PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 171


__ADS_3

“Kamu yakin dengan keputusan kamu hem?” Tanya papah Anita pada Anita yang duduk disamping kemudinya.


Anita menganggukan kepalanya dengan senyuman mantap.


“Ya pah.. Aku yakin ini yang terbaik.” Jawabnya.


Papah Anita mengeryit bingung. Pria itu tidak tau kenapa Anita tiba tiba mengundurkan diri dan mengatakan bahwa keputusan-nya mengundurkan diri dari pekerjaan-nya adalah yang terbaik. Rasanya sangat aneh. Apa lagi mengingat karir Anita yang cukup bagus di bidangnya. Jika ditilik dari masalah awalnya papah Anita merasa apa yang Anita lakukan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Hanya karna Rasya membatalkan pernikahan mereka, Anita memutuskan untuk menutup dirinya.


“Kita pulang sekarang?” Tanya papah Anita pelan.


“Eemm.. pah, bisa enggak anterin aku ke suatu tempat? Aku nggak pengin pulang dulu.”


“Memangnya kamu mau kemana?” Tanya papah Anita penasaran.


“Kemana aja asal nggak dirumah pah. Aku nggak mau bikin mamah marah terus sama aku..” Jawab Anita.


Papah Anita menghela napas. Sampai sekarang Anita belum menceritakan sebab Rasya membatalkan rencana pernikahan mereka. Papah Anita sudah mencoba menghubungi Rasya namun tidak mendapat jawaban. Rasya bahkan sepertinya sengaja memblokir nomor papah Anita agar tidak lagi menelepon-nya.


“Rasya itu laki laki yang baik. Siapapun tau itu. Dia pengusaha muda, tampan, ramah, dan terkenal karna kebaikan-nya. Papah yakin Rasya punya alasan kenapa tiba tiba membatalkan pernikahan kalian.”


Anita menahan napasnya sejenak.


“Ya pah.. Memang tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Aku yang salah pah.. Aku yang membuat Rasya membatalkan pernikahan.” Lirih Anita dengan suara bergetar.


Papah Anita menghela napas. Apapun alasan Anita membuat Rasya membatalkan pernikahan pria itu akan mencoba untuk mengerti.


“Kamu bisa menceritakan semuanya sama papah.”


Anita menoleh kemudian tersenyum. Papahnya adalah satu satunya sosok yang selalu mengerti dirinya.


“Kita bicara ditempat yang lebih nyaman ya pah..” Senyum Anita. Saat itu air mata menetes di pipi Anita namun dengan cepat Anita mengusapnya.


“Oke.. Sambil ngopi di cafe bagaimana?”


“Memangnya papah nggak ke kantor?” Tanya Anita bingung.

__ADS_1


“Papah tidak bisa fokus bekerja kalau anak cantik papah masih sedih.” Senyum papah Anita.


Anita tertawa geli.


“Papah bisa aja.”


“Kita jalan sekarang?” Tanya papah Anita.


“Oke pah..” Angguk Anita setuju.


 ---------


Sejak memutuskan untuk membatalkan pernikahan dengan Anita, Rasya benar benar memblokir semua kontak keluarga Anita. Rasya bahkan terus mengurung dirinya dikamar tanpa mau menerima siapapun yang hendak mengajaknya untuk mengobrol.


Suara ketukan pintu membuat Rasya menghela napas. Rasya menatap pintu bercat coklat itu kemudian berdecak.


“Ini aku kak, Tina..”


Rasya kemudian bangkit dari duduknya disofa dan melangkah menuju pintu kamarnya. Rasya membukanya dan menatap Tina yang berdiri dengan membawa senampan makanan ditangan-nya.


“Aku tau kakak pasti bakal bilang begitu. Tapi asal kakak tau, ini adalah hasil masakan aku. Aku hampir 4 jam sibuk sendiri didapur bahkan sampai dimarahin bunda hanya untuk membuatkan makan malam untuk kakak. Kalau kakak masih nggak mau makan juga berarti kakak nggak sayang sama adik kakak yang paling cantik dan imut ini.”


Rasya tertawa pelan mendengar celotehan adik satu satunya itu. Rasya tau adiknya memang sangat perduli padanya.


“Kakak sayang sama kamu dek.. Tapi beneran kakak lagi nggak laper. Kakak males makan.”


Tina berdecak kesal. Tina kemudian masuk kedalam kamar Rasya meletakan nampan yang dibawanya diatas meja didepan sofa yang tadi diduduki oleh Rasya.


“Kakak harus makan pokonya. Aku nggak mau tau. Atau aku bakal pergi dari rumah dan ngekos lagi.” Ancam Tina.


Rasya mengeryit. Tina memang beberapa tahun memutuskan untuk tidak tinggal bersama bunda maupun papahnya sejak keduanya memutuskan untuk berpisah. Dan apa yang Tina lakukan memang berhasil membuat hidup Rasya tidak pernah merasa tenang karna adik semata wayangnya tinggal seorang diri diluar sana tanpa pengawasan dari siapapun.


Rasya kemudian melangkah mendekat pada Tina. Pria itu mencubit gemas kedua pipi chuby Tina.


“Dasar bawel.. Bisanya cuma ngancem..”

__ADS_1


Tina meringis karna cubitan Rasya. Namun Tina tidak marah karna Tina tau sedang seperti apa suasana hati kakaknya sekarang.


“Kamu sendiri sudah makan malam belum?” Tanya Rasya kemudian.


“Sudah dong.. Aku tadi makan bareng sama bunda. Papah juga tadi kesini. Dia nanyain kakak tapi kakak dipanggil panggil malah nggak keluar keluar kata papah.”


Rasya tersenyum tipis. Rasya benar benar tidak ingin diganggu oleh siapapun. Papahnya memang sempat mengetuk pintu dan memanggilnya, namun Rasya tidak memperdulikan-nya. Rasya hanya ingin sendiri tanpa siapapun tanpa terkecuali adik semata wayangnya, Tina.


“Ya udah mending sekarang kakak makan. Abis itu kita main basket yah.. Aku pengin olahraga bareng kakak. Udah lama loh kita nggak main basket bareng kak.”


Rasya mengusap usap puncak kepala Tina. Hanya Tina yang bisa memahaminya. Bahkan bundanya yang menjodohkan-nya dengan Anita tidak perduli meskipun Rasya membatalkan pernikahan.


“Oke..” Angguk Rasya setuju.


Tina kemudian meraih tangan Rasya menariknya dan mengajak untuk Rasya duduk disofa. Dengan sangat bangga Tina mengambilkan makanan untuk Rasya yang kemudian langsung dilahap oleh Rasya sampai habis.


“Bilangnya nggak laper, males makan, tapi abis juga tuh. Bahkan sampai kaya dicuci ini piringnya.” Ujar Tina dengan candaan.


Rasya tertawa. Rasya memang sedang malas makan. Namun rasa lapar sebenarnya tetap Rasya rasakan. Rasya hanya tidak memperdulikan-nya. Rasya sengaja mogok makan agar sakit dan berharap Anita datang meminta maaf padanya kemudian meminta untuk mereka tetap melanjutkan pernikahan.


Pemikiran yang sangat bodoh memang karna Rasya sendiri sudah mengetahui siapa pria yang sebenarnya Anita cintai.


“Abis masakan kamu enak sih. Kakak jadi nggak sadar sampai habis.” Kilah Rasya.


“Huuu.. Dasar. Ya udah kalau gitu aku ganti baju dulu ya kak. Kan kita mau main basket.”


Rasya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Tina kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah cepat keluar dari kamar Rasya tanpa membawa piring kosong, nampan, juga gelas berisi setengah air putih bekas Rasya makan.


Rasya menghela napas setelah Tina keluar dari kamarnya. Rasya belum menceritakan tentang keputusan-nya membatalkan pernikahan dengan Anita pada Tina. Tapi Rasya yakin Tina pasti sudah tau karna bunda dan papahnya yang memberitahu Tina.


“Anita.. Aku kangen sama kamu.. Tapi aku juga sangat kecewa sama kamu..” Lirih Rasya.


Rasya tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Rasya sangat merindukan sosok Anita yang memang hampir setiap hari dia antar jemput saat berangkat dan pulang kerja. Rasya sudah sangat mencintai Anita. Namun sayangnya Rasya harus menelan rasa pahit karna ternyata Anita sama sekali tidak memiliki perasaan apa apa padanya. Sebaliknya Anita malah mencintai Faza, mantan rekan kerjanya yang sekarang menjadi pemimpin diperusahaan tempat Anita bekerja.

__ADS_1


__ADS_2