
Loly benar benar merasa sangat kecewa kali ini. Fadly pergi keluar kota dan Loly tidak mengetahui tentang rencana kepergian Fadly.
“Memangnya Fadly pergi kemana tante?” Tanya Loly pada Sinta yang asik melahap nasi goreng dipiringnya.
“Kayanya ke surabaya.”
Loly mengeryit. Jawaban Sinta seperti sengaja membuatnya bingung campur penasaran.
“Kok kayanya..”
Sinta meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.
“Sudahlah Loly, tidak penting Fadly pergi kemana sekarang. Bagaimana kalau nanti sore setelah kamu pulang kerja kita kerumah Faza saja? Kemarin Faza sakit dan kamu belum menjenguknya bukan?”
Loly langsung gelagapan. Loly tidak ingin berbohong pada Sinta. Tapi Loly juga tidak mungkin berkata terus terang bahwa dirinya sudah menjenguk Faza dengan Fadly kemarin sore.
Sedangkan Sinta, Wanita itu tersenyum menatap Loly yang gelagapan ditempatnya. Sinta tau Loly pasti tidak akan berani jujur padanya tentang kebersamaan-nya dengan Fadly saat menjenguk Faza kemarin sore.
Setelah menyelesaikan sarapan-nya, Loly pamit karna dirinya harus segera berangkat ke kantor.
“Jangan lupa nanti sore ya sayang, tante tunggu kedatangan kamu.”
Loly meringis. Menolak ajakan Sinta adalah hal yang sangat ingin Loly lakukan sebenarnya. Tapi itu juga tidak mungkin bisa dengan mudah Loly lakukan.
“Eemm.. Aku akan mengusahakan-nya tante.”
“Harus dong sayang.. Demi mas Faza.” Senyum Sinta sambil berbisik.
Loly meringis. Entah kenapa geli sekali rasanya mendengar Sinta ikut menyebut Faza dengan embel embel mas.
“Ya udah tante... Aku berangkat kerja dulu ya..” Senyum Loly kemudian langsung masuk kedalam mobilnya.
Dari kejauhan Akbar tersenyum melihatnya. Akbar tau bagaimana perasaan Loly pada Fadly sekarang. Gelagatnya benar benar sangat berbeda dari Loly yang dulu suka pada Faza. Jika dulu Loly begitu terang terangan dan memperlihatkan sikap angkuhnya, tapi sekarang tidak. Loly terlihat tenang dengan berbagai cara baik saat hendak bertemu dengan Fadly. Meskipun sama sama penuh dengan siasat namun kali ini Akbar bisa memaklumi.
“Kamu berhasil merubah Loly menjadi lebih baik Fadly...” Gumam Akbar semakin merasa bangga pada putra bungsunya itu.
----------
“Mas, aku boleh nggak jalan jalan sama Tina hari ini?” Tanya Zahra saat sedang mengambilkan nasi untuk Faza.
“Jalan jalan kemana?” Tanya Faza mengeryit.
“Ya.. Keliling aja. Sebentar doang kok.” Jawab Zahra.
“Boleh sih.. Tapi nanti agak siangan yah.. Kamu bilang sama aku kamu lagi dimana, nanti pas waktu makan siang aku nyusul.” Senyum Faza.
__ADS_1
“Memangnya kamu nggak sibuk mas?” Tanya Zahra bingung.
“Enggak terlalu sih.”
“Oh..” Senyum Zahra merasa senang.
“Kamu mau pake apa lauknya?” Tanya Zahra.
“Eemm.. Apa aja deh sayang..”
“Oke..”
Zahra mengambilkan lauk dan menaruhnya diatas piring berisi nasi goreng kari itu kemudian menaruhnya tepat didepan Faza.
“Makasih sayang...”
“Iya mas.. Sama sama...”
Mereka berdua sarapan bersama dengan begitu hangat. Faza juga sesekali menyuapi Zahra yang tentu menerima dengan senang hati perlakuan romantis suaminya.
Selesai sarapan, Zahra mengantar Faza sampai depan rumah seperti biasanya.
“Nanti kalau mau jalan hati hati ya sayang. Jangan lupa telepon aku dulu.” Ujar Faza sambil membelai lembut pipi chuby Zahra.
“Eemm.. iya..” Angguk Zahra balas tersenyum pada suaminya.
Faza menurunkan tangan-nya dari pipi Zahra dan mengusap lembut perut buncit istrinya itu. Sebenarnya Faza khawatir jika Zahra pergi tanpa nya. Tapi Faza tidak ingin terlalu mengekang Zahra. Apa lagi Zahra pergi sama Tina. Sahabat dekatnya sejak dulu.
“Nanti jangan pake motor sayang.. Pake mobil aja. Aku nggak mau loh kalau sampai kamu dan anak kita kenapa napa.”
Zahra tertawa pelan mendengarnya.
“Iya iya masku.. Kenapa sekarang jadi banget sih kaya beo..”
Mendengar ejekan istrinya, Faza pun mencubit gemas hidung Zahra membuat si empunya meringis.
“Biarin jadi kaya beo yang penting kamu sama anak kita selalu hati hati..” Katanya gemas.
“Sakit...” Ringis Zahra mengusap hidungnya yang memerah karna cubitan Faza.
“Maaf maaf sayang...”
Faza menunduk mencium ujung hidung Zahra yang memerah karna cubitan-nya. Ciuman itu kemudian merembet ke kedua pipi dan kening Zahra. Ketika Faza hendak mencium bibirnya, Zahra dengan sigap menutup bibirnya menggunakan tangan.
“Kenapa?” Tanya Faza bingung.
__ADS_1
“Ada pak satpam dan mbak Lasmi.” Jawab Zahra.
Faza menolehkan kepalanya pada mbak Lasmi yang sedang asik bersenandung sambil menyiram bunga. Faza juga menoleh pada pak satpam yang berdiri disamping gerbang yang sudah dibukanya.
“Huh... Oke oke..” Angguk Faza mengerti.
“Ya sudah aku berangkat ya. Jangan lupa telepon aku sebelum pergi sama Tina.” Ujar Faza kembali mengingatkan.
“Oke...” Angguk Zahra kemudian menyalimi Faza.
Faza masuk kedalam mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang berlalu dari hadapan Zahra yang tersenyum menatap kepergian-nya.
Zahra menghela napas. Entah kenapa Zahra merasa Faza seperti kembali lagi seperti dulu. Penuh perhatian meskipun selalu sibuk saat sedang bekerja.
Zahra kemudian kembali masuk kedalam rumah dengan tangan terus mengusap usap perut buncitnya sendiri. Zahra hendak bersiap siap karna sebentar lagi Tina pasti akan datang menjemputnya.
Tepat pukul 10 Tina datang dengan menggunakan mobilnya. Tina menyapa ramah pada mbak Lasmi dan pak satpam sebelum masuk kedalam rumah Faza dan Zahra.
Zahra yang memang sudah siap dan sedang menunggu tersenyum melihat kedatangan sahabatnya.
“Kita pergi sekarang?” Tanya Tina pada Zahra.
“Oke...” Angguk Zahra setuju.
Zahra bangkit dari duduknya disofa dengan bantuan Tina yang menggandeng tangan-nya. Zahra memang sedikit kesusahan jika hendak bangkit dari duduknya karna perutnya yang semakin membesar.
Ketika sudah berada didalam mobil Tina tiba tiba Zahra teringat pada Sinta. Mamah mertuanya itu pasti akan sangat marah jika tau perihal kepergian-nya dengan Tina. Tapi Zahra tidak ingin ambil pusing. Yang terpenting adalah Faza mengizinkan-nya. Apa lagi Faza juga mengatakan akan menyusulnya.
“Mbak, pergi dulu ya.. Nanti kalau mamah nanya bilang apa adanya aja nggak papa..” Ujar Zahra pada mbak Lasmi yang sedang menyapu teras depan rumah.
“Iya nyonya, hati hati..” Angguk mbak Lasmi tersenyum pada Zahra.
“Ya...” Balas Zahra tersenyum sambil melambaikan tangan-nya saat Tina mulai melajukan pelan mobilnya.
“Ra..” Panggil Tina menoleh sekilas pada Zahra karna Tina sedang mengemudikan mobilnya.
“Ya Tin.” Saut Zahra menoleh pada Tina.
“Masih ingat pak Santo nggak?” Tanya Tina yang tiba tiba menyinggung tentang mantan bos mereka dulu, Santoso.
“Ya.. Memangnya kenapa?” Jawab Zahra kemudian balik bertanya dengan sedikit kebingungan.
Tina menghela napas. Sudah lama sebenarnya Tina ingin menceritakan tentang Santoso dan keluarganya yang kini terpecah belah. Dan salah satu penyebabnya adalah Zahra.
“Kita mampir ke kedai ice cream biasa ya. Aku bakal ceritain disana semuanya sama kamu.”
__ADS_1
Zahra mengeryit semakin bingung. Tina tiba tiba menyinggung tentang Santoso. Dan itu membuat Zahra mulai bertanya tanya.
“Ya udah...” Balas Zahra pelan mengiyakan.