PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 56


__ADS_3

Faza jadi sering diam sejak menginap dirumah kedua orang tuanya. Faza tidak menyangka dengan pemikiran mamahnya yang bisa begitu buruk menilai Zahra, istri yang sangat dicintainya.


Zahra yang menyadari suaminya sering melamun pun merasa penasaran dan memberanikan diri untuk bertanya sembari mendekat pelan pelan pada Faza.


“Mas...”


Sentuhan lembut tangan Zahra berhasil mengalihkan perhatian Faza. Faza tersenyum dan menepuk pelan tempat disampingnya menyuruh agar Zahra duduk disana.


“Ada apa sayang?”


“Kamu kenapa? Aku perhatikan sejak kita pulang dari rumah mamah sama papah kamu sering banget diem bahkan nggak fokus.”


Faza tersenyum. Tidak hanya dirumah saja, Faza bahkan pernah mendapat teguran dari atasan-nya karna terlalu banyak melamun dan melakukan kesalahan saat sedang bekerja.


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu sayang.. Tapi aku minta sama kamu jangan memaksakan diri.”


Zahra mengeryit mendengarnya.


“Tentang apa?”


Faza menghela napas kemudian menarik lembut Zahra kedalam pelukan-nya. Faza benar benar tidak terima dengan apa yang mamahnya tuduhkan pada Zahra. Karna bagi Faza, Zahra tetap yang terbaik untuknya. Zahra wanita pilihan hatinya.


“Mas..”


Zahra memanggil pelan Faza menuntut dengan lembut agar Faza segera mengatakan apa yang sedang mengganjal dihatinya sekarang bahkan dari kemarin.


“Jadi mamah minta aku buat ngajak kamu tinggal dirumah mamah.”


Zahra benar benar terkejut mendengarnya. Namun Zahra bisa menguasai dirinya sendiri dan tetap bersikap tenang dalam diamnya dipelukan Faza.


“Aku menolaknya. Karna aku tidak mau mamah menyakiti kamu dengan Loly.”


Zahra tersenyum. Faza sedang berusaha melindunginya dari mamah juga wanita yang sedang berusaha menarik perhatian-nya.


“Loly bukan perempuan yang baik.”


Zahra melepaskan pelan pelukan Faza. Wanita mendongak menatap Faza yang sedikit menunduk membalas tatapan-nya.


“Apa dengan kita tinggal disana mamah dan papah kamu bisa merestui hubungan kita?” Tanya Zahra pelan.


Faza menggeleng pelan. Membiarkan Zahra tinggal bersama satu atap dengan mamahnya sama saja menghancurkan sendiri rumah tangga yang sudah dia bina dengan susah payah itu. Mamahnya pasti akan menyakiti hati Zahra dengan berbagai cara.


“Kita masih punya banyak cara untuk itu Ra. Jangan memaksakan diri.” Lirih Faza.

__ADS_1


Zahra tersenyum. Baginya selama mereka bisa menjaga hati dan kepercayaan semuanya akan baik baik saja. Zahra mungkin akan merasa cemburu jika Loly terus mendekati suaminya. Tapi Zahra akan membuktikan pada kedua mertuanya bahwa dirinya pantas bersanding dengan Faza.


“Mas, restu orang tua adalah kunci kebahagiaan kita yang sesungguhnya.”


Faza menghela napas. Menyesal sekali rasanya setelah mengatakan apa yang memang selalu mengganggu pikiran-nya.


“Aku tau itu Zahra. Tapi kalau untuk tinggal sama sama dirumah mamah aku sangat keberatan. Aku nggak mau kamu tersakiti.”


Zahra mendekatkan wajahnya dan mencium sekilas bibir tipis suaminya.


“Aku mau mencobanya.” Senyum Zahra.


Untuk pertama kalinya Faza tidak tersenyum meski Zahra sudah menciumnya. Hatinya semakin tidak tenang setelah mengatakan apa yang Zahra tanyakan.


“Enggak Zahra.” Tegas Faza.


Ketegasan Faza membuat Zahra semakin yakin bahwa suaminya itu akan selalu menjaga dan melindunginya. Zahra yakin Faza akan terus percaya padanya juga ketulusan-nya.


Zahra meraih tangan Faza dan menggenggamnya erat.


“Mas...”


Faza melengos. Menuruti keinginan Zahra kali ini benar benar akan membawa malapetaka untuk hubungan mereka nantinya.


Faza tersenyum. Tidak mungkin rasanya jika Zahra tidak marah dan cemburu jika melihat mamahnya mendekatkan-nya dengan Loly.


“Sudahlah Zahra. Aku bilang enggak ya enggak. Aku nggak mau kita bertengkar terus terusan hanya karna kecemburuan kamu nantinya.”


Zahra tertawa pelan. Bukan menertawakan ucapan Faza, tapi menertawakan dirinya sendiri yang memang sangat pencemburuan itu.


“Aku nggak akan begitu lagi. Aku akan merubah caraku merajuk saat cemburu pada kamu mas. Bagaimana?”


Faza kembali menatap Zahra yang terus mengembangkan senyuman dibibir pink alaminya.


“Zahra...”


“Mas.. Demi restu mamah sama papah. Kamu mau kan?”


Faza menghela napas. Faza masih tidak rela jika sampai istrinya tersakiti oleh sikap mamahnya.


“Aku janji tidak akan cemburuan lagi. Kalaupun cemburu aku tidak akan marah marah seperti kemarin kemarin. Mas mau ya... Kita coba dulu tinggal sama mamah papah.”


Faza menarik napas dalam kemudian menghembuskan-nya lewat mulut.

__ADS_1


“Kita tidak akan tau kalau kita tidak mengusahakan-nya lebih dulu kan mas?”


“Zahra, kak Aris pasti tidak akan setuju. Dia akan semakin salah paham sama aku.” Lirih Faza.


Senyuman dibibir Zahra memudar. Zahra hampir saja melupakan sang kakak yang memang sampai saat ini belum mau bertegur sapa dengan Faza.


“Jangan hanya memikirkan yang terbaik untuk kita berdua saja sayang. Pikirkan juga perasaan kak Aris yang dari dulu sudah sangat menyayangi dan menjaga kamu. Bagaimanapun juga kak Aris adalah pengganti ayah dan ibu untuk kita berdua.”


Zahra memejamkan kedua matanya sesaat kemudian menganggukan kepalanya.


“Aku akan bicara sama kak Aris besok kak.”


“Aku akan temani kamu. Setelah aku pulang kerja besok. Oke?”


Zahra menganggukan kepalanya kemudian kembali masuk kedalam pelukan Faza.


Faza tersenyum dan mengusap lembut punggung istrinya. Faza juga mengecup sesekali puncak kepala Zahra. Kali ini Faza sangat berharap pada Aris. Zahra tidak mau mendengarkan-nya untuk tetap tinggal berdua saja. Dan Faza berharap Aris akan tegas melarang sehingga Zahra bisa berubah pikiran.


“Sudah malam. Lebih baik sekarang kita istirahat.”


Zahra mengangguk dalam pelukan Faza. Faza menurut saat Faza membopongnya menuju tempat tidur.


Seperti biasanya, Faza selalu melakukan itu sebelum mereka terlelap. Faza benar benar sangat berusaha keras agar istrinya bisa cepat hamil hingga kedua orang tuanya bisa menerima keputusan-nya untuk bersama Zahra sampai dirinya menua.


---------


Besoknya setelah Faza pulang kerja, keduanya segera menuju kediaman Aris dan Nadia. Faza dan Zahra bahkan harus menunggu sesampainya disana karna Aris yang belum pulang dari kantor.


Sekitar 30 Menit menunggu Aris pun pulang. Zahra langsung mengutarakan keinginan-nya untuk tinggal bersama kedua orang tua Faza yang membuat Aris terdiam.


Sedangkan Faza, pria itu hanya diam disamping Zahra dengan penuh harap pada Aris. Faza kali ini benar benar berharap larangan dari Aris agar Zahra bisa berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk tinggal bersama kedua orang tua Faza.


“Kamu sudah dewasa sekarang Zahra. Jika dulu kamu adalah tanggung jawab penuh kakak tapi tidak lagi untuk sekarang. Faza lebih berhak segalanya atas kamu. Untuk masalah kamu tinggal ikut Faza kerumah kedua orang tuanya itu terserah pada kalian berdua. Kakak hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kamu.”


Faza kecewa dengan sikap tenang Aris sekarang. Faza pikir Aris akan melarang tapi sebaliknya Aris malah memasrahkan segala keputusan pada Zahra sendiri.


“Makasih ya kak, Zahra sayang banget sama kakak.”


Zahra bangkit dari duduknya dan mendekat pada Aris kemudian memeluknya erat.


“Sama sama dek. Kakak juga sayang banget sama kamu. Bahagia selalu ya.. Kakak selalu disini untuk kamu.” Balas Aris tersenyum dibalik punggung Zahra.


Sementara itu Nadia hanya bisa tersenyum melihat Aris dan Zahra berpelukan. Nadia tau bagaimana Aris menyayangi Zahra, amanah yang kedua orang tuanya berikan pada Aris sebelum maut menjemput keduanya sehingga mereka harus berpisah untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2