PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 229


__ADS_3

“Apa kamu gugup?” Tanya Faza pada Reyhan yang berada disamping kemudinya.


Ya, malam ini memang Faza sengaja mengistimewakan Reyhan karena Reyhan yang akan melamar Tina didepan kedua orang tuanya. Faza bahkan dengan suka rela menjadi supir untuk Reyhan.


“Jujur iya pak.. Saya sangat sangat gugup sekarang..” Jawab Reyhan dengan jujur.


Faza tertawa pelan. Faza yakin rasa gugup yang sedang dirasakan oleh Reyhan adalah bentuk dari sebuah perasaan lega yang tertunda karena sebentar lagi hubungan-nya dengan Tina akan semakin jelas.


“Istri saya menitip support semangat pada saya untuk kamu.. Dia bilang kamu harus yakin bahwa Tina pasti akan menjadi satu satunya milik kamu.” Ujar Faza dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya.


“Terimakasih pak.. Terimakasih banyak atas support dari ibu Zahra. Saya juga sangat berharap demikian..” Balas Reyhan merasa senang mendapat dukungan dari istri atasan-nya yang tidak lain juga adalah sahabat dari Tina, wanita yang sangat di cintainya.


Reyhan menghela napas sekali lagi. Malam ini akan menjadi malam bersejarah dalam hidupnya.


Renaldi memang sudah menyatakan persetujuan-nya saat dirumah sakit. Tapi ekspresi bunda Tina yang hanya diam saja saat itu membuat Reyhan merasa takut. Ditambah lagi dengan tatapan marah dan mengintimidasi Rasya padanya. Itu benar benar membuat kebahagiaan Reyhan terasa belum lengkap.


Dan malam ini Reyhan sangat berharap bunda dari pujaan hatinya itu tersenyum menyambut kedatangan-nya begitu juga dengan Rasya.


“Sudah tidak perlu khawatir. Bukankah kamu sudah kenal baik dengan pak Renaldi juga pak Rasya?”


Reyhan menelan ludah. Mereka memang sangat baik dan ramah padanya. Tapi sejak Tina masuk rumah sakit Rasya menjadi sedikit ketus padanya.


“Ya pak, mereka orang orang yang baik.” Angguk Reyhan tidak ingin terlalu berprasangka buruk pada Rasya.


-----------


Disisi lain tepatnya dikamar Tina sedang merias dirinya dibantu oleh perias wanita dari salon ternama yang memang sengaja diundang oleh Renaldi untuk mendandani putri bungsu kesayangan-nya itu.


Gugup, itu yang sedang Tina rasakan sekarang. Tubuhnya berkeringat sehingga si perias harus beberapa kali menghapus peluh dikening Tina dan kembali memoles bedak disana.


Tina tidak menyangka hari ini akan tiba begitu cepat. Reyhan akan datang dan melamarnya dengan resmi didepan keluarganya.


Tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat Tina tersentak. Asisten perias yang sedang menyiapkan semua alat make up yang dibutuhkan segera melangkah menuju pintu karna tidak mau tugas perias itu terganggu karena suara ketukan pintu tersebut.


“Boleh saya masuk?” Tanya Rasya pada asisten perias tersebut.


“Tentu saja boleh tuan. Silahkan.”


Rasya kemudian masuk kedalam kamar Tina dan duduk ditepi ranjang tidak jauh dari kursi tempat adik satu satunya sedang di dandani.


Rasya menghela napas. Sejak Tina masuk rumah sakit karena pingsan entah kenapa Rasya menjadi sedikit tidak percaya pada Reyhan. Rasya menganggap Reyhan tidak bisa menjaga adiknya dengan benar.


“Kak.. Apa bunda sudah datang?” Tanya Tina melirik sekilas pada Rasya.


“Bunda masih dijalan. Mungkin sebentar lagi sampai.” Jawab Rasya pelan.


Berat rasanya jika Rasya harus memasrahkan semua keamanan adiknya pada Reyhan. Reyhan memang baik tapi jika untuk memastikan keamanan Tina, Rasya belum bisa sepenuhnya percaya.


Tidak lama Rasya duduk, Tina pun selesai didandani. Si perias kemudian mengajak Tina kekamar mandi untuk membantu Tina mengenakan gaun-nya.


“Anda benar benar sangat cantik nona. Calon suami anda pasti akan sangat terpesona menatap anda nanti...” Kata si perias saat membantu Tina mengenakan gaun warna putih tulang itu.


“Terimakasih. Ini juga berkat anda.” Balas Tina membuat si perias tersenyum.


Selesai mengenakan gaun itu Tina pun keluar dari kamar mandi dengan perias tersebut. Tina tersenyum ketika mendapati sang kakak yang masih setia duduk ditepi ranjang.


“Kak..” Panggil Tina melangkah mendekat pada Rasya.


Rasya menoleh. Rasya tidak bisa munafik. Tina tampak sangat cantik dengan penampilan-nya malam ini. Rasya bahkan hampir tidak mengenali sosok didepan-nya.


“Eemm... Bisa tolong tinggalkan kami berdua?” Tanya Rasya menatap perias yang berdiri disamping Tina.


“Oh ya tuan. Kami permisi.” Senyum wanita itu kemudian berlalu dengan mengajak asisten-nya keluar dari kamar Tina.


Rasya menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Rasya menatap Tina yang terus saja tersenyum menatapnya.

__ADS_1


“Dek.. Apa kamu yakin dengan keputusan kamu menerima lamaran dari Reyhan? Kamu siap dengan segala konsekuensinya?”


Tina mengeryit.


“Maksud kakak apa?” Tanya Tina tidak mengerti dengan apa yang Rasya maksud konsekuensi.


“Dek.. Menjalin hubungan itu tidak mudah. Kakak sudah mengalaminya sendiri. Kakak bahkan hampir putus asa dengan rasa sakitnya.. Apa lagi Reyhan, maaf bukan kakak menghina. Tapi Reyhan hanya asisten Faza. Kakak takut kamu tidak bisa mendapatkan apa yang kamu mau nantinya.”


Tina tertawa mendengar apa yang Rasya katakan. Tina tau Rasya mengatakan itu karna Rasya sangat menyayanginya.


“Kak...” Tina meraih kedua bahu tegap Rasya menepuknya pelan.


“Aku dan Reyhan saling mencintai. Aku siap menerima Reyhan dengan segala kekurangan-nya. Begitu juga sebaliknya. Aku sangat yakin dengan keputusan aku kak.. Karna sebenarnya aku mencintai Reyhan jauh sebelum Tuhan mempertemukan kami kembali.”


Jeda sejenak. Kedua tangan Tina turun dari kedua pundak Rasya kemudian meraih dan menggenggam erat tangan besar Rasya.


“Aku tau kakak ngomong begini karna kakak sayang sama aku.. Tapi kak, tolong percaya sama aku.. Percaya dengan keputusan aku..” Lanjut Tina pelan.


Rasya menelan ludah mendengarnya. Pria itu tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.


“Oke.. Kakak percaya. Selamat berbahagia ya dek.. Walaupun nanti kamu punya penjaga baru tapi kakak juga akan tetap disini mengawasi dan memastikan kamu akan selalu baik baik saja.”


Tina benar benar merasa sangat terharu. Kakaknya begitu manis dan romantis. Tina berani bertaruh siapapun wanita yang menjadi pemilik hati Rasya nanti, dia adalah wanita yang sangat beruntung.


“Makasih kak.. Aku sayang banget sama kakak..”


Sebisa mungkin Tina menahan air matanya agar tidak menetes. Tina tidak mau air mata harunya itu merusak riasan diwajahnya. Riasan yang membuat tubuh Tina terasa sangat kaku juga pegal karena harus duduk hampir dua jam dikursi tanpa bisa leluasa bergerak.


Rasya tersenyum kemudian merentangkan kedua tangan-nya menyuruh agar Tina memeluknya.


Dan tentu saja Tina langsung berhambur memeluk erat tubuh tinggi tegap kakak satu satunya itu. Tina juga selalu mendo'akan segala yang terbaik untuk kakak kesayangan-nya itu.


“Berjanjilah tidak melupakan kakak dek.. Jangan membuat kakak merasa kehilangan kamu setelah ini. Tetaplah percaya dan manja pada kakak.. Oke?” Kata Rasya dibalik punggung Tina.

__ADS_1


Tina menganggukan kepalanya. Tina juga tidak mungkin melupakan begitu saja jasa kakaknya yang selalu ada untuknya.


“Itu pasti kak..”


__ADS_2