
Sinta mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. Sinta tidak menyangka jika bermain bersama cucunya akan begitu sangat membuatnya bahagia. Bahkan saking bahagianya Sinta sampai merasa semua beban berat yang ada dihatinya terangkat seketika.
“Ya Tuhan.. Kenapa baru sekarang aku merasakan kebahagiaan ini...” Batin Sinta merasa pilu ditengah rasa bahagianya.
“Pa pah.. Ma mah... mam mam..”
Sinta tertawa mendengar celotehan cucunya. Ini adalah pertama kalinya Sinta mendengar celotehan balita tampan berbadan gempal itu.
“No sayang.. Ini oma.. Bukan mamah..” Senyum Sinta meraih tubuh gempal Fahri yang duduk diatas karpet bersamanya.
Pertumbuhan Fahri memang berkembang begitu pesat. Fahri sudah bisa duduk dan merangkak cepat diusianya yang baru menginjak bulan ke 7. Celotehan-nya juga cukup banyak yang membuat siapa saja pasti akan merasa sangat gemas padanya.
“Oma.. Coba bilang oma.. Panggil oma sayang...” Ujar Sinta dengan suara serak karena menangis.
Fahri tertawa menatap sang oma. Tangan kecilnya menyentuh pipi Sinta seperti hendak mengusap air mata yang membasahi pipi tirus Sinta.
“Mah mam mam mah..”
Sinta ikut tertawa. Wanita itu kemudian menciumi wajah tampan Fahri sampai wajah balita bertubuh gempal itu memerah dan basah oleh air mata Sinta. Namun balita itu sama sekali tidak menangis dan justru tertawa tawa karena kegelian.
“Minum dulu mah..”
Sinta hanya menoleh sekilas pada Zahra yang meletakan secangkir teh diatas meja kemudian kembali bermain dengan Fahri. Sinta tidak ingin melewatkan sedetikpun kebersamaan-nya bersama Fahri hari ini.
“Coba say oma sayang.. O.. ma.. coba oma pengin dengar.”
Zahra tersenyum melihatnya. Diam diam Zahra mengeluarkan ponsel dari saku dress rumahan yang dikenakan-nya. Zahra mengambil photo kebersamaan Sinta dan Fahri diam diam dengan ponselnya kemudian mengirimkan-nya pada Faza juga Akbar, papah mertuanya. Zahra ingin mereka juga melihat hangatnya kebersamaan Sinta dengan Fahri saat ini. Zahra bahkan bukan hanya mengambil photo, tapi juga merekam kebersamaan Sinta dan Fahri via video dan mengirimkan-nya lagi pada Akbar dan Faza, suami tercintanya.
-----------
“Ternyata nggak gampang ya kak jadi pengusaha..” Keluh Fadly sambil mendudukan dirinya disofa.
__ADS_1
Fadly menghela napas dan berdecak pelan setelah mengikuti serangkaian kegiatan Faza bersama Reyhan yang memang setiap hari menjadi rutinitas Faza sebagai seorang pengusaha.
Faza menggeleng pelan. Fadly benar benar menjelma menjadi orang bodoh hari ini. Tidak seperti biasanya yang begitu cool dan tampak berwibawa.
“Bukan-nya kamu bilang jangan panggil kamu Fadly Akbar kalau kamu nggak bisa melakukan apa yang Tuan Akbar lakukan?” Sindir Faza melirik Fadly kesal.
Faza memang sedang merasa kesal sekali pada Fadly karena beberapa kali Fadly melakukan kesalahan juga berbuat semaunya sendiri.
“Kakak gitu banget sama adik sendiri. Punya adik satu satunya itu disayang kak bukan di sia siain begini.”
Faza memutar jengah kedua bola matanya. Tidak ingin meladeni ocehan adik menyebalkan-nya, Faza pun memilih untuk meraih ponselnya mengecek apakah ada pesan dari Zahra untuknya atau tidak.
Dan benar saja, banyak pesan masuk yang sebenarnya bukan hanya dari Zahra saja. Namun karena memang fokus Faza pada Zahra membuat pria itu langsung membuka pesan yang di kirim Zahra untuknya.
Saat membuka pesan tersebut Faza tercengang. Zahra mengirimkan photo dan video kebersamaan Fahri dengan mamahnya pagi tadi.
“Ya Tuhan..” Gumam Faza tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kakak kenapa?”
Fadly menatap penasaran pada Faza yang menggelengkan kepala dengan senyum haru menatap ponselnya. Namun pertanyaan Fadly tidak dijawab oleh Faza yang akhirnya Fadly pun bangkit dari duduknya dan mendekat pada Faza berdiri tepat disamping kursi yang di duduki oleh sang kakak.
Fadly melongokkan kepalanya penasaran dengan apa yang sedang dilihat kakaknya. Sedetik kemudian Fadly ikut tercengang.
“Kak ini...”
“Aku harus pulang sekarang Ly..” Sela Faza buru buru bangkit dari duduknya.
Dengan gerakan cepat Faza melangkah keluar. Namun sebelum benar benar berlalu meninggalkan perusahaan-nya Faza sudah lebih dulu memasrahkan semuanya pada Reyhan. Orang yang paling dia percaya selain keluarganya sendiri.
“Tunggu kak.. Aku ikut !!” Seru Fadly yang langsung mengejar Faza.
__ADS_1
Dengan sangat terburu buru keduanya keluar dari perusahaan. Mereka seperti sedang balap lari ketika menuju mobil. Ketika sudah berada dijalan pun Faza mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Faza juga Fadly benar benar ingin menyaksikan keajaiban itu. Mereka ingin melihat secara langsung Sinta yang sedang bercanda dan tertawa bersama Fahri.
“Ayo kak tambah kecepatan lagi..” Perintah Fadly yang langsung dilakukan oleh Faza.
Saking semangatnya bahkan Faza sampai menerobos lampu merah. Beruntung waktu makan siang belum tiba sehingga jalanan tidak begitu padat dan keduanya tidak membuat kegaduhan meskipun sempat dikejar oleh polisi lalu lintas.
Dalam waktu singkat keduanya sampai tepat didepan gerbang kediaman Faza dan Zahra. Faza membunyikan klakson mobilnya beberapa kali saking tidak sabarnya. Hal itu membuat pak satpam bertindak begitu cepat membuka gerbang.
Begitu pintu gerbang terbuka lebar, Faza melajukan mobilnya sangat cepat kemudian mengerem mobilnya mendadak menimbulkan decitan yang cukup keras karena ban mobil dan lantai yang saling bergesek.
“Ya Tuhan...” Geleng pak satpam sambil mengusap dadanya karena terkejut.
Faza dan Fadly keluar dari mobil Faza. Mereka tersenyum menatap mobil Sinta yang masih ada disana.
“Mamah masih disini kak..” Gumam Fadly lirih.
“Ya Ly.. Ayo kita masuk.”
Fadly mengangguk dan mengikuti Faza yang lebih dulu melangkah masuk kedalam rumahnya. Tanpa bertanya pada mbak Lasmi yang sedang membersihkan berbagai furniture, Faza dan Fadly langsung melangkah menuju ruang keluarga. Disana mereka mendapati Sinta dan Fahri yang masih asik bermain dengan Zahra yang juga ikut serta.
Pemandangan itu membuat Faza menangis tanpa sadar. Itu adalah hal yang selama ini Faza impikan. Melihat mamahnya dan istri tercintanya kompak tertawa bersama.
“Faza, Fadly...”
Kakak beradik itu menoleh kompak pada Akbar yang sudah berdiri dibelakangnya. Ketiganya saling melempar senyum kemudian mengarahkan pandangan-nya pada Sinta, Zahra, juga Fahri yang sedang asik bermain dan sama sekali belum menyadari kehadiran-nya.
“Bagaimana mungkin?” Tanya Akbar bergumam dengan senyuman dibibirnya.
Faza menggeleng pelan. Entah apa yang sebelumnya terjadi Faza sendiri tidak tau. Karena terakhir Zahra berhadapan dengan Sinta, Sinta masih memakinya.
“Tidak perlu menanyakan apapun sekarang pah, kak... Mungkin ini arti dari pepatah akan ada pelangi setelah hujan. Meskipun kita sudah tidak bisa kaya dulu lagi tapi Fadly yakin semua ini belum terlambat. Ya kan pah?”
__ADS_1
Akbar hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dirinya mungkin sudah menjadi orang asing untuk Sinta. Tapi masih ada Faza dan Fadly yang akan terus menjadi jembatan hubungan baik itu.