
Fadly memasuki rumah dengan mengendap gendap sembari mengawasi sekitarnya memastikan tidak ada sang mamah disekitarnya. Fadly benar benar tidak siap jika harus di interogasi oleh sang mamah sekarang. Bukan Fadly tidak mengakui perasaan-nya pada Loly, hanya saja Fadly merasa belum siap jika sang mamah tau tentang itu sekarang.
“Huh.. Untung saja nggak ada mamah..” Gumam Fadly merasa lega.
Namun harapan Fadly agar tidak terlihat oleh sang mamah ternyata tidak terkabul. Karena sebenarnya mamahnya Sinta sedang memperhatikan-nya dari lantai dua rumahnya. Wanita itu sangat terheran heran melihat tingkah putranya yang mengendap ngendap seperti seorang pencuri.
Sinta terus memperhatikan Fadly dalam diam hingga akhirnya Fadly berhasil melewati tangga dan sekarang hendak masuk kedalam kamarnya.
“Kamu darimana Fadly?” Tanya Sinta membuat tubuh Fadly seketika kaku ditempatnya.
Fadly memejamkan kedua matanya. Padahal Fadly pikir tidak ada siapapun yang melihatnya tadi.
Perlahan Fadly memutar tubuhnya. Fadly tertawa meringis menatap Sinta yang sudah berdiri tepat dibelakangnya.
“Kenapa tidak pulang dari semalam?” Tanya Sinta lagi.
“Eh em.. Itu mah.. Semalam Fadly mendadak ada urusan terus mau pulang kerumah udah larut banget. Fadly nggak mau mengganggu orang rumah. Jadi Fadly nginep dirumah kakak..” Jawab Fadly yang memang tidak sepenuhnya berbohong.
“Urusan? urusan apa? Apakah tentang pekerjaan? Lalu kenapa kamu tidak jadi pergi keluar kota hari ini?”
Fadly menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Fadly bingung harus menjawab apa. Berbohong bukanlah pilihan yang baik.
”Eemm.. Itu Fadly..”
Fadly tidak bisa menjawab sekarang. Jika Fadly berterus terang Sinta pasti akan semakin gencar bertanya. Apa lagi sekarang Sinta juga sudah mendukung kedekatan-nya dengan Loly.
“Ya sudah mamah nggak akan maksa kalau kamu nggak mau cerita. Sekarang lebih baik kamu mandi. Mamah akan suruh bibi untuk menyiapkan sarapan untuk kamu.” Senyum Sinta enggan menuntut jawaban dari putranya.
Fadly mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Fadly benar benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Seumur hidupnya ini kali pertama Sinta tidak menuntut jawaban yang sejujur jujurnya dari dirinya. Itu benar benar sangat langka.
__ADS_1
Tidak ingin mamahnya berubah pikiran Fadly pun segera mengangguk kemudian masuk kedalam kamar tanpa mengatakan apapun pada mamahnya.
Sinta tersenyum melihat tingkah putranya. Sinta tidak bodoh. Sinta tau dan hapal bagaimana putra bungsunya itu. Sinta yakin pasti Fadly sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi Sinta tidak ingin memaksa agar Fadly segera terbuka padanya. Sinta yakin Fadly pasti akan jujur padanya nanti.
Sinta menghela napas kemudian menggelengkan pelan kepalanya. Sinta berlalu dari depan pintu kamar Fadly menuju tangga. Dengan pelan Sinta menuruni satu persatu anak tangga berniat meminta tolong pada bibi agar segera menyiapkan sarapan untuk Fadly.
Sedang Fadly, pria itu justru dibuat bingung dengan sikap mamahnya pagi ini. Tidak biasanya Sinta bersikap begitu santai saat bertanya sesuatu padanya.
Sejenak Fadly tampak berpikir hingga akhirnya deringan ponsel dalam saku celana jinsnya membuatnya tersadar.
Fadly segera merogoh saku celananya meraih benda pipih itu kemudian mengangkat telepon dari client-nya. Hampir saja Fadly lupa bahwa hari ini dirinya ada janji temu untuk membahas tentang pekerjaan dengan client-nya tersebut.
Setelah berbincang sejenak lewat sambungan telepon, Fadly pun bergegas untuk segera membersihkan dirinya. Fadly tidak ingin membuat client-nya itu menunggu lama.
Selesai membersihkan dirinya, Fadly pun turun dari lantai dua tentunya dengan penampilan yang sudah rapi. Pria itu sarapan dengan Sinta yang menemani.
Fadly berhenti mengunyah nasi goreng dalam mulutnya. Fadly menatap mamahnya yang tampak sangat tidak semangat pagi ini.
“Papah keluar negeri? Kok nggak bilang dulu sama Fadly sama kakak?” Tanya Fadly bingung. Tidak biasanya Akbar pergi tanpa lebih dulu memberitahunya dan Faza. Padahal biasanya Akbar selalu mengatakan-nya dan tidak lupa menitipkan sang mamah agar kedua putranya itu menjaga dan memperhatikan Sinta dengan baik selama dirinya tidak ada.
Sinta tersenyum miris. Sinta tau Akbar pergi untuk menghindar darinya. Tentu saja karena pertengkaran tempo hari. Akbar memang mengatakan baik baik dirinya akan pergi untuk menenangkan pikiran-nya sejenak. Tapi Sinta tidak bisa mengerti alasan pria itu. Sinta ingin Akbar memahaminya.
“Ada urusan mendadak di Amerika.” Jawab Sinta pelan.
Fadly menghela napas. Pria itu menelan sisa makanan dalam mulutnya kemudian meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.
Fadly merasa aneh dengan kepergian mendadak papahnya kali ini. Apa lagi melihat ekspresi mamahnya yang begitu nelangsa.
“Mamah udah sarapan?” Tanya Fadly kemudian.
__ADS_1
Sinta menggeleng pelan.
“Mamah nanti aja sarapan-nya. Mamah belum lapar nak..” Jawab Sinta berusaha untuk terlihat biasa didepan Fadly.
Fadly tau mamah dan papahnya pasti sedang ada masalah. Ya, akhir akhir ini memang keduanya sering beradu mulut. Tapi sekalipun papahnya tidak pernah menghindari masalah. Kecuali jika memang papahnya sudah tidak tau lagi harus bagaimana.
“Mamah sarapan sekarang yah.. Fadly suapin.” Ujar Fadly penuh perhatian pada sang mamah.
Sinta tertawa pelan. Entah kenapa mendapat perhatian dari Fadly membuat Sinta merasa sangat nelangsa sendiri.
“Fadly ambilin yah..”
Fadly meraih piring kosong didepan Sinta kemudian menyendok nasi goreng serta mengambil dadar telur sebagai pelengkapnya. Setelah itu Fadly menyodorkan sesuap nasi goreng serta potongan kecil telur dadar pada mamahnya.
“Mamah nggak laper sayang..” Tolak Sinta dengan kedua mata berkaca kaca.
“Laper nggak laper sarapan itu harus mah.. Mamah harus jaga kesehatan mamah.. Fadly nggak mau mamah sakit. Fadly janji sore nanti setelah Fadly pulang kerja kita jalan jalan. Oke?”
Sinta tertawa. Saat itulah air mata yang sekuatnya dia tahan akhirnya menetes. Sinta membuka mulutnya dan menerima suapan dari putra bungsunya.
“Mamah nggak boleh nangis nanti cantiknya ilang loh..” Ujar Fadly tersenyum berusaha menghibur mamahnya yang sedang kalut itu.
Sejujurnya Sinta takut jika sampai keluarganya terpecah belah. Apa lagi kali ini Akbar sampai pergi begitu jauh hanya untuk alasan menenangkan pikiran-nya.
Melihat mamahnya yang menangis Fadly semakin yakin bahwa kedua orang tuanya pasti sedang dilanda masalah. Dan masalah itu bukan masalah yang sepele apa lagi papahnya sampai jauh jauh pergi keluar negeri.
Setelah selesai menyuapi mamahnya, Fadly pun pamit untuk berangkat bekerja. Dan dalam perjalanan menuju tempat kerjanya, Fadly menyempatkan untuk menghubungi sang papah. Tapi sayang, nomor papahnya tidak bisa dihubungi.
Fadly menghela napas. Fadly bisa menebak perkara yang membuat kedua orang tuanya berada dalam masalah. Apa lagi jika bukan tentang Zahra. Karena keributan mereka memang selalu dengan alasan yang sama. Yaitu tentang mamahnya yang sampai saat ini masih juga belum bisa menerima bahwa Zahra adalah wanita yang menjadi pilihan Faza.
__ADS_1