
Zahra baru saja memejamkan kedua matanya saat tiba tiba ponsel milik suaminya yang berada diatas nakas berdering.
Zahra berdecak sebal. Dirumah sakit dirinya tidak bisa dengan tenang beristirahat. Selain karna dirinya yang tidak betah, bau obat obatan yang sangat menyengat juga mengganggu indra penciuman-nya.
Zahra meraih benda pipih milik suaminya yang terus berdering itu. Kening Zahra mengerut ketika mendapati nama Loly dilayar menyala benda tersebut.
“Loly telepon mas Faza? Ada apa?” Gumam Zahra bertanya tanya.
Sesaat Zahra berpikir hingga akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut. Zahra tidak mau suara deringan itu mengganggu tidur lelap putranya yang berada tepat disampingnya. Zahra pasti tidak akan bisa istirahat dengan tenang jika Fahri menangis.
Penasaran Zahra pun segera mengangkat telepon dari Loly. Namun Zahra tidak langsung menyapa. Zahra ingin tau lebih dulu apa tujuan Loly menelepon suaminya.
“Halo, mas. Maaf kalau aku ganggu. Aku cuma mau minta nomornya Zahra. Apa boleh?”
Zahra tersenyum. Pikiran-nya sudah negatif tadi pada Loly.
“Tentu saja boleh. Aku akan menelepon kamu nanti.” Jawab Zahra.
“Zahra? Oh.. Maaf aku benar benar tidak bermaksud..”
“Tidak apa.. Aku paham kok.” Senyum Zahra mengerti.
“Ya sudah kalau begitu kamu segera hubungi aku ya Ra.. Biar aku nggak usah nyimpen nomornya mas Faza lagi.” Kata Loly sebelum memutuskan sambungan telepon-nya.
Zahra tersenyum. Zahra semakin yakin dan percaya bahwa Loly memang sudah tidak berniat mengganggu hubungan-nya dengan Faza lagi.
Zahra kemudian segera meraih ponsel miliknya dan menghubungi Loly dengan nomornya sendiri.
----------
Siangnya Akbar pulang kerumah untuk makan siang karna Sinta yang memintanya. Pria itu dengan senang hati menuruti keinginan istrinya yang sangat langka itu.
“Papah mau nambah?” Tanya Sinta pada Akbar yang sudah hampir menghabiskan makanan dipiringnya.
“Enggak mah. Papah udah nambah dua kali tadi. Kenyang banget rasanya.” Jawab Akbar menolak dengan halus.
Sinta hanya menganggukan kepalanya dan fokus kembali dengan makanan-nya. Entah kenapa sejak Loly tidak lagi sering datang Sinta merasa kesepian. Sinta merasa kehilangan teman mengobrol.
“Eemm.. Mah, boleh papah ngomong sesuatu sama mamah?” Tanya Akbar hati hati.
“Ngomong aja pah..” Jawab Sinta tenang.
__ADS_1
Akbar menghela napas. Apa yang ingin dikatakan-nya tidak jauh jauh tentang Zahra.
“Ini tentang sikap mamah ke Zahra..”
Sinta berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya. Sinta kemudian menoleh menatap Akbar yang sedang menatapnya.
“Memangnya nggak ada yang lain yang bisa dibicarakan selain Zahra pah?”
Akbar menghela napas sekali lagi. Istrinya benar benar belum bisa menerima Zahra sebagai menantunya. Bahkan saat mendengar nama Zahra disebut saja Sinta terlihat enggan.
“Mah.. kalian berdua, mamah sama Zahra sama sama perempuan. Papah yakin perasaan kalian berdua juga sama pekan-nya. Apa lagi sekarang status mamah sama Zahra juga sama. Sama sama seorang ibu.”
Sinta memutar jengah kedua bola matanya.
“Bisa tidak nggak usah muter muter pah.. Langsung aja ke inti apa yang ingin papah katakan tentang dia..”
“Zahra.. Dia punya nama mah..”
“Mamah nggak perduli.” Balas Sinta malas.
Akbar diam sesaat. Istrinya sangat susah diajak bicara jika sudah menyangkut tentang Zahra.
“Apa maksud papah?”
“Sikap mamah kemarin saat dirumah sakit pada Zahra itu membuat papah merasa keberatan. Sekarang bagaimanapun juga Zahra adalah bagian dari keluarga kita. Zahra juga sudah berjasa melahirkan cucu untuk kita. Jadi papah mau mulai sekarang mamah harus bisa menerima dan bersikap dengan baik pada Zahra.”
Kedua mata Sinta melebar.
“Papah..”
“Tolong hargai papah sebagai kepala rumah tangga mah.. Papah sudah cukup diam menghadapi mamah selama ini. Papah selalu menuruti apa mau mamah. Dan sekarang papah mau mamah yang menuruti apa yang papah katakan.” Sela Akbar tidak mau mendapat bantahan.
Sinta berdecak kesal. Akbar memang selalu mengiyakan apa yang Sinta mau selama ini.
“Hanya karna seorang Zahra papah bisa berkata seperti ini. Tidak heran Faza bahkan seperti lupa pada mamah.” Senyum Sinta miris.
Akbar menggeleng tidak menyangka dengan sikap istrinya. Sekarang Akbar sadar bahwa menuruti semua kemauan Sinta bukan keputusan yang baik.
“Kamu terlalu menganggap diri kamu paling benar selama ini mah.. Papah menuruti kemauan kamu bukan berarti papah tidak berani tegas. Tapi karna papah menghargai mamah sebagai istri papah. Sebagai perempuan yang papah cintai.”
Sinta diam. Sekarang Sinta merasa semua orang benar benar berpihak pada Zahra.
__ADS_1
“Papah mohon mah.. Demi anak anak kita, juga cucu kita.”
Sinta melepaskan sendok dan garpu yang dipegangnya kemudian bangkit dari kursinya dan berlalu dari meja makan tanpa mengatakan apapun pada suaminya.
Akbar yang merasa belum selesai berbicara ikut bangkit dan mengejar langkah Sinta.
“Papah belum selesai bicara mah..” Katanya meraih lengan Sinta mencekalnya erat.
Sinta berhenti melangkah. Semuanya sudah tidak lagi mau berpihak padanya dan semua itu gara gara Zahra.
“Kalau dengan mamah menuruti kemauan papah itu bisa membuat kalian merasa mamah adalah orang baik mamah akan lakukan. Tapi untuk bersikap seperti pada Loly ke Zahra mamah perlu waktu.” Ujar Sinta kemudian melepaskan cekalan tangan Akbar dan berlalu menaiki anak tangga menuju lantai dua meninggalkan Akbar yang hanya bisa diam.
Tepat setelah Sinta berlalu ponsel dalam saku dalam jas Akbar berdering. Akbar segera merogoh dan meraih benda pipih itu.
“Halo Fadly...”
“Ya pah halo.. Eemm papah dimana sekarang? Apa sedang dirumah kak Faza?” Tanya Fadly langsung.
“Tidak. Papah dirumah. Memangnya kenapa?”
“Tidak papa.. Hanya saja aku menelepon kakak tidak diangkat. Menelepon Zahra juga sama. Aku hanya ingin tau bagaimana kabar Zahra sekarang.” Ujar Fadly.
“Ah ya.. Mungkin mereka sedang beristirahat. Kemarin dirumah sakit Faza sama sekali tidak tidur.”
“Rumah sakit? Memangnya kenapa kakak dirumah sakit? Apa kakak sedang sakit?” Tanya Fadly dengan nada khawatir.
Akbar tersenyum. Akbar dan Faza lupa memberitahu Fadly bahwa Zahra sudah melahirkan putra pertamanya.
“Tidak, bukan begitu. Jadi.. Zahra sudah melahirkan kemarin siang. Keponakan kamu sangat tampan dan lucu.”
“Iya kah? Kenapa papah tidak memberitahuku?”
“Papah melupakan itu. Maaf...” Jawab Akbar tertawa pelan.
“Hhh.. Baiklah, Fadly mengerti. Sore ini juga Fadly akan pulang dan langsung kerumah kak Faza..”
“Iya.. Jenguk dan lihatlah betapa lucu dan tampan-nya cucu pertama papah.” Ujar Akbar lagi dengan tawa yang masih menyisa.
“Ya ya ya.. Kalau begitu sudah dulu ya pah.. Salam buat mamah.”
Setelah itu sambungan telepon ditutup oleh Fadly. Akbar menghela napas untuk yang kesekian kalinya kemudian berlalu dari depan tangga. Akbar tidak ingin memusingkan reaksi Sinta tadi. Akbar yakin apa yang dikatakan-nya sudah benar.
__ADS_1