PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 165


__ADS_3

Sekitar pukul 10 pagi Faza mengajak Zahra untuk mengecek kandungan-nya ke dokter. Sepanjang perjalan Faza terus menggenggam tangan Zahra erat namun tetap dengan lembut. Pria itu rasanya tidak ingin sedetikpun melepaskan genggaman tangan-nya pada tangan Zahra.


“Mas...” Panggil Zahra melirik sekilas tangan Faza yang terus menggenggam tangan-nya padahal Faza sedang mengemudikan mobilnya.


“Ya sayang...” Senyum Faza menatap sekilas pada Zahra.


Zahra terdiam beberapa detik. Zahra baru mengingat tentang kedatangan Santoso yang belum Zahra ceritakan pada Faza. Zahra memang sudah menceritakan tentang paket yang dikirim Santoso untuknya bahkan menunjukan dan menyerahkan-nya pada Faza.


“Aku lupa menceritakan kedatangan pak Santo kerumah.”


Rahang Faza langsung mengeras. Santoso bahkan berani menemui Zahra saat dirinya sedang tidak ada dirumah.


“Oh ya? Kapan sayang?”


Faza memang pintar. Dia berhasil menyembunyikan kemarahan-nya didepan Zahra.


“Kira kira setelah beberapa hari kamu di Amerika. Kak Nadia juga tau. Bahkan kak Nadia yang menerima pertama kali saat dia bertamu.”


Faza mengangguk pelan. Dalam hatinya Faza ingin sekali berteriak marah. Santoso benar benar sudah melewati batas.


“Dia mengaku sebagai rekan kerjaku dulu mas pada kak Nadia..”


Ekspresi Zahra langsung murung seketika. Sebenarnya Zahra juga takut kehadiran Santoso akan menjadi duri dalam hubungan-nya dengan Faza. Zahra takut kehadiran Santoso juga membuat kepercayaan Faza padanya perlahan berkurang hingga akhirnya benar benar hilang.


“Hey.. Kenapa tiba tiba murung begitu?”


Faza mengangkat tangan Zahra, menariknya lembut dan mengecupnya dengan tatapan terus fokus pada jalanan yang sedang dilaluinya.


Zahra menelan ludahnya menatap pada Faza yang tampak tenang setelah Zahra menceritakan perihal tentang Santoso yang datang menemuinya.


“Kamu nggak cemburu mas?” Tanyanya pelan.


Faza tertawa mendengarnya. Munafik sekali rasanya jika Faza menjawab tidak. Tentu saja, karna sebenarnya Faza bukan hanya cemburu, tapi juga merasa takut.


“Aku percaya sama kamu sayang..” Ujarnya pelan dan penuh kelembutan.


Zahra menghela napas. Perasaan-nya mulai tidak menentu sekarang.

__ADS_1


“Sudah.. Jangan dipikirkan. Aku nggak mau kamu dan jagoan kita kenapa napa sayang.. Kamu harus tetap tenang.. Aku akan selalu percaya sama kamu..”


Faza tersenyum dan menatap Zahra beberapa detik sebelum akhirnya fokus kembali dengan kemudinya.


Perlahan seulas senyum terukir dibibir Zahra. Tatapan suaminya begitu lembut dan tulus. Faza percaya padanya. Itu akan Zahra jadikan menjadi senjata dan kekuatan-nya dalam menghadapi segala rintangan yang pasti akan menyapa jalan lurusnya bersama Faza nanti.


Mobil Faza sampai tepat didepan rumah sakit. Tidak lama menunggu namanya dan Zahra kemudian disebut diantara nama nama lain yang juga sedang mengantri.


“Lihat mas.. Hidungnya sangat mancung. Sama kaya hidung kamu..” Ujar Zahra dengan air mata harunya ketika melihat bentuk sempurna jagoan kecilnya yang begitu tenang dalam kandungan-nya lewat layar monitor USG 4G itu.


Zahra tertawa sambil mengangguk pelan. Tangan-nya terus menggenggam tangan Zahra erat. Lagi lagi Faza merasa bersalah. Faza membayangkan apa jadinya jika dirinya menuruti hawa nafsunya. Hari ini pasti tidak akan terjadi. Faza tidak akan mungkin bisa menggenggam erat tangan istrinya sekarang. Tapi Tuhan sangat pemurah. Tuhan begitu baik dan perhatian padanya. Tuhan menegurnya lewat kegalauan yang berhasil menyadarkan-nya.


“Ya sayang.. Dia jagoan kita.” Bisik Faza.


Dokter Cindy yang melihat dan mendengar obrolan pasangan muda itu ikut tersenyum bahagia. Meskipun tidak tau bagaimana sebenarnya keduanya, tapi dokter Cindy bisa menebak bahwa hubungan yang mereka rajut tidak mudah. Apa lagi melihat sikap Sinta saat itu. Cindy semakin yakin bahwa Sinta memang menentang kebersamaan keduanya.


Setelah memeriksakan kandungan Zahra, Faza mengajak Zahra untuk jalan jalan. Faza mengajak Zahra ketaman. Mereka duduk dikursi berdua, dibawah pohon rindang.


Semilir angin menerbangkan anak rambut Zahra yang lolos dari kunciran tingginya. Faza yang melihat itu tersenyum. Aura Zahra semakin terlihat membuat Faza semakin terpesona.


“Ya mas...”


Faza menggeser tubuhnya semakin mendekatkan tubuhnya pada Zahra.


“Boleh tidak aku cium kamu?” Bisik Faza membuat kedua mata Zahra membulat dengan sempurna.


“Mas kamu..”


“Please....” Potong Faza memohon.


“Tapi ini ditaman mas.. ini tempat terbuka..” Ujar Zahra berkata dengan gigi mengatup.


“Sayang please...”


Faza terus memohon pada Zahra. Pria itu bahkan menampakkan ekspresi memelasnya berharap Zahra mau mengiyakan keinginan-nya.


“Mas tapi...”

__ADS_1


“Sayang katanya kalau orang ngidam nggak dituruti itu nanti anaknya ileran loh. Kamu mau anak kita ileran?”


Zahra melongo mendengarnya. Bagaimana mungkin tiba tiba Faza mengatakan dirinya sedang mengidam. Apa lagi ngidamnya itu sangat aneh. Yaitu meminta izin menciumnya ditempat terbuka yang pasti banyak orang yang akan melihatnya.


“Mas nggak usah aneh aneh deh.. ini itu ditempat terbuka. Nanti kalau ada orang lihat gimana? Mas mau nama mas sebagai CEO berprestasi, pintar, juga tampan rusak gara gara ciuman ditempat terbuka seperti sekarang ini?”


Faza tampak berpikir kemudian menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri.


“Nggak ada siapa siapa kok sayang.. Orang disini sepi.” Katanya.


Zahra menghela napas. Merasa kesal karna permintaan aneh suaminya, Zahra pun menggeser tubuhnya menjauh dari Faza. Namun semakin Zahra menjauh semakin mendekat pula Faza padanya.


“Mas apaan sih? Iiihh.. Sana sana jangan mesum...”


Zahra mendorong Faza agar menjauh darinya namun tenaga yang dikeluarkan-nya sama sekali tidak bisa menggeser tubuh Faza menjauh darinya.


“Sayang.. Aku beneran lagi ngidam.. Ini serius. Aku nggak bohong...”


Faza menatap Zahra dengan wajah serius. Faza terus berusaha meyakinkan Zahra bahwa keinginan ingin menciumnya itu adalah sesuatu yang tiba tiba yang Faza sebut sebagai ngidam.


“Ngidam gimana? Yang hamil aku kok kamu yang ngidam.. Aneh banget.” Ketus Zahra melipat kedua tangan-nya dibawah dada.


“Ya kan aku suami kamu sayang..” Balas Faza terus kukuh agar keinginan-nya mencium Zahra terkabul.


Zahra menoleh menatap Faza dengan kedua mata menyipit penuh selidik. Zahra merasa apa yang Faza katakan dengan ingin menciumnya itu hanya sebuah akal akalan saja.


“Gini aja deh kalau kamu nggak percaya. Kamu pegang dan bicara ke perut kamu sekarang. Kalau anak kita nendang keras berarti aku jujur. Tapi kalau anak kita nendangnya pelan berarti aku bohong.” Ujar Faza.


Zahra merasa tidak yakin untuk sesaat namun setelah berpikir lagi Zahra pun setuju. Zahra memegang perutnya dan satu tendangan keras langsung mengenai tangan-nya.


Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna. Keduanya seperti sedang bersekongkol untuk mengerjainya.


“Gimana? Keras nggak nendangnya?” Tanya Faza terus menunggu persetujuan Zahra.


Zahra menelan ludahnya kemudian mengangguk. Saat itu juga Faza langsung tertawa bahagia. Faza bahkan bersorak senang sebelum akhirnya benar benar mencium tepat dibibir Zahra dengan sangat lembut dan tentunya lama.


Zahra memejamkan kedua matanya saat merasakan sentuhan lembut bibir Faza dibibirnya. Zahra berharap tidak ada satupun orang yang melihat apa yang sedang Faza lakukan padanya. Karna jika sampai ada yang melihatnya, baik Zahra maupun Faza pasti akan sangat malu sekali. Bisa juga orang yang melihat mereka menilai mereka berdua adalah pasangan mesum yang tidak kenal tempat saat bermesraan.

__ADS_1


__ADS_2