PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 136


__ADS_3

Saat waktu makan siang tiba Zahra segera menghubungi Faza dan memberitahu dimana dirinya dan Tina berada. Faza yang memang sudah mengatakan akan menyusul segera mengesampingkan pekerjaan-nya.


“Kita pesan makan dulu aja kali ya Tin?”


“Boleh boleh.. Aku juga udah laper.” Setuju Tina.


Zahra kemudian segera memanggil pelayan dan segera memesan makanan untuknya dan Tina. Namun Zahra tidak memesankan untuk Faza juga karna Faza yang baru akan menyusulnya. Menurut Zahra jika memesan sekarang, makanan-nya akan dingin begitu Faza tiba dan itu tentu saja akan sangat mubazir.


“Zahra...”


Tina dan Zahra saling menatap satu sama lain ketika mendengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelinganya. Suara itu suara yang sudah lama tidak mereka berdua dengar tepatnya setelah keduanya sama sama keluar dari pekerjaan-nya beberapa bulan lalu.


Zahra dan Tina dengan kompak menoleh. Mereka terkejut begitu mendapati Santoso sudah berdiri tepat dibelakangnya.


“Ya Tuhan.. Panjang umur sekali orang ini..” Batin Zahra.


Tina dan Zahra kemudian bangkit dari duduknya menatap tidak percaya pada pria berkemeja biru tanpa dasi itu.


Santoso tampak terlihat sangat berantakan, tidak serapi dulu saat masih menjadi bos tempat mereka bekerja.


“Pak..” Senyum Zahra mengangguk pelan.


Santoso tersenyum dan terus menatap pada Zahra. Santoso tidak tau kenapa perasaan itu masih tumbuh subur dihatinya. Perasaan yang selalu berusaha dia lupakan karna Zahra sudah memiliki pasangan.


Sedangkan Zahra, dia langsung mengalihkan pandangan-nya. Zahra tidak ingin Santoso salah mengartikan maksud beramah tamahnya.


Tina yang berada diantara mereka menatap kesal pada Santoso yang terus saja menatap Zahra dan seolah tidak menganggapnya ada disana.


“Ekhem !!” Tina sengaja berdehem keras namun sepertinya Santoso sedang asik dengan dunianya sendiri menatap Zahra yang sudah lama tidak dilihatnya.


Karna tidak juga berhasil menyadarkan Santoso dengan deheman kerasnya, Tina pun menendang kursi yang ada disampingnya sampai mengenai kaki Santoso dan cara itu ternyata berhasil menyadarkan Santoso.


“Ya Tuhan..” Gumam Santoso terkejut.


Tina memutar jengah kedua bola matanya. Malas sebenarnya jika berhadapan dengan mantan bos arogan-nya itu.


“Eemm.. Kalian berdua apa kabar?” Tanya Santoso tersenyum tipis menatap Tina dan Zahra bergantian.


“Kami berdua sangat baik pak.” Jawab Zahra pelan.


Santoso mengangguk pelan. Pria itu mencuri pandang pada perut besar Zahra. Rasa ngilu tiba tiba mendera hatinya mengingat Zahra yang sedang mengandung buah cintanya dengan Faza.

__ADS_1


“Permisi nyonya.. Silahkan pesanan-nya..” Ujar seorang pelayan direstoran itu sambil menaruh pesanan Zahra dan Tina diatas meja.


“Oh ya.. Terimakasih ya mbak..” Senyum Zahra pada pelayan tersebut.


“Sama sama nyonya..” Balas si pelayan sebelum berlalu.


Tina menghela napas kesal. Ingin sekali rasanya Tina melempar makanan panas diatas meja pada wajah memuakkan Santoso.


“Eemm.. Boleh saya bergabung dengan kalian?” Tanya Santoso membuat Zahra dan Tina kembali saling menatap.


Zahra bingung harus mengiyakan atau tidak. Namun tatapan dan gelengan pelan kepala Tina menjadi kode keras untuk Zahra yang semakin membuat Zahra bimbang.


“Sudah lama sekali yah kita tidak bertemu.”


Tina mendelik kesal karna Santoso duduk begitu saja tanpa di iyakan pertanyaan-nya. Pria itu bahkan sok ramah dan asik pada Tina juga Zahra.


“Kok bapak main duduk aja? Memang nya saya dan Zahra mengiyakan untuk bapak bergabung dengan kami?”


Dengan perasaan dongkol Tina memberanikan diri berkata sinis pada Santoso. Tina tidak takut merasa takut sedikitpun pada mantan bosnya itu. Karna selain apa yang dia miliki jauh lebih banyak dari yang Santoso punya, Tina juga tidak bisa melupakan begitu saja apa yang Santoso lakukan pada Zahra dulu. Santoso begitu semena mena hanya karna perasaan-nya yang bertepuk sebelah tangan.


Senyuman Santoso lenyap. Santoso diam sesaat sebelum akhirnya kembali bangkit berdiri dari duduknya.


“Nona Renaldi.. Anda memang sangat suka sekali bercanda. Tidak jauh berbeda dengan ayah dan kakak anda..”


“Jangan sok kenal dengan keluarga saya pak.” Balasnya ketus.


“Baik kalau begitu. Ya sudah saya permisi dulu. Mari Zahra..”


Zahra hanya mengangguk pelan dengan senyuman paksanya. Zahra sendiri sebenarnya juga tidak nyaman dengan keberadaan Santoso disekitarnya.


Santoso tersenyum menatap Zahra sebelum berlalu. Namun baru beberapa langkah menjauh, Santoso kembali menoleh dan menatap penuh arti pada Zahra yang langsung mengalihkan perhatian-nya ke arah lain.


“Dasar tua bangka tidak tahu malu.” Umpat Tina kesal.


“Sudah sudah.. Lebih baik sekarang kita makan. Aku udah laper banget Tin..” Kata Zahra.


Zahra kembali duduk dikursinya kemudian segera menyantap makanan-nya tidak ingin ambil pusing dengan pertemuan tidak terduganya dengan Santoso.


Tidak lama berselang setelah Santoso keluar dari restoran itu, Faza masuk. Pria itu mengedarkan pandangan-nya mencari sosok istrinya.


Karna tidak kunjung menemukan Zahra ditengah keramaian para pengunjung lain direstoran itu, Faza pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana bahan warna hitamnya. Faza segera menghubungi Zahra dan mengatakan bahwa dirinya sudah berada didalam restoran tempat Zahra dan Tina berada.

__ADS_1


Setelah Zahra memberitahu bahwa dirinya berada disudut ruangan di restoran itu, Faza segera menghampirinya.


“Mas mau makan apa? Biar aku pesenin.” Ujar Zahra setelah Faza duduk disampingnya.


“Samain aja sama kamu sayang..” Jawab Faza.


Tina yang berada diantara keduanya merasa seperti obat nyamuk. Apa lagi saat Faza dengan lembut mengelap sudut bibir Zahra.


“Eemmm.. Ra, kayanya aku harus pulang sekarang deh..”


“Loh kenapa?” Tanya Zahra bingung.


“Eemm.. Aku ada janji sama kak Rasya..” Jawab Tina berbohong demi bisa menjauh dari Zahra dan Faza.


“Oohh.. Begitu ya? Ya udah deh.. Makasih ya Tin kamu udah temenin aku jalan.. Kamu hati hati dijalan. Jangan ngebut ngebut.” Ujar Zahra dengan tulus.


“Iyaa.. Santai aja kali Ra.. Ya udah aku duluan yah.. Mas aku duluan..”


“Oke.. Hati hati.” Angguk Faza tersenyum tipis.


“Iya...”


Tina kemudian bangkit dari duduknya tanpa memikirkan makanan yang baru sedikit di makan-nya. Tina buru buru berlalu meninggalkan Zahra berdua dengan suaminya.


“Tadi kemana aja sama Tina?” Tanya Faza pada Zahra.


“Eemmm.. Enggak kemana mana sih.. Cuma tadi makan ice cream sambil ngobrol ngobrol terus kesini buat makan siang.” Jawab Zahra.


“Ooh.. Bagaimana kalau abis ini kita belanja?”


“Hah? Belanja?” Tanya Zahra bingung.


“Iya belanja.. Kita kan belum membeli satupun keperluan buat anak kita...”


Zahra diam sebentar. Mereka memang belum membeli apapun yang nanti akan sangat dibutuhkan saat anak mereka lahir.


“Memangnya kamu nggak sibuk mas?” Tanya Zahra kemudian.


“Enggak terlalu sibuk sebenarnya. Aku bisa menunda sebentar pekerjaanku kok. Gimana?”


“Ya udah deh kalau gitu.”

__ADS_1


“Ya udah abisin makan-nya abis itu kita langsung ke mall dekat dekat sini.” Senyum Faza menatap penuh perhatian pada Zahra.


__ADS_2