PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 197


__ADS_3

Sejak saat itu Loly tidak lagi menemui Fadly. Loly memang sempat putus asa bahkan hampir mengakhiri hidupnya karna frustasi. Tapi berkat Mona yang selalu ada disampingnya membuat Loly sadar dan dapat berpikir dengan jernih lagi.


Loly bahkan menyadari apa yang terjadi padanya mungkin adalah karma atas apa yang sudah dilakukan-nya pada Faza dan Zahra dulu.


“Gimana keadaan kamu nak?” Tanya Mommy Loly.


Saat ini Loly dan kedua orang tuanya sedang berada dimeja makan. Mereka bertiga sedang menikmati sarapan pagi bersama.


“Udah mendingan mom..” Senyum Loly menjawab.


Ya, setelah kepulangan-nya dari bandung Loly memang sempat sakit beberapa hari. Namun sakitnya itu juga yang akhirnya membuat Loly menyadari tidak seharusnya Loly mau diperbudak oleh cinta yang bersarang dihatinya sendiri.


“Syukurlah kalau begitu. Lalu apa yang akan kamu lakukan hari ini? Kalau saran mommy sih mending kamu dirumah saja dulu. Istirahat yang cukup. Mommy liat wajah kamu masih pucat sayang...”


Loly tersenyum mendengarnya. Inilah yang dulu selalu Loly dapatkan dari kedua orang tuanya. Kasih sayang dan kehangatan yang hampir saja hilang karna kecerobohan Loly sendiri.


“Benar apa kata mommy kamu sayang.. Kesehatan kamu jauh lebih penting dari apapun. Apa lagi dua hari lagi mommy dan Daddy sudah harus kembali ke Amerika.”


“Aku udah baik baik aja kok mom, dad. Kalaupun aku dirumah terus, itu pasti justru akan membuat aku merasa bosan dan bisa saja aku drop lagi.” Ujar Loly dengan disertai tawa.


Kedua orang tua Loly saling menatap kemudian menggelengkan kepalanya. Inilah Loly nya. Loly yang rajin dan giat dalam mengerjakan sesuatu. Loly yang dapat mereka percaya, bukan Loly yang lalai akan tanggung jawabnya hanya karna seorang pria seperti Fadly.


“Oke oke... Nona tukang bekerja. Tapi kamu harus ingat, Kamu nggak boleh sampai telat makan. Kamu harus selalu menjaga kesehatan kamu karna mommy sama daddy tidak bisa selalu ada disamping kamu sayang..” Senyum lembut mommy Loly.


“Iya mom.. Loly bisa jaga diri kok..” Angguk Loly.


“Ingat.. Jangan lagi melakukan kesalahan yang sama. Mommy tidak pernah menuntut kamu untuk cepat cepat menikah. Yang terpenting adalah kamu bahagia sayang.. Yakinlah Tuhan akan mempertemukan kamu dengan pria yang baik dan bertanggung jawab.”


Loly mengangguk menyetujui apa yang daddy nya katakan. Satu kesalahan yang dilakukan-nya hampir saja membuat Loly kehilangan perusahaan-nya bahkan Mona yang sejak dulu selalu setia menjadi sekretarisnya.


“Ya sudah, abisin sarapan-nya. Atau kamu mau lagi nasi gorengnya sayang?” Tawar mommy Loly.

__ADS_1


“Enggak mom.. Ini saja. Aku sudah sangat kenyang.” Geleng kepala Loly menolak tawaran mommy nya.


Loly menatap kedua orang tuanya bergantian. Jika boleh jujur sebenarnya Fadly masih ada dihatinya. Rasa itu masih sama seperti dulu. Bahkan apa yang Fadly lakukan padanya sama sekali tidak mengurangi rasa yang Loly miliki untuk Fadly. Loly masih mencintai Fadly dalam diamnya.


Tapi Loly tau kedua orang tuanya tidak setuju. Mereka berdua sudah mengecap Fadly sebagai pria yang tidak bertanggung jawab dan Loly tidak bisa dengan mudah pandangan kedua orang tuanya pada Fadly.


“Sudahlah.. Tidak perlu dipikirkan lagi Loly. Kalau memang Fadly adalah jodoh kamu, Tuhan pasti akan mempertemukan lagi dalam keadaan yang pasti jauh lebih baik dari sebelumnya.” Batin Loly kemudian menyuapkan kembali sesendok nasi goreng kedalam mulutnya.


Setelah selesai sarapan, Loly pun kembali naik ke lantai dua. Loly hendak bersiap siap karna sebentar lagi akan berangkat untuk bekerja.


Setelah selesai bersiap, Loly segera berangkat dengan menggunakan mobil merah mewah miliknya. Loly merasa sudah mendapatkan pelajaran berharga dari apa yang sudah dirasakan-nya. Dan Loly tidak ingin mengulangi lagi kesalahan-nya. Loly tidak membenci Fadly karna bahkan sampai detik ini Loly masih sangat mencintai Fadly. Tapi Loly mencoba untuk berpikir sehat. Jika memang Fadly adalah jodohnya, Tuhan pasti akan kembali mendekatkan mereka berdua. Tapi jika memang Fadly bukan jodohnya, Loly berharap Tuhan lebih cepat mengikis perasaan-nya pada Fadly.


--------


Zahra menggelengkan kepalanya menatap Faza yang terus menciumi putranya dari wajah sampai tubuh mungilnya. Faza bahkan sepertinya lupa rutinitasnya setiap pagi, yaitu berangkat bekerja.


“Mas...” Panggil Zahra yang baru selesai membersihkan dirinya. Zahra bahkan masih mengenakan handuk diatas kepalanya.


“Kamu nggak berangkat kerja mas?” Tanya Zahra sambil melangkah mendekat pada Faza yang berbaring tengkurap diatas ranjang.


Faza diam. Faza bukan malas bekerja. Hanya saja Faza teringat semalam Zahra tidak bisa tidur dengan nyenyak karna Fahri yang lagi lagi bangun dan menangis. Bahkan sepertinya semalam Zahra sama sekali tidak tidur semalaman.


“Eemm.. Nggak dulu deh. Aku mau main sama Fahri biar kamu bisa istirahat siang ini..” Jawab Faza tersenyum.


Zahra ikut tersenyum mendengarnya. Zahra sendiri tau semalam Faza juga tidak bisa tidur karna tangisan Fahri yang lagi lagi terdengar.


“Ya udah kalau gitu. Kita istirahat sama sama yah.. Kan semalem kamu juga nggak tidur.” Ujar Zahra membuat senyuman dibibir Faza melebar.


“Oke mamah..” Katanya membalas.


Zahra tertawa. Rasanya lucu sekali mendengar Faza menyebutnya mamah.

__ADS_1


“Ya udah mending sekarang kamu sarapan dulu gih. Biar aku yang jagain Fahri. Mumpung dia lagi anteng.” Suruh Faza perhatian.


“Lah terus kamu gimana?” Tanya Zahra bingung.


“Udah.. Kamu nggak usah mikirin aku.. Aku tadi udah minum kopi sama makan sandwich kok. Aku udah kenyang.” Jawab Faza.


Zahra beralih menatap nakas samping tempat tidurnya dan Faza. Disana memang ada secangkir kopi dan sepotong sandwich diatas piring kecil. Zahra menebak pasti Faza membuat sendiri sandwich selai kacang itu karna tidak mungkin jika mbak Lasmi yang membuatkan.


Zahra menghela napas. Faza memintanya untuk mengurus sendiri anak mereka agar anaknya merasakan perhatian penuh darinya, bukan dari orang lain seperti baby siter. Zahra sangat setuju dengan apa yang di inginkan suaminya sebenarnya karna selain Zahra yang memang tidak punya kegiatan setiap harinya, Zahra juga ingin memastikan sendiri segala yang terbaik untuk putranya.


Suara ketukan pintu membuat Zahra menoleh kearah pintu. Namun tidak dengan Faza yang sibuk mengoceh didepan putranya yang belum bisa mengerti apa yang Faza katakan.


Zahra melangkah pelan menuju pintu kemudian membukanya. Zahra tersenyum. Mbak Lasmi berdiri disana dengan kepala sedikit menunduk.


“Maaf mengganggu nyonya, sarapan-nya sudah siap..” Ujar mbak Lasmi pelan.


“Iya mbak.. Saya akan turun sebentar lagi. Terimakasih ya mbak..”


“Sama sama nyonya.. Saya permisi mau mengerjakan yang lain.”


“Oh oke mbak..” Angguk Zahra mengerti.


Setelah mbak Lasmi berlalu, Zahra kembali menutup pintu kamarnya kemudian mendekat lagi pada Faza.


“Mas beneran nggak mau sarapan?” Tanya Zahra menatap Faza sendu.


“Iya.. Udah kamu makan yang banyak ya sayang.. Jangan lupa minum vitamin ya.. Perempuan menyusui harus banyak makan-nya..”


Zahra tertawa pelan.


“Ya udah aku titip Fahri sebentar ya mas..”

__ADS_1


“Iya sayang..” Angguk Faza tersenyum dan menatap Zahra penuh kasih dan perhatian.


__ADS_2