
“Ternyata Fahri memang nggak bisa jauh dari papahnya ya Ra..”
Zahra tersenyum mendengarnya. Fahri memang tidak bisa tanpa Faza jika malam hari. Bayi itu bahkan tidak akan bisa tidur dengan nyenyak sebelum diayun oleh sang papah.
“Ya kak.. Kadang aku juga merasa cemburu karna Fahri sepertinya lebih merasa nyaman dengan papahnya dari pada sama aku.. Fahri bahkan jarang tidur dalam gendongan aku saat malam hari.”
Nadia tertawa. Wanita itu kemudian mencium gemas bayi tampan yang sedang digendongnya itu.
“Itu artinya kalian berdua tidak bisa berjauhan Ra..”
Zahra mengangguk setuju. Tapi kepergian Zahra kerumah kakaknya sudah mendapat izin dari Faza. Faza bahkan yang mengantar Zahra sendiri kerumah Aries dan Nadia.
“Untung aja mas Aries lagi nggak dirumah loh Ra.. Kalau dia dirumahkan bisa gawat. Tau sendiri mas Aries gimana kalau ada sedikit masalah yang menyangkut tentang kamu. Langsung emosi dia.”
Zahra tertawa mendengarnya. Mungkin karena sebelum kedua orang tuanya meninggal mereka menitipkan Zahra padanya sehingga Aries bisa begitu sangat overprotektif padanya.
“Kalau sama kakak sendiri kak Aries gimana? Dia overprotektif nggak?” Tanya Zahra penasaran.
Nadia tampak berpikir. Saat ini keduanya sedang berada diruang keluarga dengan TV menyala yang sama sekali tidak menarik perhatian keduanya untuk menonton-nya.
“Eemm.. Dulu saat masih pacaran iya. Dia sangat over dan curigaan banget. Bahkan kami berdua sering putus karena mas Aries yang selalu mencari gara gara. Kamu tau Ra, kakak bahkan sampai kabur dan sembunyi keluar kota tepatnya dirumah saudara karna saking kesalnya sama kakak kamu yang seperti *******. Ya.. Dia nggak terima kakak putusin.”
Zahra tertawa mendengar apa yang Nadia ceritakan. Tidak heran jika kakaknya Aries bersikap demikian karena pada Zahra juga selalu begitu. Aries begitu ketat mengatur dan mengawasi Zahra.
“Tapi kakak nggak bisa menampik sih bahwa sebenarnya dulu kakak juga nggak bisa tanpa mas Aries. Ya meskipun dia sangat menyebalkan namanya cinta gimana ya.. Apa lagi sebelum sama mas Aries kakak juga sempat merasa kecewa karna cinta.”
“Lalu kamu sendiri? Bagaimana cerita masa masa pacaran kamu dengan Faza? Boleh dong cerita sedikit.”
Zahra tersenyum tipis. Hubungan-nya dengan Faza sampai sekarang banyak mengalami rintangan. Mulai dari terhalang restu orang tua Faza sampai ego yang sering kali menguasai mereka berdua.
“Eemm.. Kalau aku ceritakan terlalu panjang kak.. Tapi pada intinya hubungan kami tidak mudah. Kami bahkan menjalin hubungan secara sembunyi sembunyi karna orang tua mas Faza yang nggak pernah memberi restu.”
Nadia terkejut. Sekarang Nadia tau mengapa Sinta begitu sangat ketus saat berbicara pada Zahra. Wanita itu bahkan terlalu banyak menuntut saat Zahra sedang hamil.
__ADS_1
“Tapi kami berdua selalu yakin bahwa akan ada pelangi setelah hujan. Dan kami berdua yakin selama kami berdua memegang erat payung itu kami berdua tidak akan kehujanan. Bukan begitu kak?” Senyum Zahra menatap Nadia sebentar.
“Ya.. Niat yang baik akan membawa kebaikan juga.”
“Yah.. Aku dan mas Faza selalu meyakini itu. Mungkin untuk sekarang mamah memang belum bisa merestui hubungan kami berdua. Tapi aku yakin suatu saat nanti mamah akan merestui kami.”
Nadia mengangguk setuju. Dalam hidup memang tidak ada masalah yang tidak menghampiri. Seberat atau sekecil apapun masalah jika pasangan itu bisa menghadapinya dengan tenang semuanya pasti akan bisa dijalani.
“Jadi kamu dan Faza akan kembali kerumah nanti sore?” Tanya Nadia yang memang sudah mendengarnya dari Faza pagi tadi.
“Rencananya sih begitu kak. Mas Faza nggak enak katanya kalau harus ngerepotin kakak..”
Nadia tertawa mendengarnya.
“Biasa saja lah.. Nggak usah sungkan sama kakak..”
Zahra tersenyum. Zahra merasa beruntung karna memiliki kakak ipar sebaik Nadia. Wanita baik penuh perhatian juga pengertian. Wanita yang begitu peka dengan segala yang ada disekitarnya.
“Ya udah kak aku mandi dulu yah.. Titip Fahri sebentar. Biar nanti kalau mas Faza dateng kita langsung pulang.”
“Sebenarnya kakak pengin kamu dan Fahri menginap lebih lama disini Ra.. Tapi kalau Faza yang mengajak kamu pulang kakak nggak bisa melarang.” Ujar Nadia.
Zahra tersenyum.
“Kapan kapan deh aku dan Fahri bakal nginep lagi disini. Ya.. Semoga bukan tanpa alasan aku dan Fahri kesini nantinya.”
Nadia tertawa lagi.
“Ya benar. Pokonya kamu harus selalu ingat, Tuhan menciptakan satu masalah dengan semiliar jalan keluar. Hadapi semuanya dengan tenang.”
“Ya kak.. Ya udah aku mandi dulu ya..”
Zahra kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu setelah mendapat anggukan dari Nadia tentunya.
__ADS_1
Benar saja, tidak lama setelah Zahra selesai membersihkan dirinya, Faza datang dengan Arka yang pulang sekolah. Pria itu dengan senyuman manis dibibirnya mendekat pada Zahra yang sedang menyisir rambutnya didepan cermin dikamar yang ditempatinya.
“Eemm.. Wangi banget istrinya mas..” Puji Faza sambil mencium rambut basah Zahra.
Zahra tersenyum. Zahra meletakan sisir yang dipegangnya kemudian berbalik dan menyalimi Faza. Setelah itu Zahra berhambur memeluk Faza dengan erat.
“Eemm.. Ada yang kangen nih kayanya sama aku..” Goda Faza membuat Zahra langsung melepaskan pelukan-nya.
“Iisshh.. Apaan sih kamu mas. Peluk doang juga. Dari pada kamu aku cuekin.” Balas Zahra dengan bibir mengerucut sebal.
“Iya deh iya.. Peluk lagi dong..” Senyum Faza kemudian merentangkan kedua tanganya memberi kode pada Zahra akan kembali memeluknya.
Zahra tertawa pelan kemudian kembali berhambur kedalam pelukan Faza. Beberapa ciuman Zahra dapatkan di rambutnya dari Faza yang begitu erat membalas pelukan-nya.
Tiba tiba Zahra teringat akan obrolan-nya dengan Nadia tadi bahwa Tuhan menciptakan satu masalah dengan semiliar jalan keluar. Zahra meyakini apapun masalah yang dihadapinya dalam menjalani hubungan dengan Faza, pasti bisa mereka hadapi asalkan mereka tetap berpegang teguh pada cinta dan kepercayaan. Tentunya dengan saling terbuka juga.
“Kita pulang sekarang yah? Kamu udah kemasin semua barang barang Fahri kan?” Tanya Faza lembut.
Zahra melepaskan pelukan-nya kemudian mengangguk membalas tatapan lembut penuh cinta suaminya.
Sekarang Zahra tau bahwa sebesar apapun masalah yang sedang melanda hubungan rumah tangganya dengan Faza, tidak seharusnya Zahra keluar dari rumah dengan atau tanpa izin dari Faza, suaminya.
“Ya sudah kalau begitu mas tunggu didepan yah?”
Zahra tersenyum geli. Entah kenapa Zahra merasa geli dengan sebutan mas yang Faza lontarkan. Rasanya aneh namun terdengar sangat manis.
“Kok senyumnya gitu?” Tanya Faza mengeryit.
Zahra menggeleng pelan.
“Enggak, nggak papa kok mas..” Jawabnya.
Faza menghela napas kemudian mengecup kening Zahra singkat.
__ADS_1
“Jangan lama lama ya sayangku..” Katanya sebelum berlalu keluar dari kamar meninggalkan Zahra yang malah senyum senyum sendiri mendapat perlakuan manis dari suaminya itu.