PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 122


__ADS_3

Loly mengikuti Sinta hingga akhirnya mereka berdua sampai diteras samping rumah. Sinta menyuruh agar Loly duduk dikursi yang sama dengan kursi yang dia duduki.


“Tante mau ngomong apa?” Tanya Loly karna Sinta yang malah diam dan tidak langsung berbicara padanya.


“Ini tentang kamu dan Fadly. Tante melihat ada yang tidak biasa antara kamu dan Fadly.”


Mendadak Loly menjadi gugup. Loly tidak mengatakan tentang perasaan-nya pada Fadly ke Sinta. Dan yang Sinta tau Loly masih berharap pada Faza.


“Kamu bahkan terkesan begitu memaksa Fadly. Kamu mencari perhatian dia.” Ujar Sinta lagi.


Loly bingung sekarang. Dari awal yang Sinta inginkan adalah Loly bersama Faza, bukan Fadly.


“Jujur sama tante Loly. Apa kamu mulai menyukai Fadly dan sudah tidak lagi perduli dengan rencana kita?”


Loly menggigit bibir bawahnya sendiri. Pertanyaan Sinta seperti todongan pistol berbahaya bagi Loly sekarang.


Loly memang sudah mulai menyukai Fadly setelah apa yang hampir saja terjadi antara mereka berdua digubug ditengah hutan waktu itu. Tapi Loly masih belum bisa mengatakan-nya pada siapapun. Loly takut Sinta tidak memberinya restu bersama Fadly. Loly tidak mau nasibnya sama dengan Zahra dan Faza.


Ya.. meskipun Fadly juga sama sekali tidak merespon. Tapi Loly sangat yakin tidak ada yang tidak mungkin selama dirinya mau berusaha. Apa lagi Fadly dan dirinya sama sama lajang dan belum mempunyai pasangan.


“Tante aku...”


“Loly.. Tante sangat ingin kamu menggantikan posisi Zahra disamping Faza, bukan sama Fadly.”


Loly langsung bungkam. Dulu mungkin Loly sangat tergila gila pada Faza. Loly bahkan mempengaruhi Sinta agar Sinta menuntut Zahra melahirkan anak laki laki. Lebih parahnya lagi Loly juga memberi ide pada Sinta agar mengambil anak yang akan dilahirkan Zahra nanti kemudian menyingkirkan Zahra dari samping Faza.


“Kamu nggak lupa sama rencana kita kan Loly?” Sinta bertanya dengan menuntut dan menatap Loly dengan memaksa.


Loly menghela napas. Membicarakan tentang perasaan-nya pada Fadly sekarang bukanlah moment yang tepat menurutnya.

__ADS_1


“Ya nggak dong tante.. Masa iya aku yang memberi ide aku yang lupa. Aku masih inget kok. Tante tenang aja.” Senyum Loly berusaha menutupi semuanya dari Sinta.


Sinta menghela napas lega. Wanita itu tersenyum kemudian meraih tangan Loly dan menggenggamnya lembut.


“Tante lega banget dengernya sayang.. Tante bener bener sangat berharap kamu yang menjadi pendamping Faza...” Tatap Sinta penuh harap pada Loly.


Loly tersenyum tipis. Sinta selalu saja mengulang mengatakan apa yang menjadi harapan-nya pada Loly dan Faza. Sedangkan sekarang Loly mulai sadar, Loly tidak mungkin menghancurkan hubungan harmonis Zahra dan Faza. Nalurinya sebagai seorang wanita mulai bekerja dengan baik dan membuatnya menyadari sesuatu yang hampir saja membuatnya terjerumus pada perbuatan yang tidak akan pernah bisa dibenarkan oleh siapapun.


Deringan ponsel dalam tas Loly membuat Loly melepaskan genggaman tangan Sinta.


“Sebentar tante.” Katanya kemudian merogoh tas slempangnya mengeluarkan benda pipih yang terus berdering itu.


Loly segera mengangkat telepon dari supir yang bekerja pada keluarganya. Supir yang memang sebelumnya Loly hubungi agar segera menjemputnya.


“Oke... Saya keluar sekarang.” Ujar Loly kemudian menyudahi telepon-nya.


Loly tersenyum menatap Sinta.


“Ya sudah.. Kamu hati hati ya sayang..” Angguk Sinta tersenyum sembari mengusap lembut bahu Loly.


“Ya tante...”


Loly menyalimi dan bercipika cipiki dengan Sinta sebelum bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Sinta sendiri diteras samping rumahnya.


Sinta tersenyum merasa sangat lega. Dugaan-nya salah tentang Loly. Sinta percaya pada Loly. Itu sebabnya Sinta sangat menginginkan Loly yang menjadi menantunya, pendamping Faza.


Tanpa Sinta dan Loly sadari Fadly mendengar semua obrolan mereka tanpa sengaja. Fadly kemudian bersembunyi dan mendengarkan dengan seksama apa yang Sinta dan Loly bicarakan.


“Ck.. Dasar perempuan tidak tau malu. Berani sekali dia mempengaruhi mamahku.” Gumam Fadly tersenyum sinis.

__ADS_1


Fadly padahal sempat berpikir Loly sudah berubah karna sudah tidak pernah lagi mengganggu hubungan Faza dan Zahra. Tapi yang dia dengar sekarang adalah Loly dan Sinta yang sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik pada Zahra.


“Lalu apa maksudnya dia mendekatiku?” Fadly menggeleng tidak menyangka. Hampir saja dirinya tertipu oleh Loly.


“Aku tidak akan membiarkan rencana yang kamu susun berjalan lancar Loly. Aku akan melindungi hubungan kak Faza dan Zahra. Jangan harap kamu bisa masuk kedalam hubungan mereka selama masih ada aku disini.” Batin Fadly dengan kedua tangan mengepal merasa sangat kesal begitu mengetahui rencana Loly dan mamahnya terhadap Zahra.


Fadly kemudian berlalu dari tempat persembunyian-nya setelah Loly beranjak dari teras samping rumahnya.


Sementara Loly, dia melangkah keluar dari kediaman keluarga Akbar. Loly menggelengkan kepalanya pelan. Perasaan-nya sudah tidak lagi sama seperti dulu. Dulu Loly memang sangat mencintai Faza bahkan selalu menghalalkan segala cara demi bisa menarik perhatian pria itu. Tapi kini sudah tidak lagi. Fadly berhasil menggantikan posisi Faza dihati Loly. Fadly bahkan berhasil mengubah pandangan Loly tentang Cinta. Fadly juga berhasil membangunkan nurani Loly sebagai seorang wanita.


Loly keluar dari pekarangan rumah keluarga Akbar dengan pak Umar yang membukakan pintu gerbang untuknya. Loly kemudian masuk kedalam mobil miliknya yang dikemudikan oleh supir keluarganya.


“Jalan pak.” Perintahnya.


“Baik non.” Angguk supir tersebut kemudian mulai melajukan mobil Loly berlalu dari depan gerbang kediaman keluarga Akbar.


Sepanjang perjalanan menuju pulang Loly terus memikirkan apa yang Sinta pertanyakan padanya. Loly tidak tau apa yang membuatnya begitu buta sampai berniat jahat pada sesama wanita.


Loly menghela napas dan berdecak. Dengan pelan Loly memijit pelan keningnya sendiri. Loly bingung harus bagaimana sekarang. Sinta begitu berharap dirinya menjadi pendamping Faza. Sedangkan perasaan-nya sekarang berubah. Yang Loly mau sekarang Fadly, bukan Faza.


“Oke oke.. Aku harus tenang.. Aku harus bisa melakukan semua ini sendiri...”


Loly menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan.


“Sekarang aku harus meluruskan semuanya dulu. Setelah itu baru aku jujur bahwa yang aku mau sekarang Fadly, bukan lagi mas Faza. Yah.. Aku pasti bisa.” Gumam Loly yakin pada dirinya sendiri.


Tidak lama kemudian Loly sampai didepan kediaman kedua orang tuanya. Loly turun dari mobilnya dan masuk kedalam kediaman mewahnya. Ketika hendak menapaki anak tangga pertama, ponsel dalam tas slempangnya berdering.


Loly mendesis pelan merasa sangat lelah sendiri. Mengelola perusahaan yang diamanahkan oleh daddy nya memang bukan hal yang mudah. Loly bahkan harus rela kehilangan kebebasan-nya karna amanah tersebut.

__ADS_1


“Mona...” Gumam Loly begitu melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.


__ADS_2