
Zahra terus memikirkan apa yang Faza katakan padanya tempo hari. Pemikiran-nya itu bahkan berimbas pada fokusnya saat bekerja sehingga Zahra sampai memecahkan beberapa gelas berisi minuman pesanan pelanggan yang sedang dibawanya.
Hal itu berhasil memancing kemarahan Santoso yang merasa dirugikan karna alat alat makan direstoran-nya pecah oleh Zahra.
“Kamu sengaja mau membuat saya rugi Zahra?”
Zahra yang menundukan kepalanya hanya diam saja. Zahra memang sedikit melamun dan tidak fokus sehingga kakinya tersandung kaki kursi yang membuat nampan yang dibawanya jatuh.
“Kamu sudah bosan kerja disini hah?!” Tegas Santoso.
Kali ini Santoso tidak perduli lagi dengan status Zahra yang adalah teman Tina. Zahra sudah terbukti ceroboh dalam bekerja dan Santoso melihatnya sendiri dengan kedua matanya.
Zahra menggelengkan kepalanya. Air matanya jatuh menetes mendengar bentakan Santoso. Zahra tidak pernah merasa bosan sedikitpun bekerja direstoran itu. Zahra akui dirinya memang ceroboh kali ini. Zahra terus memikirkan masalahnya yang akhirnya berimbas tidak baik pada pekerjaan-nya.
“Maaf pak. Saya akan ganti gelas gelas yang pecah. Tapi tolong jangan pecat saya..” Zahra berkata dengan suara bergetar. Zahra masih tidak rela jika harus kehilangan pekerjaan itu.
Santoso tersenyum sinis. Tiba tiba Santoso merasa mempunyai celah untuk menghina Faza, suami Zahra.
“Bukankah suami kamu itu manager Zahra? Memangnya berapa gaji yang dia dapat setiap bulan-nya sampai kamu begitu tidak rela keluar dari pekerjaan ini?”
Mendengar Santoso menyinggung tentang Faza, Zahra langsung menegakkan kepalanya. Zahra mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya, menatap bingung pada Santoso yang tiba tiba menyangkut pautkan kesalahan Zahra dengan pekerjaan bahkan gaji Faza setiap bulan-nya.
“Apakah gaji suami kamu tidak cukup untuk membiayai semua keperluan kalian sehari hari sampai kamu harus ikut membantu mencari uang?”
Zahra menyipitkan kedua matanya. Santoso sedang menghina suaminya dan Zahra merasa sangat keberatan dengan hal itu.
“Apa maksud bapak?” Tanya Zahra dengan kedua tangan terkepal mulai emosi.
“Kenapa? Kamu keberatan dengan apa yang saya katakan? Atau mungkin memang suami kamu itu tidak bisa memenuhi kebutuhan kamu Zahra? Baik lahir maupun batin.”
Santoso tersenyum sinis menatap Zahra yang mulai dikuasai oleh emosi.
Tidak terima dengan apa yang dikatakan Santoso, Zahra pun bangkit dari duduknya. Tatapan-nya begitu tajam mengarah pada Santoso yang begitu santai setelah melontarkan hinaan tidak berdasarnya itu.
__ADS_1
“Pak Santoso. Masalah kita hanya karna gelas pecah. Tolong jangan bawa bawa nama suami saya apa lagi sampai menghinanya karna saya tidak akan bisa menerimanya. Saya menghormati bapak sebagai bos saya. Tapi diatas itu saya jauh lebih menghormati suami saya sebagai pemimpin dan pelindung saya. Jadi mulai sekarang saya mengundurkan diri dari restoran ini. Bapak tidak perlu capek capek memecat saya. Terimakasih. Saya permisi.”
Zahra berlalu begitu saja setelah mengatakan-nya. Hinaan yang dilontarkan Santoso membuat mental berani Zahra bangkit begitu saja. Zahra tidak akan membiarkan siapapun menghina suaminya termasuk Santoso.
Sementara itu Santoso terdiam setelah Zahra berlalu. Reaksi Zahra benar benar diluar dugaan Santoso. Santoso pikir selama ini Zahra adalah wanita yang lemah dan gampang ditindas. Tapi ternyata Zahra bisa begitu berani membela Faza didepan-nya.
----------
“Dia marah marah lagi ya sama kamu Ra?”
Zahra tidak menjawab. Zahra melangkah cepat tanpa memperdulikan Tina yang terus mengikuti dari belakangnya menuju ruang ganti.
“Zahra, aku lagi ngomong sama kamu.” Tegur Tina merasa kesal karna Zahra yang terus saja diam dan sama sekali tidak menyautinya.
Zahra menghela napas. Zahra kemudian membalikan tubuhnya menghadap pada Tina yang menegurnya tidak terima dengan kediaman-nya.
“Aku mengundurkan diri dari restoran ini. Pak Santoso sudah menghina suamiku dan aku tidak bisa menerimanya.” Jawab Zahra dengan wajah penuh kekesalan.
“Apa?” Gumam Tina tidak percaya.
“Bentar, aku ganti baju dulu.”
Zahra masuk kedalam ruang ganti meninggalkan Tina yang masih tidak percaya dengan apa yang Zahra katakan.
Setelah Zahra mengganti seragam waitrees dengan bajunya sendiri, Tina pun langsung mengajak Zahra untuk berbicara berdua ditaman yang biasa menjadi tempat mereka bersama. Tina tidak perduli meskipun dirinya pergi saat jam kerja sedang berlangsung. Tina juga tidak perduli jika sampai Santoso marah dan memecatnya. Toh Zahra juga sudah mengundurkan diri. Begitu pikir Tina.
“Kenapa emangnya sampai pak Santoso menghina mas Faza kamu?” Tanya Tina penasaran.
Zahra berdecak kemudian menyedot jus buah yang sebelumnya dibelikan oleh Tina sebagai teman mereka ngobrol.
“Nggak tau. Aku juga nggak ngerti kenapa tiba tiba dia menghina mas Faza. Padahal yang pecah kan gelas.”
Tina menghela napas. Sekarang Tina semakin yakin dengan pemikiran-nya tentang Santoso selama ini. Santoso memendam rasa diam diam pada Zahra.
__ADS_1
“Dia merendahkan suamiku Tin. Dia bilang gaji mas Faza tidak bisa memenuhi kebutuhanku. Bahkan dia juga menghina mas Faza sampai merembet antara nafkah lahir dan batin. Aku nggak bisa diam aja dong. Uang suamiku juga banyak. Dia pikir dia doang apa yang punya banyak uang. Dasar tua bangka sialan.”
Tina mengerti perasaan Zahra. Siapapun tidak akan rela jika orang yang sangat dicintainya dihina tanpa alasan yang jelas.
“Kalau begitu aku juga bakal berhenti dari pekerjaan ini. Aku juga nggak mau punya bos songong kaya si Santoso itu.”
Zahra menoleh dengan cepat.
“Kamu mau berhenti juga? Tapi kan ini masalah aku Tin... Cari kerjaan itu susah loh..”
Tina tersenyum. Dengan pelan Tina menepuk bahu Zahra.
“Aku bisa cari kerjaan yang lain. Tenang saja.” Senyum Tina.
Zahra menatap Tina sendu. Karna kecerobohan-nya Tina sampai ikut ikutan mengundurkan diri dari pekerjaan-nya.
“Sekarang kamu bisa cerita sama aku apa yang sedang mengganggu pikiran kamu sampai kamu tidak fokus dalam bekerja.”
Zahra menarik napas dalam dalam dan menghembuskan-nya dengan kasar. Ucapan Faza semalam tentang mamah mertuanya yang menyinggung tentang kehamilan membuat pikiran Zahra sedikit tidak fokus bekerja hari ini.
Zahra kemudian menggeleng pelan. Zahra berpikir tidak semua masalahnya dan Faza bisa Zahra ceritakan pada Tina. Itu tidak baik untuknya sendiri.
“Masih karna sepatu itu?” Tebak Tina yang membuat Zahra kembali menatapnya.
Zahra tersenyum tipis. Zahra tidak ingin berbohong sehingga memilih untuk diam.
“Aku memang masih berpikir tentang kejutan untuk mamah mertuaku.” Ujar Zahra.
Tina berdecak. Tina tidak bisa berkata apa apa. Masalah Zahra belum Tina lalui dalam fase kehidupan-nya.
“Aku tidak punya mertua dan aku tidak tau harus menyarankan apa padamu Ra. Tapi aku yakin Tuhan selalu bersama orang yang sabar dan tidak malas berusaha.”
Zahra tertawa pelan dan menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang Tina katakan.
__ADS_1