PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 236


__ADS_3

Saat sarapan Faza kembali menanyakan atas ajakan kencan-nya pada Zahra. Keduanya sempat kebingungan namun akhirnya mereka berdua kompak untuk meminta tolong pada Nadia supaya menjaga Fahri selama Faza dan Zahra sedang berkencan.


Faza sebenarnya merasa sedikit ada sesuatu yang menimpa dadanya. Faza berpikir andai saja mamahnya merestui hubungan-nya dengan Zahra, mungkin Faza dan Zahra akan meminta tolong pada mamahnya untuk menjaga Fahri sementara.


“Ya udah nanti abis aku mandiin Fahri aku coba telepon kak Nadia ya mas..” Senyum Zahra.


“Ya sayang.. Kalau memang kak Nadia nggak bisa ya kita undur saja dulu. Mungkin lain kali bisa..” Ujar Faza berusaha untuk bersikap bijak.


Zahra menganggukkan kepalanya setuju. Meskipun merasa ragu, Zahra merasa tidak ada salahnya jika dirinya mencoba lebih dulu.


Selesai sarapan Zahra segera mengurus putranya yang sudah bangun dan sedang dititipkan pada mbak Lasmi. Sedangkan Faza, pria itu langsung keluar dari rumah.


Faza tersenyum ketika mendapati pak satpam yang baru saja mengeluarkan motor kesayangan-nya dari garasi. Motor gede warna merah itu bahkan tampak sangat kinclong dan terawat. Semua itu tentu saja karena Faza yang selalu meminta pada pak satpam untuk merawat kendaraan beroda dua penuh sejarahnya itu.


“Gimana pak? Sudah dipanasi?” Tanya Faza mendekat pada pak satpam yang sedang mengelap motor miliknya dengan kanebo.


“Oh belum tuan. Ini baru saya bersihin.” Jawab pak satpam.


“Ya sudah sini biar saya saja yang lanjutkan. Makasih ya pak..”


“Baik tuan. Maaf.. ini kanebo nya.”


Dengan sopan santun pak satpam memberikan kanebo yang dipegangnya pada Faza.


“Saya kembali bekerja tuan.”


“Ya pak..” Angguk Faza dengan senyuman tipis yang terukir dibibirnya.


Setelah satpam masuk kembali kedalam posnya, Faza pun melanjutkan mengelap motor kesayangan-nya itu. Rasanya sudah lama sekali Faza tidak lagi menggunakan motor kesayangan-nya.


Faza masih ingat jelas darimana asal motor itu. Tentu saja dari jerih payahnya sendiri. Karena meskipun Faza memiliki orang tua yang bergelimang harta tapi Faza tidak ingin terus bergantung pada keduanya. Akbar sang papah memang beberapa kali menawarkan membelikan mobil padanya dulu tapi Faza selalu menolak dengan gaya santainya. Sampai akhirnya Faza mendapat pekerjaan paruh waktu saat SMA dan menabung gajinya untuk membeli motor yang sampai saat ini masih terawat dengan baik.


Faza tidak bisa melupakan begitu saja motor itu meskipun sekarang Faza memiliki beberapa koleksi mobil digarasi rumahnya.


Motor itu adalah motor yang selalu menemaninya dan Zahra kemanapun mereka dulu pergi. Faza bahkan masih sangat ingat dulu saat menembak Zahra dirinya sampai terkena omelan bos bengkel tempat dirinya bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah karena terlambat.


Mengingat semua itu Faza menjadi tertawa sendiri seperti orang gila. Perjalanan hidupnya dari dirinya mulai menginjak usia remaja sampai sekarang memang sangat seru menurutnya. Meski keseruan itu juga tidak ayal dari kesusahan yang sering menghampiri namun sebisa mungkin Faza tidak mengeluh pada kedua orang tuanya dan selalu menghadapinya dengan kepala dingin. Jika dirinya emosi ada Zahra yang selalu berhasil meredakan emosinya.

__ADS_1


Selesai mengelap motornya, Faza pun mencoba menyalakan mesin-nya. Faza tersenyum. Semuanya masih baik baik saja.


Beberapa menit membiarkan motornya dengan memainkan gas dan kopling nya, Faza pun akhirnya memutuskan untuk mengendarainya keliling kompleks lebih dulu mengecek apakan kendaraan beroda dua itu perlu di servis lebih dulu sebelum dibawa kencan bersama Zahra nanti malam atau tidak.


Faza mengelilingi kompleks yang pagi itu sedikit ramai oleh para penghuni lain yang sedang berolah raga sabtu pagi itu. Faza tersenyum. Dirinya jarang sekali memperhatikan pemandangan hijau nan asri sekitar kompleksnya karena Faza memang jarang keluar rumah jika libur kerja.


“Pagi pak..” Sapa seorang satpam yang bertugas menjaga keamanan kompleks pada Faza.


“Ya, pagi...” Senyum Faza membalas dengan ramah sambil terus melajukan pelan kendaraan beroda duanya.


Faza melirik spion. Faza tiba tiba tertawa sendiri. Entah kenapa tiba tiba Faza merasa dirinya seperti sedang kembali menjadi remaja.


--------


“Jadi bagaimana kak? Apa kakak bisa bantuin aku?” Tanya Zahra pada Nadia lewat sambungan telepon.


Saat ini Zahra sedang berada ditaman belakang rumah sambil menggendong Fahri yang sedang dia susui.


“Kalau malam nanti kayaknya bisa Ra.. Kebetulan besok kan Arka juga libur dan mas Aries baru bisa pulang besok pagi.” Jawab Nadia.


Wajah Zahra langsung sumringah. Zahra senang karena Nadia mau membantunya menjaga Fahri sementara.


“Iya kak tenang saja..” Senyum Zahra sumringah.


“Ya udah kalau begitu aku bilang dulu sama mas Faza ya kak. Nanti biar kakak dijemput sama mas Faza kesininya.” Kata Zahra kemudian.


“Oh enggak usah.. Kakak naik taksi aja. Mungkin pulangnya aja nanti minta dianter. Hehe..”


“Ya udah kalau begitu. Makasih banget ya kak..”


“Iya sama sama..”


Setelah itu Zahra pun menutup sambungan telepon-nya. Dengan langkah cepat Zahra masuk kembali kedalam rumah berniat memberitahu suaminya bahwa Nadia mau menolongnya untuk sementara menjaga Fahri nanti malam.


Malam pun tiba.


Zahra sudah menyiapkan segala keperluan untuk Fahri agar Nadia tidak bingung. Salah satunya adalah menyedot asinya dan mewadahinya kedalam beberapa botol yang pasti akan sangat diperlukan jika Fahri menangis nanti.

__ADS_1


Zahra menghela napas menatap pantulan wajah cantiknya lewat cermin didepan-nya. Ini bukan kali pertama dirinya berkencan dengan Faza, tapi entah kenapa Zahra merasa sangat gugup. Rasanya seperti dulu saat pertama kali dibonceng Faza saat Faza mendekatinya.


“Oke Zahra, tenang.. Ini bukan pertama kali kamu pergi dengan mas Faza..” Gumam Zahra meyakinkan dirinya sendiri.


Sekali lagi Zahra menghela napas.


Zahra mengecek kembali penampilan simpelnya. Rambut yang dicepol tinggi memperlihatkan tengkuk putih bersihnya serta dress warna salem yang panjangnya hanya sebatas lutut. Sedang untuk bagia atas dress itu sedikit terbuka dibagian lengan namun menutupi dengan sempurna bagia dadanya. Sedang untuk alas kakinya Zahra memilih mengenakan sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi dengan warna yang juga sama seperti dressnya.


Setelah merasa penampilan-nya cukup, Zahra pun meraih tas kecil yang warnanya senada dengan dress juga sepatu yang dia kenakan.


Zahra melangkah keluar dari kamarnya karena Faza yang sudah menunggunya dibawah.


“Titip Fahri sebentar ya kak..” Ujar Zahra pada Nadia yang sedang menggendong Fahri dengan Arka yang terus berada disampingnya.


“Iya... Udah kamu tenang aja. Fahri anteng sama kakak. Have fun ya kalian berdua..” Senyum Nadia menatap bergantian pada Faza dan Zahra.


“Makasih banget ya kak.. Aku nggak akan melupakan ini seumur hidupku..”


Nadia tertawa pelan mendengar apa yang Zahra katakan.


“Sudah nggak usah terlalu berlebihan. Sana buruan pergi keburu kemaleman loh.”


“Oke kak.. Kami pergi dulu ya...”


“Hati hati...” Senyum Nadia.


Faza dan Zahra mengangguk kemudian berjalan beriringan keluar dari kediaman-nya.


“Kita naik motor mas?” Tanya Zahra saat melihat motor Faza yang sudah berada dihalaman rumah mereka.


“Ya sayang.. Udah lama loh kita nggak jalan jalan pake motor..” Jawab Faza tersenyum. Pria dengan setelan jas hitam tanpa dasi itu meraih paperbag yang berada diatas jok motornya.


“Tapi kan aku pake baju begini mas..” Zahra berdecak pelan merasa tidak mungkin jika mereka harus menggunakan motor sebagai kendaraan-nya mengingat dress yang Zahra kenakan.


“Itu tenang aja. Aku udah beliin ini buat kamu. Aku pakein yah?” Senyumnya mengeluarkan switer warna hitam dari paperbag tadi.


Zahra hanya mengangguk saja. Zahra pasrah saat Faza membantunya mengenakan switer hitam yang sengaja Faza siapkan untuknya.

__ADS_1


“Udah.. Kita berangkat sekarang yah?”


Zahra mengangguk lagi dengan senyuman manis dibibirnya. Keduanya kemudian menaiki motor gede milik Faza dan berlalu dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan luas rumah mereka.


__ADS_2