PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 94


__ADS_3

Zahra bangun terbangun karna tiba tiba merasa mual. Zahra bangkit dari tempat tidur dengan menutup mulutnya kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Suara Zahra yang muntah muntah didalam kamar mandi berhasil membangunkan Faza. Pria itu segera bangkit dari tempat tidur dan menyusul Zahra kedalam kamar mandi.


Melihat istrinya yang terus muntah Faza hanya bisa diam dengan ekspresi sendu. Pria itu berdiri disamping Zahra sambil mengusap lembut punggung Zahra yang membungkuk ke wastafel.


Setelah dirasa tidak akan muntah lagi Zahra segera membasuh mulutnya. Zahra tau itu pasti akan dia alami sejak semalam.


“Mas...”


Zahra berusaha untuk tersenyum agar Faza tidak terlalu mengkhawatirkan-nya. Wanita itu kemudian memeluk Faza yang hanya diam disampingnya.


“Aku nggak papa kok mas. Muntah muntah dipagi hari memang biasa dialami oleh perempuan yang sedang hamil diusia muda.” Ujar Zahra.


Faza menghela napas. Faza juga tau itu. Tapi Faza tidak pernah melihat secara langsung muntahnya wanita hamil. Dan begitu melihat istrinya yang terlihat sangat kesulitan Faza merasa sangat tidak tega.


Faza membopong tubuh Zahra membawanya keluar dan kembali membaringkan-nya diatas tempat tidur. Faza juga mencium lama kening Zahra dengan kedua mata terpejam.


Zahra yang mendapat perlakuan manis seperti itu tersenyum bahagia. Kehamilan-nya membuat Faza semakin memanjakan-nya.


Faza mengambilkan segelas air putih pada Zahra dan membantu meminumkan-nya.


“Ini masih sangat pagi. Lebih baik kamu tidur lagi..” Kata Faza pelan.


“Mas tapi aku...”


“Kalau mau jalan jalan harus cukup istirahat Zahra. Ingat, kamu sedang hamil sekarang.” Sela Faza.


Zahra diam sesaat kemudian menganggukan kepalanya menuruti apa yang dikatakan suaminya.


“Tapi peluk yah..” Pinta Zahra dengan nada merengek.


Faza tersenyum. Tanpa Zahra meminta pun Faza pasti akan memeluknya.

__ADS_1


“Iya..” Angguk Faza.


Faza kemudian naik keatas ranjang dan menarik Zahra dengan lembut masuk kedalam dekapan hangatnya.


“Mas...” Panggil Zahra pelan.


“Ya sayang...” Saut Faza.


“Kamu pengen-nya anak pertama kita laki laki atau perempuan?”


Pertanyaan Zahra membuat Faza tertawa. Faza tidak pernah terpikirkan sedikitpun tentang jenis kelamin anak mereka yang sedang dikandung oleh Zahra. Bagi Faza laki laki ataupun perempuan sama saja. Toh sama sama anaknya, darah dagingnya yang selama ini sangat Faza nanti nantikan.


“Laki laki atau perempuan tidak masalah buat aku sayang.. Yang penting kamu dan calon anak kita selalu sehat dan baik baik saja. Mau anak kita laki laki ataupun perempuan kasih sayang yang akan aku berikan akan sama sayang.. Aku tidak akan membeda bedakan.”


Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra juga setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. Karna apapun jenis kelamin anak yang akan dilahirkan-nya nanti dia adalah anugerah terindah yang Tuhan titipkan pada mereka untuk dijaga dan disayangi dengan baik.


“Bagaimana dengan mamah?”


“Sudahlah sayang.. Lebih baik sekarang kamu tidur.. Kamu harus istirahat yang cukup. Besok aku akan bawa kamu jalan jalan.” Faza mengalihkan pertanyaan yang dilontarkan istrinya. Faza tidak tau harus menjawab apa hingga memutuskan untuk tidak menjawabnya.


“Ya mas...”


Zahra perlahan mulai memejamkan kedua matanya dalam pelukan Faza. Rasa nyaman saat berada dalam pelukan Faza membuat Zahra merasa aman sehingga gampang untuknya kembali terlelap masuk kedalam alam mimpi indahnya.


Pagi menjelang siangnya Faza kembali mengajak Zahra keluar dari hotel tentunya setelah mereka sarapan dan Zahra meminum susu, juga vitamin yang disarankan oleh dokter Frans. Faza tidak mau mengambil resiko istrinya drop dikehamilan pertamanya. Faza ingin Zahra tetap kuat dan sehat.


“Kenapa hem?”


Faza menatap lembut pada Zahra yang mengerucutkan bibirnya tampak tidak suka.


“Bilangnya mau jalan jalan tapi malah naik taksi. Kamu kan udah janji sama aku mas bakal ajak aku jalan kaki mengelilingi Paris. Tapi malah naik taksi begini.”


Zahra melipat kedua tangan-nya dibawah dada. Bibirnya mengerucut dengan ekspresi kesal yang tertahan karna Faza tidak menepati janjinya.

__ADS_1


Sedangkan Faza, pria itu tertawa pelan melihat ekspresi kekasih hatinya. Faza merangkul mesra pinggang Zahra dan mengusapnya lembut.


“Sayang.. Aku minta maaf banget karna nggak nepatin janji aku sama kamu buat kita jalan kaki ke tempat tempat indah selama di Paris. Tapi kan itu aku lakuin karna aku tidak mau kamu kelelahan. Menjaga kondisi kamu tetap baik dan kuat adalah yang terpenting sekarang. Kamu nggak boleh terlalu menguras tenaga kamu hanya untuk kesenangan sesaat sayang. Ingat sekarang ada anak kita disini..” Satu tangan Faza yang bebas menyentuh lembut perut rata Zahra.


Mendengar itu ekspresi Zahra langsung berubah. Zahra menundukan kepalanya menatap tangan besar Faza yang bertengger dengan manis diperutnya. Tangan Faza juga mengusap dengan lembut perutnya membuat Zahra tersentuh.


“Jangan marah ya sayang.. Aku lakuin ini untuk kebaikan kamu juga anak kita..” Imbuh Faza.


Zahra menoleh menatap Faza yang menatapnya dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Perlahan seulas senyum terukir dibibir Zahra. Zahra yakin apa yang Faza lakukan memang yang terbaik untuknya juga janin dalam kandungan-nya.


“Maaf aku sudah marah marah..” Katanya pelan.


Cup


Faza mencium sekilas kening Zahra.


“Iya.. Enggak papa. Yang penting sekarang kamu nggak marah lagi sama aku..” Jawab Faza tersenyum dan kembali menatap Zahra.


Zahra menganggukan kepalanya menjawab. Sisi dewasa suaminya benar benar sedang sering terlihat sekarang.


Hanya sekitar 10 menit perjalanan mereka sampai ditempat tujuan. Yaitu museum LEUVRE, museum seni terbesar dan monumen bersejarah didunia. Sebenarnya mereka bisa menaiki kereta atau bus saat menuju museum tersebut. Tapi karna Faza yang tidak ingin sesuatu buruk menimpa istrinya, Faza memilih cara aman dengan menaiki taksi antar jemput menuju tempat wisata tersebut.


“Mas kita di...”


Zahra tidak bisa melanjutkan ucapan-nya. Zahra tau mereka sedang berada dimana sekarang. Mereka sedang berada di tempat dimana lukisan MONALISA karya Leonardo Da Vinci itu ditempatkan. Lukisan yang bahkan Zahra juga punya gambarnya. Dan tentu saja hanya gambar dari kalender yang Zahra cetak sendiri.


“Kita lihat lukisan MONALISA yang asli. Mau kan?” Tanya Faza dengan sangat lembut.


Zahra menganggukan kepala dengan sangat antusias. Zahra merasa sangat senang karna akhirnya bisa melihat lukisan MONALISA yang asli di museum tersebut.


Faza kemudian menggandeng tangan Zahra untuk lebih dulu membeli tiket lalu mengajak Zahra masuk kedalam museum tersebut.


Faza berharap apa yang dilakukan-nya kali ini benar benar bisa membuat Zahra bahagia.

__ADS_1


__ADS_2