PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 223


__ADS_3

Faza menanda tangani berkas yang diberikan oleh Reyhan tentunya setelah membacanya dengan teliti. Sejak kelahiran putra pertamanya Faza memang terlihat selalu berseri seri setiap pagi. Pria itu merasa beban berat dipundaknya dalam mengemban amanah pemilik perusahaan begitu sangat ringan karna setiap detiknya yang menjadi penyemangat Faza adalan putra juga istri tercintanya, Zahra.


“Ini Rey...”


Setelah memberikan tanda tangan-nya, Faza pun kembali memberikan map merah berisi berkas tersebut pada Reyhan.


“Terimakasih pak..” Angguk Reyhan menerima map tersebut.


Reyhan tidak langsung berlalu seperti biasanya. Pria itu terdiam seperti ingin mengatakan sesuatu pada Faza.


Faza yang melihat itu mengeryit bingung.


“Eemm.. Ada lagi Rey?” Tanya Faza penasaran.


“Oh tidak pak.. Tidak ada. Hanya saja saya ingin meminta tolong pada pak Faza..” Jawab Reyhan ragu.


Faza semakin merasa penasaran. Tidak biasanya Reyhan terlihat ragu ragu seperti sekarang.


“Minta tolong apa? Katakan saja. Kalau saya memang bisa membantu saya pasti saya akan berusaha untuk membantu kamu.” Ujar Faza tenang.


“Duduklah.” Perintah Faza kemudian.


Reyhan menganggukan pelan kepalanya kemudian mendudukan dirinya dikursi yang berada didepan meja kerja Faza.


Reyhan menghela napas. Reyhan tidak percaya pada siapapun selain pada Faza. Bahkan pada saudaranya sendiri Reyhan tidak bisa sepenuhnya percaya seperti Reyhan percaya pada Faza, atasan-nya sendiri. Semua itu tentu saja dengan alasan yang kuat. Faza tau saudaranya tidak pernah tulus membantunya.


“Ini tentang saya dan Tina pak.”


Faza mengangguk pelan. Sebagai orang yang lebih tua dari Reyhan Faza berusaha untuk memposisikan dirinya menjadi pendengar yang baik. Apa lagi Faza juga tau bahwa Reyhan dan Tina memang sangat dekat akhir akhir ini. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama meski untuk sekedar sarapan pagi bersama.


“Begini pak.. Seperti yang pak Faza dan bu Zahra tau saya dan Tina sedang bahkan bisa dikatakan sangat dekat. Saya akui saya menyukai Tina pak.. Saya mencintainya. Dan itu sudah sejak lama saya rasakan pak..”


“Jadi, tunggu apa lagi? Apa kamu belum mengungkapkan perasaan kamu sama Tina?”


Reyhan diam sesaat.


“Ya pak.. Saya belum mengutarakan perasaan saya pada Tina. Itu karena saya bermaksud ingin langsung melamar dan menikahi Tina.”

__ADS_1


Kedua mata Faza sedikit melebar mendengarnya. Untuk usia memang Reyhan sudah pantas berkeluarga. Tapi jika ingin menikahi Tina Faza sendiri merasa sedikit sanksi. Apa lagi mengingat Tina adalah putri bungsu dari pengusaha ternama yang sudah tidak lagi asing namanya ditelinga masyarakat.


“Kedua orang tua saya sudah tidak ada pak Faza. Adapun saudara saudara saya, mereka hanya akan membantu saya jika mereka mempunyai keniatan tertentu.”


Faza diam dan terus mendengarkan apa yang sedang Reyhan katakan padanya.


“Saya ingin meminta tolong pada anda selaku atasan dan juga orang yang saya hormati. Jika pak Faza berkenan tolong temani saya mengutarakan keinginan saya untuk melamar dan menikahi Tina pada pak Renaldi.”


Faza langsung menghela napas. Permintaan Reyhan Faza anggap seperti permintaan seorang adik pada kakaknya. Faza tidak sedikitpun merasa keberatan. Tapi Faza juga tidak bisa menghilangkan ragunya. Faza khawatir keniatan baik Reyhan ditolak oleh keluarga Tina. Namun Faza juga tidak sampai hati menolak. Apa lagi Reyhan sudah begitu giat bekerja dan selalu mengusahakan yang terbaik jika dimintai tolong.


“Apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini Reyhan?” Tanya Faza menatap Reyhan serius untuk memastikan kemantapan hati Reyhan.


“Ya pak. Saya sangat yakin. Saya tidak ingin mengulur waktu lagi. Saya ingin secepatnya menjadikan Tina satu satunya milik saya..”


Faza tersenyum. Ini benar benar seperti curahan hati seorang adik pada kakaknya.


“Baiklah kalau begitu. Kapan kamu akan mengajak saya kerumah pak Renaldi?” Tanya Faza dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Minggu depan pak.” Jawab Reyhan dengan senyuman bahagianya.


“Baiklah. Kamu kosongkan semua jadwal saya minggu depan. Kita datang sama sama kerumah pak Renaldi.” Ujar Faza masih dengan senyuman.


Faza tertawa. Faza pernah merasakan apa yang saat ini sedang Reyhan rasakan. Saat itu adalah saat Faza akan mengutarakan perasaan-nya Zahra dengan bantuan Fadly tentunya.


“Oke.. Minggu depan kita pergi kerumah pak Renaldi.”


“Ya pak. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja.” Senyum Reyhan.


“Oke.. Silahkan.”


“Permisi pak..”


Reyhan bangkit dari duduknya setelah Faza mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya. Reyhan melangkah mantap dengan hati riang. Pria itu merasa sangat lega sekaligus bahagia karna Faza mau membantunya dengan menemaninya untuk datang kerumah keluarga Renaldi.


Faza menghela napas. Merasa pekerjaan-nya sudah tidak terlalu banyak, Faza pun meraih ponselnya yang berad disamping laptop. Pria tersenyum saat membuka ponselnya. Ada beberapa pesan yang dikirimkan oleh Zahra untuknya. Dan isi dari pesan tersebut adalah photo anaknya dengan berbagai pose tidur juga ekspresi yang sangat lucu.


Faza kemudian menelepon Zahra via video call yang tentu langsung mendapat respon dari Zahra.

__ADS_1


“Hay papah...” Zahra langsung mengarahkan kamera ponselnya pada Fahri yang sedang berada dipangkuan-nya. Mereka berdua sedang berada dibalkon kamar siang ini.


“Hey.. Jagoan-nya papah.. Ganteng banget ih gemes papah..” Senyum Faza menatap putranya yang mulai aktif bergerak.


“Iya papah.. Fahri udah mandi papah.. Udah wangi.. Pokonya udah ganteng.” Ujar Zahra dengan suara yang dibuat buat.


Faza tertawa pelan. Rasanya Faza ingin selalu berada didekat keduanya. Membantu Zahra mengurus Fahri adalah hal baru yang cukup menyenangkan menurut Faza. Apa lagi jika setiap hari harus dekat dan menggendong sang buah hati. Faza ingin sekali melakukan-nya.


“Mas...” Panggil Zahra namun dengan kamera yang terus menampilkan sosok gembul putra mereka.


“Ya sayang...” Saut Faza lembut.


“Kamu sudah makan?” Tanya Zahra yang membuat senyuman kembali menghiasi bibir tipis Faza.


“Eemm.. Belum..” Jawab Faza jujur.


“Ya sudah kamu makan siang dulu aja. Nanti telepon lagi. Jangan telat makan loh..”


“Iya ya sayang.. Ya udah aku mau makan tapi aku mau liat dulu wajah cantiknya istri aku siang ini...” Ujar Faza sambil menaik turunkan alisnya.


“Huuu.. Dasar modus. Bentar mas aku lagi rapiin baju dulu. Fahri abis nen tadi..”


“Aku juga mau dong sayang...” Goda Faza membuat Zahra memekik kesal memanggilnya.


Faza tertawa. Pria itu menunggu satu menit hingga akhirnya wajah cantik Zahra yang terlihat di layar ponselnya.


“Nah.. Gini dong. Masa tiap telepon sama aku kamu ngumpet sih. Kan nggak lucu.”


“Iya iya.. Kan maksud aku biar kamu liat anak kamu aja mas..” Ujar Zahra menjelaskan maksudnya.


“Ya selain pengin tiap hari liat anak aku juga pengen loh tiap hari liatin kamu sayang.. Kalian berdua sama sama penting. Dan aku selalu kangen. Tau kamu.”


“Iya aku tau.. Ya udah kamu makan siang dulu sana..”


“Hem.. Oke.. Kamu juga jangan telat makan ya sayang.. Aku matiin telepon-nya.”


Setelah Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya, Faza pun mematikan sambungan telepon-nya.

__ADS_1


Pria itu menghela napas menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. Faza benar benar tidak pernah membayangkan akan sebahagia itu menjadi seorang ayah.


__ADS_2