
Sampai semalaman Loly tidak bisa tidur. Loly bahkan tidak berani masuk lagi kedalam kamar itu dan terpaksa harus pindah kekamar yang lain ditemani mbak Lasmi.
“Kamu nggak papa kan Loly?” Tanya Sinta pada Loly yang hanya diam saja disampingnya.
Faza dan Zahra ikut menatap Loly yang sejak pagi terus saja melamun. Sepertinya Loly sangat trauma dengan apa yang dialaminya semalam. Loly bahkan sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada didepan-nya. Gurat ketakutan masih terlihat jelas diwajah cantiknya. Disekitar kedua matanya bahkan terlihat hitam pertanda Loly tidak bisa tidur semalaman.
“Aku mau pulang tante..” Katanya membalas tatapan mamah Faza.
Sesaat Sinta terdiam. Sinta juga sangat ketakutan semalam melihat dua hewan menjijikan itu nangkring dengan gagahnya diatas kepala Loly.
“Disini jorok tempatnya tante. Banyak kecoa dimana mana.”
Zahra mendelik mendengarnya. Ucapan Loly benar benar sangat membuatnya geram.
“Jangan sembarangan kamu Loly. Mbak Lasmi sudah membersihkan-nya dengan benar. Aku bahkan..”
“Tapi buktinya ada kecoa dikamar itu.” Tegas Loly menyela apa yang Zahra katakan.
Loly menatap Zahra dengan rasa kesal yang sangat menguasainya. Wajahnya memerah saking marahnya karna apa yang menimpanya semalam.
“Sudah sudah tidak perlu bertengkar. Loly kalau kamu mau pulang silahkan. Lagian tidak ada yang mengundang kamu kesini.” Faza menatap Loly dengan wajah datar.
Loly berdecak kesal. Faza benar benar tidak perduli padanya. Bahkan setelah apa yang terjadi Faza tetap saja tidak memihak padanya.
“Faza..”
“Mah.. Tolong hargai keputusan aku..” Sela Faza.
Sinta langsung bengkam. Mendebat Faza didepan Loly dan Zahra hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Zahra yang sempat hendak bertengkar dengan Loly tersenyum diam diam. Zahra senang karna akhirnya Faza bisa bersikap tegas pada mamahnya.
“Nanti biar Faza yang anter mamah pulang.” Katanya kemudian.
Sinta hanya berdecak tanpa bisa menjawab. Sinta tidak mau jika sampai ditertawakan Zahra karna Faza yang tidak mau mendengarkan-nya.
Setelah selesai sarapan, Faza pun pamit untuk bekerja sembari mengantar mamahnya pulang menggunakan motor gedenya. Sedangkan Loly, dia sudah pergi sebelum sarapan selesai.
“Mas hati hati dijalan. Jangan ngebut ngebut..” Ujar Zahra sambil menyalimi Faza.
__ADS_1
“Ya sayang.. Kamu juga hati hati dirumah yah.. Jangan capek capek.”
Zahra mengangguk dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya. Zahra kemudian menoleh pada Sinta yang terus saja membuang muka enggan menatapnya.
“Mah...” Panggil Zahra.
Sinta menoleh menatap Zahra dengan wajah datarnya. Sinta marah sebenarnya pada Zahra. Tapi tidak mungkin jika Sinta memperlihatkan-nya didepan Faza.
“Hati hati ya mah...”
Zahra mengudarakan tangan-nya berniat menyalimi Sinta, namun Sinta hanya diam dan terus menatap datar pada Zahra.
“Ayo Faza. Nanti kamu telat kekantor.” Katanya pada Faza.
Zahra menghela napas. Sinta memang belum bisa menerima dan menganggapnya sebagai menantu. Tapi Zahra tidak akan putus harapan. Zahra akan terus meyakini bahwa suatu saat nanti Sinta akan bisa menerimanya seperti papah mertuanya yang kini sudah bisa menerima dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya.
“Ya mah..” Angguk Faza.
Faza menatap Zahra yang hanya diam saja. Kasihan sebenarnya melihat istrinya yang diabaikan oleh mamahnya. Tapi Faza juga tidak mungkin menegur mamahnya.
“Ayoo..”
Faza segera mengenakan helmnya kemudian naik keatas motornya yang langsung disusul oleh Sinta.
“Aku berangkat sayang..” Pamit Faza lagi.
“Ya mas.. Mas hati hati. Mamah juga hati hati.” Senyum Zahra menganggukan kepalanya.
“Sudah ayo Faza. Nanti kamu kesiangan.” Perintah Sinta.
Faza menstater motornya kemudian melaju dengan kecepatan sedang berniat mengantar Sinta pulang lebih dulu sebelum berangkat bekerja.
“Pagi tuan, nyonya...” Sapa satpam penjaga gerbang saat membukakan pintu gerbang untuk Faza.
“Pagi juga pak. Titip rumah ya pak...” Balas Faza mempercayakan keamanan istrinya pada satpam tersebut.
“Siap tuan.” Angguk satpam bernama Rendy itu tersenyum.
Faza kemudian berlalu menjauh dari kediaman barunya dengan Sinta yang berada di boncengan-nya.
__ADS_1
Zahra yang masih berdiri di depan rumah hanya bisa menghela napas. Zahra tidak tau sampai kapan Sinta bersikap seperti itu padanya. Tapi Zahra tetap yakin semuanya akan indah pada waktu yang memang sudah ditentukan oleh Tuhan.
“Oke Zahra, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin belum saatnya mamah baik sama kamu. Tetap semangat.”
Zahra menarik napas dalam dalam kemudian masuk kedalam rumah untuk memulai hari barunya di rumah itu.
----------
“Mamah yakin apa yang terjadi sama Loly itu adalah ulah istri kamu Faza. Lasmi bilang itu hanya kecoa mainan.”
Faza menghela napas dan membuka kaca helmnya. Apa yang mamahnya katakan memang benar. Yang terjadi pada Loly adalah ulah istrinya. Tapi Faza tidak mungkin mengatakan-nya. Sinta pasti akan semakin menyalahkan istrinya.
“Mungkin apa yang terjadi sama Loly hanya sebuah kebetulan saja mah...”
“Jadi maksudnya ada kecoa jatuh terus begitu nempel di rambut Loly langsung jadi mainan begitu?” Potong Sinta menatap Faza kesal.
Faza diam. Faza mengerti kenapa istrinya melakukan itu. Itu sebabnya Faza tidak bisa menyalahkan apa yang dilakukan istrinya. Karna sebenarnya tidak hanya Zahra saja yang merasa terganggu dengan kehadiran Loly, tapi Faza juga merasa demikian. Ditambah dengan sikap Loly yang sepertinya memang sudah tidak punya malu.
“Tapi mamah nggak bisa nyalahin Zahra gitu aja dong mah..”
“Lalu siapa yang salah? Loly? atau mamah?”
Faza menatap wajah mamahnya yang dipenuhi amarah karna apa yang sudah dilakukan oleh istrinya.
“Ya udah mah Faza berangkat kerja dulu yah..”
Faza memilih untuk pamit karna tidak ingin terlalu panjang berdebat dengan mamahnya.
“Mamah belum selesai bicara Faza.” Sentak Sinta menatap kesal pada Faza.
Faza kembali diam. Faza tidak mau mendengar sesuatu yang buruk terucap dari bibir mamahnya tentang Zahra.
“Pokonya mamah nggak mau tau ya Faza, kalau sampai istri kamu tidak juga hamil kamu harus menikah dengan Loly. Kamu mengerti?!”
Kedua mata Faza membulat. Faza tidak menyangka mamahnya akan mengatakan hal seperti itu. Padahal mamahnya sendiri tidak rela papahnya terus berhubungan dengan wanita lain. Tapi mamahnya justru menyuruhnya untuk menikah lagi dengan Loly. Mamahnya ingin Faza menduakan Zahra.
“Mah tapi...”
“Nggak ada tapi tapian. Kamu harus dengerin apa kata mamah.” Sela Sinta kemudian masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Faza menatap punggung mamahnya. Faza tidak ingin terlalu melawan mamahnya. Tapi Faza juga tidak mau menekan istrinya untuk segera hamil. Faza menyadari tentang kehamilan itu semua sudah diatur oleh Tuhan. Faza dan Zahra sudah berusaha.
Faza berdecak. Dengan perasaan kesal Faza kemudian menstater motornya dan berlalu dari halaman rumah kedua orang tuanya.