PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 274


__ADS_3

Pagi ini Zahra menyempatkan diri membuatkan sarapan sendiri untuk suaminya karena kebetulan Fahri sedang bersama dengan Faza. Namun Zahra meninggalkan Fahri bersama Faza juga setelah balita itu dia mandikan. Ditambah lagi Faza juga masuk kerja tidak sepagi biasanya.


“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” Tanya mbak Lasmi pada Zahra yang sedang mengaduk nasi goreng diwajan.


Mendengar suara mbak Lasmi, Zahra pun menoleh dan tersenyum.


“Enggak usah mbak. Kali ini biarkan saya yang memasak.” Jawab Zahra pelan.


“Baik nyonya. Kalau begitu saya permisi mau mengerjakan yang lain.”


“Eemm.. Mbak.” Panggil Zahra pada mbak Lasmi yang hendak memutar tubuhnya.


“Ya nyonya..”


“Saya sudah selesai masak. Ada baiknya mbak sarapan dulu sebelum beraktivitas. Saya ambilin ya mbak..”


Zahra meraih piring kemudian mengambilkan nasi goreng yang masih panas itu untuk mbak Lasmi. Tentunya setelah Zahra mengambilkan untuk suaminya.


“Nyonya tidak usah repot repot. Saya..”


“Udah.. Mending sekarang mbak sarapan dulu biar semangat beraktivitasnya. Ini nasi gorengnya dan ini telor ceplok sama ayamnya.”


Zahra tersenyum sambil menyodorkan sepiring nasi goreng juga ayam goreng, telor, juga sambal yang Zahra taruh di wadah yang berbeda pada mbak Lasmi.


“Nyonya ini...”


“Mbak.. Sekali kali dong saya masakin mbak.” Senyum Zahra tulus.


Mbak Lasmi mengangguk anggukan kepalanya pelan dengan senyuman penuh harunya.


“Terimakasih nyonya..” Lirihnya.


“Ya mbak, sama sama..” Angguk Zahra sambil mengusap bahu mbak Lasmi pelan.


“Ya sudah mbak kalau begitu. Dimakan yah.. Saya mau tata ini ke meja makan.”


“Biar saya bantu nyonya..”


“Sudah mbak nggak usah. Saya cuma tinggal bawa nasi sama lauknya kok. Mbak sarapan saja. Oke?”


Zahra meraih semangkuk besar nasi goreng juga sepiring telur dan ayam goreng yang berada ditempat yang sama kemudian berlalu dari hadapan mbak Lasmi yang hanya bisa menggeleng dengan senyuman dibibirnya. Zahra benar benar sosok majikan yang mungkin akan sangat jarang di temui.


Setelah menata semua hidangan diatas meja makan, Zahra pun menuangkan air putih kedalam gelasnya juga Faza.

__ADS_1


Zahra tersenyum. Pagi ini Zahra benar benar memasak sendiri tanpa campur tangan dari mbak Lasmi.


“Eemm.. Wangi masakan mamah enak banget nih.. Papah jadi laper..”


Suara Faza menarik perhatian Zahra. Wanita itu tersenyum kemudian segera melangkah mendekat pada Faza yang sudah rapi dengan setelan jas hitamnya.


“Hay sayang.. Anteng banget sama papah.. Abis main apa hem?”


Zahra mengambil alih Fahri dari gendongan Faza kemudian menciumi wajah tampan putranya itu. Wangi khas bayi yang menguar dari tubuh gempal putranya selalu berhasil membuat Zahra terlena. Rasanya Zahra ingin terus menciuminya.


“Aku lapar sayang...” Rengek Faza mencebikkan bibir tipisnya.


Zahra menatap Faza kemudian tertawa.


“Aku sudah buatin nasi goreng kari buat kamu. Yuk sarapan.”


“Wah.. Kedengeran-nya enak banget. Ayo..”


Zahra melangkah lebih dulu dari Faza dengan Fahri yang berada di gendongan-nya. Begitu sampai dimeja makan, Zahra kembali menyerahkan Fahri pada Faza karena dirinya hendak mengambilkan nasi goreng berserta lauk pauknya untuk Faza.


“Selamat makan sayang..” Ujar Zahra.


Zahra mengambil Fahri lagi dari Zahra dan duduk dikursinya. Sedangkan Faza, pria itu mendekatkan kursinya pada kursi yang diduduki Zahra.


Faza menyendok nasi juga lauknya kemudian menyodorkan pada Zahra yang langsung Zahra terima tanpa penolakan dengan alasan apapun.


Mereka berdua sarapan dengan Fahri yang menyusu pada Zahra. Pagi ini mereka bertiga berada dimeja makan menikmati waktu pagi yang tidak terlalu menyita waktu Faza.


“Hem sayang, bagaimana kalau siang nanti kita kerumah mamah sama papah?”


Zahra berhenti mengunyah nasi goreng dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan Faza. Mendadak Zahra teringat kembali dengan percakapan suami dan mamah mertuanya lewat sambungan telepon semalam.


Zahra tau mamahnya pasti meminta Faza untuk datang bersama Fahri, tapi tidak dengan bersamanya.


“Mamah kangen sama Fahri katanya.” Tatap Faza dengan ekspresi yang tentu bisa dengan gampang Zahra tebak.


“Emm.. Oke.. Aku akan bersiap.”


Tidak ingin membuat Faza kecewa karena dirinya menolak, Zahra pun mengangguk setuju dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


Zahra tidak ingin Faza berjarak dengan Sinta. Karena Zahra sendiri merasakan bagaimana hampanya hidup tanpa kasih sayang dari seorang ibu. Terlebih Zahra juga tidak punya kesempatan untuk membalas pengorbanan kedua orang tuanya. Zahra tidak mau Faza menjauh dari mamahnya hanya karena restu yang sampai saat ini belum kunjung Sinta berikan untuknya.


“Terimakasih sayang. Aku akan pulang tepat waktu.”

__ADS_1


Faza tersenyum lebar. Faza berharap tidak akan ada ucapan pedas apapun yang terlontar dari bibir mamahnya nanti pada Zahra.


Setelah menyelesaikan sarapan-nya, Faza pun berangkat dengan Zahra dan Fahri yang mengantar sampai teras depan rumah.


Zahra melambaikan tangan-nya begitu mobil Faza berlalu dan keluar dari pekarangan rumah dengan bantuan pak satpam yang membukakan gerbang. Dan ketika Zahra hendak memutar tubuh untuk masuk kembali kedalam rumah, suara klakson mobil Loly menarik perhatian Zahra membuat Zahra tetap berdiri ditempatnya.


“Loly...” Gumam Zahra pelan.


Loly menghentikan mobilnya tepat didepan teras rumah tempat Zahra berdiri. Dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya Loly meraih paperbag berukuran sedang yang berada dikursi samping kemudi kemudian turun dari mobilnya.


“Hay.” Sapa Loly tersenyum lebar.


Zahra ikut tersenyum menatap Loly yang memang sering datang jika pagi pagi. Zahra menebak mungkin Loly mampir sekalian berangkat untuk bekerja.


“Hay keponakan gantengnya aunty..”


Dengan gemas Loly menciumi Fahri. Wanita itu benar benar sudah berubah sepenuhnya. Loly bahkan selalu merasa merindukan Fahri yang dia klaim sebagai keponakan-nya sendiri itu.


“Ra, biarkan aku menggendongnya. Aku sangat merindukan-nya.” Ujar Loly menyodorkan paperbag berukuran sedang yang dibawanya pada Zahra.


“Oh oke..” Angguk Zahra kemudian segera menyerahkan Fahri pada Loly.


“Aduh sayang.. Aunty gemes banget. Aunty pengin cium cium kamu terus.. Wangi banget lagi..”


Zahra tertawa melihat Loly yang terus menciumi Fahri. Awalnya Zahra tidak menyangka bahwa Loly yang begitu sinis dan licik ternyata mempunyai sisi yang sangat berbeda dan tidak pernah Zahra lihat. Dibalik sikap sinis dan liciknya ternyata Loly adalah sosok penyayang juga tulus. Tidak heran jika Sinta bahkan begitu mendambakan Loly menjadi menantu.


“Masuk yuk..” Ajak Zahra yang tentu langsung dianggukki Loly.


Keduanya masuk kedalam rumah dengan Zahra yang melangkah lebih dulu.


“Kamu udah sarapan Ly?” Tanya Zahra pada Loly yang melangkah mengikutinya dari belakang.


“Belum sih. Aku buru buru langsung kesini soalnya.” Jawab Loly terus menciumi Fahri yang sudah mulai tertawa lebar meski belum bersuara.


“Ya udah sarapan dulu yuk? Atau mau aku ambilin?” Tanya Zahra menawarkan.


“Boleh deh.. Tapi bawa kesini aja ya Ra..” Angguk Loly kemudian mendudukan dirinya disofa ruang tamu.


“Oke.. Tunggu sebentar.”


Zahra meletakan paperbag yang dibawanya diatas meja kaca diruang tamu kemudian berlalu untuk mengambilkan sarapan untuk Loly.


Zahra tersenyum. Zahra merasa memiliki satu lagi sahabat baik selain Tina.

__ADS_1


__ADS_2