
Menjelang malam Faza baru sampai dirumahnya. Pria itu membuka helm dan turun dari motornya. Helaan napas kasar keluar dari bibirnya mengingat apa yang terjadi hari ini. Ucapan mamahnya pagi tadi benar benar berhasil mengacaukan pikiran juga konsentrasinya. Hampir saja Faza bertengkar dengan Anita yang memang beberapa kali seperti mengetes kesabaran-nya.
“Mas.. Kamu sudah pulang..”
Suara Zahra menarik perhatian Faza, membuyarkan semua lamunan-nya.
Faza menatap Zahra yang tersenyum dan sedang melangkah mendekat padanya dari pintu utama.
Sampai Zahra menyaliminya Faza masih tetap diam. Tidak seperti biasanya yang langsung mendaratkan ciuman dikening Zahra dengan pelukan hangat.
Bingung dengan ekspresi dan kediaman suaminya Zahra pun mengeryit.
“Kamu kenapa mas?” Tanyanya penasaran.
Faza menelan ludahnya. Saat ini suasana hatinya benar benar sedang tidak menentu. Ucapan Sinta bak racun yang berhasil meluluh lantahkan semangat Faza hari ini.
“Enggak, aku nggak papa. Ya udah yuk masuk.” Jawab Faza tersenyum tipis kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan Zahra yang masih dikuasai rasa penasaran dan bingungnya melihat ekspresi tidak biasa suaminya.
Zahra menatap punggung Faza. Faza terlihat aneh setelah pulang dari bekerja menurutnya.
“Apa dia sakit?” Zahra bergumam lirih. Zahra tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Ditambah lagi paginya sebelum berangkat bekerja Faza lebih dulu mengantar mamahnya.
Zahra menghela napas. Bisa ditebak, semuanya pasti ada hubungan-nya dengan mamah mertuanya.
Zahra kemudian menyusul Faza melangkah masuk kedalam rumah. Zahra tidak ingin berburuk sangka pada suaminya sendiri. Zahra berpikir mungkin Faza hanya sedang sedikit bingung dan membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya sebelum akhirnya Faza memilih terbuka padanya.
Karena Faza yang langsung naik kelantai dua dan membersihkan dirinya, Zahra memilih untuk menyiapkan makan malam. Zahra melakukan-nya dengan bantuan mbak Lasmi.
“Makasih ya mbak..” Senyum Zahra pada mbak Lasmi.
“Ya nyonya, sama sama. Kalau begitu saya permisi mau kebelakang lagi.”
Zahra menganggukan kepalanya menjawab sebelum mbak Lasmi berlalu dari hadapan-nya.
Tepat setelah mbak Lasmi berlalu ponsel yang berada dikantor celana pendek Zahra berdering. Zahra segera merogoh dan meraih benda pipih itu dari saku celana pendek warna creamnya.
Seulas senyum terukir dibibir Zahra begitu mendapati kontak nama kakaknya yang terpampang dengan jelas dilayar menyala benda pipih tersebut.
“Halo kak...” Zahra tampak sumringah begitu mengangkat telpon dari sang kakak. Jika boleh jujur, Zahra sangat merindukan sosok kakaknya itu. Sosok yang penyayang dan selalu bisa melindunginya sejak kedua orang tua mereka pergi untuk selama lamanya.
__ADS_1
“Zahra, bagaimana kabar kamu?”
Zahra tersenyum. Sejak tinggal dirumah mertuanya Zahra memang tidak pernah lagi bertemu dengan Aris maupun kakak ipar cantiknya, Nadia.
“Kabar aku baik kak, sangat baik. Kakak sendiri bagaimana kabarnya?”
“Kakak juga baik. Ah ya Zahra, apa besok bisa kita bertemu. Kita ziarah ke makam ibu sama ayah sama sama.”
Senyuman Zahra perlahan memudar. Entah kenapa jika menyebut kata ibu dan Ayah hatinya terasa teriris. Kenangan indah bersama mereka berputar putar di otaknya membuat rasa sesak didadanya mulai mempersulit jalan napasnya.
“Kamu bisa kan? Ajak Faza juga sekalian juga boleh.” Kata Aris lagi.
“Ya kak, tentu saja. Jam berapa?”
“Setelah makan siang yah... Kita ketemu didepan pemakaman.”
“Oke kak..” Jawab Zahra mantap.
“Ya sudah kalau begitu. Kamu jaga kesehatan yah..”
Telepon disudahi oleh Aris setelah itu. Aris bahkan tidak mendengarkan balasan Zahra lebih dulu.
Zahra menghela napas kemudian menurunkan ponsel dari telinganya. Entah kenapa mendadak suasana hatinya menjadi mellow. Rasanya seperti ada yang kurang bahkan hilang.
Zahra menoleh kemudian tersenyum mendapati suaminya yang sudah tampak segar dengan rambut basahnya. Aroma wanginya bahkan sampai menyeruak masuk kedalam indra penciuman Zahra.
“Mas udah selesai mandinya?” Tanya Zahra dengan senyuman manis dibibirnya.
“Udah. Siapa yang telpon tadi?” Jawab Faza kemudian mengulang kembali pertanyaan-nya pada Zahra sambil mendudukan dirinya dikursi.
“Kak Aris yang telpon. Dia ngajak kita buat ziarah ke makam ibu sama ayah besok setelah makan siang. Kamu bisa kan?”
Faza diam sesaat. Sejak Aris memukulnya hubungan mereka memang masih dingin.
“Aku juga belum bilang loh sama kak Aris sama kak Nadia tentang rumah baru kita ini. Mungkin besok sekalian biar mereka bisa mampir.” Ujar Zahra sambil mengambilkan nasi untuk Faza.
Faza mengangguk paham.
“Sebenarnya besok siang aku ada meeting. Tapi aku bakal sempetin kok. Ya.. Meskipun mungkin setelah ziarah aku bakal langsung balik lagi ke kantor. Nggak papa kan?”
__ADS_1
Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Kamu mau pake apa lauknya mas?” Tanya Zahra.
“Terserah kamu aja.” Jawab Faza.
“Oke...”
Setelah mengambilkan nasi, lauk, juga sayur untuk suaminya Zahra kemudian menaruhnya didepan Faza.
“Makasih sayang...” Senyum Faza menatap Zahra.
“Sama sama mas..” Balas Zahra ikut tersenyum.
Setelah berpikir dikamar mandi sambil membersihkan dirinya, Faza pun sadar. Tidak seharusnya Faza membawa bawa masalah dari luar kedalam rumah. Faza juga berhasil mengusir ke egoisan yang hampir saja menguasai hatinya untuk menuntut Zahra agar cepat mengandung anaknya.
Setelah selesai makan malam, Faza mengajak Zahra untuk sekedar bersantai ditaman belakang rumah sambil menikmati pemandangan indah dilangit malam ini.
“Kamu tau nama nama bintang nggak mas?” Tanya Zahra yang menyenderkan punggungnya didada bidang Faza yang memeluknya dari belakang dengan mesra.
“Eemm.. Emang nya kenapa?” Tanya balik Faza sambil menciumi puncak kepala Zahra.
“Enggak papa sih. Cuma dulu pas sekolah aku nggak bisa jawab pertanyaan guru didepan banyak murid tentang nama nama bintang. Hasilnya aku dihukum deh.”
Faza tertawa mendengarnya. Sudah bukan rahasia lagi tentang kepintaran istrinya yang memang pas pasan jika menyangkut masalah pelajaran disekolahnya dulu. Faza juga dulu sering diam diam menertawakan Zahra jika menanyakan tentang bagaimana Zahra dikelas pada adiknya, Fadly.
“Kok ketawa?” Zahra merengut kemudian melepaskan pelukan Faza diperutnya. Zahra juga membenarkan posisinya menjadi duduk tegak dan menghadap pada Faza yang masih menertawakan-nya.
“Abisnya aku heran aja.. Kamu kok bisa ya otaknya sengirit itu buat pelajaran sekolah dulu. Dapat rangking nggak pernah, prestasi lain apa lagi. Aktif di ekskul juga kayanya enggak.” Geleng Faza masih dengan sisa tawanya.
Zahra mengerucutkan bibirnya. Pada kenyataan-nya Zahra sudah berpikir sangat keras. Tapi tetap saja Zahra tidak bisa meniru kepintaran kakak-nya, Aris.
“Tapi itu nggak masalah kok buat aku. Kamu nggak perlu mengingat ataupun menghafal nama nama bintang di langit.”
Zahra mengeryit.
“Kenapa?” Tanyanya bingung.
Faza menangkup lembut kedua pipi Zahra sembari membelainya sayang.
__ADS_1
“Karena kamu sudah menjadi bintang dihati aku..” Jawab Faza menatap Zahra dalam.
Zahra terdiam bahkan saat Faza perlahan mulai mendekatkan wajahnya hingga akhirnya Zahra memejamkan kedua matanya begitu bibir Faza menempel pada bibirnya dan mulai menguasainya dengan sangat lembut dan penuh cinta.