PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 240


__ADS_3

Setelah sarapan, Faza mengajak Zahra untuk keliling dengan berjalan kaki. Mereka juga membawa Fahri yang ditaruh baby stroller dengan Faza yang mendorongnya.


“Udah lama banget yah kita nggak jalan jalan begini sayang. Kayanya terakhir kita jalan pas kamu hamil 8 atau 7 bulan deh..”


Zahra tertawa mendengarnya. Tentu saja mereka tidak pernah lagi jalan berdua mengingat Faza yang selalu sibuk dengan pekerjaan-nya.


“Oh ya sayang.. Setelah makan siang nanti kita ziarah ke makam ayah sama ibu yuk? Sekalian kita cek rumah.. Ajak mbak Lasmi juga biar sekalian dibersihin.”


Zahra tampak diam. Semalam saat menelepon Aries mengatakan akan datang siang ini. Itu artinya mereka berdua tidak bisa kemana mana.


“Eemmm.. Kayanya ziarahnya minggu depan aja deh mas. Kak Aries bilang mau datang nanti siang semalam. Dia juga titip salam buat kamu loh..”


“Oh ya?”


Faza tersenyum merasa bahagia. Aries menitipkan salam pada Zahra untuknya. Itu artinya Aries sudah bisa menerimanya lagi seperti dulu.


“Ya udah deh kalau begitu. Minggu depan aja.” Angguk Faza mengerti.


Mereka berdua kembali melangkah pelan dengan obrolan ringan. Pagi ini benar benar menjadi minggu pertama yang paling mengesankan bagi Zahra dan Faza. Karena ini adalah kali pertama mereka jalan bertiga keliling kompleks sejak Fahri lahir kedunia.


“Mas itu bukan-nya mobil Fadly?”


Zahra mengikuti arah pandang istrinya ketika mendengar apa yang Zahra katakan. Faza mengangguk pelan.


“Ya.. Itu mobil Fadly. Mungkin dia mau kerumah.”


Zahra mengangguk pelan. Memang sudah biasa jika Fadly berkunjung saat hari minggu tiba.


“Sebaiknya kita pulang sekarang sayang. Fadly pasti kerumah karna ingin bermain dengan Fahri.”


“Iya mas..” Balas Zahra menurut saja.


Mereka berdua mempercepat langkahnya menuju jalan pulang. Begitu sampai dirumah keduanya terkejut karena ternyata Fadly tidak datang sendiri. Ada Akbar juga Sinta disana.


Faza melirik Zahra sesaat. Faza mulai khawatir karena kehadiran mamahnya. Faza yakin mamahnya pasti akan mengeluarkan kata kata pedas pada istrinya.

__ADS_1


Zahra tersenyum kikuk kemudian segera menyalimi Akbar yang disambut dengan hangat oleh Akbar. Namun saat Zahra mengulurkan tangan-nya untuk menyalimi Sinta, Zahra tidak langsung mendapatkan sambutan. Sinta diam dengan tatapan jengah padanya. Meskipun akhirnya Sinta pun menerima saliman dari menantu pertamanya itu.


“Zahra, selamat ulang tahun ya nak.. Semoga kamu sehat selalu, panjang umur, dan terus menjadi istri yang baik untuk Faza..” Ujar Akbar yang membuat Zahra kaget.


Zahra tidak menyangka papah mertuanya juga tau bahwa kemarin adalah hari ulang tahun-nya.


Mengerti dengan keterkejutan Zahra, Akbar pun tertawa.


“Fadly yang kasih tau papah..” Katanya memberi penjelasan.


Zahra menatap Fadly yang hanya tersenyum tipis. Zahra kemudian tertawa. Rasa syukur kembali Zahra panjatkan dalam hati pada sang pencipta karena hidupnya dikelilingi oleh orang orang baik.


“Terimakasih banyak pah.. Terimakasih Fadly.. Dan mamah.. Terimakasih juga.” Senyum Zahra tulus.


Faza ikut tersenyum merasa senang karena papahnya begitu baik pada istrinya.


“Mamah tidak merasa melakukan apapun disini. Mamah juga tidak mengucapkan apapun dihari yang menurut kalian itu hari penting. Jadi mamah rasa tidak perlu berterimakasih.” Ujar Sinta dengan angkuhnya.


Senyuman dibibir Zahra sama sekali tidak luntur mendengarnya. Akbar saja bisa luluh dan menyayanginya, kenapa Sinta tidak? Zahra akan terus menanti hari itu datang dimana Sinta mengukir senyuman tulus saat menatapnya. Zahra tau Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan selalu tau apa yang terbaik untuknya.


Akbar yang merasakan suasana tegang karena emosi terpendam Faza pun berusaha mengalihkan perbincangan itu.


“Ah ya Zahra, papah juga punya sesuatu buat kamu. Papah minta maaf sebelumnya karena papah tidak tau apa yang kamu suka jadi papah membelinya menggunakan saran dari Fadly.” Ujar Akbar dengan tawa pelan-nya.


Fadly meringis. Malu sekali rasanya karena Fadly menganggap dirinya sok tau.


Tangisan Fahri yang masih berada di baby stroller membuat semua perhatian teralihkan padanya. Fadly dan Akbar menatap gemas pada bayi tampan yang sedang dibopong dark baby strollernya oleh Zahra.


“Eemm.. Pah, Ly sekali lagi terimakasih untuk semuanya ya.. Zahra masuk dulu mau menyusui Fahri.” Ujar Zahra dengan pelan dan sopan.


“Oh ya.. Setelah Fahri menyusu tolong berikan pada papah. Papah sangat ingin sekali menggendongnya.” Senyum Akbar dengan anggukan kepala pelan.


“Ya pah.. Zahra permisi.”


Sinta menghela napas pelan dengan memutar jengah kedua bola matanya. Muak rasanya melihat Zahra yang dia anggap hanya sedang bersandiwara didepan keluarganya.

__ADS_1


Sedang Faza, pria itu sedari tadi diam. Faza merasa sangat tidak dihargai oleh mamahnya sendiri sekarang. Karena dengan Sinta terus bersikap sinis pada Zahra itu sama saja Sinta tidak menghargai keputusan Faza. Sinta tidak menghormati apa yang menjadi pilihan Faza. Dan Faza merasa sangat kecewa bahkan sakit hati dengan perlakuan Sinta terhadap istrinya.


“Eemm.. Faza bagaimana perkembangan perusahaanmu?” Tanya Akbar yang berusaha mencairkan suasana.


Faza menghela napas kemudian mencoba tersenyum ditengah rasa kecewanya terhadap sang mamah. Faza tidak ingin kecewa membakar hati dan pikiran-nya sehingga buta dan membenci wanita yang sudah berjasa melahirkan-nya.


“Sejauh ini semuanya berkembang dengan baik pah..” Jawab Faza pelan.


Sedangkan Sinta, wanita itu hanya diam saja. Dan ketika suami dan kedua putranya mulai larut dengan obrolan-nya, Sinta pun bangkit dari duduknya diruang tamu kemudian masuk tanpa disadari oleh Akbar juga Fadly.


Tapi Faza, pria itu melihat mamahnya yang melangkah masuk kedalam secara diam diam. Seketika rasa khawatir langsung hinggap dihati Faza.


“Pah, Ly, sebentar ya.. Aku kekamar mandi dulu sebentar.” Ujar Faza beralasan kemudian bangkit dari duduknya dan menyusul Sinta.


Sementara Sinta, wanita itu baru saja hendak menaiki anak tangga ketika mendengar suara Fahri. Sinta mengeryit kemudian mengikuti arah suara Fahri.


Sinta tersenyum sinis ketika mendapati Zahra yang sedang mengajak putranya yang sedang menyusu mengobrol didalam ruang keluarga. Pelan pelan Sinta melangkah mendekat dan berdiri tepat dibelakang Zahra.


“Apa kamu merasa menang sekarang Zahra?”


Senyuman Zahra saat menatap Fahri perlahan pudar. Zahra menghela napas pelan kemudian bangkit dari duduknya disofa dan berbalik menghadap Sinta yang berdiri dengan melipat kedua tangan-nya dibawah dada begitu angkuh.


“Zahra nggak tau apa maksud mamah.. Tapi jujur Zahra sangat bahagia dengan kedatangan papah, mamah, juga Fadly kesini.” Senyum Zahra dengan tenang.


Sinta tersenyum sinis.


“Tentu saja kamu bahagia. Hadiah yang diberikan papah juga Fadly bukan barang murahan.”


Zahra menghela napas pelan. Meyakinkan Sinta memang bukan hal yang mudah.


“Kamu mungkin merasa diatas awan sekarang Zahra. Tapi mamah.. Sampai kapanpun mamah nggak akan bisa menerima kamu. Kamu akan tetap orang asing bagi mamah.” Lanjut Sinta.


Zahra tetap tersenyum. Hatinya sudah kebal dengan sikap dan perilaku Sinta padanya. Maka dari itu Zahra tetap berusaha tenang meskipun sebenarnya hatinya ingin sekali protes dengan apa yang Sinta katakan.


Dari depan pintu yang terbuka Faza mendengar semuanya. Kedua tangan-nya mengepal erat. Menengahi keduanya hanya akan membuat Faza bingung. Tapi diam juga bukan cara yang baik.

__ADS_1


“Faza benar benar kecewa sama mamah..” Batin Faza meneteskan air mata pertanda rasa sedih, kecewa, emosi yang sedang bercampur menjadi satu dan menghimpit hati nya.


__ADS_2