
Loly meraih segelas air putih dan menenggaknya sampai habis setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dengan telor ceplok juga ayam goreng berlumur sambal yang diambilkan oleh Zahra.
“Hufft.. Ini enak banget. Mbak Lasmi yang masak ya Ra?” Tanya Loly sambil menghela napas karena kepedesan.
Zahra tersenyum.
“Aku yang masak..”
“Hah? Serius? Kamu bisa masak nasi goreng kari? Sumpah ini enak banget. Ajarin aku juga lah Ra.. Aku juga mau bisa masak begini.”
“Bukan-nya kamu juga bisa masak?” Tanya Zahra.
Zahra masih sangat mengingat dulu Loly pernah bahkan sering membawa nasi goreng pagi pagi untuk sarapan bersama saat Zahra dan Faza tinggal dikediaman kedua orang tua Faza.
“Bisa sih.. Tapi masih belajar. Nggak bisa banget kaya kamu. Kapan kapan kalau aku nggak sibuk aku main kesini deh. Tapi ajarin aku masak ya.. Tapi kamu jangan bilang Fadly aku disini.”
Zahra mengulum senyumnya. Loly selalu merahasiakan kedatangan-nya pada Fadly memang.
“Memangnya kenapa kalau Fadly tau?” Tanya Zahra menatap Loly menggoda.
Loly menghela napas. Loly menatap sebentar pada Zahra kemudian meluruskan pandangan-nya.
“Aku udah pernah cerita sama kamu kan tentang apa yang Fadly lakukan sama aku? Karena itu kedua orang tuaku jadi tidak suka sama Fadly. Mommy bahkan memutuskan hubungan pertemanan-nya dengan tante Sinta secara sepihak. Dan sampai sekarang juga tante Sinta nggak tau kalau mommy udah nggak mau lagi temenan sama dia Ra..”
Zahra menghela napas pelan. Zahra juga menganggap apa yang Fadly lakukan pada Loly memang sangat salah. Awalnya juga Zahra sempat tidak percaya pada apa yang Loly katakan. Namun setelah melihat gelagat Fadly akhirnya Zahra percaya. Apa lagi sekarang semuanya benar benar seperti karma. Fadly berbalik mengejar Loly saat Loly menjauh dan enggan lagi dekat dengan-nya.
__ADS_1
“Tapi Loly, sebagai seorang teman. Boleh tidak aku tau bagaimana perasaan kamu sekarang sama Fadly?”
Zahra kembali bertanya dengan sangat hati hati. Zahra tidak mau membuat Loly salah mengartikan maksudnya yang ingin tau tentang bagaimana perasaan Loly pada Fadly sekarang.
Loly menundukan kepalanya. Loly menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan.
“Perasaan aku ke Fadly tidak seperti perasaan aku ke suami kamu dulu Ra.. Aku sendiri juga bingung. Apa yang Fadly lakukan sudah sangat sangat keterlaluan. Dia mempermainkan aku bahkan hampir saja membuat perusahaan aku hancur. Tapi heran-nya sampai sekarang perasaan itu tetap sama. Tapi aku tidak ingin kecewa lagi Ra.. Dan sekarang aku sedang berusaha mengikis sedikit demi sedikit perasaan aku sama Fadly.”
“Lalu apa usaha kamu berhasil?”
Loly tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya.
“Belum berhasil Ra.. Tapi aku yakin aku pasti bisa melupakan Fadly.”
Zahra tertawa mendengarnya. Dulu Zahra juga sempat putus asa dan hampir saja meninggalkan Faza. Tapi itu tidak sampai Zahra lakukan. Karena Zahra tau Faza juga sangat mencintainya sama seperti dirinya yang sangat mencintai Faza.
“Loly aku sama mas Faza juga sampai sekarang belum mendapat restu dari mamah. Kamu pasti taulah. Karena kamu juga dekat kan dengan mamah. Tapi aku selalu yakin suatu saat mamah akan nerima aku. Mamah akan menyayangi aku.”
Loly menelan ludah. Tentu saja Loly tau semua itu. Loly bahkan juga termasuk penyebab Zahra tidak mendapat restu dari Sinta. Dan sekali lagi Loly berpikir apakah yang saat ini sedang dijalaninya adalah karma?
Hubungan-nya dengan Fadly tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya. Sama seperti hubungan Faza dan Sinta yang sampai saat ini belum kunjung mendapat restu dari Sinta.
“Aku akan bantu bicara sama tante nanti Ra..” Ujar Loly pelan.
Loly merasa bersalah pada apa yang terjadi pada Faza dan Zahra. Andai dulu dirinya tidak kukuh mengejar Faza mungkin sekarang Zahra sudah mendapat restu dari Sinta.
__ADS_1
Zahra tertawa pelan. Sinta hanya akan semakin membencinya jika sampai ada seseorang yang mengatakan hal baik tentang dirinya.
“Tidak perlu. Biarkan saja semuanya mengalir dengan sendirinya. Aku akan mengikuti alur kisah ini sampai akhir. Aku percaya Tuhan mencoba aku seperti ini karena aku memang mampu menghadapinya.”
Loly hanya diam. Dulu juga Loly sangat membenci Zahra. Dan itu sebelum Loly benar benar mengenal siapa Zahra. Ditambah saat itu Loly juga sangat tergila gila pada Faza.
“Tapi Ra.. Aku juga sangat bersalah dalam situasi ini. Mungkin kalau aku dulu mundur begitu tau mas Faza sudah menikahi kamu semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin tante akan bisa menerima kamu.”
Zahra tertawa lagi.
“Kamu salah kalau berpikir seperti itu. Hubungan kami sudah ditentang sejak awal. Mas Faza mungkin sering berbohong pada mamah saat akan menemuiku dulu. Mungkin aku memang bodoh karena tetap bertahan sedang aku sendiri tau kalau mamah nggak pernah suka sama aku. Tapi itulah hebatnya cinta. Apapun rintangan-nya asal apa yang kita jalani dan kita niati baik Tuhan pasti akan memberikan jalan. Dan buktinya kami bisa sampai di titik ini. Kamu bahkan sekarang menjadi temanku bukan? Kamu saja bisa baik sama aku, masa mamah enggak.”
Loly menggeleng takjub. Loly tidak menyangka Zahra mempunyai sikap yang sangat teguh namun juga tangguh. Zahra selalu percaya pada apa yang Tuhan berikan tanpa sedikitpun menyalahkan dirinya sendiri.
“Apa itu artinya aku juga bisa bersama Fadly Ra?” Tanya Loly menatap Zahra serius.
Zahra tersenyum lebar. Zahra menutup dadanya karena Fahri yang sudah terlelap dan tidak lagi menyusu padanya.
“Semua itu tergantung pada kalian berdua. Tapi tebakan aku mamah akan sangat bahagia kalau kamu menjadi bagian dari keluarga Akbar.”
Loly menelan ludah dan menundukan kepalanya. Sinta selalu mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang Zahra padanya. Dan tiba tiba Loly berpikir jika sampai dirinya juga menjadi bagian dari keluarga Akbar bukan tidak mungkin Sinta akan semakin merasa diatas awan dan terus memandang Zahra sebelah mata.
Loly tidak mau itu terjadi. Zahra adalah teman-nya sekarang. Dan Zahra adalah orang baik. Zahra pantas untuk bahagia. Loly tidak ingin terus menjadi orang egois yang enggan memikirkan orang lain dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
“Ly...”
__ADS_1
Loly kembali menatap Zahra yang tiba tiba menyentuh dan menggenggam lembut tangan-nya.
“Ada pepatah mengatakan jika kita ingin mendapatkan sesuatu maka kita juga harus rela kehilangan sesuatu yang kita miliki. Dan semua itu tentu juga harus ada perjuangan. Percayalah, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk setiap hambanya yang baik.” Ujar Zahra tersenyum lebar pada Loly.