PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 104


__ADS_3

Selama sebulan setelah pagi itu sikap overprotektif Sinta pada Zahra semakin terlihat. Sinta bahkan sampai marah marah saat melihat Zahra sedang menyapu teras depan rumahnya.


“Halo, Tante. Tante apa kabar?”


Sinta menghela napas mendengar suara Loly diseberang telpon. Saat ini Loly memang tidak sedang berada di jakarta. Loly sedang menyusul kedua orang tuanya yang beberapa bulan belakangan memilih tinggal diluar negeri karna urusan bisnisnya.


“Kabar tante sangat buruk beberapa hari ini.” Jawab Sinta dengan kekesalan yang mengganjal hatinya.


“Kok bisa tante? Memangnya kenapa?” Tanya Loly dengan nada penasaran yang sangat kentara.


“Zahra.. Dia sangat susah sekali diatur. Tante jadi kesal. Sudah tau lagi hamil masih saja sok kerajinan ngerjain pekerjaan rumah. Kesal tante jadinya.” Jawab Sinta.


Loly tertawa diseberang telepon mendengar jawaban yang dilontarkan Sinta.


“Kenapa kamu malah ketawa?”


“Abisnya tante lucu sih.. Zahra kan memang sudah biasa melakukan pekerjaan seperti itu. Bahkan waktu tinggal bareng sama tante juga Zahra membantu bibi setiap hari kan?”


Sinta berdecak dan memutar jengah kedua bola matanya.


“Tapikan dulu sama sekarang itu beda Loly. Dulu Zahra belum hamil. Sekarang dia itu sedang hamil. Cucu pertama tante loh itu.. Tante nggak mau kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi sama cucu tante.”


“Ya sudah, Zahra kan penurut tante. Tante tinggal bilang saja pelan pelan. Pasti Zahra ngerti kok.”


Sinta menghela napas lagi kemudian menganggukan kepalanya.


“Ya.. Sepertinya kali ini tante harus sangat sangat bersabar. Oh iya sayang, kamu kapan balik ke indonesia? Tante sudah kangen banget. Tante kangen makan bareng dan jalan jalan sama kamu.”

__ADS_1


Loly tertawa lagi.


“Mungkin sekitar dua minggu lagi tante. Aku masih betah disini.. Ya.. Mengistirahatkan sejenak pikiranku dengan berkumpul sama mommy dan Daddy.”


“Ya.. Itu cara yang bagus untuk melepas penat sayang. Kamu memang yang terbaik.”


“Ya sudah tante. Nanti Loly kabari lagi kalau Loly sudah mau pulang ke indonesia yah..”


“Oke...” Senyum Sinta kemudian menutup sambungan telepon-nya.


Tanpa Sinta sadari tidak jauh dibelakangnya berdiri sosok Fadly. Fadly menatap punggung Sinta dengan pandangan menyipit curiga. Padahal Fadly pikir mamahnya sudah tidak lagi berhubungan dengan Loly mengingat akhir akhir ini mamahnya jarang sekali bersama dengan wanita itu.


Fadly masih ingat terakhir dirinya bertemu dengan Loly yang berujung dengan tuduhan tidak mengenakan hingga akhirnya Fadly harus mendapat tamparan keras dari mamahnya.


Fadly tersenyum miring. Fadly benar benar sangat muak dengan Loly yang selalu bertingkah sok manis didepan kedua orang tuanya bahkan didepan kakaknya, Faza.


“Loly.. Urusan kita belum selesai. Kamu harus merasakan apa yang kamu tuduhkan padaku nanti.” Gumam Fadly kemudian berlalu dari tempatnya.


----------


“Kemarin mamah telepon aku. Katanya mamah mau ikut kita cek kehamilan kamu ke dokter besok.”


Zahra langsung berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya ketika mendengar apa yang Faza katakan. Zahra kemudian menatap Faza dengan ekspresi keberatan. Zahra merasa sejak dirinya hamil Sinta terlalu mengekangnya untuk melakukan banyak hal. Sinta bahkan mencegahnya dan Tina pergi seminggu yang lalu padahal Faza sudah mengizinkan. Hal itu membuat Zahra merasa risih dan tidak nyaman. Sinta terlalu overprotektif padanya.


“Bisa tidak cek kehamilan-nya cukup aku sama kamu aja mas?”


Faza menyipitkan kedua matanya sebentar kemudian tersenyum.

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Mamah cuma pengin tau bagaimana kondisi kesehatan kamu juga anak kita.”


Zahra berdecak. Faza selalu saja memaklumi apa yang dilakukan mamahnya sejak pagi itu. Bahkan saat Sinta memarahi Zahra karna Zahra tidur terlalu malam Faza sama sekali tidak membela. Padahal saat itu Zahra tidur terlalu malam juga karna menunggu kepulangan-nya.


“Aku nggak nyaman mas. Mamah itu terlalu memaksa aku buat nurutin semua yang dia mau. Sedangkan aku nggak terbiasa dengan aturan mamah..”


Faza menghela napas dengan senyuman yang terus tersungging dibibir tipisnya.


“Sayang.. Mamah lakuin itu karna mamah sayang sama kamu. Mamah nggak mau kamu dan anak kita kenapa napa. Kamu maklumin yah..” Kata Faza lembut.


“Tapi nggak harus maksa kan mas? Oke aku sudah paham bagaimana aku harus menjaga kondisi aku supaya tetap fit. Tapi kalau cuma memasak sendiri saja nggak boleh itu terlalu berlebihan mas. Aku nggak suka terlalu dikekang.”


Faza diam sesaat. Sikap Sinta memang terlalu over pada Zahra. Tapi apa yang Sinta lakukan juga selalu mengacu pada sesuatu yang terbaik untuk Zahra juga janin yang sedang dikandungnya.


“Harusnya kamu seneng dong sayang.. Sejak kamu hamil mamah itu sudah mau berubah. Dia mulai menerima kamu bahkan sangat perhatian sama kamu. Bukan-nya itu yang kita mau sejak dulu?”


“Ya tapi nggak harus begitu mas. Dokter Cindy saja bilang aku nggak masalah melakukan pekerjaan rumah asal tidak menguras tenaga. Dan yang aku lakukan tidak pernah membuat aku mengeluarkan keringat sedikitpun. Tapi mamah selalu membatasi aku nggak boleh ini dan itu.” Sergah Zahra.


“Mas, bahkan kalau sekarang aku angkat mangkuk berisi setengah sup ini dan mamah sampai tau mamah pasti akan sangat marah sama aku.” Lanjut Zahra.


Faza hanya diam. Zahra mulai emosi karna obrolan mereka yang menyangkut mamahnya. Padahal sebulan ini Zahra tidak pernah mempermasalahkan perlakuan Sinta padanya. Faza juga tidak mempermasalahkan karna menurutnya semua yang dilakukan Sinta juga semata mata demi kebaikan Zahra.


“Pokonya aku mau kita berdua aja yang ke dokter. Kalau sampai mas tetap iyain mamah ikut lebih baik aku kedokter sama Tina saja.” Tegas Zahra.


“Ra.. Kamu nggak boleh gitu dong.. Masa aku larang mamah ikut. Mamah kan cuma pengin tau perkembangan baik anak kita..” Faza tetap bersikap tenang meski sebenarnya amarah mulai naik ke ubun ubun-nya.


“Terserah. Pokonya aku nggak mau besok mamah ikut.”

__ADS_1


Zahra bangkit dari duduknya mengabaikan makanan di piringnya yang masih penuh dan baru beberapa suap masuk kedalam mulutnya. Zahra meninggalkan Faza dimeja makan sendiri menuju kamar mereka yang berada dilantai dua rumah tersebut.


Faza berdecak. Pria itu memejamkan kedua matanya, memijat keningnya sendiri mencoba meredam emosinya. Faza tidak mau jika sampai dirinya salah berkata yang pasti akan membuat Zahra merasa tersakiti. Namun disisi lain Faza juga tidak mau jika sampai membuat mamahnya merasa tidak dihargai. Apa lagi jika sampai Faza melarangnya untuk ikut saat Zahra cek kehamilan besok dengan dokter Cindy.


__ADS_2