PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 73


__ADS_3

Fadly dan papahnya membantu Faza menurunkan barang barang yang akan dibawanya. Mereka berdua bahkan berniat mengantar Faza sampai kerumah yang akan ditempatinya dengan Zahra.


Sedangkan Sinta, Wanita itu hanya diam berdiri dibalkon kamarnya tanpa mau keluar kamar meskipun berkali kali suaminya sudah membujuk. Sinta bahkan merasa enggan saat Faza berpamitan padanya dan hanya menatap dalam diam dari balkon kamarnya.


“Zahra.. Kamu benar benar membuat Faza menjauh dari mamah..” Gumamnya menatap mobil Fadly yang mulai melaju keluar dari pekarangan rumahnya.


Sinta tidak pernah menyangka dirinya akan jauh dari Faza, putra sulungnya. Dari dulu padahal Sinta sudah merencanakan semua yang menurutnya baik untuk Faza. Yaitu dengan menjodohkan-nya dengan Loly. Tapi sayangnya Faza menolak dan terus bersikeras akan hidup bersama Zahra. Faza bahkan sampai menikah diam diam tanpa sepengetahuan-nya juga suaminya.


Deringan ponsel yang berada diatas meja tidak jauh dari tempatnya berdiri membuat Sinta menoleh. Sinta menghela napas kemudian melangkah menuju meja kecil itu dan meraih benda pipih miliknya yang terus saja bergetar dengan deringan yang cukup nyaring.


“Loly...” Gumamnya melihat nama Loly tertera dilayar ponselnya.


Sinta menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya kasar sebelum mengangkat telepon dari Loly. Wanita yang Sinta klaim sebagai jodoh terbaik untuk putra pertamanya, Faza.


“Ya halo.. Loly..”


“Tante.. Tante lagi apa? Sudah sarapan?”


Sinta tersenyum mendengar pertanyaan itu. Loly sangat perhatian meskipun memang sedikit manja padanya.


“Tante udah sarapan kok sayang. Ini lagi santai dibalkon.” Jawabnya pelan.


“Tante kenapa? Kok nggak semangat gitu?” Tanya Loly lagi. Kali ini dengan nada khawatir yang terkesan sangat dibuat buat.


Sinta menghela napas pelan.


“Faza baru aja pergi dianter Fadly sama papahnya Ly..”


“Ya Tuhan.. Jadi Fadly sama om ngedukung keputusan mas Faza juga?”


“Eemm.. Ya, begitulah.” Jawab Sinta dengan dada yang mulai terasa sesak. Sinta merasa tidak ada satupun yang menghargai nya sekarang dirumah itu sejak kehadiran Zahra.


“Sabar ya Tante.. Tante tetap yang terbaik kok buat Loly...”


Sinta hanya bisa tersenyum mendengar itu. Sinta merasa satu satunya orang yang saat ini mendukung dan selalu menghargai keputusan-nya hanyalah Loly.


“Ya sudah Loly, sudah dulu ya telpon-nya.”


“Ya tante. Tante jangan sedih ya... Nanti malem aku bakal main kesitu kok. Kita juga bisa sama sama kerumah baru mas Faza.”


“Eemm.. Ya sayang.”

__ADS_1


Telepon ditutup setelah itu. Sinta kemudian menaruh kembali ponsel miliknya diatas meja. Sekali lagi Sinta menghela napas. Tiba tiba Sinta teringat akan suaminya yang terbuka dengan hubungan gelapnya bersama Bella. Saat itu juga Sinta teringat dengan ulahnya dimasa lalu yang diam diam kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya.


Sinta tersenyum. Faza lahir dari rahimnya. Dan Faza adalah darah daging dari suaminya. Itu artinya adalah Faza terlahir dari pasangan yang pernah sama sama menodai cinta.


”Mamah yakin kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti yang mamah papah lakukan dulu Faza. Saat itu semuanya akan berakhir. Kamu dan Zahra tidak akan bisa bersama lagi.” Gumam Sinta pelan.


-----------


Di rumah baru yang akan ditempati Faza dan Zahra.


“Ini mbak Lasmi. Dia yang akan bekerja disini sekaligus menemani Zahra saat kamu sedang tidak dirumah Faza.” Ujar papah Faza mengenalkan asisten rumah tangga yang akan bekerja dengan Faza juga Zahra.


“Selamat pagi tuan, nyonya. Saya Lasmi.” Lasmi menyapa ramah pada Zahra dan Faza sembari memperkenalkan diri.


“Ya mbak, saya Faza dan ini istri saya, Zahra.”


“Lasmi, kamu akan mengikuti anak anak saya Lasmi. Tolong bantuin Zahra ya...”


“Ya tuan. Saya akan bekerja dengan baik disini pada nyonya dan tuan Faza.”


“Terimakasih. Kalau begitu kamu boleh kebelakang lagi.”


Lasmi berlalu setelah pamit dengan sopan pada Papah Faza, Fadly, Faza juga Zahra.


“Pah.. ini sangat berlebihan. Faza tidak tau harus bilang apa sama papah.” Faza menatap papahnya sendu. Selama ini Faza selalu berpikir dirinya bisa membahagiakan Zahra dengan caranya sendiri tapi nyatanya Faza masih membutuhkan bantuan papah juga adiknya untuk melakukan itu semua.


“Sudah.. Jangan seperti pada orang lain. Kalau begitu papah sama Fadly pulang dulu. Papah harap kalian berdua betah disini. Faza, jaga Zahra baik baik. Papah mungkin tidak akan bisa sering sering datang.”


“Itu pasti pah. Kami berdua yang akan sering sering mengunjungi papah juga mamah.”


“Ya...” Angguk papah Faza tersenyum. Pria itu yakin kedua putranya tidak akan mengikuti jejaknya sebagai seorang yang pernah menodai cinta.


“Ayo Fadly...” Ajak papah Faza pada Fadly.


“Oke.. Kak kami pulang dulu.”


“Oke.. Makasih ya Ly untuk semuanya.” Angguk Faza dan tersenyum tulus pada adik satu satunya itu.


“Santai saja kak. Aku akan selalu ada untuk membantu kakak.”


Fadly dan papahnya kemudian pulang dengan Zahra dan Faza yang mengantar sampai halaman rumah. Keduanya tersenyum menatap mobil Fadly yang mulai keluar dari pekarangan rumah baru mereka.

__ADS_1


“Mas...” Panggil Zahra menoleh pada Faza.


“Ya sayang.. Kenapa?” Faza membalas tatapan istrinya yang berdiri disampingnya.


“Aku enggak tau harus bilang apa. Aku juga terkejut dengan apa yang papah berikan pada kita. Rumah bahkan sampai menyediakan pak satpam dan mbak Lasmi. Ini benar benar sangat berlebihan.”


Faza tertawa mendengarnya.


“Papah memang begitu orangnya sayang. Papah akan melakukan dan memberikan apa saja untuk orang orang yang sangat dia sayangi. Mungkin Bella adalah orang luar yang beruntung karna berhasil membuat papah terpesona. Tapi mamah tetap yang paling hebat karna mampu membuat papah jatuh hati padanya dengan segala kekurangan-nya.”


Zahra tersenyum.


“Apa kamu juga akan seperti itu?” Tanyanya.


Faza menggeleng pelan.


“Tidak. Aku tidak akan seperti papah. Aku akan membuat kamu bahagia dengan caraku sendiri Zahra.” Jawabnya.


Zahra menganggukan kepalanya. Zahra juga tidak ingin Faza sampai mengikuti jejak papahnya. Papah mertuanya memang baik bahkan sangat. Tapi mengkhianati pasangan tetap saja menjadi kecurangan fatalnya dalam berumah tangga.


“Aku harap juga begitu. Kamu jadi diri kamu sendiri sebagai suami dan ayah yang baik untuk anak anak kita nanti.”


“Anak?” Tanya Faza mengangkat sebelah alisnya.


“Ya.. Anak.” Jawab Zahra dengan ekspresi yang mulai berubah.


“Eemm.. Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukan-nya sekarang?”


Faza mengedipkan sebelah matanya menggoda Zahra yang langsung mendelik dengan kedua pipi merona tersipu malu dengan ajakan suaminya.


“Apaan sih kamu mas. Pagi pagi udah mesum aja pikiran-nya.”


“Ayolah sayang.. Mumpung aku cuti hari ini.”


“Nggak ah. Apaan sih kamu mas.”


Ketika Zahra hendak membalikan tubuhnya untuk berlalu, Faza langsung membopongnya membuat Zahra memekik karna kaget.


“Mas..”


“Ssshhhtt.. Aku udah nggak tahan sayang..” Bisik Faza menyela.

__ADS_1


__ADS_2