PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 182


__ADS_3

Seharian Faza tidak bisa fokus dengan pekerjaan-nya. Faza bahkan sampai beberapa kali di ingatkan oleh Reyhan.


Hal itu membuat Reyhan bertanya tanya. Ingin bertanya tapi ragu. Tidak bertanya penasaran.


“Pak maaf.. Apa anda baik baik saja?” Pada akhirnya Reyhan memberanikan diri untuk bertanya pada Faza yang beberapa kali terlihat gusar saat membaca berkas yang harus dia tanda tangani.


Faza menarik napas panjang kemudian menaruh berkas yang sedang dibacanya. Faza memijat pelan pangkal hidungnya. Jelas sekali pria itu sedang mempunyai banyak pikiran yang tentu membebani hati dan otaknya.


“Saya baik baik saja Rey. Hanya sedikit merasa tidak enak saja.”


Reyhan sudah menduga. Pria itu kemudian menarik kursi dan mendudukan dirinya didepan Faza.


“Anda perlu bantuan saya pak?” Tanya Reyhan pelan.


Faza menatap Reyhan bingung. Sebenarnya masalah yang sedang dihadapinya bukan masalah pekerjaan. Dan Faza pikir tidak seharusnya Faza menyusahkan Reyhan dengan meminta bantuan Reyhan akan masalah yang sedang menghantuinya itu.


”Terimakasih atas tawaran-nya Reyhan. Tapi ini bukan masalah pekerjaan.” Jawab Faza tersenyum.


Reyhan menghela napas gusar. Entah kenapa Reyhan merasa sangat senang jika bisa membantu siapapun. Reyhan selalu merasa berguna jika dirinya bisa membatu orang lain apapun masalahnya.


“Saya akan sangat senang jika bisa membantu meringankan beban pikiran anda pak Faza.” Katanya membuat Faza tertawa. Faza berpikir dirinya tidak salah memilih Reyhan sebagai sekretaris sekaligus asisten-nya.


“Kamu memang sangat pengertian juga baik Reyhan. Tapi saya serius. Saya bisa menghadapi semua ini sendiri nanti.”


Reyhan mengangguk mengerti. Menawarkan bantuan tidak harus memaksa bukan?


“Ya pak. Tapi kalau pak Faza membutuhkan bantuan saya, pak Faza jangan sungkan. Apapun masalahnya saya siap membantu.” Senyum Reyhan memahami.


“Ya.. Oke..” Angguk Faza kemudian kembali membaca berkas yang sedang Reyhan tunggu untuk diberi tanda tangan.


Setelah memberikan tanda tangan-nya, Faza pun menyerahkan map berisi berkas tersebut kembali pada Reyhan.


“Kalau begitu saya permisi pak.”


“Ya, silahkan.”


Reyhan bangkit dari duduknya kemudian melangkah keluar dari ruangan Faza. Reyhan benar benar merasa tidak tega melihat Faza yang tampak tidak berkonsentrasi dalam pekerjaan-nya siang ini.


“Apa mungkin ini masalah keluarga?” Gumam Reyhan bertanya tanya dalam hati.


Sementara Faza, pria itu menghela napas setelah Reyhan keluar dari ruangan-nya. Masalah demi masalah datang silih berganti. Belum selesai masalah tentang Santoso kini hadir masalah Fadly. Sebenarnya Faza tidak ingin memikirkan-nya namun bagaimanapun juga Fadly adalah adik satu satunya yang harus Faza perdulikan.

__ADS_1


“Hufft.. Lebih baik sekarang aku fokus kerja dulu. Setelah itu baru aku pulang dan membicarakan ini dengan Zahra”.


---------


Suara ketukan pintu membuat Zahra yang sedang mengeringkan rambutnya menoleh. Zahra pelan pelan bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya.


“Eh mbak.. Ada apa?” Tanya Zahra begitu mendapati mbak Lasmi berdiri didepan pintu kamarnya.


“Nyonya.. Maaf saya mengganggu.” Angguk mbak Lasmi pelan.


“Iya.. Nggak papa kok mbak.” Senyum Zahra.


“Nyonya.. Dibawah ada nona Loly. Dia mencari nyonya dan tuan.”


Zahra mengeryit mendengar apa yang mbak Lasmi katakan. Loly sudah lama tidak datang kerumahnya.


“Loly sama mamah ya mbak?” Tanya Zahra lagi.


“Tidak nyonya, nona Loly hanya sendiri. Dia sedang menunggu nyonya diruang tamu.”


Zahra menelan ludahnya. Dalam hatinya Zahra merasa sangat bersyukur karna Loly tidak datang dengan mamah mertuanya, Sinta. Zahra berpikir jika niat Loly tidak baik datang kerumahnya, paling tidak Zahra bisa menghadapinya tanpa harus memikirkan etika didepan mamah mertuanya.


“Ya sudah mbak tolong buatin minum dulu untuk Loly. Saya akan segera turun setelah menyisir rambut saya.” Ujar Zahra dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.


Zahra menghela napas setelah mbak Lasmi berlalu. Zahra tidak bisa menebak apa tujuan Loly datang sore ini. Tapi Zahra sangat berharap kedatangan Loly bukan untuk mencari masalah dengan-nya.


Zahra kembali menutup pintu kamarnya kemudian melanjutkan mengeringkan rambutnya. Setelah dirasa rambutnya sudah tidak lagi basah, Zahra pun menyisirnya.


Setelah selesai, Zahra meletakan kembali sisir tersebut ditempatnya. Zahra kemudian mengecek penampilan-nya sebelum akhirnya melangkah keluar dengan langkah pelan dari kamarnya.


Cukup lama Zahra menuruni satu persatu anak tangga mengingat perutnya yang sudah membesar. Saat menunduk bahkan Zahra sudah tidak bisa lagi melihat kakinya sendiri. Tentu saja karna terhalang oleh perutnya yang besar.


Zahra akhirnya sampai dilantai dasar kediaman-nya. Zahra menghela napas lagi. Menuruni anak tangga tanpa bantuan dari mbak Lasmi ataupun suaminya Faza adalah sesuatu yang sangat menegangkan menurutnya. Zahra harus sangat berhati hati dalam melangkah karna salah sedikit saja kakinya bisa tergelincir yang pasti akan sangat berakibat fatal dengan kandungan-nya.


Pelan pelan Zahra melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dimana Loly sedang menunggunya. Begitu sampai disana Zahra mendapati Loly yang sedang duduk diam dengan pandangan lurus kedepan. Loly menyenderkan punggungnya disandaran sofa dengan tatapan sendu kedepan.


“Loly...”


Panggilan Zahra berhasil menarik perhatian Loly. Loly menoleh dan menatap Zahra dengan kedua matanya yang sembab.


Melihat itu Zahra terkejut. Tanpa bertanya Zahra sudah bisa menebak bahwa Loly habis menangis.

__ADS_1


Zahra menelan ludahnya kemudian melangkah mendekat ke sofa yang diduduki Loly. Zahra memposisikan dirinya disamping Loly dengan jarak sekitar setengah meter.


“Apa aku mengganggu?” Tanya Loly pelan.


Zahra tidak langsung menjawab. Loly datang tidak dengan ekspresi seperti biasanya. Loly terlihat sangat tidak bersemangat.


“Tidak..” Geleng Zahra menjawab.


Loly kembali meluruskan pandangan-nya sembari menghela napas.


“Syukurlah..” Gumamnya.


Hening.


Loly diam dengan sesekali menarik napas panjang. Sedangkan Zahra, dia menunggu apa yang ingin Loly katakan padanya.


“Aku tidak tau aku benar atau salah datang kesini. Tapi aku benar benar tidak tau lagi harus kemana. Aku tidak tau harus mengadu pada siapa.”


Zahra hanya diam saja. Zahra tidak tau apa yang sedang Loly maksud.


“Ini tentang Fadly..” Ujar Loly membuat Zahra mengeryit merasa sangat penasaran.


Loly menundukan kepalanya sebentar kemudian menoleh pada Zahra.


“Maaf, memangnya kenapa dengan Fadly?” Tanya Zahra hati hati membalas tatapan Loly padanya.


Loly menggelengkan kepalanya.


“Aku dulu benci banget sama kamu Zahra. Aku bahkan pernah mempunyai niat untuk menghancurkan hubungan kamu dan mas Faza. Aku jahat banget. Tapi aku tau kamu orang yang baik. Kamu nggak punya dendam kan sama aku?”


Zahra hanya diam saja. Zahra tau Loly sedang membutuhkan pendengar yang baik.


“Rasanya lucu tiba tiba aku mencurahkan isi hati aku sama kamu. Tapi Zahra, aku benar benar tidak tau lagi harus kemana sekarang. Fadly.. Dia pergi tanpa mengatakan apapun padaku. Tapi lucunya dia datang semalam menemui sekretaris aku dan mengatakan akan ada pekerjaan diluar kota hari ini. Bukankah itu sangat aneh? Kami dekat tapi tiba tiba Fadly berubah. Fadly bahkan tidak pernah memperjelas hubungan ini.”


Loly bercerita sambil menangis. Suaranya bahkan sesekali melirih karna tangisan-nya.


Mendengar itu Zahra benar benar sangat terkejut. Zahra juga tau bahwa keduanya sedang dekat. Tapi Zahra tidak menyangka jika pria sebaik Fadly bisa bersikap demikian pada wanita yang sedang didekatinya.


“Loly.. Mungkin kamu hanya salah paham.”


Loly tertawa dalam tangisnya.

__ADS_1


“Aku juga berharap seperti itu Zahra. Tapi nyatanya selama kami dekat sekalipun Fadly tidak pernah mengatakan tentang perasaan-nya. Dia hanya memberiku harapan yang semakin hari semakin dia pupuk sehingga aku seperti diterbangkan. Dan sekarang.. Aku merasa jatuh. Aku sakit Zahra..”


Zahra menelan ludahnya. Ini adalah kali pertama Loly bercerita panjang lebar padanya. Dan Zahra tidak tau harus bagaimana sekarang bersikap didepan Loly.


__ADS_2