
“Jadi suaminya Zahra minta kamu buat cari tau tentang pak Santo?” Tanya Tina pada Reyhan yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
Ya, Reyhan memang baru saja menjemput Tina dari bandara. Reyhan juga mengenalkan dirinya pada kakak dan papah Tina sebagai teman dekat Tina.
“Ya, tapi tunggu. Kok kamu kenal pak Susanto?” Jawab Reyhan kemudian bertanya dengan wajah bingung juga penasaran.
“Tentu saja aku kenal dia. Aku bahkan sangat mengenal dia Rey..”
“Oh ya? Kok bisa?”
“Ya bisalah, orang dia juga mantan bos aku.. Dulu aku sama Zahra kerja direstoran milik pak Santo. Dan pasti suaminya Zahra minta kamu buat cari tau tentang pak Santo karna pak Santo yang gangguin Zahra kan?”
“Ya, tepat sekali.” Jawab Reyhan.
Tina mengangguk anggukan kepalanya mengerti. Tina sendiri juga mengerti sejak dulu bahwa Santoso memiliki rasa yang tidak biasa pada Zahra.
“Sepertinya kamu tau banyak tentang pak Santoso.”
“Tentu saja. Aku bahkan bisa bantu kamu untuk mencari tau lebih banyak tentang pak Santo.” Senyum Tina menatap Reyhan.
“Jujur aku tidak ingin merepotkan kamu. Tapi kalau kamu bersedia buat bantu aku, aku nggak bisa menolak karna aku juga butuh partner untuk misi ini.”
Tina tertawa mendengarnya. Reyhan memang bukan pria naif. Dan Tina suka dengan sikap Reyhan yang begitu jujur dan terbuka.
Reyhan melirik Tina yang tertawa disampingnya. Pria itu tersenyum penuh arti. Misi mencari tahu tentang siapa Santoso bukanlah hal sulit untuknya. Tapi Jika memang Tina bisa membantunya Reyhan tidak akan menolak. Karna Reyhan yakin dengan mereka bersama sama menyelidiki tentang Santoso, hubungan mereka juga akan semakin dekat. Tentu saja karna mereka berdua akan semakin sering bertemu.
“Bagaimana kalau kita makan siang dulu?” Tawar Reyhan pada Tina.
“Eemm.. Boleh. Aku juga sedikit merasa lapar. Tapi emangnya waktu kerja kamu nggak keganggu?”
“Aku sudah minta izin pada pak Faza tadi. Dan pak Faza mengerti.” Ujar Reyhan.
“Oke deh kalau begitu.” Angguk Tina menatap sekilas pada Reyhan.
Tina menghela napas. Tina menatap jalanan ramai yang sedang mereka lewati. Rasanya benar benar seperti mimpi. Tina bisa dekat dan sering bersama dengan Reyhan.
Tina melirik sekilas pada Reyhan kemudian tersenyum. Reyhan adalah pria yang sangat Tina inginkan kehadiran-nya. Pria yang tidak sengaja Tina temui dijalan dan langsung membuat Tina tertarik pada pandangan pertama.
“Kita mau makan dimana?” Tanya Reyhan pada Tina.
__ADS_1
“Eemm.. Aku boleh milih nih?” Tanya balik Tina tersenyum pada Reyhan.
“Ya.. Aku ikutin apa mau kamu.” Senyum Reyhan.
“Ya udah deh.. Gimana kalau kita makan bakso aja? Aku lagi pengin yang pedes pedes nih..”
Sesaat Reyhan terdiam.
“Kamu suka makanan pedas?” Tanya Reyhan.
“Suka banget. Aku bahkan nggak bisa makan tanpa pedes.” Jawab Tina dengan semangat.
Reyhan meringis. Padahal dirinya adalah pria yang sama sekali tidak bisa memakan makanan pedas. Bahkan saat memakan mie instan Reyhan tidak berani menaruh bubuk cabek nya.
“Aku tau loh warung bakso yang menyediakan bakso dengan level kepedesan yang wow. Kamu harus cobain. Aku yakin kamu juga pasti akan sangat suka.”
“Hah? Aku? cobain bakso pedas?” Tanya Reyhan terkejut sekaligus takut.
“Ya.. Kenapa?”
“Oh.. Enggak enggak, nggak papa.”
“Eemm.. Ya udah oke..” Angguk Reyhan ragu ragu.
Tina tersenyum bahagia mendengarnya. Namun tidak dengan Reyhan yang beberapa kali menelan ludah. Reyhan sama sekali tidak bisa memakan pedas. Dan sekarang Tina mengajaknya untuk menikmati bakso super pedas. Reyhan tidak bisa membayangkan akan seperti apa ekspresinya nanti mengingat dirinya yang tidak pernah mencicipi makanan pedas sejak kecil.
Reyhan pernah sebenarnya memakan makanan pedas. Tapi itu dulu saat dirinya masih berusia lima tahun. Dan sejak saat itu Reyhan tidak pernah lagi memakan makanan pedas. Tentunya setelah ada sesuatu yang terjadi padanya karna makanan pedas tersebut.
Tina mengarahkan jalan menuju warung bakso yang dia maksud. Dan ternyata warung bakso berjarak tidak jauh dari perusahaan tempat Reyhan bekerja.
Mereka berdua turun dari mobil Reyhan. Rasanya kaki Reyhan sangat berat untuk melangkah masuk kedalam warung bakso yang sangat ramai pengunjung itu.
“Rey.. Kamu nggak papa kan?” Tanya Tina menatap Reyhan bingung.
“Ah nggak papa. Aku nggak papa kok.” Jawab Reyhan tersenyum tipis.
Reyhan tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Tina. Karna jika Reyhan jujur, Tina pasti akan sangat kecewa karna tidak jadi memakan bakso super pedas kesukaan-nya.
“Kita duduk disana yuk.” Ajak Tina menggandeng Reyhan, mengajaknya untuk duduk di sudut ruangan tempat lesehan tersebut.
__ADS_1
Sepanjang menunggu pesanan mereka, Tina terus bercerita banyak hal. Tina juga menceritakan seberapa sering dirinya datang ke warung tersebut baik bersama Zahra maupun Rasya sang kakak yang juga sangat menyukai makanan pedas.
“Kayanya kamu sama kakak kamu memang sama sama suka makan pedes yah?” Tanya Reyhan terus menutupi kegugupan juga ketakutan-nya.
Reyhan juga sempat melirik beberapa pengunjung disana yang tampak sangat kepedesan setelah menyantap bakso berukuran besar dengan bentuk tidak biasa itu. Tubuh Reyhan mendadak gemetaran. Reyhan benar benar takut sekarang. Apa lagi saat melihat seorang pria yang sampai mengaduh dengan wajah memerah penuh keringat serta kedua matanya yang merem melek karna tidak kuat menahan rasa pedas. Reyhan ingin sekali berlari menjauh dari warung bakso tersebut. Tapi melihat senyuman sumringah Tina Reyhan merasa itu tidak mungkin dia lakukan.
“Silahkan pesanan-nya neng...” Ujar si pemilik warung bakso yang mengantar sendiri dua porsi bakso penuh cabe merah dalam kuahnya. Mang ujang adalah panggilan pria bertubuh kurus itu.
“Makasih ya mang..” Senyum Tina pada si pemilik warung bakso tersebut.
“Ya neng sama sama..” Angguk pria berpenampilan sederhana tersebut kemudian berlalu.
Tina kemudian menatap pada Reyhan yang menggeleng pelan melihat bakso penuh cabek merah didepan-nya.
“Aku pesenin yang paling pedas buat kamu.” Ujar Tina tersenyum.
Sekarang seluruh tubuh Reyhan bahkan terasa lemas. Kepalanya mendadak kliyengan. Senyuman manis Tina terlihat sangat mengerikan setelah Reyhan menatap cabek merah didalam mangkuk yang seolah sedang menunjukan eksistensi kepedasan-nya pada Reyhan dengan berenang mengapung dalam kuah yang masih mengepulkan asap itu.
“Selamat makan..” Tina mulai menyantap bakso tersebut. Kepalanya menggeleng merasakan nikmatnya rasa pedas kuah bakso itu.
“Ya Tuhan.. Apa hidupku benar benar akan berakhir karna semangkuk bakso cabe ini?” Batin Reyhan takut.
“Rey.. Kok bengong? Kamu nggak suka sama bakso ya? Atau mau aku pesenin lagi yang lain? atau kita pindah tempat makan aja?” Tanya Tina yang mulai merasa aneh dengan kediaman pujaan hatinya itu.
“Ah enggak.. Aku.. Aku cobain yah?”
Dengan tangan gemetaran Reyhan mulai menyendok sedikit kuah bakso tersebut kemudian mencicipinya. Seketika rasa pedas juga panas terasa membakar lidah, tenggorokan, bahkan seluruh tubuh Reyhan.
“Gimana? Enak nggak?”
Napas Reyhan mulai memburu. Keringat langsung bercucuran di sekujur tubuhnya.
“Ya.. enak..” Angguk Reyhan dengan napas tersengal.
Namun sepertinya Tina belum menyadari ekspresi Reyhan. Tina kembali menikmati semangkuk bakso super pedas itu diikuti Reyhan yang langsung memuntahkan sepotong bakso yang baru saja masuk kedalam mulutnya akibat tidak bisa menahan rasa pedas.
Melihat itu Tina mendelik terkejut.
“Ya Tuhan, Reyhan !!” Pekik Tina yang berhasil mengundang perhatian semua pengunjung di warung tersebut.
__ADS_1