
Hari ini Faza pulang cepat. Seperti biasa, Faza lebih dulu menjemput Zahra ditempat kerja agar mereka bisa pulang bersama. Sesampainya direstoran ternyata Zahra belum selesai waktu kerjanya sehingga Faza harus menunggu dengan waktu yang cukup lama.
2 Jam kemudian Zahra keluar dari restoran dengan Tina yang berada disampingnya. Keduanya terlihat mengobrol serius dengan Zahra yang beberapa kali menepuk dan mengusap pelan bahu Tina.
Faza melihat itu merasa penasaran. Apa lagi melihat ekspresi Tina yang terlihat sendu dan tidak bersemangat.
“Makasih ya Ra, kamu udah mau dengerin keluh kesah aku. Kamu juga udah ngasih aku saran yang bagus banget. Ya.. Meskipun aku pikir itu tidak akan mudah.”
Zahra tersenyum.
“Kuncinya hanya kamu harus yakin dan sabar. Itu aja Tin..”
Tina menganggukkan kepalanya. Membandingkan permasalahan hati dengan masa lalu kedua orang tuanya yang berpisah sering kali membuat Tina bimbang sendiri.
“Ra, itu mas Faza kamu udah nungguin.”
Zahra menolehkan kepalanya ke arah yang dimaksud oleh Tina. Senyumnya mengembang menghiasi bibirnya ketika mendapati Faza yang sedang menatap kearahnya dengan masih duduk santai diatas motornya.
Zahra tidak bisa berbohong. Suaminya benar benar sangat keren sekarang.
“Kamu kesana gih.. Kasihan udah nungguin lama kayanya.”
“Oke.. Kalau begitu aku duluan ya Tin.”
“Iya..” Angguk Tina tersenyum.
Zahra berlalu dari hadapan Tina kemudian melangkah cepat menghampiri Faza yang sedang menunggunya.
“Mas..”
Zahra mengulurkan tangan-nya yang langsung disambut senang oleh Faza, Zahra menyaliminya.
“Ini aku yang kecepetan pulangnya atau kamu yang memang jam kerjanya ditambah hari ini?”
Zahra mengeryit kemudian mengangkat tangan kirinya dimana jam tangan biru muda kesayangan-nya melingkar disana.
“Mas yang kecepetan. Jam pulang aku seperti biasanya kok mas. Jam 4 pas.” Jawab Zahra.
Faza mengangguk pelan. Karna penasaran dengan masalah nomor nomor yang diblokir diponselnya membuat Faza sangat buru buru menyelesaikan semua pekerjaan-nya hari ini. Faza berharap keburu buruan-nya itu tidak akan menimbulkan masalah.
__ADS_1
“Ya sudah, yuk pulang.” Ajak Faza.
“Yuk..”
Zahra segera naik ke boncengan Faza yang mulai mengenakan kembali helm full fake nya.
“Sudah?” Tanya Faza pada Zahra.
“Iya..” Senyum Zahra melingkarkan kedua tangan-nya diperut Faza.
Faza mulai menghidupkan mesin motornya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang. Dipertengahan jalan Faza menghentikan motornya dan menyuruh agar Zahra membeli makanan supaya dirumah nanti Zahra tidak perlu lagi capek capek memasak.
Faza menghela napas menatap Zahra yang sedang menunggu pesanan-nya disebuah warung padang yang sore itu lumayan ramai pembeli.
Faza bingung sekarang. Jika bertanya pada Zahra tentang nomor nomor yang diblokir pasti Zahra akan sangat marah. Zahra mungkin juga akan menyangka yang tidak tidak padanya.
Kesal sebenarnya. Tapi Faza yakin Zahra melakukan-nya bukan tanpa alasan. Jika nomor Rosa atau yang lain-nya Faza tidak terlalu ambil pusing. Tapi Anita, dia adalah wakil manager yang harus selalu terhubung dengan-nya jika menyangkut masalah pekerjaan.
Faza menghela napas. Mungkin Zahra menganggap dirinya akan tergoda dengan Anita maupun Rosa. Padahal pada kenyataan-nya secantik apapun Rosa dan Anita itu sama sekali tidak bisa mengubah perasaan Faza pada Zahra. Faza hanya mencintai Zahra, istri sahnya.
Tidak lama menunggu, akhirnya Zahra menerima pesanan-nya. Zahra kembali mendekat pada Faza yang menunggunya.
“Iya sayang, nggak papa. Ya udah yuk kita pulang. Udah mulai gelap nih..”
Zahra mengangguk dan segera naik kembali keboncengan Faza. Mereka melaju dengan motor Faza menuju jalan pulang.
Sesampainya dirumah, Faza dan Zahra bergantian membersihkan dirinya. Mereka berdua kemudian makan bersama dimeja makan dengan diselingi canda tawa yang terkesan romantis.
Faza mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Zahra tentang nomor nomor yang diblokir di ponselnya. Faza tidak ingin membuat istrinya tersinggung dan merasa disalahkan. Faza paham dan mengerti mungkin istrinya merasa tidak nyaman dengan Rosa, Anita, dan teman teman wanita Faza yang lain.
“Mas..”
“Hemm..”
“Kamu nggak kerumah mamah?” Tanya Zahra setelah selesai mencuci piring bekas mereka makan.
Faza yang sedang mengecek pesan pesan masuk setelah nomor nomor yang diblokir dia buka kembali pun mengangkat kepalanya menatap Zahra yang juga sedang menatapnya.
Faza memang sudah lama tidak mengunjungi mamahnya. Mamahnya juga sering protes bahkan marah marah lewat sambungan telepon karna Faza yang tidak pernah datang kerumah untuk sekedar menengoknya.
__ADS_1
“Kamu nggak terlalu sibuk juga kan akhir akhir ini mas, kamu sering sering dong main kerumah mamah. Mamah pasti akan sangat senang kalau kamu datang.”
Faza menghela napas. Faza malas sebenarnya karna setiap dirinya datang mamahnya pasti selalu menjelek jelekkan Zahra didepan-nya juga Fadly, adiknya.
“Huh.. Bagaiman kalau...”
Suara ketukan pintu dari depan membuat ucapan Faza menggantung. Dan Zahra merasa sangat terselamatkan dengan suara ketukan pintu itu. Zahra tau apa yang akan dikatakan Faza, suaminya. Faza pasti bermaksud mengajaknya untuk sama sama datang kerumah kedua orang tuanya. Sesuatu yang memang sangat Zahra hindari mengingat Sinta yang sampai saat ini masih sangat membencinya dan masih tidak mau memberi restu pada hubungan-nya dan Faza.
“Eemm.. Aku buka pintu dulu mas.”
“Ayo kita lihat siapa yang dateng sama sama.”
Zahra mengangguk kemudian melangkah lebih dulu dengan Faza yang mengikuti dari belakang.
“Fadly?” Zahra dan Faza saling menatap sesaat ketika mendapati Fadly yang berdiri didepan pintu utama tempat tinggal sederhananya.
“Aku boleh masuk kan?” Tanya Fadly.
“Oh tentu. Ayo masuk. Aku akan buatkan minuman.”
Fadly mengangguk dan masuk kemudian mendudukan dirinya disofa ruang tamu. Sedang Zahra, dia berlalu menuju dapur untuk membuatkan minuman.
“Ada apa kamu kesini? Apa disuruh sama mamah?” Tanya Faza begitu mereka duduk hanya berdua diruang tamu.
“Mamah sakit kak dari kemarin. Mamah selalu marah marah. Mamah juga sering menangis dan terus menunggu kakak datang kerumah.”
Faza menghela napas pelan mendengarnya. Faza tidak bermaksud menjauh dari keluarganya. Faza hanya tidak ingin mendengar ucapan yang tidak benar tentang istrinya.
“Kak.. Mungkin memang untuk saat ini mamah belum bisa menerima pernikahan kakak dan Zahra. Tapi bukan berarti kakak ngejauh dari mamah kan?”
Faza tersenyum tipis.
“Besok kakak akan datang sama Zahra.”
Dari balik tembok Zahra mendengar obrolan Faza dan Fadly tentang Sinta yang sedang sakit karna merindukan Faza.
Pandangan Zahra sedikit mengabur karna air mata yang menggenangi kedua kelopak matanya. Zahra tidak benar benar tidak pernah menyangka hubungan suami dan mamah mertuanya merenggang karenanya.
“Ya Tuhan.. Kuatkan hati dan keyakinan hamba..”
__ADS_1