
Sinta begitu semangat menyambut kedatangan Loly. Sinta bahkan sempat menangis merasa sangat terharu karena akhirnya Loly kembali datang kerumahnya setelah hampir 4 bulan tidak menginjakkan kaki dirumahnya. Sinta memeluk Loly dan langsung mengajaknya duduk berdua diruang tamu.
“Kamu apa kabar sayang? Tante kangen banget sama kamu.. Tante beberapa kali datang kerumah kamu tapi si mbok dan pak satpam selalu bilang kamu sedang tidak dirumah. Tante bahkan enggak bisa menelepon kamu.. Tante minta maaf kalau tante punya banyak salah sama kamu. Tapi tante mohon kamu jangan menghindar dari tante. Jangan jauhi tante ya...”
Loly tersenyum mendengar apa yang Sinta katakan. Loly memang sengaja menghindar dari keluarga Akbar. Selain itu adalah kemauan kedua orang tuanya, Loly juga merasa bahwa dirinya tidak harus dekat lagi dengan keluarga Akbar setelah apa yang Fadly lakukan padanya.
“Kabar aku baik tante.. Dan aku memang sedang sangat sibuk. Aku jarang dirumah karena harus benar benar menelateni bisnis yang sudah daddy amanahkan ke aku..” Balas Loly pelan.
Sinta mengangguk paham. Sinta sebenarnya tau fakta bahwa Loly memang sengaja menjauh darinya. Tapi Sinta tidak ingin menyinggung tentang hal tersebut. Sinta juga tidak akan menyinggung tentang hubungan Loly dan Fadly lagi. Yang terpenting sekarang Fadly sudah benar benar jatuh hati pada Loly. Dan Sinta akan berupaya membantu sebisanya agar Fadly bisa mendapatkan Loly.
“Yah.. Tante mengerti.” Lirih Sinta meneteskan air matanya.
Loly dengan lembut mengusap air mata yang menetes membasahi pipi Sinta.
“Tante bagaimana kalau hari ini kita kerumah Zahra sama mas Faza? Aku pengin ketemu sama Zahra juga Fahri.” Senyum Loly.
Ekspresi Sinta langsung berubah. Sinta benar benar tidak ingin membahas apalagi sampai bertemu dengan Zahra. Sinta memang senang jika melihat cucunya. Tapi tidak dengan ibunya, Zahra.
“Eemm.. Maaf menengahi. Tapi sore ini Zahra dan Fahri sedang diajak pergi oleh kak Faza.. Jadi sepertinya lebih baik kita pergi sendiri.”
Sinta dan Loly menoleh dengan kompak pada Fadly yang sudah rapi dengan kaos panjang yang dipadukan jins belel. Penampilan-nya benar benar sangat cool sekarang. Apa lagi rambut panjangnya yang sengaja ditata dengan sedikit berantakan. Loly bahkan tidak bisa bohong bahwa Fadly tampak sangat gagah dengan penampilan-nya sekarang.
“Kita? Apa itu artinya kita pergi bertiga?” Tanya Sinta dengan sangat antusias.
Loly menoleh pada Sinta. Itu tidak seperti yang Loly rencanakan. Loly datang karena mendengar dari Fadly bahwa Sinta sedang tidak baik baik saja dan Loly datang karena khawatir. Niatnya adalah mengajak Sinta pergi berdua bukan bertiga dengan Fadly sekaligus.
“Eemm.. Tante, aku pikir lebih baik kita pergi berdua saja. Mungkin kita bisa belanja dan makan malam..” Ujar Loly yang merasa keberatan dengan kata bertiga yang dilontarkan oleh Sinta.
__ADS_1
“Sayang.. Kalau kita belanja kita butuh seseorang untuk membawa belanjaan kita. Kita juga butuh supir untuk mengemudikan mobil supaya kita bisa mengobrol sepanjang jalan. Dan tante pikir jika Fadly ikut juga dengan kita dia akan sangat membantu.” Senyum Sinta yang memang sengaja membantu Fadly akan Fadly bisa dekat dengan Loly.
“Eemm.. Tapi tante..”
“Kalau begitu tunggu 10 menit. Tante akan bersiap. Oke sayang?”
Tidak ingin mendengar penolakan dari Loly, Sinta pun segera bangkit dari duduknya disofa ruang tamu kemudian bergegas melangkah meninggalkan Loly dan Fadly yang berdiri tidak jauh dari sofa yang diduduki Loly untuk bersiap siap.
Loly menghela napas kasar. Loly melirik tajam pada Fadly yang tersenyum tampak sangat bahagia. Sekarang Loly tau bahwa itu adalah bagian rencana Fadly. Fadly menggunakan Sinta sebagai alasan agar Fadly bisa mengajaknya keluar bersama.
“Dasar laki laki brengsek.” Sungut Loly membuang muka.
Sedang Fadly, pria itu merasa sangat bahagia karena ternyata Sinta juga membantunya. Sinta berperan begitu apik dengan alasan yang mudah sekali diterima oleh akal sehat. Bahkan kalau memang Fadly harus membawa banyak belanjaan Fadly merasa tidak keberatan. Yang terpenting sekarang adalah dirinya bisa jalan jalan bersama Loly sekaligus menghibur hati mamahnya yang sedang gundah gulana.
Tepat 10 menit kemudian Sinta sudah siap dengan dress hitam selutut serta tas warna senada dengan sepatu berhak tinggi yang menyempurnakan penampilan-nya. Sedang untuk rambut ikalnya, Sinta membiarkan-nya tergerai begitu saja.
“Kita pergi sekarang?” Tanya Sinta setelah berada disamping Loly yang masih duduk anteng disofa.
“Ayo sayang..” Ajak Sinta pada Fadly yang memang sejak tadi tidak berani mendekat pada Loly. Fadly tidak ingin membuat Loly murka hingga akhirnya menolak pergi bersamanya.
“Ayo mah..” Senyum Fadly kemudian melangkah lebih dulu keluar dari kediaman-nya.
Sedangkan Loly, dengan sangat terpaksa Loly menerima uluran tangan Sinta. Mereka berdua keluar dengan Sinta yang menggandeng lengan Loly.
Sinta benar benar sangat bahagia sekarang dan sejenak melupakan masalahnya dengan Akbar, suaminya.
Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan, Sinta tidak berhenti mengajak Loly mengobrol. Meskipun Loly hanya menanggapinya dengan singkat namun sepertinya Sinta tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bagi Sinta asal Fadly benar benar serius mencintai Loly, Sinta pasti akan dengan senang hati membantu menyatukan keduanya. Apa lagi sejak dulu Sinta juga sangat berharap agar Loly menjadi menantunya.
__ADS_1
Fadly yang melihat mamahnya yang begitu antusias bersemangat menceritakan semuanya pada Loly tersenyum merasa geli. Fadly semakin yakin dengan bantuan mamahnya, hubungan-nya dan Loly pasti akan secepatnya membaik.
Tempat pertama yang mereka tuju adalah restoran. Mereka bertiga berniat untuk lebih dulu mengisi perut sebelum jalan jalan.
“Kamu mau pesan apa sayang?” Tanya Sinta pada Loly.
“Eemm terserah tante saja.” Jawab Loly tersenyum tipis.
“Oke.. Kalau kamu nak?” Angguk Sinta kemudian beralih menatap Fadly yang sedang sibuk menggeser kursi diam diam agar bisa lebih dekat dengan Loly.
“Oh kalau aku.. Samain aja mah..” Senyum Fadly lebar.
“Oke..”
Sinta kemudian memanggil waitrees untuk memesan makanan.
Sedangkan Fadly, pria itu menatap Loly yang sejak tadi terus saja membuang muka darinya.
“Kamu cantik banget malam ini..” Puji Fadly berbisik pada Loly.
Loly melirik Fadly kesal. Loly kemudian menyipitkan kedua matanya menatap tidak suka pada Fadly.
“Kamu pikir aku ABG yang akan tersipu hanya karna mulut brengsek kamu memujiku cantik hah?!” Balas Loly berbisik dengan nada sinis.
Fadly tersenyum geli. Penolakan Loly membuatnya merasa semakin tertantang penuh semangat untuk semakin mendekati Loly.
“Kamu membuatku semakin penasaran sayang..” Ujar Fadly mengedipkan sebelah matanya genit pada Loly.
__ADS_1
“Diam atau sepatuku akan melayang ke wajahmu brengsek.” Ketus Loly dengan gigi mengatup rapat.
Fadly semakin merasa geli dengan apa yang Loly katakan padanya. Kata brengsek yang selalu Loly lontarkan padanya membuat Fadly justru semakin merasa bahwa semuanya akan kembali baik baik saja.