
Esok paginya Zahra sudah diperbolehkan pulang karna memang kondisinya juga baik baik saja.
“Biar papah yang gendong Fahri ya nanti...” Pinta Akbar yang pagi itu sigap datang kembali kerumah sakit.
“Iya pah..” Angguk Faza setuju saja.
Faza memang selalu berada disamping Zahra dan mempercayakan semua urusan pekerjaan pada Reyhan. Faza tidak ingin lagi terlalu sibuk oleh pekerjaan. Sekarang yang ingin Faza prioritaskan adalah istri juga anaknya.
“Mbak, nanti tolong beresin barang barang Zahra ya.. Kita pulang sebentar lagi.” Ujar Faza pada mbak Lasmi yang sedang memotong buah untuk Zahra.
Mbak Lasmi tidak menginap. Dia pulang kerumah karna harus membereskan rumah dan juga tidak ingin mengganggu Zahra yang memang sepertinya ingin Faza sendiri yang langsung mengurusinya.
“Oh iya tuan, baik.” Angguk mbak Lasmi tersenyum.
Faza kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya menyuapi Zahra sarapan.
“Mas aku udah kenyang banget.” Ujar Zahra yang enggan menghabiskan sarapan-nya.
“Ya udah.. Tapi kamu harus banyak ngemil ya mulai sekarang. Kamu itu harus banyak makan sayang..”
Zahra mengerucutkan bibirnya.
“Kamu kayanya pengin banget aku jadi gendut.” Katanya sebal.
Faza tertawa mendengar serta melihat ekspresi istrinya. Begitu juga dengan Akbar yang sedang mengayun ayun cucu pertamanya penuh kasih sayang.
“Zahra, istri gendut itu pertanda bahagia. Kamu nggak usah minder kalau jadi gendut.” Ujar Akbar yang di angguki oleh Faza setuju.
“Bener itu kata papah..” Senyum Faza.
Zahra menyipitkan kedua matanya menatap Faza curiga.
“Paling kalau aku gendut ntar mata kamu jelalatan liatin perempuan sexy diluar sana..”
__ADS_1
Faza tertawa. Cukup dengan Siska saja dirinya khilaf. Faza tidak ingin lagi mengulanginya karna Faza tau sesuatu yang tidak baik jika dilanggar hanya akan merugikan-nya. Se-menyenangkan apapun jika memang Tuhan sudah melarang pasti ujungnya akan merugikan diri sendiri.
“Nggak dong sayang.. Aku kan cintanya cuma sama kamu..” Ujar Faza pelan.
“Awas kalau sampai berani lirik lirik perempuan diluar sana. Aku tinggalin kamu.” Ancam Zahra yang sukses membuat detak jantung Faza seakan berhenti saat itu juga.
Mendadak tekad Faza untuk mengatakan semuanya dengan jujur tentang kekhilafan-nya mengagumi Siska menciut. Ancaman Zahra membuatnya takut.
“Jangan gitu ah ngomongnya. Yang baik baik aja ngomongnya biar jadi kenyataan. Ingat, ucapan itu adalah do'a..” Ujar Faza berusaha untuk tenang meski rasa takut sedang menghantuinya.
Zahra tetap manyun. Entah kenapa hatinya sensitif sekali sejak hamil. Yang dulunya Zahra anggap sepele kini terasa sangat sensitif seperti sikap Sinta misalnya. Dulu sebelum hamil Zahra tidak terlalu memusingkan-nya. Tapi sekarang bahkan diamnya Sinta mampu membuat Zahra menangis.
Sekitar jam 9 pagi Zahra dibawa pulang oleh Faza dan papahnya yang dengan sangat gembira menggendong cucu pertamanya.
“Mas..” Panggil Zahra menoleh pada Faza yang sedang fokus dengan kemudinya.
“Ya sayang...” Saut Faza tersenyum manis menoleh sebentar pada Zahra yang duduk disamping kemudi.
Zahra menghela napas dan melirik pada Akbar yang duduk bersebelahan dengan mbak Lasmi di kursi belakang lewat kaca mobil. Zahra merasa tidak sopan jika membicarakan tentang sesuatu yang bersikap pribadi didepan papah mertuanya itu.
Faza mengeryit bingung. Pria itu merasa aneh dengan sikap Zahra.
Tidak lama mobil Faza sampai tepat didepan kediaman-nya. Faza dengan lembut menuntun Zahra saat Zahra turun dari mobil.
“Eemm.. Papah langsung berangkat kerja ya Za abis ini. Ada rapat yang nggak bisa papah tunda soalnya siang ini.” Ujar Akbar saat masuk kedalam kediaman Faza dan Zahra.
“Iya pah.. Makasih banget ya pah, papah udah nyempetin waktu buat anterin Zahra pulang.” Senyum Faza menatap papahnya.
Ucapan terimakasih Faza ditertawai oleh Akbar yang sepertinya masih tidak rela melepaskan cucu kesayangan-nya. Akbar bahkan terus menciumi kedua pipi gembul bayi tampan itu dengan sangat gemas.
“Kamu sama papah udah kaya sama orang lain aja. Pake ngomong terimakasih segala.” Kata Akbar membuat Faza meringis.
“Ya udah ayo papah sekalian antar sampai atas.”
__ADS_1
“Ya pah...”
Faza menuntun Zahra menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua rumahnya dengan Akbar yang mengikuti dari belakang.
Apa yang Akbar lakukan membuat Zahra tersenyum merasa sangat beruntung. Namun ditengah rasa bersyukurnya karna Akbar yang mau menerimanya dan menyayanginya dengan tulus itu terbesit kesedihan karna Sinta belum bisa benar benar menerimanya sebagai menantu. Zahra masih merasa kurang dengan semua itu karna kendala restu dari Sinta.
Setelah mengantar Zahra dan bayinya ke kamar, Akbar segera turun dengan Faza yang mengikuti. Faza berniat mengantar papahnya sampai depan rumahnya.
“Za...” Panggil Akbar pelan.
“Ya pah...” Saut Faza menatap sang papah yang berdiri berhadapan dengan-nya.
Akbar menghela napas dan menundukan kepalanya sebentar.
“Yang papah alami, perempuan hamil kemudian melahirkan dan akhirnya menyusui itu perasaan-nya akan sangat sensitif. Papah bahkan yakin sikap cuek mamah kamu kemarin membekas dihati Zahra. Jadi pesan papah sama kamu kurangi kesibukan kamu dan bantu Zahra. Kamu tau, mengusap lembut bahunya saat dia menyusui akan menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk Zahra. Zahra akan merasa dipedulikan dan diperhatikan.”
Faza mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Ya pah.. Makasih papah udah ngingetin aku..”
Akbar mengangguk anggukan kepalanya. Akbar berharap Faza tidak meniru sikapnya yang sempat tergoda dengan wanita lain karna ketidak pedulian istrinya. Tapi Akbar juga yakin Faza tidak mungkin seperti itu mengingat Zahra yang begitu perhatian dan tidak menentangnya.
“Ya sudah kalau begitu papah berangkat kerja dulu yah.. Papah akan sering sering kesini untuk bermain dengan cucu papah..” Senyum Akbar sambil menepuk pelan bahu tegap Faza.
“Ya pah.. Papah hati hati dijalan.” Angguk Faza sambil menyerahkan kunci mobilnya kemudian menyalimi Akbar.
“Ya.. Papah pinjem dulu yah mobilnya..”
Faza tersenyum dan kembali menganggukkan kepalanya menjawab.
Sedang Akbar, pria itu kemudian melangkah menuju mobil sport milik Faza dan masuk kedalamnya.
Faza tersenyum menatap mobil miliknya yang dikemudikan oleh papahnya. Faza menghela napas. Meskipun sampai sekarang Sinta belum bisa merestuinya dengan Zahra, tapi setidaknya Akbar sudah memberikan restu itu. Akbar juga perduli dan menyayangi Zahra dengan tulus.
__ADS_1
Setelah mobil miliknya yang dikemudikan oleh Akbar keluar dari pekarangan luas rumahnya, Faza pun kembali masuk kedalam kamarnya. Baru beberapa langkah masuk kedalam rumah langkah Faza terhenti karna cacing cacing dalam perutnya yang berdemo. Faza meringis. Faza lupa mengisi perutnya pagi ini karna terlalu sibuk mengurusi administrasi Zahra dirumah sakit.
Tidak mau membahayakan dirinya sendiri karna tidak sarapan, Faza pun melangkah menuju dapur dan meminta mbak Lasmi agar menyiapkan sarapan untuknya di meja makan.