
Fadly mengikuti arah suara Loly yang ternyata berasal dari dapur. Begitu sampai di pintu dapur, Fadly mendapati Loly yang sedang berdiri membelakanginya.
Aroma harus masakan langsung tercium oleh indra penciuman Fadly. Fadly menebak wanita itu sedang memasak.
Pelan pelan Fadly mendekat pada Loly dan berdiri tepat dibelakang Loly.
“Mbok, tolong ambilin wadah kecil dong. Saya mau cicipin seblaknya.” Ujar Loly pelan.
Fadly tersenyum. Loly mengira dirinya adalah si mbok.
Fadly menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari wadah kecil yang di inginkan Loly. Fadly kemudian meraih mangkuk berukuran kecil dari rak piring bersih dan menyodorkan-nya pada Loly.
“Makasih ya mbok..”
Fadly tidak menyaut. Pria itu melipat kedua tangan-nya didepan dada memperhatikan dengan seksama gerakan Loly yang begitu luwes mengaduk dan menuang hasil masakan-nya kedalam mangkuk kecil tersebut.
Fadly yakin Loly memang sudah biasa melakukan itu. Dan keyakinan itu membuat Fadly semakin mantap mengejar Loly kembali. Fadly semakin yakin bahwa Loly adalah wanita yang tepat untuknya.
Vonisnya dulu tentang Loly bukanlah wanita yang baik langsung tergantikan dengan vonis bahwa Loly adalah wanita terbaik untuknya.
“Eemm.. Enak banget. Mbok mau cobain seblak buatan saya nggak?” Tawar Loly yang masih mengira bahwa yang berdiri dibelakangnya adalah asisten rumah tangganya, bukan Fadly.
Merasa penasaran dengan rasa dari masakan Loly, Fadly pun meraih mangkuk kecil berisi seblak bekas Loly mencicipi tadi. Fadly juga menggunakan sendok yang digunakan Loly tadi untuk mencicipinya.
“Eh mbok.. Itu bekas saya..”
Loly langsung membalikan tubuhnya merasa tidak enak pada seseorang yang masih dia anggap si mbok itu. Tentunya setelah mematikan kompor yang menyala.
Begitu berhadapan langsung dengan Fadly kedua mata Loly membulat dengan sempurna. Loly kaget karena ternyata yang berdiri dibelakangnya tadi bukan si mbok, tapi Fadly.
“Kamu...”
“Seblaknya enak. Aku jadi laper.” Senyum Fadly setelah mencicipi seblak buatan Loly.
Loly menghela napas kasar kemudian mengambil paksa mangkuk kecil berisi sedikit seblak yang dipegang Fadly.
__ADS_1
“Aku nggak masakin kamu. Mau kamu laper atau nggak itu bukan urusan aku.” Ketus Loly.
Fadly tersenyum kemudian melangkah maju semakin mendekat pada Loly.
“Begitu ya?” Tanyanya pelan.
Fadly mengambil kembali dan meletakan mangkuk kecil yang dipegang Loly diatas meja yang berada dibelakang Loly. Setelah itu Fadly memusatkan perhatian-nya pada Loly yang terus melayangkan tatapan tajam padanya.
“Apa mau kamu sebenarnya Fadly?” Tanya Loly penuh penekanan.
Fadly tersenyum. Wajahnya dan wajah Loly sangat dekat sekarang. Bergerak sedikit saja wajah mereka akan saling beradu.
“Apa kamu tidak puas dengan semua yang sudah kamu lakukan padaku hah?!” Bentak Loly marah.
Fadly masih diam. Pria itu mencoba untuk tetap bersikap tenang meskipun Loly terus marah marah padanya.
“Kamu sudah mempermainkan perasaanku. Tolong berhenti. Cukup semuanya.”
Fadly tersenyum. Pria itu menyentuhkan ujung hidung mancungnya pada ujung hidung Loly.
“Aku sudah puas Loly. Bahkan sangat puas. Dan sekarang aku sadar. Aku membutuhkan kamu untuk selalu disamping aku. Aku nggak bisa tanpa kamu.” Lirih Fadly.
Loly melengos. Sesungguhnya hati Loly sedang sangat berbunga bunga sekarang. Tapi Loly berusaha bersikap tidak perduli dengan apapun yang Fadly katakan. Loly tidak mau kecewa dan sakit hati untuk yang kedua kalinya. Dan Loly tidak bisa begitu saja percaya dengan apa yang Fadly katakan. Fadly sudah menorehkan luka yang begitu perih dihatinya.
“Loly.. Lihat aku.. Aku tidak sedang main main. Aku serius. Aku mau kamu tetap ada disampingku.”
Loly menghela napas. Loly merasa terbang sekarang. Tapi demi menjaga harga dirinya sendiri Loly tetap berusaha acuh.
“Loly.. Aku akan menemui kedua orang tua kamu. Aku akan bilang kalau aku cinta sama kamu. Aku mau kamu menjadi milik aku.”
Mendengar itu Loly langsung menolehkan kembali wajahnya. Loly menggeleng tidak percaya dengan apa yang Fadly katakan. Sedang Loly sendiri tau kedua orang tuanya sudah tidak ingin lagi berhubungan apapun dengan keluarga Akbar.
“Jangan gila kamu Fadly. Kedua orang tuaku tidak akan mau menerima kedatangan kamu.” Tekan Loly menatap Fadly tajam.
Loly benar benar tidak mau jika sampai Fadly menemui kedua orang tuanya. Mereka sudah terlanjur membenci Fadly karena apa yang Fadly lakukan. Mereka berdua bahkan juga melarang Loly untuk dekat dekat atau berhubungan dengan Fadly.
__ADS_1
“Ya.. Aku memang gila. Aku gila karena kamu Loly..” Balas Fadly lirih.
Loly menghela napas kasar. Loly berusaha melepaskan cekalan tangan Fadly pada kedua tangan-nya. Namun bukan-nya melepaskan, Fadly justru menarik Loly kedalam pelukan-nya. Fadly juga mencium rambut tergerai Loly dengan kedua mata terpejam.
“Tolong jangan menjauh dariku. Aku benar benar tidak bisa lagi berpikir apapun sekarang. Setiap detik hanya kamu yang selalu memenuhi pikiranku Loly... Aku bahkan membatalkan rencanaku untuk pergi keluar kota besok. Aku tidak bisa pergi dalam keadaan pikiran tidak tenang karena kamu yang terus menjauh dan menghindariku.”
Loly terdiam mendengarnya. Loly tidak menyangka Fadly akan berbicara begitu padanya. Tapi sekali lagi Loly tidak ingin tertipu. Fadly juga sangat manis saat itu. Fadly memberikan-nya bunga, mengajaknya untuk makan berdua, bahkan sering meminta untuk jalan berdua. Loly takut jika sekarang juga Fadly sedang berakting.
Loly berusaha melepaskan diri dari pelukan Fadly. Namun lagi lagi Fadly menahan-nya. Fadly semakin mengeratkan pelukan-nya.
“Kamu ingin membunuhku Fadly? Aku tidak bisa bernapas.” Geram Loly dengan gigi mengatup rapat.
“Biarkan seperti ini beberapa menit Loly.. Setidaknya supaya aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini..”
Loly diam lagi. Mulut Fadly benar benar sangat manis. Tidak ingin membuang buang tenaga dengan memberontak dalam pelukan Fadly, Loly pun hanya menghela napas.
Tapi Loly tidak bisa munafik. Loly merasa nyaman berada dalam pelukan pria itu. Dan ini adalah kali pertama Fadly memeluknya begitu erat seperti tidak ingin melepaskan-nya. Adapun saat mereka bersama dulu Fadly tidak pernah memeluknya. Fadly hanya menggandeng tangan-nya.
Sekitar 10 menit Fadly terus memeluk Loly hingga akhirnya Fadly pun melepaskan-nya. Fadly tersenyum menatap Loly yang menatapnya.
Dengan lembut Fadly membelai pipi Loly. Perlahan Fadly mendekatkan wajahnya. Apa yang Fadly lakukan berhasil membuat Loly gugup sekarang. Loly tidak bodoh. Melihat tatapan dalam pria itu, Loly bisa menebak apa yang akan Fadly lakukan padanya.
Wajah Fadly semakin dekat padanya bahkan ujung hidung mereka sudah kembali saling bersentuhan.
Jantung Loly berdetak dengan sangat cepat. Tubuhnya mendadak kaku karena tatapan dalam Fadly yang seperti membuat sekujur tubuhnya terhipnotis.
“Aku mencintai kamu Loly.. Jadilah ibu dari anak anakku..” Bisik Fadly sebelum benar benar memagut bibir Loly.
Dari balik pintu dapur si mbok dan pekerja lain-nya termasuk pak satpam melihat Fadly yang mencium Loly. Dengan kompak mereka langsung menutup matanya kemudian berbalik badan.
“Kita tidak seharusnya melihat yang tadi kan?” Tanya si mbok pada rekan rekan-nya.
“Ya mbok.. Sebaiknya kita segera membubarkan diri sebelum jiwa jombloku meronta ronta.” Saut mbak wati yang memang masih lajang.
“Saya setuju itu.” Ujar pak satpam mengimbuhi dengan mantap.
__ADS_1
Mereka kemudian bergegas membubarkan diri sebelum Fadly juga Loly mengetahui keberadaan mereka.