PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 93


__ADS_3

Sinta menatap datar pada suaminya yang sedang duduk menunggunya. Entah darimana pria itu tau keberadaan-nya sekarang. Padahal Sinta tidak mengangkat telpon, membalas pesan, bahkan sudah menonaktifkan ponselnya.


Dengan malas Sinta melangkah menghampiri suaminya.


“Ada apa?” Tanya Sinta begitu sampai didepan Akbar, suaminya yang sekaligus adalah ayah dari kedua putranya. Faza dan Fadly.


Akbar menghela napas kemudian berdiri dari duduknya.


“Pulang mah.. Nggak baik mamah keluar terlalu lama dari rumah. Apa kata orang orang nanti.”


Sinta tertawa miring mendengarnya. Wanita itu melengos enggan menatap pada suaminya.


“Mamah akan pulang kalau papah bisa membuat Faza pulang secepatnya.”


Akbar berdecak pelan. Akbar tidak mungkin melakukan apa yang di inginkan oleh istrinya dengan menyuruh Faza segera pulang. Sedang Akbar sendiri tau Faza dan Zahra sedang liburan sekaligus berbulan madu.


“Papah nggak punya hak untuk itu mah..” Katanya pelan.


Sinta kembali menatap suaminya. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan menatap suaminya tidak habis pikir.


“Faza itu anak kita pah. Darah daging kamu. Kita berdua tentu saja mempunyai hak. Hak untuk memberikan yang terbaik untuk Faza.”


Akbar menutup kedua matanya beberapa detik.


“Mah.. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik juga menurut anak anak kita. Faza sudah bahagia dengan Zahra. Zahra perempuan yang baik dan yang terpenting Zahra juga adalah perempuan yang dicintai anak kita.”


“Papah selalu saja begitu. Papah nggak pernah bisa berperan dengan baik sebagai orang tua. Papah selalu bersikap tidak perduli pada Faza dan Fadly. Itulah akibat dari sikap papah. Faza jadi membangkang bahkan berani berbohong pada kita. Papah sadar nggak sih kalau sikap papah tidak perduli papah itu salah.” Nada bicara Sinta mulai meninggi dengan kedua mata sedikit melebar begitu berani menatap suaminya.

__ADS_1


Akbar menyipitkan kedua matanya. Sudah cukup menurutnya sikap Sinta selama ini. Sinta tidak pernah menghargainya dan selalu meremehkan statusnya sebagai seorang suami juga ayah dari kedua putranya.


“Cukup mah.. Papah bukan tidak perduli pada Faza dan Fadly. Papah hanya ingin melatih mereka untuk memilih apa yang menurut mereka baik. Papah nggak mau mengekang mereka karna itu akan sangat membebani mereka berdua.” Balas Akbar tegas.


Sinta berdecak.


“Lalu sekarang mana hasil dari pilihan mereka pah? Bahkan mereka saja tidak mau bekerja diperusahaan kamu. Mereka memilih jalan masing masing karna kamu yang tidak pernah perduli pada mereka. Kamu mikir dong pah..”


“Mamah tolong hargai papah sebagai suami juga papah dari Faza dan Fadly. Jangan egois dan selalu ingin menang sendiri.”


Tatapan Akbar berubah tajam dengan raut wajah yang menunjukan kemarahan. Akbar merasa kesabaran-nya benar benar terbatas sekarang. Sikap istrinya sudah tidak bisa lagi dimaklumi. Sinta sudah sangat diluar batas dengan merendahkan derajatnya sebagai kepala rumah tangga.


“Sekarang terserah mamah. Kalau mamah masih ingin kita bersama kita pulang sekarang. Tapi kalau memang mamah ingin jalan sendiri, papah pasrah.”


Sinta kaget mendengar apa yang Akbar katakan. Akbar tidak pernah bersikap begitu tegas padanya. Selama ini Akbar selalu menyerahkan semua kendali padanya. Akbar juga tidak pernah protes tentang apa yang Sinta lakukan. Termasuk kemauan Sinta untuk menjodohkan Faza dengan Loly.


“Ikut papah pulang sekarang mah..” Mendadak suara Akbar kembali melembut. Akbar tidak bermaksud memasrahkan hubungan-nya pada Sinta. Akbar hanya berniat menegasi Sinta agar Sinta tidak lagi bersikap seenaknya. Baik padanya maupun pada Faza dan Fadly.


Sinta mengarahkan pandangan-nya ke lantai marmer tepat kedua kaki suaminya memijak. Pandangan-nya mengabur karna air mata yang menggenangi kedua kelopak matanya. Sinta sangat terkejut mendengar apa yang Akbar katakan padanya. Hatinya berdenyut ngilu. Sakit bahkan lebih sakit dari saat dirinya mengetahui Akbar menjalin hubungan dibelakangnya dengan Bella.


“Mah...”


“Pulanglah pah.. Kalau memang berpisah adalah yang terbaik mamah pasrah.” Lirih Sinta dengan suara bergetar.


Akbar menggelengkan kepalanya. Maksudnya bukan seperti itu. Sinta memang egois. Tapi Sinta adalah wanita yang sangat Akbar cintai. Sinta wanita yang membuatnya bahagia. Memberinya dua putra tampan yang cerdas dan serba bisa. Serta mendidik keduanya sampai bisa disiplin dan berjaya dengan pencapaian-nya sekarang.


Loly yang bersembunyi dibalik tembok dan sedang menguping pertengkaran Sinta dan Akbar tersenyum penuh arti. Loly tidak menyangka Sinta sampai segitunya membelanya agar bisa bersama dengan Faza.

__ADS_1


“Eemm.. Ini saatnya aku beraksi.” Gumamnya.


Loly buru buru bersembunyi saat Sinta hendak melangkah menujunya. Loly tidak mau jika sampai Sinta dan Akbar memergokinya sedang mengintip.


Akbar menatap sedih punggung Sinta yang berlalu meninggalkan-nya. Pria itu tidak menyangka jika hubungan rumah tangganya dengan Sinta akan begitu rumit. Padahal cobaan perselingkuhan saja tidak sampai membuat hubungan-nya dengan Sinta sampai berada diambang kehancuran seperti sekarang.


“Minumnya tuan..”


Akbar tersenyum paksa saat seorang asisten rumah tangga menyuguhkan secangkir teh hangat untuknya. Tanpa berniat sedikitpun menyesap secangkir teh itu Akbar berlalu dengan langkah gontai keluar dari kediaman mewah keluarga Loly.


Akbar benar benar terpukul dengan apa yang baru saja terjadi. Sinta memasrahkan hubungan-nya tanpa sedikitpun berniat untuk mempertahankan-nya. Dan itu hanya karna perbedaan pendapat mereka tentang cara mendidik anak anaknya.


Akbar masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari pekarangan luas rumah Loly dengan kecepatan sedang.


Dari balkon kamar tempatnya menginap sementara itu Sinta menangis melihat kepergian suaminya . Hatinya benar benar sakit. Sinta juga merasa takut. Sinta tidak bisa membayangkan akan bagaimana hidupnya jika benar benar berpisah dengan Akbar, suaminya. Selama ini meskipun Sinta selalu melakukan semua semaunya sendiri tapi Sinta tidak bisa menampik bahwa dirinya sangat mencintai Akbar. Itu lah sebab kenapa Sinta memilih memendam rasa sakit dan kecewanya saat Akbar bermain api dibelakangnya.


“Tante...”


Tangis Sinta semakin hebat saat Loly mendekat padanya. Tidak tahan menahan semua beban dihatinya seorang diri Sinta pun berhambur memeluk Loly. Sinta menangis terisak dalam pelukan Loly. Tubuhnya bergetar dengan wajah memerah dan basah oleh air mata.


“Sakit Loly... ini sangat sakit..”


Loly tersenyum sinis dibalik punggung Sinta. Loly merasa dirinya bisa memanfaatkan semua ini. Loly bisa menjelma menjadi pahlawan untuk Sinta dan Akbar mempertahankan rumah tangganya yang memang terasa berada diujung tanduk.


“Sabar ya tante.. Semuanya akan baik baik saja.. Percaya deh sama Loly..” Ujar Loly sambil mengusap lembut punggung bergetar Sinta yang begitu erat memeluknya.


Sinta terus menangis. Ucapan dan usapan lembut Loly sama sekali tidak bisa membuatnya tenang. Rasa takut kehilangan sosok Akbar terus saja menekan-nya membuat dadanya sesak dan air matanya semakin mengucur deras.

__ADS_1


__ADS_2