
Setelah Faza dan Zahra mengantar Loly, keduanya kembali dengan menumpangi taxi ke kediaman kedua orang tua Faza. Mereka menuruti kemauan Sinta untuk menginap semalam disana.
“Mas aku nggak bawa baju ganti. Masa aku tidur dengan gaun seperti ini?”
Zahra menatap Faza yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan ekspresi sendu. Saat ini mereka sudah berada dikamar Faza untuk segera beristirahat.
Faza tersenyum penuh arti mendengar rengekan dan melihat ekspresi Zahra. Pria yang hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya itu mendekat pada Zahra yang duduk ditepi ranjang.
“Tidur sama aku nggak harus pakai baju koo sayang. Malah lebih suka kalau kamu polos saat aku peluk..” Goda Faza dengan suara berbisik.
Zahra tersenyum malu malu mendengarnya. Faza selalu saja melontarkan kata yang menjurus pada keintiman saat sedang bersamanya.
“Mas kamu apaan sih ngomongnya..” Zahra menundukan kepalanya menghindari tatapan Faza yang selalu bisa menghipnotisnya.
“Sekarang hanya ada kita berdua disini sayang. Dan kamar ini juga kedap suara. Jadi aku boleh kan?”
Zahra menggigit bibir bawahnya. Entahlah, meskipun sudah terbiasa melakukan itu namun Zahra selalu saja merasa malu jika suaminya sudah mulai menggodanya.
“Tapi aku belum mandi mas..”
“Ssshhhhtt.. Aku suka aroma tubuh kamu sayang..”
Faza berjongkok didepan Zahra. Tanganya meraih dagu Zahra dan mengangkatnya pelan.
“Bolehkan?” Tanya Faza lagi menatap Zahra yang kali ini sudah berani menatap tepat pada kedua matanya.
Zahra hanya tersenyum saja. Dan Faza menganggap itu adalah jawaban iya dari Zahra.
Perlahan Faza mulai melakukan-nya membuat Zahra pasrah dibawah kendalinya.
--------
“Papah pikir Zahra bukan perempuan yang buruk. Dia rajin bersih bersih.”
Mamah Faza berdecak mendengar apa yang dilontarkan oleh suaminya. Wanita itu mengalihkan perhatian-nya dari majalah yang berada dipangkuan-nya pada papah Faza yang duduk disampingnya diatas tempat tidur.
“Kita itu butuh menantu yang baik pah, bukan pembantu.”
__ADS_1
Papah Faza menghela napas. Istrinya selalu saja tidak pernah mau mendengarkan pendapatnya.
“Maksud papah bukan gitu mah. Zahra itu kayanya Rajin. Dia nggak males malesan bahkan enggak keberatan buat bantuin bibi beresin meja makan sampai mencuci didapur setelah kita makan tadi.” Jelas papah Faza berharap istrinya itu mengerti.
“Loly juga biasa pah melakukan itu. Loly bahkan bisa masak enak. Dan mamah liat sendiri kok tadi itu Loly yang beresin meja makan. Bukan Zahra.”
Tidak ingin berdebat, papah Faza pun hanya menganggukan kepalanya saja. Karna jika diteruskan, Itu pasti akan memicu pertengkaran.
“Loly tetap yang terbaik untuk Faza menurut mamah pah. Bukan Zahra atau perempuan yang lain-nya.”
“Ya mah..” Balas papah Faza pasrah. Mengalah dari setiap perdebatan adalah hal yang biasa papah Faza lakukan demi menjaga mood baik istrinya.
Sinta tersenyum ketika suaminya mengalah. Namun tidak lama setelah perdebatan mereka, Ponsel milik papa Faza berdering. Papah Faza langsung meraih benda pipih itu dan tersenyum menatap layar menyala ponsel miliknya itu.
“Siapa pah?” Tanya mamah Faza penasaran.
“Eemm.. Bukan siapa siapa mah. Ya sudah papah angkat telpon ini dulu ya..”
“Oke...” Angguk mamah Faza dan kembali fokus dengan majalah yang sedang dibacanya tanpa memperdulikan suaminya yang menjauh bahkan sampai keluar kamar saat mengangkat telpon yang entah dari siapa itu.
”Apa aku minta Faza buat tinggal disini aja supaya aku bisa dengan gampang mendekatkan Faza dengan Loly?”
“Yah.. Mungkin lebih baik seperti itu supaya Faza dan Loly punya banyak waktu untuk bertemu dan bersama.”
Sinta tersenyum kemudian bangkit dari duduknya. Wanita itu berniat untuk menemui Faza dan membicarakan maksudnya sembari memikirkan alasan aga Faza tidak menolak kemauan-nya untuk Faza tinggal bersamanya lagi.
Sinta melangkah dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya menuju kamar Faza. Wanita itu mengetuk dan memanggil pelan Faza yang sedang bersama dengan istrinya, Zahra.
Tidak lama menunggu Faza keluar dengan mengenakan kaos oblong putih dan celana piyama dengan warna senada.
“Mamah.. Kok belum tidur?” Tanya Faza bingung.
“Ada yang perlu mamah bicarakan sama kamu Faza. Ayo ikut mamah..”
Faza mengeryit penasaran namun juga merasa malas secara bersamaan. Malas karna mengira mamahnya akan membicarakan sesuatu yang menyangkut Loly.
“Faza, Ayo...”
__ADS_1
Faza tersadar dari segala pemikiran-nya kemudian segera melangkah mengikuti mamahnya menuju ruang bersantai yang berada tidak jauh dari kamarnya dan Fadly.
“Jadi begini Faza... Mamah jujur aja ya sama kamu. Mamah sedikit kurang percaya dengan istri kamu.” Kata Sinta memulai setelah mereka duduk disofa yang sama diruang tempat biasanya mereka bersantai bersama.
“Apa maksud mamah?”
“Eemm.. Mamah berpikir Zahra itu bukan perempuan yang setia.”
Faza tersenyum miris dengan kepala menggeleng pelan. Mamahnya mulai mencari alasan dengan ketidak sukaan-nya pada Zahra.
“Aku tau bagaimana dan seperti apa Zahra mah. Aku percaya sama dia.”
“Tapi mamah nggak percaya sama dia Faza. Mamah takut dia diam diam khianatin kamu.”
”Itu enggak mungkin mah. Zahra itu perempuan baik baik. Itu sebabnya aku nekat buat nikahin Zahra meskipun tanpa restu bahkan tanpa sepengetahuan mamah dan papah.” Faza hampir tidak bisa menahan amarahnya karna Sinta yang mulai kembali menjelekan Zahra padanya.
“Kalau begitu buktikan kalau memang Zahra perempuan yang baik.”
“Memangnya aku harus membuktikan bagaimana lagi mah? Buktinya sudah jelas, Zahra mau menerima aku apa adanya. Aku yang berpenghasilan pas pasan. Bahkan Zahra mau menampung aku dirumah keluarganya tanpa sedikitpun menuntut apa apa dari aku.”
“Itu semua belum cukup Faza. Bisa saja Zahra hanya sedang menunggu saat yang tepat. Misalnya setelah kamu menjadi pewaris diperusahaan papah kamu.”
Faza menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan apa yang dipikirkan oleh mamahnya tentang Zahra.
“Mamah belum mengenal bagaimana Zahra jadi mamah nggak bisa begitu saja menilai Zahra semau mamah.”
Sinta tersenyum. Faza mulai terbawa emosi dengan obrolan yang Sinta mulai.
“Bagaimana jika ternyata Loly yang seperti itu mah. Bagaimana jika ternyata Loly yang bukan perempuan baik baik dan hanya mengincar harta mamah sama papah?”
“Itu tidak mungkin Faza. Mamah percaya dan mengenal dengan baik siapa kedua orang tua Loly. Mereka orang baik baik dan tentunya sederajat dengan kita.”
Faza melengos. Malas sebenarnya meladeni mamahnya.
“Bagaimana Faza? Kamu mau kan ajak Zahra tinggal disini supaya mamah bisa mengawasi Zahra dan melihat sendiri bagaimana perempuan yang menurut kamu baik itu?”
Faza menatap mamahnya lagi. Senyuman miring terukir dibibir Faza.
__ADS_1
”Dan membiarkan mamah menyakiti Zahra dibelakang aku? Itu tidak akan mungkin aku biarkan mah.” Tolak Faza tegas.