. Masuk yuk..” Ajak Faza tersenyum manis.
“Oke..” Angguk Sinta dengan gaya sombongnya.
Sinta mengikuti Faza melangkah menuju pintu utama rumah sederhana keluarga Zahra. Dan tidak lama setelah Faza mengetuk pintu, pintu tersebut terbuka memunculkan Zahra yang tersenyum menyambut kepulangan Faza.
Namun senyuman itu luntur seketika begitu Zahra menyadari ada sosok lain selain Faza didepan-nya, yaitu Sinta, mamah mertuanya.
“Mas.. Mamah...”
Faza yang menyadari keterkejutan istrinya segera menguasai keadaan. Faza meraih tangan istrinya dan menariknya pelan.
“Jadi tadi itu motor aku sama mobil Fadly yang dibawa mamah beriringan sayang. Aku kira juga tadi Fadly tapi ternyata mamah..”
Zahra mengangguk dan tersenyum mengerti. Zahra kemudian mengulurkan tangan-nya berniat menyalimi Sinta, namun mamah mertuanya itu sama sekali tidak merespon dan malah melengos kearah lain enggan menatap pada Zahra.
“Mamah mampir kesini bukan tanpa sebab Faza. Ada sesuatu yang mau mamah bicarakan sama kamu juga istri kamu.”
Faza yang melihat itu hanya bisa diam saja. Faza tidak mungkin menegur mamahnya didepan Zahra.
“Ya udah yuk mah masuk.. Ayo sayang..”
“Nggak perlu. Mamah nggak bisa lama lama.” Tolak mamah Faza dengan angkuh.
Zahra hanya bisa diam dengan tangan yang terus digenggam oleh Faza. Zahra tidak menyangka jika mamah mertuanya akan datang sore ini.
“Jadi begini Faza, mamah sama papah sudah tua. Dan kami sudah ingin menimang cucu. Harapan mamah sama papah tentu saja tertuju pada kamu dan juga istri kamu ini. Apa lagi kalian sudah menikah lama. Masa masih belum hamil juga.”
Jantung Zahra seketika berdetak sangat cepat. Entah apa maksud dari ucapan mertuanya itu. Tapi Zahra merasa sangat sakit sekarang.
“Ah ya.. besok malam kita makan malam sama sama. Sudah ya.. Mamah pulang.”
Sinta enggan mendengar ucapan apapun yang keluar dari mulut Faza maupun Zahra. Sinta langsung berlalu begitu saja dan mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumah Zahra.
Faza dan Zahra hanya diam saja menatap mobil Fadly yang perlahan mundur hingga akhirnya berlalu dengan kecepatan sedang berlalu dari halaman rumah mereka.
__ADS_1
“Sudah yuk, kita masuk.”
Zahra menganggukan kepalanya. Keduanya kemudian masuk kedalam rumah. Faza yang sebelumnya hendak menanyakan tentang kepulangan cepat istrinya mendadak lupa karna kedatangan tiba tiba mamahnya tadi.
Sampai waktunya makan malam tiba tidak ada pembahasan apapun antara Zahra dan Faza. Keduanya bahkan tampak sedikit canggung bingung akan mengatakan apa.
“Eemm.. Mas..” Panggil Zahra memberanikan diri untuk lebih dulu membuka topik pembicaraan.
“Ya sayang...” Saut Faza tersenyum dan menatap penuh perhatian pada istrinya. Faza bahkan mengabaikan makanan yang sedang dinikmatinya dan memilih fokus pada Zahra.
Zahra menghela napas lebih dulu sebelum melanjutkan ucapan-nya.
“Aku.. Aku berhenti dari pekerjaan.”
Mendadak suasana hening kembali terasa diantara keduanya. Faza diam sambil mencoba mencerna apa yang Zahra katakan.
“Mulai besok dan seterusnya aku nggak akan lagi bekerja direstoran pak Santoso. Aku berhenti. Aku mengundurkan diri.” Ujar Zahra memperjelas ucapan sebelumnya.
Mendengar itu perlahan senyuman dibibir Faza mengembang. Faza langsung bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Zahra.
“Mas aku...”
Ucapan Zahra terhenti saat tiba tiba Faza mencium bibirnya. Begitu lembut dan penuh cinta seperti orang yang sedang sangat bahagia.
Sesaat Zahra menikmati ciuman Faza hingga akhirnya Zahra mendorong dada bidang Faza karna mulai kesulitan bernapas.
“Aku seneng banget sayang..” Ujar Faza dengan napas tersengal.
Zahra mengeryit bingung. Zahra saja masih galau karna kehilangan pekerjaan. Tapi suaminya malah terlihat bahagia.
“Aku akan cari pekerjaan lain mas..”
“Enggak.” Tegas Faza menolak dengan keras.
“Kamu enggak perlu cari pekerjaan lain. Kamu nggak boleh lagi bekerja diluar rumah Zahra. Mulai besok kamu cukup dirumah aja. Kerjakan apa yang kamu bisa saja.” Lanjut Faza.
“Mas tapi...”
“Zahra, kalau kamu terus kelelahan bagaimana kita akan cepat punya anak? Bukanya kita butuh waktu berdua yang intens supaya kamu bisa cepat hamil. Mungkin kita bisa memanfaatkan waktu hari liburku untuk terus berdua.”
Zahra diam. Apa yang dikatakan Faza memang benar. Tapi kalau Zahra hanya diam dirumah pasti rasanya akan sangat bosan.
__ADS_1
“Kamu ingat apa kata mamah tadi kan sayang? Kita harus buktikan kalau kita bisa.. Kita bisa kasih mamah sama papah cucu sebanyak yang mereka mau.” Bisik Faza.
Zahra tersenyum mendengarnya kemudian mengangguk setuju. Zahra kemudian masuk kedalam pelukan hangat Faza. Zahra berharap dengan dirinya hamil semuanya akan berubah semakin membaik termasuk hubungan-nya dengan kedua mertuanya.